
Plak...
Chacha kaget saat pipinya terasa perih. Bahkan dirinya tak sadar saat Angel membalik dirinya lalu menamparnya. Setelah mengumpulkan kesadarannya secepat kilat. Ekspresi wajahnya yang tadi ceria seketika berubah menjadi dingin. Bahkan pandangannya bisa membekukan.
"Dasar murahan" Chacha hanya menaikkan sebelah alisnya melihat tuduhan Angel.
"Cowok di luaran sana banyak kenapa lo harus goda tunangan gue? " teriak Angel melampiaskan amarahnya. Yang lain kaget, ingin menghalangi Angel namun Fany menghalangi. Melihat ekspresi tenang milik Chacha membuat Fany melakukan itu.
"Lo boleh goda siapa aja tapi jangan tunangan gue, *****" Chacha masih bungkam membuat Angel makin murka.
"Sekali lagi gue lihat lo godain tunangan gue, abis lo sama gue" Angel mengancam Chacha tepat di depan wajahnya. Lalu dirinya berbalik. Namun tiba-tiba terhenti dan meringis.
"Kita tak pernah kenal sebelumnya. Jaga batasan lo saat bicara sama gue. Kalo bukan karena Chiara udah lama gue lenyapin lo sama nyokap sialan lo itu" Angel membelalak kaget mendengar ucapan Chacha.
"Maksud lo apa, hah? "
"Nothing. Inget jaga batasan lo"
"Dasarnya ja***g ya tetep ja***g. Lo sama nyokap lo sama aja"
"Jaga batasan lo Angel Narendra" Chacha mencekik Angel membuat dirinya kesulitan bernafas.
"Lo boleh ngehina gue semau lo dengan mulut sampah lo. Tapi jangan sekali pun lo ngehina bunda gue. Bunda gue wanita terhormat, jadi tak pantas lo rendahin dia. Ini peringatan pertama buat lo. Percayalah sekali lagi gue denger lo rendahin bunda gue, say goodbye for everyone, baby" Chacha menghempaskan Angel dengan kasar. Dirinya memejamkan matanya mencoba menguasai amarahnya yang siap meledak kapan saja.
"Berangkat duluan. Fany nanti shareloc"
"Tapi, Cha"
"Cepet. Gue bisa bunuh itu anak kalo masih disini"
Levy langsung menarik tangan Angel kasar dan menyuruhnya masuk kedalam mobil. Angel hanya menurut dia masih kaget dengan perlakuan Chacha. Dia salah langkah jika mengira Chacha adalah gadis lembut seperti yang nampak. Nyatanya ketika di provokasi sedikit, jiwa iblis dalam dirinya langsung bangkit. Andai Angel tau jika dia salah memprovokasi Chacha menggunakan bundanya, Chacha akan lebih menyeramkan. Beruntung kali ini Chacha dapat menahan emosinya.
Mereka langsung pergi meninggalkan Chacha dan Chiara berdua dalam sunyi. Tak lama kemudian bawahan Chacha datang membawa mobil yang Chacha butuhkan. Setelah memberi instruksi pada bawahannya. Chacha langsung melakukan mobilnya menuju tempat para sahabatnya.
...****************...
Levy dan lainnya sudah sampai di pekarangan yang cukup luas. Mereka turun langsung disambut dengan beberapa orang yang mereka perkiraan memang menunggu kedatangan mereka. Saat turun mereka melihat sekelilingnya. Cukup puas, tempat ini menenangkan. Cocok untuk melepas penat.
"Mas Levy" seorang gadis langsung menghambur ke pelukan Levy saat dirinya turun dari mobil.
"Apa kabar kamu? "
"Baik, Mas. Mas Levy sendiri apa kabar? "
"Baik. Udah ayo kasian temen-temen Mas kalo gak disuruh masuk" gadis itu menengok ke belakang Levy dan tersenyum canggung.
"Mari Mbak, Mas masuk. Kenalin nama saya Mutia, adik angkat Mas Levy"
"Udah kenalannya nanti aja, sekarang ayo masuk. Udah ditunggu umi sama Abah lo"
"Eh.. Monggo Mbak Mas" mereka hanya mengangguk merespon Mutia.
"Apa kabar kamu, nak"
"Baik, Umi" Levy langsung memeluk perempuan paruh baya yang menunggu di depan rumah itu.
"Abah sehat? " Levy kembali beralih pada laki-laki paruh baya disebelahnya.
"Sehat Le. Kamu sendiri gimana? "
"Sehat, Bah. Oh iya ini Levy ijin bawa temen nginep sini gak papa kan? "
__ADS_1
"Yo rapopo tho, Le. Yang kesini waktu itu kan"
"Iya, Bah. Tapi kali ini ada ceweknya"
"Cewek? Maksudnya gimana? istrinya? atau pacarnya? "
"Duh si Abah malah nanya terus. Bentar, Lev katanya kamu tunangan"
"Iya umi"
"Mana tunangan kamu. Bukannya dikenalin sama umi"
"Eh... Angel kasih salam sama Umi" Angel maju sambil menunduk.
"Owalah ayu tenan yo. Iki seng model kae kan, Lev" Levy hanya mengangguk merespon ucapan wanita yang ia panggil umi tadi.
"Ya udah ayo masuk. Abah ini ada tamu bukannya disuruh masuk dulu, malah diajak ngobrol diluar"
"Kok Abah, Mi"
"Siapa lagi? "
"Ya udah Abah yang salah. Inget Lev, Umi itu maha benar" Levy dan lainnya terkekeh mendengar bisikan abahnya.
Mereka lanjut mengobrol diruang tamu keluarga angkat Levy. Informasi yang mereka ketahui sekarang, bahwa kedua orang tua angkat Levy merupakan kepala desa di desa tersebut. Mutia adalah gadis satu-satunya di keluarga tersebut. Karena kakak angkat adalah laki-laki dan adik kandungnya juga laki-laki. Adik Mutia bernama Matteo, Levy yang memberinya nama. Matteo baru berumur sepuluh tahun.
Obrolan mereka terhenti ketika suara mobil terdengar berhenti di pekarangan itu. Mereka keluar guna melihat siapa yang datang.
"Kak Chia" Mutia langsung berteriak sambil berlari menghampiri Chiara yang baru turun dari mobil.
"Ya ampun, pelan-pelan dong. Kalo jatuh gimana" Chiara hampir limbung saat Mutia menabrakkan dirinya untuk memeluk Chiara.
"Hai" Chacha bersuara sambil menyembuhkan kepalanya di balik kemudi.
"Turun eh, Tia mau peluk dulu" Chacha terkekeh namun tak urung turun juga dari mobilnya. Setelah Chacha turun Mutia langsung memeluk dirinya.
"Teo mana? "
"Dolan karo koncone. Mboh nang ndi" Chacha hanya mengangguk mendengar penjelasan Mutia saat dirinya bertanya Matteo.
Levy mengernyit heran melihat kedekatan Mutia dan Chacha. Bukan akrab lagi, tapi terbilang seperti kakak dan adik.
"Umi mereka saling kenal? "
"Kenal banget malah. Chacha udah sering kesini sejak kecil"
"Iya kah? "
"Emmm biasanya dia kesini bareng kakeknya dulu. Tapi beberapa tahun ini dia kembali sendiri. Kadang juga bersama gadis disampingnya itu"
"Maksud Umi? "
"Tuan Ibra itu asli orang sini"
"Baru tau Levy"
"Masuk dulu Mbak"
"Ayo, mau nyapa Abah sama Umi dulu" mereka berjalan beriringan menuju tuan rumah.
"Umi kangen loh" Chacha langsung memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Umi kangen pisan, Cha. Tambah ayu putrane Umi iki yo"
"Ayu opo tho, Mi. Dolane panas-panasan kok ayu. Ireng iki loh"
"Leh semene diceluk ireng, lah Mutia opo areng" Chacha hanya tertawa mendengar perkataan wanita yang ia panggil Umi. Sedangkan Mutia hanya mbesengut tak terima dirinya dikatakan mirip arang.
Yang lain menatap tak percaya pada Chacha. Sejak kapan Chacha bisa bahasa jawa. Mereka kira Chacha hanya fasih beberapa bahasa luar negeri. Tapi nyatanya. Tak taulah Chacha terlalu banyak kejutan. Bahkan Levy saja sampai menganga mendapati Chacha begitu fasih berbicara menggunakan bahasa jawa.
"Nginep sini, Cha? "
"Emang kamarnya cukup, Bah? "
"Ya tinggal dua kamar yang kosong. Yang satu bisa ditempati Levy dan kaumnya. Kamu sama yang lain dikamar satunya. Tapi maaf pasti sempit"
"Mbak Chacha sama Kak Chia turu karo Tia ae, Bah"
"Tunangan kakak kamu aja yang tidur sama kamu, Tia"
"Tapi, Tia kangen Mbak Chacha" rengek Mutia.
"Haih, tinggal berapa hari lagi udah jadi istri orang masa masih kayak kecil gini"
"Tapi, Umi"
"Udah gini aja. Angel sama Levy tinggal disini. Yang lain ikut gue"
"Kemana Cha? "
"Ke sawah"
"Ngapain"
"Nyemplungin lo. Banyak tanya deh"
"Sensi amat, buk"
"Gue tampol nih"
"Beneran, Cha. Kakek asli sini? "
"Iya, Elang. Ayo ke rumah kakek. Istirahat dulu besok kesini lagi. bentar lagi juga gelap"
"Makan disini dulu balik nanti aja" mereka saling pandang lalu mengangguk bersamaan kearah Chacha.
"Ya udah kalian tinggal disini sebentar. Gue balik duluan mau mandi sekalian ganti nih perban" tunjuk Chacha pada lukanya yang mulai mengeluarkan darah.
"Loh kamu kenapa, Cha? "
"Gak papa, Mi. Kecantol tadi"
"Tia panggilin siapa yang biasa ngobatin itu. Mbak tunggu di rumah"
"Teo aja yang panggil ya. Tia gak boleh keluar, Mbak"
"Eh lupa calon pengantin gak boleh keluyuran" godaan Chacha membuat Mutia merona.
"Tapi Teo belum pulang ini"
"Gak usah nanti bersihkan disini aja. Mandi sini aja kenapa sih, Cha"
"Gak papa, Chacha balik dulu"
__ADS_1