Call Me Queen

Call Me Queen
Menyerah


__ADS_3

"Ingin meratakan Izhaka dengan tanah? Apakah kau sudah bangun dari mimpi indah mu itu, Kakek? " Mereka semua terdiam saat mendengar suara namun tidak ada wujudnya.


Mereka serempak mencari asal suara itu. Mereka sedikit menegang saat mendengar suara yang begitu familiar di telinga mereka.


"Siapa kau berani memanggil ku, Kakek? " Tanya Riko heran sekaligus mencari asal suara.


"Tidak usah mencari ku, sebentar lagi aku muncul. Ini hanya butuh sedikit persiapan" Jawabnya dengan sedikit kekehan.


"Tunjukkan wajah mu jika berani" Teriak Riko.


"Sabar lah, Kakek. Seperti kau yang begitu sabar untuk menunggu waktu menghancurkan Izhaka ku"


"Izhaka ku? " Beo Riko.


"Apa ada yang salah, ah kau ketinggalan berita Kakek tampan ku. Izhaka sudah sepenuhnya dalam kendali ku sekarang. Kau terlalu sibuk dengan balas dendam hingga tidak tahu berita terbaru" Jawabnya yang terdengar seperti terkikik geli.


Riko menatap Tuan Ibra dengan tatapan tajam. Namun, juga ada tanda tanya dalam tatapannya.


"Ah sedih sekali aku ini, serasa tidak di akui jika aku salah satu keturunan Izhaka"


"Jelaskan padaku Ibra? "


"Dia cucu perempuan ku. Pewaris mutlak keluarga Izhaka, pemimpin tertinggi keluarga Izhaka. Dia memenuhi seluruh kriteria sebagai ahli waris satu-satunya" Jelas Tuan Ibra membuat Riko mematung sejenak.


"Cih, hanya seorang bocah rupanya" Ejek Riko saat tahu jika Chacha hanya seorang wanita.


"Ya kau benar, Kakek dan bocah adalah orang yang pandai meniru bukan? "


Tampak dibelakang mereka muncul tayangan entah dari mana. Tampak disana Chacha sedang duduk di sofa dengan mata terpejam. Menunjukkan sikap malas-malasan. Namun bukan itu fokus mereka saat ini, tapi orang-orang yang terduduk di lantai dengan satu orang ditodong satu pistol di kepala mereka.


Riko terdiam mematung melihat pemandangan yang terpampang di depannya. Badannya bergetar saat melihat keluarganya babak belur, bahkan saat ini mereka sedang ditodong.

__ADS_1


Wajar saja jika mereka babak belur, salah mereka sendiri melawan saat Chacha menawarkan kerjasama. Jangan salahkan jika sisi iblisnya bangkit saat mendengar seseorang menghina nama Izhaka di depan matanya.


"Lepaskan keluarga ku wanita sialan" Teriak Riko.


Chacha membuka matanya dan menatap dengan tatapan dinginnya. Wajahnya begitu datar dan dingin. Wajah itu terlihat sayu dengan wajah pucatnya.


"Kau atau aku yang sialan, Pak Tua? "


Bawahan Chacha menatap pimpinan nya dengan wajah sendu. Wajah pucat Chacha, cara bernafas yang sedikit tersengal itu membuat mereka ingin mengamuk saat ini. Chacha yang selama ini mereka jaga layaknya berlian harus tergores dengan begitu banyak. Namun, mereka yakin jika Chacha akan terus bersinar, bahkan semakin bersinar.


"Lepaskan keluarga ku atau ku habisi semua orang disini" Ancam Riko.


"Bukankah kita hanya tinggal melihat, peluru siapa yang lebih dulu menyapa? " Tanya Chacha masih dengan wajah santainya.


Riko semakin tersudut, ingin menyerah dia sudah berada di akhir peperangan. Namun, jika dirinya terus maju, maka keluarga nya akan binasa saat ini juga. Pasalnya Chacha mengumpulkan seluruh anggota keluarganya.


Melihat ada kesempatan Caesar memberi kode pada Chiara dengan mengedipkan matanya pelan. Dengan perlahan pula Chiara menjauh dari pasukannya sambil membawa senjatanya. Dengan cepat Chiara langsung melompat ke arah pohon yang ada di dekatnya.


Dapat dilihat jika Chacha menekan berlian yang menjadi permata di cincinnya itu. Seketika itu juga kediamannya langsung kedatangan sisa pasukan tim elit yang menyeret musuh ke hadapan Riko.


Semuanya bergidik ngeri melihat kekejaman Chacha. Berbeda dengan Caesar, Chiara dan Pandu, mereka takjub saat melihat seluruh anggota tim elit bersatu seperti ini. Kejadian yang begitu langka terjadi, karena Chacha jarang menggunakan tim elit untuk kepentingan dirinya. Tim elit hanya dijadikan bayangan anggota Death Rose saja oleh Chacha. Tim elit adalah kartu As milik Chacha. Belum lagi bawahannya yang ada di luar negeri. Bisa dipastikan jika mereka mendengar sang ratu terluka hingga koma, akan banyak jet pribadi mendarat dan akan banyak asap membumbung tinggi akibat pemusnahan.


"Jangan menantang ku, Kakek. Wanita sialan yang kau panggil bocah ini memiliki sisi iblis dalam tubuhnya"


Riko tak menggubris perkataan Chacha, dia dengan sengaja meluruskan ujung pistolnya ke arah kepala Tuan Ibra yang tampak tenang dan pasrah. Chacha hanya menatapnya dengan mata sayur seperti orang menahan kantuk. Namun, tangannya dengan cepat meraih pistol yang terselip di pinggangnya dan mengarahkan ke arah kepala wanita tua yang harusnya dia panggil dengan sebutan nenek.


Riko masih tidak menurunkan senjatanya dari kepala Tuan Ibra membuat Chacha menghela napas pelan.


"Kau cukup keras kepala rupanya, Kakek" Chacha kembali mengambil pistol yang terselip di pinggangnya. Kini kedua tangannya sama-sama menggenggam pistol, satunya lagi dia arahkan pada wanita paruh baya seumuran dengan sang bunda.


"Satu nyawa anggota keluarga ku yang hilang, maka dibayar dengan dua nyawa di keluarga mu, apa kau siap? " Tanya Chacha.

__ADS_1


Sedangkan orang yang ditodong pistol oleh Chacha sudah menangis dalam diamnya. Hanya air mata yang mengalir, mereka tidak berani mengeluarkan suara setelah melihat Chacha mampu menundukkan mereka semua dengan mudahnya. Apalagi dengan kondisi Chacha yang terluka, bisa dibayangkan bagaimana jika Chacha menghajarnya dengan keadaan tubuh yang sehat. Mungkin mereka sudah tinggal nama.


"Apa kau tidak bisa melihat bocah sialan, jika keluarga mu juga sedang aku tawan? "


"Apa kau juga tidak melihat kakek tua sialan, jika anak buah mu akan tertembak duluan saat mereka menekan pelatuk pistolnya? "


Dengan cepat Riko menoleh ke arah anak buahnya yang juga ditodong pistol oleh anak buah Chacha. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung ditodong dua pistol sekaligus.


"Melukai mereka sama saja melukai diriku. Apa kau tau Kakek, jika mereka hidupku. Jika kau merampas hidup ku dengan kejam, kenapa aku tidak bisa merampas hidup mu dengan cara yang sama. Aku tak peduli orang mengatakan jika aku sialan atau apapun, satu hal yang aku tahu. Dia yang berani menyentuh keluarga ku, maka bersiaplah menjadi mainan ku"


"Menyerahlah dan bertobatlah, aku akan memulihkan keuangan keluargamu. Bagaimana pun kau masih sepupu kakek tampan ku itu, tapi jangan pernah berkhianat padaku. Aku bisa meratakan keluarga kapan saja yang aku mau"


"Menyerah pada mu? Pada bocah sialan seperti mu? Memangnya kau bisa apa? "


"Mungkin aku tidak bisa apa-apa tanpa anak buahku. Namun, anak buahku juga tidak bisa bergerak tanpa diriku. Mereka akan bergerak layaknya binatang buas jika tidak aku kendalikan, jika kau tak percaya silahkan dicoba" Ucap Chacha menantang.


Riko tampak terdiam dan mencerna kata-kata Chacha. Baru saja dirinya menyentuh pelatuk pistol untuk menembak Tuan Ibra, namun dirinya langsung berteriak kesakitan.


Dorr...


"Akh"


Riko langsung dibekuk oleh anak buah Chacha saat dengan apik Chiara menembak lengannya dari jarak jauh.


"Kau tahu Kakek, meskipun aku tidak ada ditempat itu, aku mampu memerintah anak buah ku dari jarak yang begitu jauh. Jika kau pikir bisa menghancurkan Izhaka ku dengan mudah, kau salah besar. Selama ada aku, sekalipun kau menyatukan seluruh mafia untuk menyerang ku. Ku pastikan kau hanya akan menjadi lelucon"


Setelah mengatakan itu, tayangan yang sejak tadi menayangkan keberadaan Chacha langsung mati begitu saja. Tim elit milik Chacha dengan sigap membekuk sisa musuh yang ada dihadapan mereka. Menyeretnya dengan tidak elit ke markas mereka. Markas tersembunyi milik Death Rose. Bisa dipastikan jika mereka akan menjadi bahan uji coba untuk penelitian Chacha nantinya.


Sedangkan Riko masih ditempat dan langsung dipapah menuju ruang tindakan. Anak buah Chacha masih memperlakukan dirinya baik saat mendapat kode dari Chacha diakhir video. Chacha mengedipkan matanya pelan sebelum tayangan itu benar-benar berakhir.


...****************...

__ADS_1


maafkan yg telat up, author positif tumbang cinta 😪. mohon maklum


__ADS_2