Call Me Queen

Call Me Queen
Mari hidup bahagia lebih lama lagi


__ADS_3

Seluruh anggota keluarga duduk dalam keadaan hening. Hanya suara isak tangis Tiara yang terdengar di rumah itu. Chacha dengan santainya menyeret Tina kehadapan Bu Ratu dengan sebelah tangannya.


"Minta maaf sama bunda gue. Gue bukan orang yang pendendam tapi lo yang maksa gue jadi begini. Selama ini gue biarin lo karena lo istri dari Om Tony, tapi lagi-lagi lo berbuat ulah yang bikin gue jengah sama kelakuan lo" ucap Chacha.


"Gue gak ngehukum lo. Gue bakal serahin lo ke polisi, itu yang terbaik menurut versi gue daripada gue sendiri yang turun tangan. Karena gue juga gak yakin nyawa lo masih utuh di raga lo" tambahnya.


"Lo mendadak bisu dan tuli kah? " Chacha menyenggol sedikit bahu Tina dengan lututnya.


Tina benar-benar merasa kosong saat ini. Semua kebohongannya terbongkar tanpa dirinya prediksi. Siapa yang akan menyangka jika Chacha yang terlihat polos diluar ini begitu berbahaya. Sisi gelap. Chacha benar-benar tertutup dengan rapat.


Tina menatap Audy dengan tatapan yang sulit diartikan. Anak yang dulunya dia sia-siakan, kini menjelma menjadi wanita cantik ditangan Bu Ratu. Tina yakin jika ada campur tangan Chacha didalam pembentukan karakter Audy. Belum lagi Tiara yang menjadi tampak dewasa. Entah apa yang Chacha lakukan pada putri bungsunya itu, namun Tina cukup berterimakasih pada Chacha karena telah menggiring putrinya ke jalan yang seharusnya. Tidak seperti dirinya yang dibaluti dengan dendam masa lalu.


"Oke sudahi merenung mu, Tante. Tolong telfon polisi, berkas laporannya akan dikirim oleh bawahan ku" ucap Chacha entah pada siapa.


Chacha berlalu begitu saja dari ruangan itu, meninggalkan keheningan yang begitu kental di ruangan tersebut. Tidak ada ada pembicaraan yang terjadi. Mereka masih sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tina tampaknya juga begitu pasrah dengan kejadian yang menimpanya kali ini. Harusnya dia sadar jika berurusan dengan Chacha bukanlah hal yang mudah. Sekarang ketakutan nya terbukti, dirinya akan mendekam dipenjara tak lama lagi. Tina juga yakin jika dirinya akan dikenakan pasal berlapis dengan semua kelakuannya dari dulu. Apalagi yang bisa dirinya lakukan selain pasrah kali ini, melawan juga percuma karena peluru panas milik Chacha akan menyapa kulitnya jika dirinya memberontak.


"Ma.. Mami" Panggil Tiara dengan suara seraknya.


Tina mendongak menatap putri yang selama ini dia rawat dengan penuh kemewahan. Putri yang dirinya biarkan meskipun salah pergaulan, bahkan dia ikut andil dalam pergaulan sang anak. Tina menatap Tiara dengan tatapan penuh penyesalan.


Brugh...

__ADS_1


Tiara langsung memeluk Tina yang sedang terduduk layaknya orang di sidang itu.


"Yang dikatakan Kak Chacha itu semua bohong kan, Mi, Itu gak benar kan? Rara anak Mami sama Papi kan? " tanya Tiara bertubi-tubi.


Tina hanya mampu terisak dipelukan sang anak. Tina masih tak menyangka jika Chacha mampu mengusut tuntas masalah ini.


"Mami jawab Rara Mi" Tiara mengguncang bahu Tina.


Tina menatap Tiara tepat dimanik matanya. Mata yang biasa memancarkan keceriaan itu kini redup dengan tatapan putus asa. Tina langsung merengkuh tubuh mungil anaknya itu kedalam dekapannya.


"Maafkan Mami nak, maafkan Mami" ucap Tina.


Tiara melepaskan pelukannya dari Tina.


"Maksud Mami apa? Ja... Jadi be.. Benar kalau Ra.. Ra bukan anak Papi" Tiara menatap Tina dan Tony bergantian.


Tony maju dan memeluk Tiara erat, tampak Tiara yang paling terpukul disini. Tony sadar jika Tiara tidak salah disini bagaimanapun Tony begitu menyayangi Tiara layaknya putri kandungnya sendiri. Seburuk apapun sikap Tiara diluar sana, Tony tetap menyayangi Tiara. Karena bagaimanapun Tony yang membiayainya semua kebutuhan Tiara dari sejak bayi.


"Kamu tetap anak Papi, Ra. Apapun keadaannya kamu tetap anak Papi" Tony memperat pelukannya pada Tiara, membuat tangis Tiara semakin pecah.


Sedangkan didalam kamar milik bungsu Effendy ini berbanding terbalik dengan keadaan di luar yang terlihat menegangkan. Di kamar milik Chacha hanya terlihat sepasang manusia yang tengah bersantai di balkon kamar menikmati angin yang menerpa wajah mereka.


"Udah kelar semuanya kan, sayang? " Tanya Levy pada Chacha yang asik memainkan kancing bajunya itu.

__ADS_1


"Harusnya udah sih, aku belum cek lagi setiap musuh yang pernah aku lawan"


"Nanti Mas bantu cek" Levy mencium pucuk kepala istrinya.


"Kamu capek gak sih, Mas? " tanya Chacha tiba-tiba.


"Capek kenapa, hmm? " Levy mempererat rangkulannya.


"Sejak kita nikah, ada aja masalah yang nyapa kita. Dimulai dari Angel yang terus berulah, aku yang mood swing, Masalah keluarga aku yang gak ada habisnya. Kamu risih gak sih nikah sama aku yang notabenenya banyak masalah? " Chacha mendongak menatap Levy yang juga menatapnya.


Sungguh demi apapun Chacha merasa tak enak hati pada suaminya ini, Chacha selalu menghadirkan masalah untuk suaminya. Tak henti-hentinya membuat khawatir karena tingkah lakunya.


Levy menatap manik biru sang istri dengan lembut. Senyum tampan yang jarang dirinya tampilkan itu kini tercetak jelas dihadapan sang istri. Levy tahu jika Chacha merasa tak nyaman padanya. Tapi, demi apapun Levy tak masalah dengan apa yang dirinya lalui bersama sang istri. Bukannya jenuh atau muak dengan semua permasalahan yang ada, Levy justru semakin cinta dengan sikap sang istri dalam menghadapi setiap masalah yang menimpa keluarganya. Bagaimana setiap masalah yang menimpa Chacha selalu membuat keluarganya tidak terlibat.


"Ngomong apa sih, sayang. Sejak janji suci Mas ucapkan, itu sungguh-sungguh sayang. Apapun keadaan kamu bagaimanapun kondisi kamu, Mas akan selalu ada buat kamu. Selalu berdiri di samping kamu sebagai teman, sahabat, kakak, dan suami. Jangan pernah berpikir yang aneh-aneh, kamu sudah istri terbaik yang Mas dapatkan"


"Masalah keluarga kamu, juga masalah Mas. Karena kamu adalah istri Mas, tanggung jawab Mas dunia dan akhirat sejak ijab qobul diucapkan sayang. Berhenti overthinking cinta ku, sama seperti kamu yang sabar menghadapi apapun yang menimpa Mas, begitu juga Mas sebagai suami kamu. Terimakasih sudah bersabar saat Mas kehilangan ingatan tentang kita dan anak-anak kita" Levy mencium pucuk kepala Chacha berkali-kali. Sedangkan Chacha memperat pelukannya pada Levy.


"Sayang Mas Levy banyak-banyak" Levy tergelak mendengar perkataan sang istri. Menurutnya ini bukan gaya Chacha berbicara seperti itu.


Chacha juga ikut tertawa dengan ala yang dirinya ucapkan, entahlah suasana hatinya sedang tak menentu kali ini.


"Mari hidup bahagia lebih lama lagi" Levy menatap Chacha tepat dimanik mata kesukaannya itu.

__ADS_1


"Biarkan maut yang memisahkan kita"


......END......


__ADS_2