
Ini adalah bulan kedua hampir menginjak bulan ketiga sejak kepergian Chacha. Tak terasa juga banyak hal yang Chacha lewatkan akan sahabatnya.
Kini mereka sudah berkumpul kembali di mansion Izhaka untuk menunggu kepulangan gadis yang mengantarkan nyawanya sendiri pada maut itu. Mereka harap-harap cemas, karena pertarungan terakhir dirahasiakan. Berbeda dengan pertarungan awal. Dimana mereka dibuat menjerit saat Chacha diserang secara bersamaan. Jantung mereka seakan habis lari maraton, berdegup begitu kencang saat melihat setiap aksi Chacha.
Audy bahkan melotot tak percaya melihat kemampuan Chacha, bagaimana cara dia melawan puluhan orang yang mengepungnya. Bahkan meskipun terkena sayatan atau tembakan dia masih bisa berdiri kokoh. Mengingat itu Audy jadi merinding sendiri. Namun, saat pertarungan terakhir dirahasiakan dalam hati dia berdoa agar adiknya itu tak kembali. Otaknya terlalu buruk untuk seukuran kakak.
"Kita tak tau kabar terakhir dia seperti apa sekarang" lirih Ratih dalam dekapan suaminya.
"Coba mama hubungi ayah angkat Chacha, Ma. Ratih sungguh tak tenang" rengek Ratih.
"Dia hanya keponakanmu tapi kamu sudah seperti kehilangan anak sendiri. Orang tuanya aja santai" Nyonya Besar Izhaka meilirk sinis pada kedua orang tua Chacha.
"Dia putriku, Ma. Tak peduli dia siapa dia tetap putriku"
"Kalau dia putrimu, kamu akan berpikir dua kali saat mengusirnya, Gunawan"
"Itu juga salah Chacha, Ma"
"Jelaskan pada mama Ratu, dimana letak kesalahan dia. Dari foto-foto itu? " Bu Ratu mengangguk.
"Ya, dia mencoreng nama baik keluarga Effendy"
"Kamu hanya berpikir nama baik keluarga. Apa kamu tak sadar atau tak memahami setiap lekuk tubuh anak kamu Ratu" Nyonya Besar Izhaka emosi hingga berteriak. Yang lain hanya diam, karena jika sang nyonya sudah marah, maka tak akan ada yang mampu meredam kemarahannya.
"Maksud mama apa? "
"Perhatikan lagi baik-baik Ratu. Buka mata kamu lebar-lebar. Warna bola mata Chacha dan yang ada di foto itu sama atau tidak. Dari situ saja sudah kelihatan"
Deg....
Bu Ratu terdiam, dirinya kembali mengingat warna mata putrinya yang sama dengan dirinya, lalu membandingkan dengan di foto. Difoto itu berwarna abu tua. Kebenaran atau apa ini sekarang. Bu Ratu bingung sekarang.
"Bisa aja dia pakai softlens kan? " celetuk Audy.
"Bola mata Chacha memang warna biru, adapun softlens itu dia cuma punya warna coklat. Itupun juga hanya untuk menutupi identitasnya dulu" sanggah Elang setelah tahu kebenaran tentang sepupunya itu dari sang kakek.
"Bisa aja dia ganti softlens kan? " Audy masih tak mau kalah.
"Ganti apaan, dia aja beli softlens pesen dari luar negeri. Ya kali pakai softlens lain. Chacha itu beli langsung dari pembuatnya. Karena softlens Chacha itu khusus" tambah Karin.
"Sok tau lo, ngebela sih boleh tapi jangan hoax juga"
"Karin emang gak bohong kok. Dia bahkan liat semua sertifikat softlens yang Chacha pakai. Soalnya kita juga pesen" tambah Nena.
"Ngibul kok rame-rame" Audy masih tak terima.
"Elang lo masih mau berkicau disitu apa ikut gue? " tanya Chiara.
"Mau lo bawa kemana si Elang? " tanya Karin dengan tatapan penuh selidik.
"Mau gue jadikan umpan buat mancing buaya" jawab Chiara santai.
"Sialan lo, Chi"
__ADS_1
"Udah ayok. Pak supir jemput nona muda di bandara. Tiga puluh menit anda tak sampai jangan harap bisa tenang, karena pesawat nona sebentar lagi mendarat" mendengar perkataan Chiara secepat kilat Elang langsung berlari keluar dari mansion.
Melihat kelakuan Elang yang lain bingung. Beda dengan para sahabat Chacha yang terkikik geli melihat Elang yang kalang kabut.
"Rin, helikopter buat lo udah siap. Pantau dari atas, gue di kejauhan"
"Oke"
"Sisanya pantau dari sini. Fany retas CCTV disetiap jalanan yang akan kita lewati. Jika ada yang mencurigakan lapor gue"
"Oke"
"Ze, lo bisa hubungi Bang Nial, Levy dan dua curut itu biar bisa gabung"
"Oke"
"Gue sebagai apa, Chi? " tanya Nena.
"Sebagai berikut" Chiara langsung berjalan keluar meninggalkan Nena yang terdiam bodoh.
"Nona muda? Cucuku akan kembali? " tanya Nyonya Besar Izhaka pada ketiga sahabat Chacha.
"Iya nek"
"Mbak Ida"
"Iya Nyonya" Mbak Ida terburu-buru ke ruang tamu saat mendengar teriakan dari sang Nyonya rumah.
"Masak semua kesukaan cucu cantikku, dia akan kembali"
"Ya, cepat lah suruh koki dan lainnya untuk menyiapkan penyambutan ini" perintahnya dengan semangat.
"Belum tentu dia kembali dengan selamat kan? "
"Audy apa maksud kamu? "
"Ayolah, Bunda. Pertarungan terakhir tak bisa kita lihat. Apa saja bisa terjadi kan"
Kebahagiaan yang tadi mencuat tiba-tiba meredup secara perlahan saat mendengar perkataan Audy. Perkataannya ada benarnya, tak ada yang tahu apa yang terjadi pada Chacha karena mereka tak bisa melihat pertarungan terakhir.
Jika Chacha tahu hal ini, ingatkan dirinya untuk menggetok kepala Audy.
"Tapi kami percaya, jika Chacha akan kembali"
"Dari mana datangnya kepercayaan diri itu" cibir Audy.
"Hello, lo kak kakaknya, masa gak tau kemampuan adik sendiri" sindir Zeze.
"Makanya jangan sibuk mau ngejatuhin orang terus, sampai lupa cek kemampuan lawan kan" sarkas Nena.
"Maksud kalian apa? "
"Kakak Audy yang katanya terhormat dan terpandang, terlembut dan terseksi kalau gak ngerasa gak usah ngegas dong santai" ejek Zeze.
__ADS_1
"Iri bilang bos" ucap Fany dan Nena serempak. Lalu mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.
"Maksud kalian ini apa? "
"Jangan tahu sekarang, Bunda"
"Kenapa? "
"Karena kata Chacha, kalau kita bongkar sekarang jatuhnya gak asik"
"Kenapa gitu? "
"Ya karena Chacha ingin pertunjukan yang spektakuler"
"Loh rame" Rey langsung nyelonong begitu saja.
"Kamu dari mana saja anak nakal"
"Nenek, Rey baru datang loh, masa diajak ribut. Kan gak asik"
"Udah tua pula. Merajuk? "
"Wes masih muda ini"
"Muda dari Hongkong" serempak ketiganya.
"Kalian memang adik terkampret" ketiganya tertawa.
Sejak kembalinya Nyonya rumah, Rey sudah tak tinggal di rumah keluarga Effendy lagi, melainkan pindah ke mansion Izhaka karena permintaan sang nenek. Dirinya dengan senang hati mengiyakan, karena adiknya juga akan tinggal di sini.
"Ada apa? " Fany yang sejak tadi santai tiba-tiba menjadi serius.
"... "
"Urus segera, gue meluncur"
"Ada apa, Fan?"
"Gue urus anak buah yang bentrok dulu, Chacha malah gak bisa lewat. Takutnya ini hanya alibi mereka buat nyerang Chacha"
"Gue pantau dari sini"
"Oke"
Saat si kembar hampir mencapai pintu, keduanya malah dikejutkan dengan suara yang tak asing.
"Mau kemana? "
"Eh"
"Loh, kok bisa tiba-tiba turun dari tangga? "
Tak hanya si kembar yang bingung, lainnya juga bingung saat di anak tangga terakhir berdiri dua sosok beda jenis kelamin ini.
__ADS_1
"Aku kembali" dengan senyum manisnya.