
Tepat jam sembilan pagi Chacha dan Levy sampai di rumah utama keluarga Rahardian. Di sana sudah tampak ramai dengan keluarga inti yang berkumpul.
"Duh bumil yang satu ini makin seksi, euy" goda Fitri saat melihat Chacha masuk digandeng oleh Levy.
"Tante mah godain Chacha mulu, badan melar kek gini dikata seksi" Chacha langsung duduk di samping ibu mertuanya.
"Gimana kabar kamu, nak? " tanya Lena seraya mengelus rambut menantunya itu.
"Baik ma, mama sendiri gimana? "
"Mama baik, kalau gak capek temui Leon sana, dia nanyain kamu terus"
"Mama sih, tiap ke rumah Leon gak pernah diajak"
"Noh salahin tante kamu, selalu bawa Leon, mamah kadang sampek ngerasa gak punya anak tau saking sering Leon digondol tante kamu"
"Kak Lena ih, dikira aku kucing apa" ucap Fitri.
"Om Frans mana tante? "
"Di dalam sama papa sama kakak ipar yang lain"
"Si usil mana? "
"Main sama Leon di dalam tuh"
"Nanti aku temuin deh, Tante Tina ini kemana kok gak keliatan? "
"Ada di dalam kamarnya, habis sarapan tadi langsung masuk ke kamar lagi" Chacha hanya manggut-manggut mendengar jawaban Fitri.
"Duh cucu cantik oma sudah datang"
"Aish, ini dia oma gaul ku" tawa semua orang meledak mendengar celetukan Chacha.
"Cucu durhaka"
"Ampun ibu ratu"
"Hahahahahaha"
"Sudah sudah, mama kalau ketemu menantu aku pasti ada aja kelakuannya, kamu juga Cha, seneng banget godain oma"
"Hehehe, ampun deh pa, gak lagi"
"Gak lagi apa tuh? "
"Gak janji gak godain oma lagi tante"
"Hahahahahaha"
"Sudah-sudah ayo duduk semuanya" Opa menengahi percakapan unfaedah mereka.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kakek kamu, nak? "
"Baik opa, kakek sekarang banyak gaya, gak mau diem" adu Chacha.
"Maksud kamu gimana? "
"Sok sok an naik motor, katanya biar kayak anak muda buat bisa bonceng nenek kemana-mana"
"Hahahahahaha"
"Ibra memang beda" kata opa.
"Khem" Levy berdeham cukup keras, menyita seluruh perhatian di ruangan itu, ditambah dengan wajah dinginnya yang membuat semuanya bertanya.
"Levy kenapa? " tanya Fitri sedikit berbisik pada Chacha.
"Gak tau tante, dari subuh tadi udah aneh" jawab Chacha tak kalah berbisik pula.
"Sayang pindah sini" panggil Levy lembut sambil menepuk sofa di sampingnya.
Chacha langsung bangkit dan pindah ke sisi suaminya. Tak banyak bertanya atau berniat menggoda suaminya seperti biasanya ketika keluarganya berkumpul. Melihat sorot mata suaminya yang begitu serius, namun masih berlaku lembut padanya.
"Anak mu hebat Kak, dia bisa bersikap dingin pada yang lain, tapi beda banget kalau sama istrinya" bisik Fitri pada Lena.
"Keturunan Rahardian memang tak diragukan lagi. Kamu lihat sendiri bagaimana kelakuan para suami kita"
"Hahahaha iya, aku rasa cuma Kak Tony yang sedikit hangat, Kak Lenardi dan Frans sama es batu"
"Ada apa lagi ini, pa. Kenapa papa minta kami berkumpul lagi? " tanya Frans bingung kali ini.
"Bicaralah Lev" perintah opa.
"Dimana Tiara? " tanya Levy to the point.
"Bandara, sebentar lagi akan berangkat ke luar negeri"
Levy bangkit dan menelfon anak buahnya untuk membawa Tiara ke hadapannya.
"Ada apa ini, Lev? " tampak gurat penasaran di wajah Tiny, begitu juga lainnya. Kecuali, satu orang yang menatap Levy tajam dengan tatapan penuh tanya. Chacha.
"Ada yang kamu sembunyikan dari ku, Mas? "
Levy menghampiri istrinya lalu memeluknya ringan.
"Kendalikan emosi mu, sayang. Ingat tiga buah hati kita dalam rahim mu" Chacha memejamkan matanya menahan emosinya yang akan meledak, semenjak hamil Chacha susah mengontrol emosinya.
"Ada apa lagi ini, Lev? "
"Sebentar lagi kalian akan tau" ucap Levy penuh teka-teki.
Waktu terus berjalan, satu jam berlalu dengan keadaan hening. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Lain dengan Chacha yang sibuk mengunyah, setelah berhasil mengontrol emosinya, dia malah meminta salad buah pada suaminya. Untung saja omanya selalu membuatkan ketika Levy berkata akan berkunjung. Demi memanjakan cucu menantunya, sang oma rela bertempur di dapur untuk membuatkan makanan kesukaannya, apalagi sekarang sedang mengandung cicitnya.
__ADS_1
Tak selang berapa lama, kegaduhan terdengar dari arah luar. Tampak dari arah pintu masuk, Tiara yang sedang berontak sambil mengumpat karena di seret oleh dua orang anak buah Levy, ditambah dengan empat dibelakangnya.
"Tiara" panggil Tina membuat Tiara mematung dan berhenti mendadak.
Tiara melotot saat melihat seluruh keluarga besar Rahardian berkumpul, karena saking sibuknya berontak dan mengumpat. Tiara bahkan tak melihat kemana arah mobil yang membawanya tadi.
"Mami" Tiara berlari dan memeluk Tina.
"Tiara, kau ingin menjelaskan sesuatu pada istriku? " Chacha melongo bingung, menoleh ke arah suaminya yang menatap tajam Tiara.
"Ma-maksudnya? " ucap Tiara gugup.
"Ardan, bawa masuk" Levy sedikit berteriak, Chacha langsung mengeratkan rahangnya ketika Levy menyebutkan nama Ardan. Tanpa dijelaskan Chacha sudah tau jika ada yang gak beres dengan kakaknya.
Benar saja, Ardan membawa Audy yang terlihat ketakutan. Terbukti dengan Audy yang memeluk Ardan erat sambil memejamkan matanya. Kepalanya terus menggeleng, tampak jejak air mata di sana.
Di sisi lain, Tiara bergetar hebat melihat sosok Audy di hadapannya.
"Audy" panggil Chacha lembut. Namun, tak membuat Audy menggubris nya, bahkan semakin erat memeluk Ardan. Chacha dapat melihat raut khawatir dan lelah di wajah Ardan.
"Audy" panggil Chacha lagi. Namun, dengan suara dingin. Khas Chacha saat dulu bermusuhan dengan Audy.
Sukses. Audy membuka matanya dan menoleh ke arahnya. Chacha tersenyum dan merentangkan tangannya. Audy segera berlari kecil dan memeluk adiknya erat. Tampak dua wanita hamil itu berpelukan. Satunya seakan menumpahkan seluruh keluh kesahnya. Satunya lagi dengan lembut mengelus punggung kakaknya dengan segunung kasih sayang.
"Siap cerita padaku? " bisik Chacha lembut. Yang lain menonton, enggan menyela.
Tampak Audy menggeleng pelan, tubuhnya gemetar ketakutan. Terbukti dengan pelukannya yang semakin erat.
"Kau lupa sesuatu, Audy. Ceritakan semuanya padaku, aku adikmu. Aku akan menghilangkan semua gundah mu, sedih mu dan sakit mu. Katakan, jika ada yang menyakiti mu, maka aku yang akan membalasnya dengan cara ku" ucap Chacha dingin.
Audy masih setia menggeleng.
"Kak Ardan? " Chacha terpaksa bertanya pada Ardan.
"Saya Queen"
"Kemarilah" Ardan mendekat tepat di sebelah Chacha. "Ceritakan apa yang kakak tau"
Yang lain takjub melihat Chacha bisa memerintah seorang Ardan Al Farizi. Salah satu pebisnis muda yang tak mudah ditumbangkan, pebisnis yang terkenal menjaga bisnisnya dengan organisasi gelap yang siap membantai jika melakukan kecurangan.
"Maaf sebelumnya, Queen. Saya tak menjaga nona Audy dengan baik"
Chacha hanya mengangguk pelan. Tatapan matanya berubah dingin. Anggota keluarga Rahardian membeku melihat menantu mereka memiliki tatapan yang sama kejamnya dengan suaminya.
"Semalam saya sedang di toilet, saya tak begitu jelas mengetahui kejadiannya. Setelah keluar dari toilet saya mendengar teriakan dari dalam kamar nona. Saya langsung berlari, di sana saya dihadapkan dengan 10 orang. 2 orang memegang tangan nona yang memberontak sambil terus berteriak. Mereka hanya tertawa karena belum menyadari kehadiran saya"
Chacha menghela napas panjang. Memejamkan matanya.
"Dari saya dengar, mereka siap menggilir nona, Queen"
Duarr...
__ADS_1