Call Me Queen

Call Me Queen
Maldives


__ADS_3

Melihat Chacha menuruni tangga lagi mereka mulai mengikuti langkah kaki Chacha. Merasa diikuti Chacha menoleh ke belakang, para sahabatnya hanya nyengir kuda.


"Apa? "


"Kita mau balik, nungguin lo ini"


"Oh gue kira ada apa. Sudah sarapan? "


"Liat jam dong, Cha"


"Iye iye, kagak usah sewot gitu juga dong, Rin. Lo PMS? "


"Tau ah"


"Lah tuh bocah petakilan kenapa? "


"Oh ya, Levy mana Cha? "


"KO"


"Hah? "


"Lo apain, Cha sampek KO tuh anak"


"Demam dia. Dah ah gue buatin bubur dia dulu. Kalau kalian mau liat Levy ada di kamar gue" Chacha meneruskan langkahnya menuju dapur.


Mereka memutar langkah menuju arah tangga. Membuat para orang tua kebingungan melihat semua sahabat Chacha naik ke atas.


"Ada apa ini? "


"Gak tau"


"Itu mereka kenapa malah naik ke atas rame-rame"


"Audy coba kamu cek"


"Nggak deh nek, aku ngeri. Tatapan mereka buat aku takut"


"Sudah ma biar Ratih aja yang ke atas"


Ratih menyusul para sahabat Chacha, rupanya mereka masuk ke kamar Chacha, Ratih mengetahui itu karena hanya pintu kamar Chacha yang terbuka.


"Loh, kami kenapa, Lev? " tanya Ratih saat melihat jarum infus terpasang dipunggung tangan Levy.


"Biasa tante, lagi kangen cairan infus" cengirnya.


"Bercanda kamu gak lucu, Lev"


"Beneran gak papa kok tante, cuma kurang istirahat aja sama makan aku juga gak teratur"


"Kamu ini... "


"Tante" Levy langsung memotong perkataan Ratih.


"Ya? "


"Jangan diomeli sekarang ya, tadi udah cukup Chacha aja yang ngomelin aku. Nanti aku tambah pusing, nanti tante boleh omelin aku deh kalo udah lepas infus"


"Ya ampun, mirip banget sama papa kamu ya tengilnya"


"Maksud tante? "


"Ya kamu mirip banget sama papa kamu. Kalo sakit pasti bilang gitu kalau mau tante omelin"


"Hahaha, iya kah tante? "

__ADS_1


"Ya pasti dia bilang 'cukup pacar aku aja yang ngomel kamu jangan. Nanti aku malah masuk rumah sakit beneran' gitu. Kan ngeselin"


"Mami kenal sama papa Levy? " tanya Elang penasaran.


"Mami itu sahabat papa Levy, Lang. Mami, papa dan mama Levy satu SMA bahkan kita kuliah di kampus yang sama"


"Wah jadi lama banget dong mami sahabatan? " tanya Karin pada mertuanya.


"Ya sama seperti kalian lah"


"Gue kira kalian udah pulang, ternyata pindah kesini" Chacha yang tiba-tiba masuk membawa semangkuk bubur dan teh hangat.


Melihat kedatangan Chacha mereka menggeser posisi duduk mereka. Yang awalnya duduk di kasur kini beralih ke sofa dan karpet yang ada di kamar Chacha.


"Makan dulu, kamu semalem gak mau disuruh makan. Padahal kamu juga belum makan kan" Chacha memulai omelan nya pada Levy.


"Lain kali gak ada gini lagi ya, Mas. Aku kan udah kasih resep vitamin sama kamu, diminum nggak? " tanya Chacha di sela-sela kegiatannya menyuapi Levy.


"Diminum, Sayang" jawab Levy pelan.


"Setelah ini aku ambil darah kamu buat tes di laboratorium. Kamu pucat banget loh. Jangan bikin orang khawatir, itu bagian aku"


"Mau aku kurung, Sayang? "


"Hehehe, bercanda ih bercanda"


"Cha? "


"Hah? "


"Jadi? "


"Apa? "


"Ish itu"


"Holiday"


"Piye, pak bos? " Levy hanya mengangguk mengiyakan permintaan istrinya.


"Jadi tapi nunggu, pak bos sehat dulu"


"Gak masalah, kita pejuang liburan akan sabar menunggu" ucap Zeze.


"Jangan kayak orang susah" cibir Chacha.


"Lo mau tau sesuatu, Cha? "


"Apa? "


"Yang gratisan itu lebih enak" jawab Karin. Mereka tertawa setelah mendengar jawaban dari Karin.


"Rencana mau kemana? " tanya Levy pelan, setelah menyelesaikan sarapannya yang tertunda.


"Kalian maunya kemana? " tanya Chacha pada sahabatnya.


"Manut, kita kan nebeng" jawab Nena sekenanya.


"Ya udah gak usah jauh-jauh, Mas. Ajakin ke mall aja"


"Gak usah" kompak para sahabat Chacha setelah mendengar penuturan Chacha, sontak itu membuat Chacha dan Ratih tertawa terbahak-bahak.


"Maldives" satu kata meluncur setalah Chacha berhasil mengendalikan tawanya.


Levy mengangguk, "fine. Kita ke Maldives weekend ini"

__ADS_1


"Yuhuu, Maldives"


"Kapan lagi kita kesana coba"


"Gratis pula"


"Hahaha"


"Mami mau ikut? "


"Nggak, kalian aja. Itu urusan anak muda. Mami mau ajak papi keliling Eropa aja"


"Wohohohoho lebih gila mainnya, man" teriak lainnya. Elang hanya mampu geleng-geleng kepala melihat kelakuan maminya yang tak berubah.


"Mi, kenapa Bang Erland belum resepsi? " tanya Chacha.


"Nanti digabung sama Elang. Abang kamu yang satu itu memang susah sekali diatur"


"Aku belum liat Bang Rey sama sekali, udah kayak hilang ditelan bumi aja"


"Rey baru pulang semalam dari luar negeri, biasa tandatangan kontrak kerjasama. Baru juga semalem Danial jemput di bandara"


"Bang Rey kenapa gak bilang Chacha aja, padahal nih ya adiknya punya pesawat pribadi dan landasan pribadi. Masih aja keluarganya ngeluarin duit buat naik pesawat" celetuk Zeze. Chacha hanya memutar bola matanya malas.


"Bener kata sahabat kamu, Cha? "


"Apa, Mi? " Chacha menoleh ke arah Ratih. Karena sejak tadi dirinya sibuk memijat tangan Levy yang tak diinfus.


"Kami punya pesawat dan landasan pribadi? "


"Ada kok ada, kenapa? " Ratih membulatkan matanya tak percaya. Ya Tuhan se tajir apa keponakannya ini.


"Gak papa kok, nak"


"Kalau mami mau pake, nanti tinggal bilang aja sama Chacha nanti aku kirim lokasinya"


"Gak usah mami keluar dulu. Bisa jantungan mami kali lama-lama denger apa aja aset kamu" Ratih langsung berlaku keluar. Membuat lainnya tertawa sendiri.


"Emang keluarga lo gak ada yang tau, Cha? "


"Gak ada, cuma kalian doang yang tau. Lagian juga bukan gue aja yang punya pesawat dan landasan pribadi"


"Maksud lo? "


"Nih, yang lagi berbaring juga punya. Mama sama papa juga gak tau kalau dia punya begituan"


Mereka hanya mampu menghirup nafas dingin. Bayangkan saja jika dua orang ini bersatu, sekaya apa nanti mereka. Bila-bila dunia ada dalam genggaman mereka berdua. Padahal pada kenyataannya mereka telah bersatu dalam ikatan pernikahan yang secara agama dan negara.


"Gak usah dilanjutin, kalo lo sebutin semua aset kalian berdua, bisa-bisa kita gak jadi ke Maldives" ucap Kinos.


"Kenapa? "


"Dirawat di rumah sakit. Kena serangan jantung karena terlalu shock. Puas lo"


Mereka semua kembali tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Kinos.


"Gila sih, yang gue tau. Orang kalo udah sampai di tahap paling tajir tuh umurnya pasti kepala lima keatas. Lah, ini kalian belum juga nginjak kepala tiga" ucap Putra.


"Gak heran sih ya. Secara otak mereka berdua diatas rata-rata, dan mereka juga tau cara memanfaatkan kejeniusan mereka. Ditambah lagi dengan dukungan keluarga dan modal yang mereka punya. Jadi semua itu gak mustahil mereka capai"


"Betul kata Fany. Jadi wajar mereka sampai dititik ini diusia begitu muda. Yang lain main-main mereka malah ngumpulin duit, kan. Jadi perjuangan mereka dikatakan berhasil meskipun harus mengorbankan masa muda mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuhuu Guys, Author comeback.

__ADS_1


Nak promot nih, Author buat novel baru jangan lupa mampir dan ramaikan kalian bisa kasih kritik dan saran buat author.


__ADS_2