Call Me Queen

Call Me Queen
Holiday Plan


__ADS_3

Tanpa mereka sadari sedari tadi ada yang mendengar pembicaraan mereka dibagian gelap ruangan tersebut. Orang itu mematung tak percaya dengan apa yang didengar. Hatinya terasa sakit mendengar isakan Chacha, ingin sekali dirinya merengkuh tubuh gadis itu untuk masuk dalam peluknya.


"Tapi menghindar bukan jalan yang baik, Cha"


"Gue tau, Fan"


"Lambat laun kalian juga bakal ketemu lagi. Entah sengaja atau nggak"


"Gue paham, Ze. Tapi setidaknya sampai saat itu tiba, hati gue sudah siap menerima semuanya"


"Lo bahkan baru kembali, Cha"


"Gue kira gue bakal bisa laluin ini, Na. Tapi, nyatanya gue gak sekuat dan semampu yang gue yakini" Chacha makin menunduk mengeluarkan air mata.


"Haish, gue jadi bingung sendiri harus apa" ujar Karin.


"Kenapa gak lo bongkar aja, Cha. Gue yakin lo gak salah"


"Kalo gue bongkar sekarang Fan, yang ada malah nambah masalah. Itu akan memupuk kebencian baru dan rencana balas dendam baru"


"Iya juga sih"


"Tapi setidaknya lo bisa yakinin orang-orang tertentu dulu"


"Yang gak usah yakinin kita. Karena kita tau lo kayak apa"


"Sok tau" tangis Chacha mulai mereda.


"Tau lah. Nih ya gue bisa itung pas jaman kita sekolah dulu. Lo kalo disentuh sama lawan jenis kecuali para jantan yang budiman itu, bakal ngamuk apalagi sampek jual diri. Gak yakin sama tamu yang booking lo, babak belur kali" Karin tertawa dengan ingatan dalam otaknya itu.


"Eh iya ya. Inget gak pas di club waktu itu"


"Emm yang Chacha tiba-tiba disentuh orang asing itu kan? "


"Iya"


"Gue inget. Langsung dibanting tanpa perasaan sama nih anak"


"Padahal dia gak sengaja nyentuh Chacha langsung dibanting. Apalagi sengaja bisa masuk rumah sakit kali" mereka kembali tertawa menghilangkan kesedihan Chacha dengan cepat.


Sedangkan seseorang yang bersembunyi di kegelapan tadi langsung pergi menuju kamar yang awalnya ia tempati. Niat hati ingin mengambil minum, malah mendengar rapuhnya seorang gadis. Membuat rasa hausnya hilang seketika. Dia kembali masuk ke kamar dan membuka ponselnya. Mengetikkan sesuatu di sana, seperti sebuah perintah. Aku harap kali ini tak salah melangkah lagi. Bisik hatinya.


"Tapi nih ya Cha, ngomong-ngomong siapa sih yang punya rencana gila pake trik murahan gitu"


"Jangan tau deh. Kalo lo tau bisa syok, Rin"


"Gila gak sih, Cha. Biasanya setiap berita akan menghilang berjalannya waktu. Nah ini malah menjadi"


"Pasti ada tujuan tertentu" Nena manyahuti perkataan Zeze.


"Biar nama gue tetep jelek. Bentar lagi penentuan siapa yang akan menjadi pewaris tunggal keluarga Izhaka"


"Ah pro dan kontra" Fany mengangguk memahami makna tersirat dari jawaban Chacha tadi.


"Tapi kalo hanya perorangan itu akan tenggelam berjalannya waktu" Karin mulai berargumen.


"Nah betul nih si Karin, kalo emang alasan awal hanya perebutan warisan satu kali jebak selesai"


"Sedangkan ini dibiarkan menahun"


"Mungkin tak hanya satu orang yang terlibat" Chacha mencerna pendapatan para sahabatnya.


"Gue bakal selidiki lebih dalam lagi. Bener kata lo ini bukan masalah perorangan"


"Tahun lalu berita ini sempat tenggelam, Cha"


"Bener kata Karin, kita selalu mantau berita ini. Bahkan Fany mati-matian hapus berita itu"


"Provokasi atau hasutan atau semacamnya gue gak peduli, tapi satu yang pasti. Masih didalangi oleh orang yang sama"

__ADS_1


"Bisa jadi. Karena tak ingin lo di atas dia"


"Anggap saja kita sedang melakukan sebuah permainan" kekeh Chacha tanpa beban. Ya Tuhan, mereka saja pusing memikirkan masalah yang menimpa salah satu sahabatnya ini, sedangkan yang bersangkutan makan kelewat santai tanpa beban. Dia memang ajaib.


...****************...


Kini mereka sedang berada di kantin kampus. Seperti biasa berkumpul sebelum menerima pencerahan dari sang dosen.


"Gak seru kalo ngumpul gak lengkap gini"


"Mau gimana lagi, Put. Elang punya jabatan penting di perusahaan. Karin juga punya jadwal sendiri. Kita harusnya bersyukur masih bisa santai begini ditengah kemelut kertas dan angka di kantor"


"Bener sih apa yang lo omongin, Nos"


"Tapi nih ya. Paling ajib ya si Levy. Santai bener"


"Dia pemilik perusahaannya kampret"


"Maka dari itu santai bener. Mana bisa quality time mulu keknya sama si Angel" Angel yang mendengar godaan dari Putra hanya tersenyum malu.


"Angel gak ada jadwal? " tanya Nena heran sebab Angel selalu hadir setiap mereka berkumpul. Selonggar itu pekerjaannya sebagai model.


Yang lain hanya menjadi pendengar tampa berniat menimpali candaan Putra pada Angel. Hingga mereka dikagetkan dengan Chacha yang duduk dengan sembarangan.


Mereka memilih kembali masuk kuliah setelah memar pada bagian tubuh akibat malam itu memudar. Hanya Chacha dan Levy yang harus menjaga lukanya betul-betul, karena belum sembuh sepenuhnya. Tapi, satu yang Chacha tangkap perbedaan kali ini. Sejak malam dimana mereka berdua tertembak, paginya Chacha melihat tatapan Levy padanya berubah. Tak ada tatapan menghina, bahkan tak ada kata-mata sinis yang terlontar lagi. Kini, jika Chacha memandang Levy hanya ada tatapan yang sulit dijelaskan.


"Lo kenapa dateng-dateng muka kusut gitu? " Nena yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara mewakili si kembar.


"Pertemuan di Manhattan dipercepat"


"Serius. Kapan? "


"Pertemuannya sudah selesai kemarin" Chacha menghela napas berat.


"Terus hasilnya? "


"Misi terakhir gue dipercepat"


"Gue ada waktu satu bulan untuk persiapan"


"Ada yang bisa kita bantu? "


"Ada"


"Apa? "


"Do'a" mereka sukses menatap Chacha dengan tatapan tak percaya.


"Gue bakal jemput nenek dulu. Gue udah negosiasi"


"Maksud lo? "


"Jika gue bisa dapetin lencana itu gue bakal balik lagi kesini"


"Kalo lo gagal? "


"Gue menukar nyawa gue dengan kebebasan nenek" semuanya terhenyak kaget dengan jawaban Chacha yang kelewat santai itu.


"Lo jangan gila deh"


"Lo gak mikir kedepannya apa gimana sih? "


"Jangan seenak jidat kalo mutusin sesuatu"


"Gue pikir ini baik-baik aja kok"


"Masih ada cara lain, pasti itu. Gak harus nukar nyawa lo"


"Kalian tenang aja"

__ADS_1


"Gimana bisa tenang, Cha. Mereka pasti berbuat licik"


"Itu pasti. Tapi gue sudah siap dengan semua kemungkinan yang ada"


"Gue yakin mereka pasti menyuruh sniper kebanggaan mereka buat ngelindungin nyawa mereka" Fany mulai frustasi.


"Lo bisa bawa Karin, Cha. Dia sniper terbaik saat ini"


"Gue punya sniper pribadi kalian gak usah khawatir" Mereka berbicara seolah tanpa beban, melupakan Angel yang masih di sana. Angel yang mendengar bahwa Karin adalah sniper, langsung merutuki kebodohannya saat ini.


"Satu bulan lagi gue disini. Bulan depan gue berangkat ke Jepang. Pelatihan tertutup selama dua minggu. Minggu ketiga, gue bakal kirim nenek kesini. Kalian jemput di bandara, gue mau kalian sendiri yang jadi pengawal nenek sampai di mansion"


"Lo bisa percaya sama kita"


"Mau kan quality time bareng gue" Chacha memohon dengan puppy eyes.


"Dengan senang hati yang mulai ratu" jawab Putra.


"Kalian bisa minta cuti kuliah dulu, bilang perintah gue. Sebut nama asli gue mereka bakal ngerti" mereka hanya mengangguk.


Mereka dengan cepat menyetujui perintah Chacha lumayan libur kuliah selama sebulan kapan lagi.


"Jadi apa agenda kita dalam satu bulan ini? " tanya Nena dengan wajah berseri.


"Mau liburan? "


"Boleh, kemana? "


"Ke.. "


"Eh pak bos kan ngajak ke siapa itu namanya"


"Siape? "


"Adik angkatnya yang di desa itu loh"


"Emang jadi, Lev? " Levy hanya mengiyakan dengan anggukan pertanyaan sahabatnya.


"Kesana aja deh, Cha" Chacha hanya menaikkan satu alisnya.


"Itu pedesaan. Gue sama Kinos sama Elang udah pernah kesana. Pas buat nenangin pikiran"


"Dalam rangka apa kita mau kesana. Ntar yang ada malah ngerepotin"


"Ada penginapan juga kok disana jadi aman. Yah meski agak jauh dari tempat tinggal orang tua angkat Levy"


"Lo punya orang tua angkat, Lev? " Levy hanya mengangguk menjawab pertanyaan Fany. Dirinya masih fokus pada laptopnya.


"Adik angkatnya nikah. Jadi kita bisa lah sekalian memeriahkan acaranya"


"Ya secara kita itu kan cakep"


"Gak usah mulai narsisnya deh"


"Jadi kapan kita berangkat? " putus Chacha memotong berdebatan unfaedah itu.


"Kapan, Lev? " Putra menyenggol Levy yang masih sibuk.


"Lusa" jawabnya singkat.


"Oke. Kita bisa tinggal satu minggu disana. Setelah itu langsung cabut ke Bali, gue lagi pengen kesana. Setelah dari Bali, kita langsung ke lombok. Setuju"


"Manut" jawab mereka serempak.


"Good. Biaya gue yang tanggung"


"Gak bisa gitu dong, Cha"


"Protes gak berangkat"

__ADS_1


Angel yang sedari tadi hanya menyimak mulai mengerutkan keningnya. Sekaya apa Chacha sampai mau membiayai liburan ini. Padahal penampilannya biasa saja. Tak ada mewah-mewahnya. Angel mulai memandang rendah Chacha. Tukang bual. Pikirnya.


__ADS_2