Call Me Queen

Call Me Queen
Pengertian Levy


__ADS_3

"Mas" Teriak Chacha pagi ini.


Entah kenapa jika berkumpul dengan Levy ada saja yang akan menguji kesabaran dirinya. Levy yang terlihat perfeksionis diluar itu malah menjadi berantakan saat bersamanya.


Seperti pagi ini contohnya. Dirinya dibuat pusing dengan kelakuan suaminya yang akan berangkat ke kantor.


"Apa sayang? " Levy dengan wajah tanpa dosa menghampiri istrinya yang sudah berkacak pinggang di kamar mereka.


"Baju kotor tempatnya di atas kasur kah? Handuk basah tempatnya dilantai kah? "


Mendengar istrinya akan memulai ceramahnya, Levy hanya bisa nyengir kuda.


"Ini kenapa juga belum rapi sih, Mas" Chacha melihat suaminya itu belum memakai kemeja kerjanya.


"Yang udah, nanti kamu capek loh teriak-teriak mulu"


"Kamu yang bikin aku capek tau nggak"


"Capek apaan aku gak ngapa-ngapain kamu. Atau mau aku bikin capek beneran" Goda Levy sambil menaik turunkan alisnya.


Muka Chacha memerah, dirinya benar-benar tak habis pikir dengan suaminya yang satu ini. Diluar dia begitu dingin dan kaku, kenapa jika berdua dengannya berubah menjadi pria konyol seperti ini.


"Tau ah, aku siapin sarapan kamu dulu, pakai bajunya cepet" Chacha lalu berlalu dari kamar menuju ruang makan di apartemen itu.


Mereka saat ini berada di apartemen milik Levy, karena tak memungkinkan untuk tuk mereka jika tinggal berdua bersama keluarganya. Pasalnya hanya beberapa keluarganya yang tahu, sebelum Chacha berniat memberitahukan maka Levy akan tetap bungkam. Beda halnya jika menyangkut nama baik istrinya.


"Udah rapi kan? " Tanya Levy menyusul Chacha ke meja makan.


"Aku cuma masak nasi goreng doang loh, Mas. Atau mau aku pesenin sarapan lain. Masih cukup kok waktunya"


Entahlah hanya perasaan Levy atau apa, dirinya merasa Chacha lebih cerewet dari biasanya sejak permasalahannya dengan Audy selesai. Bahkan dirinya lebih banyak tersenyum, berbeda ketika masih mengibarkan bendera perang dengan Audy. Hanya ada muka datar dan dingin yang ia tampilkan.


"Ini aja cukup kok, Sayang. Apapun yang kamu masak tetap aku makan"


"Ya gak bisa gitu dong, Mas. Gimana kalau gak enak? Kamu malah sakit perut nanti"


Bukan apa-apa Chacha mengatakan itu, karena selama di luar negeri dirinya benar-benar tak memasuki area dapur. Dirinya hanya fokus menempa dirinya agar lebih kuat.

__ADS_1


"Anggap aja aku hargai usaha kamu yang rela tempur di dapur pagi-pagi buat siapin sarapan aku" Ucap Levy lembut, lalu memulai sarapannya.


Chacha tersenyum manis saat mendengar ucapan suaminya itu. Dirinya benar-benar merasa dicintai oleh Levy. Tak menampik jika dirinya acapkali menanam keraguan pada Levy, dia akui suaminya itu sosok yang sempurna. Chacha terkadang merasa minder jika harus berdampingan dengan Levy, meskipun nama baiknya sudah kembali bersih. Namun tetap saja itu akan menyisakan bekas diingatan orang-orang diluar sana. Ini juga salah satu alasan dirinya enggan mengumumkan pernikahannya. Dia butuh menata hati dan pikirannya dengan apa yang akan ia hadapi nanti.


"Kenapa, Sayang? " Levy menghentikan aktivitasnya saat Chacha menatapnya begitu intens.


"Gak papa kok, Mas" Chacha kembali tersenyum, bahkan dirinya tak malu ketika kepergok menatap Levy dengan intens.


"Jujur sayang"


"Aku suka lihat kamu makan lahap makanan yang aku buat" Chacha masih mempertahankan senyumnya.


"Ini enak loh, Yang. Serius"


"Ya udah lanjutin makannya, aku tinggal mandi dulu gak papa kan? "


"Udah gak papa sana kamu mandi dulu" Chacha mengangguk dan meninggalkan Levy di meja makan sendirian.


Chacha memang memiliki jadwal makan yang tidak teratur, dirinya hanya akan makan ketika dirinya lapar. Itu kebiasaan selama lima tahun belakangan ini, kebiasaan ini yang harus Levy rubah. Tak mungkin ia membiarkan istrinya memiliki pola makan yang tidak teratur.


Setelah menyelesaikan sarapan nya Levy meletakkan piring kotor ditempatnya. Lalu dirinya kembali ke tempat duduk yang ia tinggalkan, sembari menunggu istrinya selesai mandi.


"Aku main ke mansion Izhaka ya, Mas" Chacha langsung minta ijin sebelum Levy menanyakan hendak kemana dirinya.


"Aku antar? "


"Aku bawa mobil sendiri aja, Mas. Lagipun kita gak searah kan"


"Ya udah, nanti aku pulang cepet"


"Loh kenapa? "


"Katanya mau ketemu mama sama papa, udah aku buat jadwal"


"Benarkah? " Chacha bertanya dengan mata berbinar.


"Ya, Leon juga mengharapkan mu datang"

__ADS_1


"Ah, balita itu" Chacha membayangkan Leon yang begitu gembul.


"Kita bisa buat kok kalau kamu mau" Goda Levy tapi dengan wajah santai tak terlihat menggoda. Chacha hanya diam tak menjawab.


Rupanya Levy harus memperbaiki porsi sabarnya, entah sampai kapan dirinya harus menahan hasratnya. Bisa saja dia menyalurkan diluaran sana. Namun, sungguh ia tak ingin menyakiti hati istrinya. Bukankah dia hanya perlu bersabar.


Memang Levy tak pernah melakukan se*s sebelumnya, namun dia pria normal. Apalagi istrinya acapkali memakai daster yang menunjukkan tubuh seksinya ketika berdua dengannya. Entah Chacha sadar atau tidak, tapi Levy hanya bisa diam. Memaksa juga bukan hal yang baik saat ini.


Levy menatap Chacha yang menunduk dengan lekat. Dirinya yakin saat ini istri kecilnya itu sedang merasa bersalah. Karena tak memberi haknya pada dirinya. Namun, Levy juga tak bisa memaksa, itu akan menyakiti istrinya. Levy sudah cukup puas ketika istrinya menerima sentuhan darinya tanpa canggung.


"Ayo berangkat. Hari ini aku ada meeting cukup pagi" Levy bersuara setelah cukup lama hening.


Levy melihat Chacha mendongak, benar dugaannya. Tatapan matanya memancarkan ketakutan, keputusasaan dan rasa bersalah. Levy bahkan bisa melihat jika sebentar lagi air mata istrinya akan tumpah. Jadi dirinya langsung menarik Chacha kedalam pelukannya.


"Kenapa, hmm? " Levy dengan lembut mengelus kepala istrinya.


"Maaf" Lirih nya.


"Maaf untuk apa, Sayang? "


"Aku belum bisa jadi istri kamu sepenuhnya, aku.. "


"Ssst, aku mengerti. Aku akan sabar menunggu"


"Maaf"


"Berhentilah meminta maaf, sayang"


"Tapi, aku takut"


"Tenanglah ketakutan mu tak akan terjadi. Ini janjiku" Levy mendekap erat tubuh mungil Chacha.


Setelah merasa Chacha cukup tenang, Levy melepaskan pelukannya. Menghapus sisa air mata di pipi istrinya. Menangkup kedua pipi chubby itu dengan kedua tangannya, membuat Chacha mendongak karena perbedaan tinggi mereka. Langsung saja Levy menyambar bibir istrinya itu. ******* nya lembut. Chacha membalas apa yang dilakukan oleh suaminya. Kini dirinya tak lagi kaku jika menerima serangan dari suaminya itu.


"Aku jemput nanti di mansion Izhaka ya" Levy mengucapkan itu bukan seperti pertanyaan, namun seperti perintah.


"Aku tunggu" Chacha menjawab dengan senyum manisnya kembali.

__ADS_1


Mereka lalu berjalan beriringan keluar dari apartemen itu. Bahkan Levy merangkul pinggang Chacha dengan posesif, Chacha hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya. Namun dirinya menikmati apapun yang suaminya lakukan.


Ketika sampai di basement, mereka berpisah. Levy masuk ke dalam mobilnya, Chacha juga. Namun Levy juga tak lupa untuk mencium kening istrinya. Chacha juga mencium punggung tangan suaminya. Levy selalu suka ketika melihat dan merasakan Chacha mencium punggung tangannya dengan penuh kelembutan. Dirinya merasa begitu dihormati dan dihargai oleh wanita cantik yang menjadi istrinya itu. Perasaan hangat selalu hadir ketika Chacha menunduk dan mencium punggung tangannya.


__ADS_2