Call Me Queen

Call Me Queen
Bila Nanti


__ADS_3

Malam ini adalah malam ulang tahun perusahaan milik keluarga Levy. Chacha bersiap sebaik mungkin untuk menemani suaminya nanti. Meskipun harus menelan kekecewaan karena Levy berangkat terlebih dahulu, namun dirinya tetap berusaha untuk berpikir positif.


Dengan menggunakan gaun selutut berwarna baby blue Chacha memoleskan make-up tipis di wajahnya, membuat dirinya terlihat fresh kali ini. Gaun yang dikirim oleh mama mertuanya itu sedikit membuatnya sesak. Entah karena ukurannya yang kekecilan atau dirinya yang sedikit melebar.


Setelah selesai Chacha langsung berangkat menggunakan mobil sport nya, Chacha enggan menggunakan supir karena menurutnya itu akan merepotkan. Jangan lupakan jika dia bukan nona kaya yang manja seperti kebanyakan.


Chacha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena waktunya masih tinggal satu jam lagi acaranya akan dimulai. Saat di lampu merah Chacha sengaja membuka ponselnya. Melihat chat masuk dari para sahabatnya. Seperti biasa akan ada bahasan unfaedah didalamnya. Chacha hanya bisa menggeleng pelan.


Setelah menyusuri kurang lebih lima belas menit di jalanan Chacha sampai didepan hotel tempat acara, tentunya hotel miliknya. Tak mungkin jika suaminya menggunakan hotel lain saat istrinya sendiri memiliki hotel.


Chacha tak langsung turun dari mobilnya, karena kepalanya kembali berdenyut, perutnya serasa di aduk. Karena terlalu stres memikirkan Levy yang mendiamkannya, Chacha melupakan kesehatannya. Hingga Chacha melihat wanita yang berteriak cukup kencang, Chacha langsung melihat sekitar dengan mata tajamnya. Hingga senyum miring tersungging di bibirnya.


Chacha keluar bertepatan dengan mobil Elang yang sampai disampingnya.


"Ada apa? " tanya Karin.


"Masuk duluan, handle acara di dalam gue ada urusan. Hubungankan gue ke Pandu dan Fany" perintah Chacha langsung masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi. Karin terdiam beberapa detik karena kaget, hingga dirinya langsung melakukan tugas yang Chacha perintahkan.


Di dalam ruangan, para tamu sudah mulai berdatangan. Para petinggi perusahaan berikut karyawan juga hadir, ditambah lagi rekan bisnis yang hadir membuat acara malam ini semakin meriah. Apalagi selain ulang tahun perusahaan, malam ini juga bertepatan dengan ulang tahun putra sulung pemilik perusahaan ini, siapa lagi jika bukan Levy.


Di sudut lain Levy yang sedang menyapa rekan bisnisnya sesekali melirik ke arah pintu masuk. Berharap melihat istrinya datang, namun sampai saat ini Chacha belum juga menampakkan dirinya. Levy langsung kecewa, sepenting itukah urusan Chacha?


Hingga Levy dikejutkan dengan teriakan Lena, membuatnya berlari ke arah mamanya. Levy dapat melihat jika Lena terlihat shock.


"Ada apa? Kenapa mama berteriak? Acaranya akan dimulai lima belas menit lagi kan pa? "


"Acara ini tak akan dimulai jika Leon belum ditemukan"


"Maksud Papa? "


"Leon diculik"


Dua kata itu langsung membuat Levy membeku di tempatnya. Saat kesadaran nya kembali Levy langsung menghubungi anak buahnya untuk segera mencari Leon. Levy menenangkan para tamu yang mulai riuh mendengar putra bungsu Rahardian di culik. Bagaimana mungkin?


Elang, Karin, Nena dan Putra menghampiri Levy untuk mendiskusikan lebih lanjut. Kinos dan Zeze langsung berlari ke arah control room untuk mengecek CCTV hotel tersebut. Levy menyadari satu hal, Fany dan Pandu tak ada disini. Berbeda dengan Chiara, Levy menangkap gelagat Chiara yang terburu-buru dan langsung masuk ke dalam lift, Levy memperhatikan dengan seksama, Chiara menuju lantai paling atas. Levy mencoba menghubungi istrinya, namun hasilnya nihil. Chacha tak mengangkat panggilannya, rasa kecewa menyeruak di hatinya.


Sedangkan di tempat lain, Chacha melajukan mobilnya dengan kecepatan gila. Setelah mendapat informasi di dalam ruangan dari Chiara, Chacha yakin jika yang mereka bawa dalam mobil itu adalah adik iparnya, Leon. Balita tampan yang menggemaskan.


Chacha sudah mengatur anak buahnya dengan singkat, Chiara ditugaskan untuk memantau langsung dari atas gedung hotel. Karena memang itu keahlian Chiara. Chacha menyuruh Pandu dan Fany mencari jalan pintas untuk memutus jalan mobil yang membawa Leon. Sedangkan Chacha sendiri terus mengejarnya.


Setelah melewati sedikit perjalanan yang menguji adrenalin dan pertarungan cukup sengit akhirnya mereka berhasil membawa Leon kembali.


Sialnya lagi acaranya akan di mulai beberapa menit lagi. Chacha langsung menyuruh Fany dan Pandu mengantarkan Leon terlebih dahulu, dirinya masih ada sedikit urusan.


Di dalam ruangan suasana sedikit riuh saat Leon juga belum ditemukan. Hingga suara anak kecil membuat keadaan menjadi hening.


"Mama"


"Leon? "


"Mama" Leon melepaskan diri dari gendongan Pandu dan berlari ke pelukan Lena.


"Leon tak apa? " Leon hanya mengangguk menjawab pertanyaan mamanya. Kini giliran sang papa yang memeluknya.


"Kita bicarakan ini nanti, acaranya harus di mulai" seru Levy pada kedua orang tuanya.


Levy menelan kekecewaannya saat Chacha benar-benar tak hadir di acara pentingnya, ini sudah kelewatan, pikirnya.

__ADS_1


"Wah Pak Levy kenapa sendiri saja, mana gandengannya? " tanya salah satu rekan bisnisnya saat melihat Levy seorang diri.


Belum juga Levy menjawab, tiba-tiba ada tangan melingkar di lengannya. Awalnya Levy pikir itu Chacha, namun saat melihat siapa yang melingkarkan tangannya di lengannya membuat Levy harus menahan emosinya.


Siapa lagi jika bukan Angel. Saat Levy menoleh kearahnya Angel memasang senyum manisnya. Hingga beberapa wartawan yang hadir langsung menyorot keduanya.


"Wah, ini dia pasangannya. Saya kira Pak Levy sendiri malam ini? "


Angel hanya memasang senyum ramah saat mendengar godaan dari rekan bisnis Levy.


Bertepatan saat itu pula Chacha memasuki ballroom hotel. Matanya langsung menangkap sosok Levy yang tengah dirangkul Angel. Chacha langsung beralih ke mode flat melihat Levy yang tak berusaha menyingkirkan Angel di sampingnya. Dengan cuek Chacha menghampiri Levy, tujuannya hanya ingin meluruskan permasalahannya.


"Mas? " sapanya lembut.


"Kita bahas di rumah nanti" setelah mengatakan itu Levy pergi begitu saja, jangan lupakan Angel yang masih setia melingkarkan tangannya di lengan Levy.


Para sahabat Chacha menggeram kesal melihat Angel. Mereka benar-benar ingin memutilasi Angel saat ini. Jika bukan menjaga nama baik Levy, dan mendapat tatapan peringatan dari Chacha mungkin sejak tadi Angel sudah jadi bulan-bulanan mereka.


Chacha memejamkan matanya sejenak. Menghela napasnya pelan. Menenangkan dirinya.


Semangat, lo kuat kok. Batin Chacha bermonolog.


Chacha sedikit menjauh dari keramaian, dirinya memilih dipojok ruangan. Mengamati sekitar. Bahkan dirinya enggan berkumpul dengan para sahabatnya. Dari sini Chacha dapat melihat semuanya, suaminya yang menyapa para rekan bisnisnya. Mertuanya juga melakukan hal yang sama hingga mereka tak menyadari jika Levy bukan menggandeng menantunya.


Acara akan segera berakhir, banyak ucapan selamat ulang tahun yang Levy terima. Hingga para sahabatnya mulai menunjukkan sikap gilanya.


"Cek cek satu dua tiga" ucap Putra sambil meraih mikrofon.


"Langsung aja, pake cek cek segala" ucap Kinos tak sabar.


"Buruan" tambah Elang.


"Buruan, atau gue timpuk nih? " teriak Karin dari meja penonton. Sontak membuat yang lain tertawa.


"Ceila galak bener"


Chacha hanya tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya yang mulai konyol. Tanpa sadar dirinya juga berjalan mendekat ke arah stage yang disediakan, dan sekarang sedang diisi dengan tiga laki-laki tampan nan somplak itu. Setelah mereka selesai bernyanyi acara resmi dibubarkan. Namun, beberapa dari mereka berhenti karena mendengar suara petikan gitar. Atensi mereka langsung menoleh pada stage yang saat ini sedang diisi oleh seorang perempuan yang sedang memangku gitar sambil memejamkan matanya.


"Chacha ganti baju? " tanya Karin entah pada siapa.


"Maksud lo? " tanya Nena heran.


"Gue tadi ketemu dia di depan pakai warna baby blue, kenapa sekarang jadi warna hitam" jelas Karin.


"Ini juga, kenapa nadanya melow banget, Chacha lagi ada masalah apa gimana sih? " tanya Fany bingung.


"Ini ada yang gak beres. Queen gak mungkin ganti baju tanpa alasan" ujar Pandu.


Obrolan mereka terhenti saat mendengar suara lembut Chacha.


Bila memang engkau tak lagi cinta


Lebih baik engkau katakan saja


Ku relakan bila kau ingin pergi


Meninggalkan luka di dalam hati

__ADS_1


Lirik pertama yang Chacha bawakan membuat Levy mematung di tempat, apa ini? Chacha menyindir nya dengan lagu?


Cukup sudah kau lukai hatiku


Yang selalu tulus mencintai mu


Ku ikhlaskan semua yang terjadi


Ku akhiri cukup sampai disini


Kali ini Levy mengernyit bingung. Bukankah disini dirinya yang terluka? Bukankah disini dirinya yang cemburu. Karena merasa Chacha mengabaikannya dan lebih memilih mengurusi urusan Pandu?


Pergilah engkau bersamanya


Anggaplah diriku yang tak pernah ada


Aku mohon jangan lukai hatinya


Cukup aku saja


Levy mematung sebentar, tunggu sepertinya ada yang salah. Levy melirik ke arah samping. Benar saja Angel masih menempel pada nya. Kali ini Levy merutuki kebodohannya, emosi membutakan segalanya. Bagaimana bisa dirinya membiarkan Angel menempel padanya selama acara berlangsung, bahkan mengabaikan keberadaan istrinya.


Bila nanti engkau tak bahagia


Kembalilah pintu selalu terbuka


Namun hati tak kan bisa kembali


Seperti dulu lagi


Levy dapat melihat tatapan terluka di mata istrinya. Bahkan tanpa Chacha sadari air matanya lolos meluncur begitu saja. Dengan cepat dirinya menguasai emosinya. Setelah sadar dirinya malah tersenyum kikuk. Kebiasaannya menuangkan kesedihan dengan menyanyikan sebuah lagu malah membuat seluruh tamu undangan melihat dirinya dengan tatapan yang berbeda-beda.


Chacha berdiri dari duduknya, namun seketika pandangannya buram. Kini dirinya sudah sampai diambang batasnya. Chacha tak mampu menahannya lagi. Cukup berpura-pura kuatnya. Dia ingin mengambil jeda sebentar saja.


Levy langsung berlari saat melihat tubuh Chacha yang limbung. Tak hanya Levy, Elang dan Pandu juga berlari untuk menangkap Chacha.


Tubuh Chacha yang akan jatuh dari atas stage membuat semua yang mengenalnya berteriak histeris.


"Cha? "


Namun mereka sedikit bernapas lega saat Levy berhasil menangkap tubuh Chacha, hingga suara Levy membuat tanda tanya di benak mereka.


"Sayang, hei bangun. Jangan bercanda dong, Yang. Mas minta maaf. Sayang, bangun"


Para tamu undangan sontak menoleh ke arah Angel, jika Levy memanggil Chacha dengan sebutan 'sayang' lalu Angel itu apa?


Para sahabat Chacha tak memperdulikan lainnya mereka segera menghampiri Chacha dan Levy.


"Bawa ke kamar miliknya. Chiara sudah menunggu di sana dengan Kak Shiro"


"Bawa dia langsung ke rumah sakit"


Entah dari mana Shiro muncul, langsung memberi perintah yang diangguki oleh Levy. Dengan cepat Levy menggendong tubuh istrinya dan membawa nya keluar.


Orang tua Levy kebetulan sedang mengantar Leon ke salah satu kamar di sana. Karena putra bungsu mereka sedang tertidur di gendongan sang ayah. Dan Lena akan menemani Leon tidur, karena suaminya harus kembali menemui rekam bisnisnya setelah menidurkan Leon. Jadi mereka tak tau jika ada keributan kecil di luar sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Maaf part ini sedikit melow, author kebawa suasana ngetik sambil dengerin lagu melow, alhasil kebawa deh😁.


__ADS_2