
"Ada apa nih tumben ngajak kumpul pulang kerja? " tanya Karin pada yang lain.
"Levy yang ngajak, gue cuma tukang pos doang" jawab Putra santai.
"Chacha juga diajakin? "
"Jelas lah, Zeze. Pak bos bilang FF kumpul, nah Si Chacha kan bu bos alias leader" jelas Kinos.
"Tumben. Biasanya yang paling getol buat meet up itu Si Chacha" Nena mulai mengeluarkan pendapatnya.
"Ada hal penting apa kira-kira"
"Tunggu aja. Ini kurang Elang, Chacha sama Levy"
"Pesen aja dulu"
Mereka langsung melihat buku menu. Memesan apa saja yang sekiranya membuat penat mereka mereda.
Tak selang berapa lama Elang datang bersamaan dengan Levy. Jangan lupakan Angel yang juga turut hadir.
"Sorry, gue ganggu waktu kalian. Jadi tujuan gue... "
"Tunggu kita belom lengkap" Karin memotong perkataan Levy.
"Udah kok"
"Bu bos belom hadir pak bos" timpal Putra. Levy hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Chacha" jawab Fany.
"Gue rasa... "
"Gak bakalan ada FF kalo gak ada dia" Zeze memotong perkataan Levy kali ini, membuat Levy menghela napas.
"Telfon deh, Fan. Gue curiga jangan-jangan tuh anak malah gak tau kita kumpul" seru Nena.
"Lah iya ya. Biasanya dia paling semangat kalo kita meet up" tambah Karin.
Tanpa menunggu lagi Fany langsung menelfon Chacha. Tak harus menunggu lama Chacha langsung mengangkat panggilannya.
"Lo dimana"
"Kenapa? " tanya Chacha diseberang sana. Fany sengaja menghidupkan pengeras suara agar yang lain mendengarnya.
"Kita ada janji meet up"
"Kok gue gak tau? "
"Lo gak cek HP lo dari tadi? "
"Nggak, gue lagi silaturahim sama kertas dan angka"
"Lo di kantor? "
"Nggak"
"Terus? "
"Di FF Resto gue. Di ruangan gue sendiri"
"Ke VIP room sekarang. Kita udah lumutan nungguin lo"
"Meluncur" Chacha langsung mematikannya sepihak.
"Gila kita nungguin dari tadi, gak taunya dia ada disini" Nena masih geleng-geleng kepala.
"Tumben Angel kicep, biasanya udah heboh sendiri" sindir Karin.
"Gak papa kok, Kak. Angel lagi capek aja" kilahnya.
"Capek ngapain. Kayaknya lo gak ada jadwal hari ini"
"Ah itu... Tadi bantu-bantu mama di rumah" Angel dibuat gelagapan dengan pertanyaan yang Karin lontarkan.
"Oh... " Karin hanya ber-oh ria.
"Hola" sapa Chacha memasuki ruangan yang berisi para sahabatnya. Terlihat Chacha menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan itu.
"Ada apa? " Chacha langsung bertanya pada Putra.
__ADS_1
"Bukan gue. Pak bos yang ngajakin kumpul, gue tukang pos doang" Chacha hanya mengangguk saja.
"Jadi tujuan gue ngumpulin kalian semua disini itu"
"Gak usah berbelit-belit deh Lev, to the point aja" potong Kinos.
"Gue ngundang kalian"
"Lo mau nikah, Lev? " pertanyaan Putra membuat Chacha menegang ditempat. Yang lain menatap Levy tajam.
"Kagak lah"
"Terus? "
"Makanya jangan dipotong Samsul"
"Nama gue bagus lo ubah Samsul. Kampret emang Si Levy"
"Mau debat apa gimana ini? " sarkas Zeze membungkam keduanya.
"Lev? "
"Acara ulang tahun pernikahan mama papa gue"
"Kita kira lo bakalan nikah"
"Belum saatnya"
"Kapan acaranya? "
"Besok malam. Kalian wajib datang" tekan Levy.
"Kita semua pasti dateng" ucap Nena. Merujuk pada kata "semua" Levy melirik Chacha sekilas, tampak gadis itu sedang menyandarkan kepalanya pada sofa dengan mata terpejam.
"Gak usah khawatir, nanti lo tinggal shareloc aja" Levy hanya mengangguk merespon ucapan Karin.
"Oh iya Lev, bentar lagi ulang tahun perusahaan lo ya kalo gak salah? " tanya Kinos.
"Perusahaan bokap, bukan punya gue"
"Lah kan lu pewarisnya dodol"
"Ya ampun. Beneran lupa gue, makanya ajak dong sekali-kali"
"Masih kecil baru juga tiga tahun dia. Bisa pusing gue"
"Sekalian belajar kan gak papa"
"Kan lo kalo keluar pasti sama Angel. Ada dia kan yang bisa jaga" Karin mengeluarkan pendapatnya, dan itu sukses membuat Angel terkejut. Angel yang notabene nya tak suka pada anak kecil, disuruh jaga anak kecil. Bisa darah tinggi dia.
"Dia lebih nyaman sama mama, sama gue juga kadang gak mau"
Chacha yang sedari tadi menyimak sambil memejamkan mata, seketika otaknya berpikir keras. Bocil? berarti anak kecil dong. Tapi siapa? Dan apa hubungannya dengan Levy. Anaknya kah? Atau adiknya? Chacha hanya bisa terdiam dengan segala pertanyaan yang muncul dalam pikirannya.
"Makanya jadi orang jangan kayak es balok" sindir Zeze.
"Heran Angel kok betah tunangan sama lo yang notabenenya udah kayak kutub gini" tambah Nena.
"Kak Levy baik kok, Kak. Dia pribadi yang hangat kok" Angel akhirnya bersuara.
"Yakin lo? " Angel hanya mengangguk.
"Lo mau kemana, Rin? " tanya Fany saat melihat Karin berdiri sambil merapikan bawaannya.
"Gue ada jadwal pemotretan"
"Tar lagi malem, gak salah ini gue? " kali ini Elang yang bersuara. sejak tadi hanya diam ketika melihat Karin hendak pergi baru mengeluarkan suara ini anak.
"Emm, baru tanda tangan kontrak kemarin gue. Di rekomendasiin sama Si Angel" jawab Karin.
"Batalin kontraknya, gue bayar dendanya" putus Chacha mutlak dengan mata masih terpejam.
"Gak bisa dong Cha"
"Bisa Karin, lo urus aja"
"Tapi, Cha... " suara Karin terpotong oleh ucapan Levy.
"Lo boleh kesel sama gue, tapi jangan sama tunangan gue, dia gak tau apa-apa" Chacha menaikkan sebelah alisnya dengan mata tetap terpejam.
__ADS_1
"Lo boleh benci gue, tapi jangan gitu. Lo sama aja ngehina dia, dia kan udah rekomendasiin Karin. Jadi..." Ucapan Levy terpotong saat Chacha melemparkan sebuah map ke meja mereka. Karin membuka map tersebut, setelah membaca cukup lama matanya melotot tak percaya. Sedetik kemudian melirik sinis pada Angel. Angel hanya diam saja ketika Karin meliriknya sinis. Jujur dia tak bisa bergerak bebas ketika melihat Chacha. Pertemuannya malam itu membuat dirinya harus ekstra hati-hati pada Chacha
"Kenapa, Rin? " Karin menggeser map tersebut pada sahabatnya. Reaksi mereka tak jauh berbeda dengan Karin. Melotot tak percaya.
"Gue balik duluan" Chacha berdiri dan mulai melangkahkan kakinya keluar.
"Lo balik sama siapa? " tanya Elang.
"Dijemput supir kayaknya"
"Kok kayaknya sih, Cha"
"Perasaan gue, gue udah telfon tapi kalo didepan belum ada jemputan berati gue belum telfon"
"Lemes banget sih lo"
"Gue capek, Elang. Gue balik duluan ya. Karin gue kirim ke lo uangnya atau gimana? "
"Gue aja yang bayar, Cha" jawab Karin tak enak hati.
"Udah gak papa, nanti gue kirim. Gue balik, Elang hubungi Kak Shiro"
"Kenapa? "
"Suruh ke mansion aja. Dipanggil gue gitu"
"Lo sakit? "
"Manggil Kak Shiro gak harus sakit oon. Dah gue balik, kalian tiati pulangnya" Chacha berlalu dari ruangan itu.
"Lo berniat apa sama gue Angel? "
"Maksud Kak Karin apa? " Karin melempar map yang Chacha berikan tadi ke depan Angel.
"Buka dan baca. Lo bisa baca kan"
"Rin, biasa aja dong"
"Lo juga baca, Lev. Jangan seenaknya"
Angel membuka perlahan map tersebut, Levy juga mengintip isinya. Angel membulatkan matanya, keringat dingin mulai membasahi gaun yang ia pakai. Disana terpampang jelas kalau kontrak Karin berisi jebakan.
"Lo berniat banget hancurin karir gue, hah. Kalo iri bilang" bentak Karin yang tersulut emosinya.
"Angel gak tau, Kak"
"Lo pikir gue bodoh. Lo udah berapa tahun kenal dia, dan sekarang lo ngerekomen gue ke dia. Buat apa? Buat jadi salah satu pemuas ***** dia di ranjang, hah? " perkataan Karin membuat Elang menatap Angel dengan nyalang.
"Angel beneran gak tau, Kak" Angel mulai terisak.
"Atau lo juga salah satu koleksinya? " pertanyaan Karin membuat Angel menegang disela isakannya.
"Rin jangan kelewat batas"
"Cih, gue tau dia tunangan lo, Lev. Lo juga baru kenal dia setahun belakangan ini. Jadi lo gak tau gimana sepak terjangnya"
"Tapi bukan berarti lo ngejelekin dia, Karin" Levy mulai meninggikan suaranya.
"Terus gue harus apa Lev. Gimana kalo gue lanjut kontrak, hah. Lo pikir aja sendiri" Karin yang tadinya emosi semakin terbakar dengan Levy yang membela Angel.
"Lo mendingan ngomong deh. Kalo lo gak ngomong persahabatan kita bisa pecah sampai disini" tegas Nena pada Angel.
Angel yang masih terisak mencoba bicara. "Angel beneran gak tau. Angel cuma rekomendasiin Kak Karin, karena kebetulan dia butuh model"
"Kan ada lo kenapa harus Karin? "
"Dia pengen model yang baru"
"Lo tau kan kalo Karin aktris? " Angel mengangguk menanggapi pertanyaan Nena.
"Gue tau sahabat gue lagi menjelajah ke dunia modelling tapi lo gak usah ikut campur. Niat lo baik buat bantu dia, tapi gue yakin tanpa lo ikut campur dia bisa sampai diposisi puncak" Nena menjelaskan dengan keadaan tenang.
"Udah Rin gak usah emosi"
"Untung aja ada Chacha. Kalo nggak jadi apa gue"
"Kek cewek lemah aja ini anak" cibir Fany membuat yang lain tergelak.
Angel yang disudutkan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Andai tak ada Si Chacha mungkin dia tak akan disudutkan.
__ADS_1