
"Cha lo gila ya" pekik Karin setelah sampai di parkiran.
"Kenape?" tanya Chacha bingung.
"Lo mulai tadi pake sandal jepit. Ya ampun"
"Enakan gini udah ah ayok. Gue ambil mobil dulu" ucap Chacha.
"Ambil mobil dimana?" tanya Levy.
"Diparkiran"
"Lah emang kita lagi di lapangan bola ini" ucap Kinos.
"Maksud gue diparkir khusus bentar ya" ucapnya langsung berlari.
"Parkir khusus lah emang nih kafe punya dia ya?" tanya Nena.
"Tuh anak otaknya isinya apaan sih heran gue. Orang tua sendiri disalip sama dia" ucap Fany sambil geleng kepala.
"Gak heran sih gue secara dia penerus utama keluarga Izhaka. Gak heran dia kalau jenius" timpal Levy.
"Sodaraan dia jenius semua mah" tambah Zeze.
"Ayok" ucap Chacha dari dalam mobilnya.
"Lo bertiga naik apaan?" tanya Levy
"Kita bareng naik mobil si Kinos pak bos" jawab Putra.
"Bawa mobil gue nih. Gue bareng nih anak" Levy melemparkan kunci mobilnya.
"Pindah" ucapnya Levy langsung dituruti oleh Chacha.
"Manut banget dia kalo sama si Levy yak" cerocos Karin.
"Ayok Rin nyerocos mulu" Pekik Nena pada Karin yang masih asik berdiri melihat kearah Levy dan Chacha.
Levy mulai melajukan mobil Chacha membelah jalan raya. Hingga sekitar 50 menit mereka sampai diparkiran Mall tersebut.
Chacha turun dari mobilnya tanpa menggunakan jaket membuat dia terlihat bak anak kecil. Levy juga turun kali ini dirinya juga memakai sandal jepit yang dia ganti di mobil Chacha.
"Nemu dimana Lev?" tanya Putra.
"Apaan?" tanya Levy balik.
"Noh" Putra menunjuk dengan matanya.
"Punya Abang dia katanya"
"Kok lo pake?" tanya Karin.
"Pinjem doang panas kaki gue dari tadi pake sepatu"
"Dah lah bawa pulang aja belom dipake juga sama Abang kok. Udah ayok malah ngobrol disini"
Mereka masuk kedalam mall bersamaan membuat beberapa mata menatap mereka takjub. Bagaimana tidak, jangan salahkan tampang mereka yang diatas rata-rata.
"Mau kemana nih kita?" tanya Karin.
__ADS_1
"Cari sepatu yok" tambah Nena.
"Yok berangkat" ucap Kinos semangat.
"Semangat banget lu, Nos"
"Pengen beliin sepatu buat mama gue"
"Duh duh anak berbakti"
"Mama gue ultah besok"
Chacha merogoh kedalam tasnya entah apa yang dicari hingga dia menemukan apa yang dia cari.
"Hadiah ultah buat mama lo" ucap Chacha menyodorkan sesuatu ke Kinos.
"Buju gile seriusan Cha?" tanya Kinos Chacha hanya mengangguk.
"Apaan sih, os?" tanya Elang penasaran.
"Voucher makan malam gratis di QICF, VIP pula ini" ucap Kinos.
"Gila gue booking VIP tadi aja udah gelontor tabungan gue" timpal Zeze.
"Jangan lupa kita patungan buat booking tuh ruangan" tambah Fany.
"Iya-iya ih"
Ting...
Zeze membuka ponselnya karena menerima notif yang masuk.
"Salah gue gak booking tempat dulu, bagi itu lah" tak terasa mereka sudah sampai ditempat yang mereka tuju.
Chacha malah menuju sofa dan duduk disana sedangkan yang lainnya asik berburu sepatu baru.
"Gak cari sepatu, sweety?" tanya Levy duduk disebelah Chacha.
"Males. Enakan gini pake sandal jepit" jawabnya sambil cengengesan.
"Emang aneh kalau kamu mah" sambil mengacak rambut Chacha gemas.
"Ih kan jadi acak-acakan, Lele" ucapnya sambil cemberut.
"Sini-sini aku rapiin. Gak usah cemberut ih" Levy langsung merapikan rambut Chacha tanpa mereka sadari teman-teman mereka yang melihat adegan itu melongo tak percaya.
"Inget tempat bos kalau mau mesra-mesraan" timpal Elang.
"Gue timpuk mau?"
"Dih baper"
"Udah selesai belum?" tanya Chacha melerai Levy dan Elang.
"Tinggal bayar doang nih" jawab Nena sambil menunjukkan barang yang mereka dapat Chacha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yakin gak mau beli?" tanya Levy sekali lagi.
"Nggak masih banyak di rumah" jawab Chacha. Setelah mengurus pembayaran mereka langsung menuju tempat berikutnya.
__ADS_1
"Bagus" ucap Levy pada Chacha yang sedang membolak-balik hoodie.
"Kaget tau nggak"
"Maaf, Sweety"
"Yok" ajak Chacha.
"Lah udah?"
"Udah ini" Chacha mengangkat dua hoodie yang ada ditangannya Levy mengangguk dan menggandeng tangan Chacha menuju kasir.
Setelah mengurus pembayaran Chacha memberikan salah satu hoodie tersebut pada Levy.
"Loh kok..."
"Buat pangeran aku jadi gak usah banyak komen" ucap Chacha mutlak.
"Thank you" Levy merangkul Chacha tanpa canggung meskipun didepan umum.
"Kita keluar duluan aku udah kasih tau sama yang lain nanti ngumpul di kafe" Levy langsung menarik tangan Chacha menuju tempat berikutnya.
"Ngapain kesini mau beli jam?" tanta Chacha pada Levy. Sedangkan yang ditanya tak menjawab langsung memilih saja.
"Bungkus yang ini mbak" pinta Levy pada pramuniaga disana.
"Baik silahkan ditunggu" Levy hanya mengangguk.
Tak selang berapa lama pramuniaga tadi membawa pesanan Levy dan Levy langsung melakukan pembayaran. Setelah selesai dirinya langsung menarik Chacha menuju kafe tanpa banyak bicara.
"Bunda anakmu diseret-seret sama Lele" ucapnya setelah duduk disalah satu kursi.
"Alaynya ya Tuhan" mereka berdua hanya tertawa. Levy menyodorkan bungkusan yang tadi ia beli.
"Apaan?" tanya Chacha.
"Buka aja"
Chacha membuka bungkusan tersebut, dirinya terkejut melihat jam tangan couple berwarna hitam. Levy langsung mengambil salah satunya dan memasang dipergelangan tangannya. Chacha masih melongo tak percaya.
"Kenapa gak dipake gak suka?" tanya Levy.
"Couple? "
"Yes. Hoodie tadi juga couple kan?" Chacha hanya mengangguk.
"Pake terus pesen minum udah haus ini"
"Pesenin" rengeknya manja.
"Manja banget sih gembul"
"Aku gak gembul"
"Ya udah nggak gembul tapi mungil"
"Ih udah tinggi tau"
"Mau pesen apa nggak?"
__ADS_1
"Iya pesen minum aja sambil nunggu yang lainnya" Levy hanya mengangguk sambil membolak-balik menu. Sedangkan pelayan yang sejak tadi berdiri disampingnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.