
"Kamu gak seneng Abang nikah sama Shaldon, Cha? " Tanya Rey sebelum acara resepsi di mulai. Dirinya dan Shaldon sengaja mengajak Chacha berbicara, karena merasa ada yang aneh dengan ekspresi Chacha selepas akad nikah tadi.
Senyum manis Chacha tak pernah luntur pada awalnya, hingga seetelah akad nikah dan acara lainnya selesai barulah Chacha kembali memasang ekspresi datar. Rey heran, jika memang berkaitan dengan pernikahannya harusnya Chacha mengutarakan. Chacha bukan tipe orang yang akan memendam apapun jika itu menyangkut tentang saudaranya.
"Bunda dimana? " Tanya Chacha setelah cukup lama diam.
"Hah? " Rey kaget saat Chacha tiba-tiba menanyakan Bu Ratu. Karena Rey belum bertegur sapa dengan Bu Ratu.
"Perketat penjagaan atau tunda acara ini. Kabari King untuk menjaga si kembar" Chacha langsung pergi meninggalkan Rey yang diam mematung karena kaget.
"Ada yang gak beres kayaknya" Gumam Rey.
"Mumpung tamu belum pada dateng, kita batalkan aja acaranya gak papa kan, Yang? " Rey menatap istrinya sendu.
"Aku ngerti, kita batalkan saja, feeling aku gak enak soalnya. Kita langsung pulang aja ya" Ajak Shaldon.
"Pulang ke rumah Effendy dulu ya, aku juga mau ajak si kembar pulang soalnya" Shaldon hanya mengangguk saat suaminya meminta pulang ke kediaman Effendy.
Disisi lain, Chacha masuk ke ruang kendali CCTV. Dia harus memastikan bundanya ada di sekitar atau salah satu kamar hotel disini. Karena Chacha sempat melihat jika sang bunda sudah hadir terlebih dahulu di hotel ini.
"Queen? " Sapa penjaga ruang kendali. Chacha hanya mengangguk singkat.
"Tampilkan seluruh CCTV dua jam sebelumnya" Perintah Chacha.
Para bawahannya langsung menuruti perintah yang Chacha katakan. Chacha menatap tajam seluruh tayangan yang tampil di monitor itu. Matanya menyipit saat menangkap pergerakan Bu Ratu di salah satu layar monitor.
__ADS_1
"Perbesar bagian kanan atas" Ucapnya.
Itu memang Bu Ratu, kini Chacha bisa menghela napas lega saat melihat bunda nya ada disana. Namun, itu hanya sementara saat tiba-tiba siluet Bu Ratu menghilang.
Chacha berdecak sebal karena kehilangan jejak sang bunda dengan begitu cepat. Chacha yakin jika CCTV ini sudah disabotase sebelumnya. Chacha tersenyum miring saat melihat sedikit peluang untuk mengungkap hilangnya jejak Bu Ratu.
"Mimggir kalian" Dua kata yang Chacha lontarkan membuat anak buahnya menyingkir. Memberikan kursi yang tadi dirinya duduki pada Chacha.
Chacha dengan lihai menggerakkan jemari lentiknya diatas keyboard, bahkan gerakannya yang cepat membuat para anak buah yang berdiri dibelakangnya berdecak kagum.
"Cinta dimana? " Chacha tiba-tiba bersuara setelah menekan tombol pada earpiece yang dipakainya.
"Titik lokasi udah aku kirim, serahkan posisi itu pada Caesar atau Chiara. Kamu susul aku ya" Perintahnya dengan lembut. Mereka bisa menebak jika sang queen sedang menghubungi semestanya, Levy Rahardian. King of blood rose.
"Amankan gedung ini. Jangan biarkan satu orang pun keluar dari pekarangan hotel ini. Kerahkan seluruh penjaga untuk mengepung tempat ini. Saya yakin jika ada pengkhianat disini" Chacha menunjukkan senyum miringnya.
Chacha melangkahkan kakinya perlahan keluar dari ruang kendali. Matanya menelisik sekitar dengan tajam, ekspresinya datar. Tangannya juga tak lupa memainkan ponselnya. Dia akan mengeluarkan titahnya sebagai pemimpin kali ini.
"Fany, ajak lainnya ke rumah Effendy. Siapkan senjata kalian. Atur anak buah kalian serapi mungkin. Jangan ada yang melawan apapun yang terjadi sebelum perintah dari gue" Chacha tak menunggu jawaban langsung memutus panggilannya.
"Chila, pastikan rencana berjalan sesuai skenario yang sudah kita atur" Sama dengan Fany, Chila juga hanya mendapat perintah tanpa membalas ucapan sang ratu.
Chacha melanjutkan langkahnya menuju parkir bawah tanah. Parkir khusus miliknya, yang menyimpan beberapa mobil yang sudah dirinya modifikasi dan juga beberapa senjata yang pasti.
Setelahnya Chacha langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, disusul dengan mobil Levy dibelakangnya. Tampaknya Levy sudah menunggu kedatangan sang istri.
__ADS_1
Namun jika dilihat lebih jauh, mereka berdua tampak berpisah. Levy tampak berbelok sedangkan Chacha terus melaju lurus dengan kecepatan tinggi. Entah apa yang sedang Chacha rencanakan sebenarnya. Jalan pikirannya susah sekali dipahami.
Disisi lain, Rey dan King mengumpulkan seluruh anggota keluarga Effendy. Bertingkah seolah-olah tak terjadi apa-apa, padahal mereka berdua tahu betul apa yang sedang terjadi. Pikiran mereka tak tenang memikirkan dua bidadari cantik yang tengah berada diluar rumah itu. Bu Ratu dengan keadaannya yang tak diketahui, Chacha dengan rencana gilanya.
"Kalian ada yang keliatan Bunda? " Tanya Ayah Gun karena sejak tadi tak mendapati sang istri, mereka berdua memang berangkat bersama, namun Bu Ratu tak kembali setelah berpamitan untuk ke kamar Chacha. Bahkan dirinya juga bingung saat Rey dan King meminta mereka pulang dengan cepat.
"Bunda sama Chacha, mungkin" Jawab King tak pasti.
Rey dan King menegang saat mendengar suara sang adik dibalik earpiece yang mereka kenakan. Chacha berucap penuh tanda tanya, namun mereka masih menurutinya.
"Persiapkan mental kalian, sebentar lagi puncak acara akan dimulai. Jangan ada yang melawan sedikitpun sebelum Chacha tiba. Atau Kalian akan tahu akibatnya" Begitulah kira-kira suara Chacha yang terdengar.
"Bawa anak-anak ke kamar" Perintah King dengan nada tegasnya.
Shaldon dan Nisa langsung mengangguk dan mulai memindahkan para anak-anak ke kamar bermain. Sedikit banyak mereka tahu jika sang suami sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Namun, Shaldon menangkap hal lain dari tatapan kedua orang itu. Rey dan King tak bisa membohongi Shaldon yang notabene nya adalah tangan kanan Chacha langsung. Shaldon adalah salah stu bawahan yang Chacha didik langsung untuk menjalankan bisnisnya, bahkan kemampuannya bisa disandingkan dengan Chiara yang sudah menjelma menjadi ratu iblis.
Karin dan lainnya hanya menarik napas panjang. Mereka mulai memberi arahan pada anak buahnya melalui chat. Menyiapkan senjata dan menyembunyikannya dengan apik. Karena jika Chacha sudah mengatakan untuk mempersiapkan senjata, maka kecil kemungkinan untuk menghindari yang namanya gencatan senjata. Apalagi mereka bisa merasakan jika sisi iblis Chacha benar-benar bangkit.
King sendiri tak bergerak, karena seluruh anggota Black Rose sedang Chacha non-aktifkan. Mereka semua diberi libur panjang, begitu pula beberapa anggota Death Rose. King hanya berpikir jika ini adalah ajang bunuh diri yang adiknya sutradarai. Pertunjukan apa yang sebenarnya yang Chacha maksud.
"Dimana anak-anak? " Tanya Levy yang tiba-tiba masuk membuat yang lain kaget.
"Di ruangan bermain" Jawab Rey singkat.
"Selamat menonton pertunjukan kalian, tahan emosi apapun yang terjadi" Levy mengedipkan sebelah matanya ke arah ayah mertuanya. Senyum menjengkelkan juga tampak diwajahnya.
__ADS_1
Padahal sebenarnya Levy sedang mati-matian menahan kesal dalam dirinya. Ingin sekali dirinya menghajar ayah mertuanya yang lagi-lagi membuat istrinya kerepotan. Tak bisakah dia hidup tenang dengan sang istri.