
"Mau Mas antar ke markas kamu? " Tanya Levy disela-sela sarapan pagi nya.
"Nggak usah, nanti aku di jemput Kak Shiro kok. Lagian kita gak searah" Jawab Chacha.
"Cuma rapat doang kan, Yang? "
"Iya Mas. Kenapa sih? "
"Gak ada latihan-latihan apapun itu ya. Kamu lagi hamil jangan aneh-aneh" Levy memang selalu mewanti-wanti Chacha untuk tak melakukan hal-hal berbahaya. Karena Levy tau sekeras kepala apa istrinya itu.
"Iya Mas iya"
Mereka melanjutkan sarapan paginya dengan tenang. Levy sarapan dengan sandwich sedangkan Chacha seperti biasa selalu ditemani sekotak salad buah. Sejak hamil dirinya memang jarang makan nasi, lebih banyak mengkonsumsi buah.
"Mas berangkat duluan ya. Kamu hati-hati nanti" Pamit Levy setelah menyelesaikan makannya.
"Iya, Mas juga hati-hati bawa mobilnya" Chacha memeluk suaminya sedikit erat.
"Iya" Levy mencium kening dan bibir Chacha singkat.
Seperti yang dilakukannya setiap hari. Chacha akan mengantar Levy sampai didepan pintu. Dirinya akan masuk setelah mobil yang dikendarai Levy sudah tak terlihat dalam pandangannya, seperti saat ini contohnya.
Baru separuh dirinya berbalik untuk masuk, tampak mobil lain terparkir didepan rumahnya. Chacha hanya menaikkan sebelah alisnya. Ini mobil asing.
Tak lama turun seorang pria berprofesi sebagai dokter yang orang lain kenal. Namun bagi Chacha dia adalah ancaman para mafia. Dia bisa meracik obat yang bisa menjadi racun jika salah menakar dosisnya. Dia banyak diburu oleh para mafia lainnya untuk direkrut agar bergabung. Namun sayang, hatinya terpatri sebagai anggota Death Rose.
"Pagi Queen" Sapa Shiro dengan senyum secerah mentari pagi ini.
"Hmm, duduk dulu Kak. Mau minum apa? " Tanya Chacha menawari tamunya.
"Gak usah, deh"
"Aku ganti baju dulu sebentar" Shiro hanya mengangguk mendengar perkataan Chacha.
Tak selang berapa lama Chacha keluar dengan pakaian casualnya. Pakaian khusus ibu hamil untuknya. Tak menunggu lama mereka langsung melesat membelah jalanan ibu kota pagi itu.
"Bagaimana keadaan Bunda? " Tanya Chacha seraya menatap keluar jendela.
Mengapa Chacha bertanya? Karena semalam dia memilih pulang. Sudah banyak yang menjaga bundanya. Ditambah kondisinya yang hamil tak memungkinkan Chacha untuk menginap.
"Nyonya sadar setelah kamu balik semalam"
"Jadi bunda sudah sadar? " Shiro mengangguk lagi, tatapannya masih fokus ke arah depan.
"Sekarang pengecekan seluruh syarafnya. Setelah ini kita akan tau, apa ada masalah atau tidak"
"Kirim padaku hasilnya"
"Oke siap"
Hening. Tak ada lagi percakapan diantara mereka hingga sampai di mansion besar nan mewah yang menjadi markas Death Rose. Jangan salah ini hanya markas untuk pertemuan dan tempat tinggal para mafioso. Markas yang sebenarnya hanya Chacha dan anggota tim elit yang tahu. Markas yang menyimpan seluruh senjata hasil rakitan Chacha. Obat dan racun hasil buatannya juga berjejer rapi di salah satu ruangan yang terdapat di markas tersebut.
Markas yang menjadi tempat tinggal tim elit mungkin jauh dari kata mewah. Ditempatkan di tempat tersembunyi, bahkan aksesnya cukup sulit untuk sampai disana. Tapi, jika anggota tim elit memiliki jalan lain untuk menuju markas tersebut. Sebuah lorong bawah tanah sudah Chacha bangun untuk menuju markas tersebut. Meskipun terpencil markas tersebut juga bisa mengakses semua informasi penting. Bisa dibilang di situ pusat seluruh kekuatan Chacha. Jika bertanya soalnya kelemahannya, kelemahan seorang Chacha ada pada hatinya. Dia bisa kejam dan tak berbelas kasihan pada musuhnya. Namun jangan sekalipun menyentuh orang terdekatnya.
Chacha turun dari mobil langsung disambut oleh para mafioso yang berjejer rapi menunggu sang pemimpin tiba. Chacha langsung dibantu oleh bawahan wanitanya. Dengan lembut mereka menuntun sang Queen yang kini hamil besar.
Chacha memasuki mansion besar itu, dengan pandangan dinginnya dia melangkah ke satu ruangan. Dimana ruangan itu selalu menjadi ruang rapat ketika mereka menghadapi masalah.
Saat pintu terbuka, Chacha langsung melihat para bawahannya sudah menantinya di kursi masing-masing. Tampak juga ketiga sahabatnya ada di sana.
Chacha sampai di kursi nya dan duduk bersandar. Satu persatu dari mereka bangkit memperkenalkan identitasnya dan melaporkan apa saja yang sudah dibuat ataupun ditemukan.
Chacha memejamkan matanya sambil menganggukkan kepalanya. Dari ekspresi wajahnya dia tampak puas.
"Oke, kalian yang memiliki kemampuan membuat obat sekaligus racun bisa membentuk kelompok" Titahnya.
__ADS_1
Tampak para anggota tersebut bangkit dari duduknya dan berdiri membentuk kelompok.
"Selanjutnya tim obat dengan tim obat, tim racun dengan tim racun" Mereka menuruti perintah Chacha dengan berkelompok kembali.
"Kalian tim pertama, obat dan racun akan dibimbing langsung oleh Kak Shiro untuk membuat obat sekaligus racun. Hanya perbedaan cara takar obat. Jika kalian menakar dengan benar maka kalian akan membuat obat, namun jika salah menakar kalian akan membuat racun. Berhati-hatilah untuk hal ini. Aku mau kalian membuat obat sekaligus racun. Buatlah sebanyak-banyaknya, dan ingat kita hanya menggunakan untuk kepentingan kelompok. Jangan sampai ada yang berkhianat padaku, kalian lebih mengenal siapa aku"
"Baik Queen" Jawab mereka serempak.
"Tim obat, kalian akan dipimpin oleh salah satu bawahan Kak Shiro. Buat obat dengan kualitas tinggi. Obat yang kalian hasilkan akan berguna nantinya. Selain itu kalian akan dipecah lagi untuk membuat obat sesuai kebutuhan. Aku mau kalian membuat sebuah pil penghenti darah. Pil ini akan digunakan saat salah satu rekan kita tertembak. Pil ini akan menghentikan pendarahan mereka secara bertahap. Usahakan membuatnya dengan teliti"
"Kalian juga tim obat, buatkan aku sebuah obat bius yang berbaur dengan udara. Aku punya sampelnya, kalian lanjutkan bersama orang ku nantinya. Kalian akan bekerja keras. Apa kalian siap? "
"Siap Queen"
"Tim terakhir tim racun. Bisa dibilang pekerjaan kalian lah yang paling menumpuk. Selain membuat racun rendah, aku juga meminta kalian membuat racun dengan dosis tinggi. Tak ada toleransi lagi saat ini. Salah satu bawahan ku langsung akan mendampingi kalian"
"Setiap peluru yang keluar nantinya, pastikan sudah terisi dengan racun yang kalian buat. Peluru akan dimodifikasi ulang, kita akan memproduksi nya secara besar-besaran. Namun ingat, ini hanya untuk kepentingan kelompok. Jangan sampai ada kelompok lain yang tahu. Aku benci pengkhianat"
"Aku ingin kalian memproduksi lebih banyak lagi racun pelumpuh. Racun ini hanya bisa dibuat oleh beberapa orang, dan salah satunya rupanya sudah berkhianat padaku. Sudah ku katakan jangan pernah sekalipun menjual apapun kepada organisasi lain tanpa sepengetahuan dari ku. Karena aku tak akan segan lagi pada kalian"
Tampak semua anggota tim racun menelan ludahnya kasar. Chacha berbicara dengan nada dingin namun dengan ekspresi wajah yang begitu malas.
"Serahkan diri dengan baik-baik, maka aku akan pertimbangkan lagi hukumannya. Jangan sampai Kak Ardan yang menemukan salah satu dari kalian terlebih dahulu"
Suasana berubah tegang. Mereka semua saling tatap satu sama lain. Yang dipikiran mereka hanya satu. Bodoh sekali orang yang menjual obat pelumpuh tersebut, tak taukah jika pemimpin mereka dapat menyiksa seseorang sambil tersenyum tanpa dosa.
Tak hanya terkenal akan kecantikannya di dunia bawah. Chacha juga dikenal dengan kekejamannya. Memang tak banyak nyawa yang berakhir di tangannya. Namun, karena tangan itulah banyak musuh yang lebih memilih mati bunuh diri daripada menjadi mainan sang Queen.
Brak..
Satu dobrakan keras disusul dengan terlempar nya satu orang ke dalam ruangan membuat semuanya kaget. Kecuali Chacha pastinya. Mereka dibuat melongo tak percaya. Mereka kenal betul siapa orang yang terlempar babak belur itu. Ditambah dengan wajah Ardan yang menahan kekesalannya membuat praduga mereka semakin kuat.
"Angkat wajah lo, bang*at" Teriak Ardan sembari menendang perut orang tersebut dengan keras.
Setelah berhasil mengusut asal racun pelumpuh ditubuh Bu Ratu Chacha langsung meminta Chila untuk meninjau bagian racun. Benar saja, botol di rak racun berkurang. Jika tak teliti maka tak akan kelihatan jika berkurang. Karena racun tersebut telah diganti.
"Cukup Kak" Ardan tampak mengendalikan emosinya dengan nafas yang naik turun. "Dimana Audy? "
"Di rumah sakit"
"Kau meninggalkan nya? "
"Audy aman bersama King di sana. Maaf Queen, tapi sebenarnya King yang ingin turun langsung"
"Kau mencegahnya? "
"Betul Queen"
"Kembalilah ke rumah sakit. Masalah disini biar jadi urusan ku"
"Baik Queen" Ardan langsung meninggalkan ruangan itu.
Setelah kepergian Ardan, ruangan semakin terasa dingin. Chacha menatap intens salah satu anak buahnya dengan pandangan datar dan dingin.
Gluk..
"Berapa botol? "
"Ampun Queen" Orang itu langsung bersimpuh didepan kaki Chacha.
"Berapa botol? "
"3 botol Queen"
"Kau tau bukan apa hukuman bagi pengkhianat? "
__ADS_1
"Iya Queen"
"Tapi aku ingin sekali bermain. Tak asik jika menyaksikan kau langsung mati" Ucapnya santai.
Yang lain bernapas dingin saat Chacha ingin bermain.
"Kau minum racun yang sama atau ambil sisanya. Pilih salah satu"
Yang lain diam, tak mempertanyakan setiap keputusan yang Chacha ambil. Karena selain pemimpin, Chacha selalu memikirkan baik buruknya keputusan yang dia ambil.
"Jika boleh saya akan pilih yang ke dua Queen"
"Baiklah kau yang memilih. Ambil sisa botol racun yang pernah kau berikan. Aku jamin mereka hanya menggunakan satu botol untuk bunda ku. Tak peduli apapun caranya, aku ingin dalam tiga hari kau sudah mendapatkan semuanya. Jika dalam tiga hari kau gagal, segera menghadap padaku secara langsung"
"Baik Queen"
Bukan memberi keringanan atau apa, tapi Chacha hanya memberi satu kesempatan pada anak buahnya. Karena dia salah satu anak buah yang loyal kepada Chacha. Entah kenapa dia malah berkhianat dibelakang Chacha. Ini masih Chacha pertanyakan.
"Queen" Panggilnya lirih, Chacha langsung menoleh ke arahnya.
"Kalian keluar dulu. Nanti kita lanjutkan. Kecuali kalian bertiga" Fany, Nena dan Zeze diam di tempat sesuai perintah Chacha.
Setelah memastikan semuanya telah keluar Chacha menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Katakan apa alasanmu. Aku tau kamu salah satu anak buah yang begitu loyal padaku" Ucap Chacha pelan. Matanya menatap langit-langit.
"Maaf Queen. Adikku di sekap oleh mereka" Jawabnya sambil tertunduk.
"Dengan tebusan racun pelumpuh kau bisa membebaskan adik mu? " Dia mengangguk. "Apakah sekarang adik mu bebas? " Dia menggeleng pelan.
"Kau bodoh" Umpat Nena. "Adik mu tak akan dibebaskan. Black Shadow itu licik, menyandera seseorang untuk mendapatkan keinginannya sudah biasa bagi mereka. Dan kau masuk kedalam jebakannya" Jelas Nena.
"Kapan mereka berjanji akan membebaskan adik mu? " Tanya Chacha dengan nada tenangnya.
"Kemarin Queen"
"Sampai sekarang belum juga sampai pada mu? " Dia mengangguk. Tampak Chacha menghembuskan napasnya pelan.
"Kau paling tahu hukuman apa untuk berkhianat padaku. Tapi kau memilih mempertaruhkan nyawamu dengan menolong adik mu. Pernahkah kau berpikir, jika kau mati dieksekusi sebagai pengkhianat dan musuh memutar balikkan fakta. Bukankah adik mu akan menjadi senjata untuk menyerang ku. Adik yang kau ajarkan kebaikan, jauh dari lumur dosa seperti kita akan menjadi moncong senjata yang kapan saja siap menembak ku" Chacha berucap pelan.
"Pernahkah kau berpikir jika adikmu akan berbuat hal diluar nalar. Bukankah nanti dia akan menyalahkan aku atas kematian mu. Padahal kau sendiri yang memilih kematian mu. Banyak jalan untuk menyelamatkan adik mu, tapi kau memilih menyerahkan nyawamu karena pikiranmu kalut. Bukankah kau bisa melapor pada salah satu dari tiga ketua wanita ini. Itu kenapa aku menekankan untuk selalu berpikir jernih dan bersikap tenang dalam keadaan apapun. Agar hal ini seperti ini tak perlu terjadi"
"Aku tau, aku paham bagaimana rasanya ada di posisi mu. Tapi gunakan logika dan nalar mu. Perhitungan keuntungan dan kerugiannya. Perkiraan keberhasilan dan kegagalannya. Baru setelah itu kau ambil keputusan. Beruntung korban pertama racun itu adalah bunda ku, aku bisa menyembuhkan karena hanya aku yang memiliki penawar dari setiap formula racun yang aku buat. Bagaimana jika racun itu mengenai orang yang tak bersalah. Singkat kata, dia malah mencekoki racun itu pada adik mu. Pernahkah kau berpikir seperti itu? "
"Aku rasa tidak. Kau terlalu dilanda rasa khawatir hingga melupakan jika kau seorang mafia. Seorang mafia bisa dilawan dengan mafia pula. Ataupun jika mereka bodoh, maka mereka akan dikalahkan oleh pebisnis berotak super atau polisi cerdik. Itu kenapa kalian dituntut untuk bisa melakukan ini itu"
Chacha terdiam sebentar. Seperti ini cara Chacha menegur bawahannya. Tak semuanya harus dengan teguran fisik. Daripada melukai fisiknya Chacha lebih suka menyentuh titik terlemah manusia. Hati.
Ketika kau berbicara dari hati ke hati, maka nalar mu akan mengungkapkan semua keluh dan kesah mu tanpa kau sadari. Ketika kau berbicara dari hati ke hati, maka logika mu akan meluapkan semua emosi yang kau tahan.
Mungkin mereka keras, namun Chacha tau kapan harus bersikap lembut pada bawahannya sebagai adik. Kapan dia harus bersikap bijak layaknya ibu. Kapan dia harus tegas dan kejam sebagai pemimpin. Karena metode inilah Chacha berhasil membentuk organisasinya di usia yang masih belia.
"Kembalilah obati luka mu, Kak. Setelah itu kembali ke sini lagi. Kita akan membahas strategi pembebasan adik mu" Ucap Chacha pelan.
Perlahan senyum tiga gadis yang ada di ruangan itu mengembang. Ini yang mereka sukai dari Chacha. Dia tak menghukum sembarang anggotanya. Chacha selalu menyusutnya hingga tuntas. Membuat titik penyesalan tersendiri setelah mengevaluasi semuanya.
"Kembalilah, aku sendiri yang akan memimpin pasukan ku untuk membebaskan adik mu, Kak" Tambah Fany.
"Queen" Panggilnya dengan nada bergetar.
Chacha tampak tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih Queen, terimakasih"
"Obati luka mu"
__ADS_1
"Baik Queen"