Call Me Queen

Call Me Queen
Pertempuran Kedua


__ADS_3

"Mendekat dalam 5 menit" Suara Chila kembali terdengar dibalik earpiece yang dikenakan oleh Caesar.


Brak...


Gerbang besar Chacha didobrak paksa oleh mereka. Dari yang terdengar kemungkinan mereka menabrakkan mobil pada gerbang besar itu. Namun sayang, gerbang besar itu belum tergerak sedikitpun.


Caesar dan lainnya bahkan sampai mengedipkan mata berkali-kali melihat kejadian di depannya. Gerbang yang benar-benar kokoh. Itu yang ada dipikiran mereka semuanya.


Tampak musuh di luar masih terus menabrakkan mobilnya ke gerbang besar itu. Entah di percobaan ke berapa gerbang itu sudah bergerak sedikit demi sedikit. Melihat itu Caesar dan lainnya bersiap dengan senjata mereka.


"Chila apa mereka menggunakan sniper? " Tanya Caesar dengan cepat.


"Ya"


"Oh no. Kalian bergerak menjadi dua, bantu Karin dalam posisi sniper" Perintah Caesar yang langsung mereka lakukan.


Dengan serempak mereka yang memiliki kemampuan menggunakan senjata runduk itu langsung mengganti senjata dan mengambil posisi masing-masing.


Dorr..


Caesar memberi salam pembukaan pada ban mobil yang mereka kendarai saat berhasil menjebol gerbang itu. Hingga suara senjata yang bersahutan terus terdengar. Melihat musuh yang begitu banyak membuat Caesar menghela napas panjang. Namun, dirinya masih dengan santainya menembak dan menghindari peluru musuh.


Sedangkan Chila terus menatap jalannya pertempuran dari layar monitor yang menyala di depannya.


"Satu kubu lagi yang belum masuk. Usahakan mereka masuk semua. Mundurkan sedikit pasukan Kak Caesar, agar musuh lainnya bisa masuk. Aku akan menurunkan anak buah ku untuk mengepung dari arah luar" Ucap Chila dengan cepat. Tangannya juga bergerak cepat dia tas keyboard untuk mengirim kode pada bawahannya.


Dengan sigap Caesar mundur secara perlahan, menarik musuh masuk semakin dalam ke arahnya. Namun, Caesar tahu jika ini bukan jalan terbaiknya. Mereka bisa saja terkepung di kandang sendiri. Namun, membiarkan musuh di luar juga tidak baik. Mereka malah semakin mudah di tundukkan. Setidaknya dengan langkah ini mereka bisa membuat perlawanan. Apapun hasilnya, hanya bisa pasrah.

__ADS_1


...****************...


Chacha berlari dengan secepat kilat ke arah luar gedung. Para musuhnya menatap dirinya bingung. Apalagi saat Chacha membuka penutup matanya dan tersenyum miring ke arah mereka.


Sampai di luar gedung, Chacha bisa melihat jika anak buahnya sudah meninggalkan area gedung hotel tersebut. Chacha hanya menatap gedung tinggi itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Gedung hotel yang membuat dirinya berada di puncak kesuksesan harus hancur saat ini juga. Gedung ini merupakan usaha pertama Chacha untuk memberi kehidupan baru pada yang lainnya. Hari ini gedung ini harus hancur ditangannya sendiri. Dia yang membangun, dia juga yang menghancurkan.


Demi keselamatan keluarga ku, aku harus menghancurkan gedung milikku sendiri. Batinnya bermonolog.


Matanya menatap sendu ke arah bangunan tinggi itu. Chacha menekan berlian yang melingkar di jari telunjuknya. Chacha tak bergeming, tetap berdiri di tempatnya. Menyaksikan gedung miliknya roboh bersamaan dengan teriakan panik di dalamnya. Hingga memastikan teriakan itu tak lagi ada, barulah Chacha melangkah mundur.


"Queen, jalan di blokir. Kami bisa menangani ini, Levy kembali ke kediaman mu terlebih dahulu. Penyerangan besar terjadi di sana" Ucap Pandu di balik earpiece yang Chacha kenakan.


Levy tadinya memang sengaja menghadang kelompok susulan yang akan mengacau di QI Hotel. Levy bergerak bersama anak buahnya, namun ditengah pertempurannya dia mendapatkan kode jika anak-anaknya dalam bahaya. Sangat kebetulan dengan munculnya Chiara dan Pandu, membuat Levy langsung meninggalkan pertarungan dan secepat kilat pulang ke kediamannya.


Chacha mematung di tempatnya. Tenaganya seakan hilang. Chacha memejamkan matanya sejenak, menarik nafas pelan. Hingga rangkulan di bahunya seakan membuat tenaganya terisi kembali.


Tak lama kemudian deru helikopter terdengar di atas kepala mereka. Dari helikopter tersebut terjuntai sebuah tali, tanpa memikirkan apapun lagi Chacha langsung melompat menggapai tali itu. Dengan posisi bergelantungan helikopter terbang menjauh dari lokasi.


Bahkan saat diminta untuk naik, Chacha hanya menggeleng. Dirinya memilih tetap bergelantungan agar bisa melompat dengan cepat.


...****************...


Levy sampai di arena pertempuran kedua. Dimana sudah banyak yang tergeletak tak sadarkan diri. Bahkan bisa Levy pastikan jika beberapa dari mereka sudah meregang nyawa.


Levy tidak langsung menyerang, namun mengamati pertarungan terlebih dahulu. Dia membaca situasi sebelum menyerang. Hingga dia kaget saat melihat Bastian terlempar ke arahnya dengan kondisi babak belur dan satu luka tembakan di perutnya.

__ADS_1


Levy mengeraskan rahangnya. Dia menidurkan Bastian didalam mobilnya. Sebelumnya Levy mengupayakan agar darah Bastian berhenti terlebih dahulu, setelahnya barulah dirinya melangkah dengan pasti ke arah pertempuran.


Levy menembakkan pistolnya ke udara sebanyak dua kali, membuat atensi pertempuran beralih kepadanya. Pemimpin di sana sedikit kaget saat melihat tatapan tajam bak elang milik Levy. Siapa yang tidak mengenal Levy di dunia bawah. Selama ini dia terlalu low profil sebagai pemimpin dunia bawah yang terkenal dengan kekejamannya dan kebengisan nya. Jika Chacha di kenal sebagai queen of mafia, maka Levy di kenal sebagai king of mafia. Levy mampu menggeser posisi King sebagai ketua mafia yang paling ditakuti.


Dorr...


Dorr..


Dorr..


Dorr..


Dorr..


Dengan gerakan santai dan wajah datarnya Levy menembakkan pelurunya tanpa ampun. Hingga musuh sadar jika Levy mulai menyerangnya, fokus mereka terpecah saat harus menghadapi Caesar yang bergerak seperti orang kesetanan, sekarang ditambah Levy sang malaikat maut. Belum lagi di pintu masuk mereka dihadang gadis cantik dengan wajah kalemnya, namun mampu merobohkan lawannya dengan mudah.


Karin sendiri membereskan para sniper dengan senyap, salah satu keahlian Karin adalah menyerang tanpa diketahui.


Mereka terlalu fokus pada pertarungan di depan hingga tidak menyadari jika pemimpin mereka menyelinap masuk ke dalam. Kondisi Bastian yang sudah tumbang, Nena yang terkepung di pintu masuk, Caesar yang terus menerus di tekan di sisi kiri, dan Levy dengan gaya santainya menghajar musuh membuat mereka melupakan sejenak jika di dalam rumah ada orang-orang yang harus mereka lindungi.


Dorr...


Levy mengernyit saat peluru menyapa lengan kirinya. Dia menatap darah yang mengalir di balik jas yang dia kenakan. Matanya mencari siapa yang menembaknya. Namun, dirinya dibuat kaget saat keluarga besarnya digelandang paksa oleh pihak musuh.


Levy langsung menggila saat pemimpin mereka menodongkan pistol ke arah si montok yang ada dalam gendongannya. Tanpa memikirkan lengannya yang terluka Levy langsung menyerang siapa saja yang ada di depannya. Bahkan tak peduli berapa kali tembakan yang dia lepaskan untuk menyingkirkan musuh di depannya.


"Lepaskan putriku sialan" Teriak Levy dengan amarah yang begitu tinggi.

__ADS_1


Mendengar teriakan Levy Caesar dan Nena segera menoleh, saat melihat apa yang terjadi mereka semakin brutal dalam menyerang.


Sedangkan sang pemimpin hanya tertawa melihat anak buah Chacha berusaha menghampiri dirinya yang berdiri di antara keluarga besar yang sedang terduduk dengan pistol menempel di kepalanya, lebih parahnya lagi mereka terlihat babak belur.


__ADS_2