Call Me Queen

Call Me Queen
Kejutan


__ADS_3

Bugh...


Maya terhempas dengan kasar di sofa ruang tamu keluarga Narendra. Chiara yang kebetulan akan menuruni tangga terdiam saat melihat kejadian di depan matanya. Dia menaikkan sebelah alisnya, ia merasa heran saat Narendra berlaku kasar pada nyonya rumah. Bukankah selama ini Maya diperlakukan dengan lembut olehnya. Bahkan sepanjang Chiara ingat Narendra tidak pernah membentak atau memarahi Maya. Sekalipun Maya salah, maka dirinya yang akan terkena imbasnya.


"Jelaskan apa yang dikatakan nona tadi, Maya? " Teriak Narendra.


"Pi, kamu jangan dengarkan kata-kata wanita ja*ang itu. Dia hanya mengada-ngada" Jawab Maya.


"Siapa yang kamu sebut ja*ang sejak tadi, hah? Berulang kali kamu mengucap kata yang sama sejak tadi. Apa otak mu rusak? "


"Papi kenapa sih? Papi kenapa sampai begitu membela wanita itu. Apa Papi juga sudah diberi pelayanan olehnya" Balas Maya dengan tatapan sengit kearah Narendra.


Plak...


"Jaga ucapan mu, Maya. Apa kau tak tau, jika orang sejak tadi kau sebut ja*ang itu adalah orang yang sama dengan orang selalu aku ceritakan. Dia orang yang sama yang mengangkat keluarga Narendra menjadi seperti saat ini. Kalau bukan karenanya, apa kamu bisa menikmati kemewahan saat ini. Kamu pikir keluarga Narendra sekaya apa dulunya" Narendra masih belum menurunkan nada suaranya.


Chiara tersenyum miring saat melihat pemandangan di depannya. Ini tontonan menarik menurutnya.


"Ck, kurang seru nih. Harusnya tampar sampai memar dong, apa merah doang itu mah" Gumam Chiara.


Maya hanya diam mematung. Ini pertama kalinya Narendra bersikap kasar dan meninggikan suaranya. Sejak awal pernikahan mereka Narendra begitu menghormatinya, meskipun awalnya dia terpaksa menikah dengannya. Dengan segala upaya dilakukannya agar memiliki Narendra seutuhnya pun dilakukan olehnya. Bahkan dengan cara kotor sekalipun.


"Katakan dengan jujur Maya, apa yang selama ini kamu lakukan di belakang ku? " Teriak Narendra lagi.

__ADS_1


"A-aku... " Ucapan Maya terpotong saat Chiara tanpa permisi menyela ucapannya.


"Pi, Chia nginep di rumah sakit malam ini. Jenguk bundanya temen lagi sakit" Dengan santainya Chiara berlalu ke arah dua orang yang sedang memanas itu.


Narendra menatap sendu ke arah Chiara. Gadis cantik di depannya ini adalah hasil dari buah cinta dengan wanita yang dicintainya dulu. Bahkan tak akan ada yang tau jika sampai saat ini Narendra masih memendam rasanya pada istri pertamanya. Tak ada yang tau betapa terpuruk nya Narendra saat mengetahui fakta-fakta palsu tentang istri pertamanya itu.


Chiara mengangkat sebelah alisnya saat melihat tatapan Narendra. Chiara tahu tatapan itu, tapi dirinya tak ingin menebak. Dia sudah cukup puas dengan papinya yang tak lagi memaki atau meneriakinya setelah menghilangnya dia lima tahun lalu. Dia sudah terbiasa dengan sikap keras dan acuh tak acuh Narendra.


Chiara dapat melihat sorot mata penuh penyesalan di sana. Bagaimana jika papinya tahu, jika dia memiliki saudara kembar. Sehancur apa perasaan papinya. Chiara tak pernah membenci papinya, Narendra seperti itu murni karena Maya. Didukung dengan bukti-bukti palsu, membuat orang tua mana saja akan malu jika memiliki anak menjadi wanita malam. Chiara cukup memaklumi, papinya baru di dunia bisnis jadi belum mengetahui bagaimana sepak terjang lawan.


Grepp...


Tanpa aba-aba Narendra langsung memeluk erat tubuh putrinya itu. Air matanya lolos tanpa bisa di kendalikan.


"Maafkan papi nak, maafkan papi. Papi adalah papi yang buruk buat kamu" Lirih Narendra di telinga putrinya.


Hati Chiara bergetar saat mendengar permintaan maaf sangat ayah. Bahkan maminya mewanti-wanti agar dirinya dan kembarannya tak membenci sosok Narendra. Maminya selalu berkata jika Narendra adalah sosok pribadi yang polos dan baik hati. Dia juga sedikit ceroboh. Mami Anna menceritakan segalanya pada anak-anak nya saat mereka pertama kali bertemu. Bagaimana Narendra masih membisikkan kata cinta saat dirinya diusir dulu.


"Papi" Chiara terisak di pelukan Narendra.


"Maafkan papi nak, maafkan papi. Tolong jangan benci papi, Maafkan papi jika papi bukan ayah yang baik buat kamu" Chiara semakin terisak saat Narendra terus menerus mengucapkan kata maaf.


"Pi" Sentak Maya.

__ADS_1


"Masuk kamar Maya, dan jangan coba-coba keluar tanpa sepengetahuan ku. Hubungi Angel, suruh anak itu kembali. Kita akan adakan pertemuan keluarga setelah ini" Ucap Narendra dingin dengan tangan masih merangkul Chiara.


"Tapi, Pi.. "


"Jangan membantah Maya, masuk ke kamar" Teriak Narendra lagi.


Ini adalah mimpi buruk bagi Maya. Jika sampai seluruh keluarga nya tau perbuatan buruknya, dia akan ditendang dari keluarga besarnya. Selama ini Maya selalu bersikap manis hanya untuk menutupi kelakuan buruknya. Dia yang begitu dibedakan dengan kakaknya karena kepintarannya membuat rasa iri hadir dalam hatinya. Hingga dia berhasil menjebak sang kakak hingga terusir dari rumahnya.


"Papi antar ke rumah sakit ya" Tawar Narendra. Dia bertekad mulai hari ini, dirinya akan memperbaiki hubungannya dengan putri sulungnya itu.


Chiara mengangguk dengan semangat, tak lupa senyum manis juga terukir di bibirnya. "Chiara ganti baju dulu, pi"


"Baiklah, papi akan membersihkan diri sebentar. Tunggu ya" Chiara mengangguk dan berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Setelah kepergian Chiara Narendra menatap dingin ke arah Maya. Tatapan matanya menusuk. Tanpa perasaan dia menyeret Maya ke dalam kamarnya. Pikirannya berkecamuk, gara-gara wanita ini keluarganya hancur. Dia harus merelakan wanita yang begitu dicintainya. Bahkan keluarga yang mulai menerima kehadiran istri pertamanya harus berubah menjadi kebencian saat Maya menghadirkan bukti palsu itu. Narendra merutuki kebodohannya saat mengingat dirinya tak menyelidiki masalah ini lebih lanjut.


Sampai di kamarnya, Narendra menghempaskan tubuh Maya begitu saja. Lalu mengunci pintu kamar. Dia tak menghiraukan keadaan Maya yang menangis atau meringis kesakitan. Dirinya tak peduli, benar-benar tak peduli. Lantas dia sendiri masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Kini tekadnya bulat, dia akan membuat cerita baru dengan putrinya. Dia juga akan berusaha mencari istri pertamanya, katakan saja untuk meminta maaf. Namun dalam lubuk hatinya, dia sangat ingin bersamanya. Namun, dirinya tak akan gegabah kali ini. Masalah ini harus tuntas dulu, baru dia akan mencari Anna, cintanya.


Sedangkan di dalam kamar Chiara. Dia sudah mulai menyiapkan apa saja yang akan dibawa untuk menginap. Dia bukan akan menginap untuk menjaga Bu Ratu, melainkan memindai sekitar rumah sakit. Dia akan bertugas diatas gedung tertinggi rumah sakit Izhaka. Memastikan semuanya aman. Tak ada musuh yang mengintai, Chiara tak mengkhawatirkan lainnya. Dia lebih khawatir pada Chacha yang sering keluar masuk rumah sakit, pergerakan nya bisa diketahui musuh. Karena Chacha sudah mulai menunjukkan wajahnya di dunia bisnis. Dia mulai tampil sebagai pemilik perusahaan miliknya sendiri, meskipun harus secara virtual. Karena tak memungkinkan jika dia muncul dengan keadaan hamil.


Hingga getaran ponselnya mengalihkan pandangannya dari senjata yang akan dia gunakan untuk bertugas nanti.


"Ya Queen? "

__ADS_1


"Suka dengan kejutan ku? "


__ADS_2