Call Me Queen

Call Me Queen
Haruskan Berpisah?


__ADS_3

Levy akhirnya menemukan Chacha yang sedang ngomel-ngomel tak jelas sedang memunggunginya.


"Sweety" panggilannya membuat Chacha menoleh seketika.


"Eh.. lama ya" Levy tak menghiraukan respon Chacha dirinya lebih memilih menghampirinya dan duduk di lantai memeriksa kondisinya.


"Ngapain duduk dilantai sini aja" menepuk sofa disampingnya.


"Kenapa gak bilang kalo luka, hmm?" tanya Levy.


"Dikit doang gak sakit kok. Cuma kalo pake sepatu harus di perban kan ketekan kalo jalan darahnya pasti keluar belum sempet dibawa ke dokter" jelasnya setelah melihat raut khawatir di wajah tampan pemuda didepannya.


Levy langsung menarik kaki Chacha dan meletakkannya di pangkuannya. Levy mendelik ke arah Chacha membuat sang empu cengengesan.


"Segini dibilang dikit. Minta digeplak apa gimana sih" kesal Levy karena goresan memanjang dari jempol sekitar lima senti kebawah dan cukup dalam, Chacha masih menyebutnya sedikit.


"Emang gak sakit kok"


"Masih ngotot ya" Levy langsung mengambil alih untuk melakukan perawatan pada kaki Chacha.


"Selesai" Levy juga memasangkan sepatu pada sepasang kaki mungil tersebut.


Chacha tersenyum lembut menurunkan kakinya dari pangkuan Levy dan..


Cup


Satu ciuman mendarat dipipi Levy membuat dirinya kaku seketika.


"Thank you" bisiknya lalu berlari meninggalkan Levy.

__ADS_1


Levy yang sadar dari keterkejutannya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Nakal. Bantinnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka sampai di parkiran mall dengan mobil masing-masing.


Tanpa basa-basi mereka langsung bergegas masuk hanya untuk sekedar bermain tidak untuk belanja karena mereka merasa sedang tak membutuhkan sesuatu.


"Yakin gak belanja?" tanya Chacha memastikan.


"Kita rasa lagi gak butuh sesuatu deh Cha jadi nggak aja deh" ujar Nena yang diangguki yang lainnya.


"Makan aja yuk" ajak Karin, lalu disetujui oleh lainnya.


"Mau pesen apa?" tanya Kinos.


"Cha?" tegur Fany karena Chacha sejak tadi fokus pada ponselnya.


Mereka lalu memesan tanpa menanyakan Chacha terlebih dahulu.


"Loh kok gak makan?" tanya Chacha setelah selesai dengan urusannya.


"Lu belum makan juga" jawab Putra santai.


"Ceila, lain kali gak usah nungguin gue bisa mati kelaparan kalian"


"Gak makan seharian gak bakal bikin kita langsung mati kali Cha" tambah Karin.


"Eh… bentar lagi kita ujian ya" seru Zeze memecah debat mereka.

__ADS_1


"Ho'o penentuan hidup dan mati ini" ujar Kinos.


"Sumpah alay lu" jitak Nena dikepala Kinos.


"Setelah itu ultah lu kan Cha?" tanya Fany.


"Masak sih?"


"Malah balik nanya ini anak" kesal Karin.


"Habis ujian gue langsung ke LA" tambah Levy dengan suara rendah membuat Chacha langsung menoleh ke arahnya.


"Bisa gak pergi gak?" tanya Chacha.


Levy mengelus rambut Chacha dan menggeleng. Chacha menunduk menenangkan emosinya.


"Kenapa?"


"Kita pisah sementara waktu dulu kamu selesaikan tugas aku juga"


"Tugas apa?" Levy hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Chacha.


"Lele bilang gak bakal ninggalin Chacha kan?"


"Ingat aku pernah ngomong apa sama kamu" Levy selembut mungkin menenangkan Chacha yang bisa menangis kapan saja.


Chacha hanya mengangguk masih dalam keadaan menunduk. Levy mengangkat dagu Chacha hingga pandangan mereka bertemu.


"Levy Rahardian itu hidup dari Queen Izhaka dan Queen Izhaka itu jiwanya Levy Rahardian. Jadi aku harus jadi wadah yang kuat untuk jiwaku" begitu lembut terdengar ditelinga Chacha hingga buliran bening meluncur tanpa diperintah dari netranya.

__ADS_1


Levy mengusap air mata yang mengalir dipipi Chacha lalu tersenyum dan merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya.


__ADS_2