Call Me Queen

Call Me Queen
Kebenaran Audy


__ADS_3

"Babah akan kembali sekarang? "


"Harusnya iya"


"Kenapa buru-buru sekali? " rengeknya.


"Tapi Babah sepertinya ketinggalan pesawat" cengirnya. "Tak apa besok Babah pesan tiket lagi"


"Pakai jet pribadi aku aja"


"Nanti ngerepotin"


"Nggak kok, Babah nginep dimana? Kalau gak salah ingat Babah gak ada tempat tinggal disini"


"Babah di hotel. Asisten Babah juga masih disana"


"Tidur sini saja"


"No, ada beberapa pekerjaan yang belum Babah selesaikan" Chacha menghembuskan napasnya pelan.


"Baiklah, jangan terlalu lelah. Chacha tak mau Babah sakit gara-gara kerjaan ya"


"Babah tau, Babah masih ingin melihat gedung perusahaan Babah berdiri dengan kokoh" Bastian terkekeh sambil membayangkan salah satu cabang perusahaan nya yang dibakar beberapa bulan lalu oleh putri nakalnya ini.


"Makanya kalau Chacha bilang buat istirahat ya istirahat, jangan kira kita gak tinggal serumah Babah bisa bohongi aku" sinis Chacha. Bastian malah tertawa.


"Babah janji, itu tak akan terulang lagi"


Chacha sengaja menyuruh anak buahnya untuk membakar salah satu cabang perusahaan Bastian saat mendapat laporan bahwa Bastian drop, dan harus opname. Jadi Chacha memberikan peringatan langsung pada ayah angkatnya itu. Siapa yang menyangka Bastian malah tertawa terbahak-bahak saat tahu apa yang dilakukan Chacha alih-alih marah karena cabang perusahaannya terbakar.


"Chacha takut gak bisa rawat Babah kalau Chacha jauh. Babah cuma boleh sakit kalau Chacha ada disamping babah" Chacha kembali memeluk erat tubuh Bastian. Bastian hanya bisa tersenyum melihat putri angkatnya itu.


"Chacha bener-bener ngerasa punya ayah karena sikap babah, jadi babah masih harus tetap sehat buat jagain Chacha"


Semua orang yang ada disana menitikkan air mata saat mendengar apa yang Chacha katakan. Ayah Gun mengepalkan tangan. Sebegitu jauhkah jarak yang ia ciptakan dengan anaknya, hingga anaknya itu mencari kasih sayang seorang ayah dari orang lain.


"Babah adalah tamengmu, jadi Babah akan selalu sehat untukmu. Jika mungkin sakit itu karena kamu terlalu lama meninggalkan Babah, jadi Babah sakit karena rindu" Chacha tergelak mendengar gurauan Bastian.

__ADS_1


"Besok jadwal pemeriksaan Babah kan? " Bastian mengangguk, memang sejak menolong Chacha waktu itu dirinya harus bolak balik rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya.


"Biarkan Chacha yang memeriksa langsung, Chacha tunggu di rumah sakit besok. Anak buah ku akan menjemput Babah, jangan lupa kirim alamat hotel yang Babah tempati" Bastian hanya mengangguk melihat perhatian Chacha, karena jarang sekali gadis ini akan bicara panjang kali lebar seperti ini.


Melihat perhatian Chacha pada ayah angkatnya membuat sudut hati Ayah Gun dan Bu Ratu terasa nyeri. Bagaimana tidak, dia putrinya, tapi malah acuh tak acuh karena sikap mereka sendiri. Sedangkan pada Bastian yang notabene nya adalah orang asing begitu terlihat akrab, bahkan layaknya ayah dan anak sungguhan. Sungguh miris.


Chacha mengantar Bastian ke halaman depan. Jangan lupakan Levy yang terus saja mengikutinya. Bahkan tatapan matanya sejak tadi tak lepas dari dirinya. Chacha melihat tatapan yang begitu memuja dari cara Levy memandangnya. Chacha hanya tersenyum menanggapi Levy. Benar kata Bastian jika Levy begitu menggilainya.


"Well, kita bahas lagi yang tadi. Aku mau malam ini selesai semuanya"


"Maksud kamu apa, nak? "


"Audy lo sudah jadi bagian dari keluarga Pandey, jadi gue harap lo gak usah ikut campur lagi dengan keluarga Effendy dalam hal apapun"


"Maksud lo apa? Gue juga putri keluarga Effendy"


"Putri haram lebih tepatnya" suara Chacha pelan namun menusuk.


"Maksud kamu apa, Cha? " tanya Ratih dengan nada bingung.


"Anda atau aku yang yang akan menjelaskan tuan Gunawan? "


"Lo yakin? " Chacha tersenyum remeh.


"Yakin lah"


"Coba tanyain" tantang Chacha.


Ayah Gun dan Bu Ratu terdiam dengan ekspresi masing-masing. Bahkan mereka diam layaknya patung, kenyataan ini mereka tutup rapat-rapat, tapi siapa sangka jika Chacha dengan mudah menemukan informasi ini.


"Bunda, aku anak bunda kan? " tanya Audy.


"Ayah, aku anak kandung kalian kan? "


Ayah Gun dan Bu Ratu terdiam, mereka bingung akan menjawab apa. Dijawab takut membuat Audy sakit hati, tapi tak selamanya juga mereka akan menutupi ini. Audy harus tau siapa jati dirinya.


"Ayah, bunda jawab aku dong" desaknya lagi.

__ADS_1


Keduanya masih bungkam. Lainnya hanya menunggu dengan rasa penasaran yang tinggi apa yang akan diucapkan oleh Ayah Gun dan Bu Ratu. Karena, sikap Audy yang membuat mereka selama ini merasa jika Audy bukan dari keluarga baik-baik. Namun yang membuat heran, fitur wajah Audy sedikit banyak mirip dengan Ayah Gun.


"Ayah, Bunda" kesekian kalinya Audy mendesak kedua orang tuanya. Hingga akhirnya Bu Ratu menghela napas dan mulai berbicara.


"Kamu anak angkat kami Audy"


Deg...


Audy terdiam ditempatnya. Otaknya masih mencerna perkataan Bu Ratu baik-baik.


"Bunda bohongkan? " Audy masih tak percaya.


"Tidak Audy, bunda tak berbohong Kamu memang anak angkat kami. Ayah yang membawamu ke pangkuan bunda saat kamu masih bayi. Itu sebabnya kamu berbeda dengan adikmu"


"Ayah katakan jika bunda bohong" Ayah Gun masih diam, hanya menatap Audy dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Ayah katakan padaku jika bunda berbohong. Bunda hanya ingin menenangkan hati Chacha kan, ayah" Audy mulai panik saat ini.


"Gak, gak mungkin. Gak mungkin gue cuma anak angkat"


Chacha hanya melipat tangannya didepan dadanya saat melihat ekspresi Audy yang mengetahui kebenaran tentang siapa dirinya di keluarga Effendy. Bahkan keluarga Pandey juga terkejut dengan berita ini. Beda dengan keluarga besar Effendy yang sudah tahu tentang Audy. Begitu juga keluarga Izhaka, namun mereka sedikit tak menyukai Audy karena sikap angkuh Audy.


"Ayah jangan diem aja dong, yah. Jawab aku yah"


"Katakan kalau bunda berbohong, ayah" Audy bahkan merengek pada Ayah Gun.


Sedangkan Ayah Gun kini sedang dilema. Ingin mengakui satu hal namun takut membuat lainnya kecewa. Tak diakui juga akan mengecewakan. Saat pandangannya beradu dengan Chacha, dirinya benar-benar merasa telah kalah. Apalagi putri bungsunya itu sedang tersenyum miring. Benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.


"Kenapa anda tak menjawabnya Tuan Gunawan? " Chacha bertanya sambil memiringkan kepalanya.


"Atau anda butuh bantuan ku untuk menjawabnya" cara bicara Chacha membuat yang lain meringis. Chacha bahkan tak memanggil Ayah Gun dengan sebutan ayah lagi kali ini. Kini hanya panggilan formal yang ia gunakan.


"Diem lo, anak pembawa sial" bentak Audy.


"Ssstt, lo salah. Jika gue pembawa sial, lo gak mungkin hidup tenang di keluarga Effendy dengan bayang-bayang musuh keluarga Izhaka" ucapan Chacha telak membungkam semuanya. Perkataan itu benar, Chacha mempertaruhkan hidupnya untuk melindungi keluarga besarnya.


"Jika gue bukan anak kandung ayah, kenapa wajah gue mirip ayah? " tanya Audy bingung.

__ADS_1


"Karena lo anak haram, betulkan Tuan Gunawan? "


__ADS_2