Call Me Queen

Call Me Queen
Serakah


__ADS_3

Benar saja, keesokan harinya berita tentang Kevin pecah dimana-mana. Seluruh pemberitaan mengabarkan perselingkuhan dirinya. Namun, dengan apiknya Chacha tak menyeret nama Tiara ke permukaan. Selain menjaga nama baik keluarga suaminya, Chacha juga tidak ingin menganggu Tiara yang sedang berbenah diri itu.


Kasus di pengadilan tidak dilanjutkan. Namun, Chacha tetap melanjutkan untuk mengambil alih perusahaan Pandey atas namanya. Bahkan beberapa petinggi shock saat tahu Chacha pemilik saham terbesar atas nama Wijaya yang merupakan salah satu asistennya.


"Capek? " Tanya Levy sambil mengelus kepala Chacha yang bersandar di bahunya.


Mereka sedikit bersantai kali ini. Si kembar sedang diboyong oleh sang nenek ke kediamannya. Begitu pula dengan para pengasuhnya yang setia menemani tuan dan nona kecil mereka.


"Capek nggak sih, Mas. Cuma lebih ke gedek aja gitu lihat sikap mereka" Gerutu Chacha. Sesekali Levy mengecup rambut istrinya dengan ringan. "Waktu Audy hamil dimaki-maki. Sekarang malah mohon-mohon, dikira Audy apaan coba"


"Emosi mulu bawaannya sih, sayang. Sudah lah gak usah bahas mereka" Putus Levy saat merasa jika sang istri mulai emosi.


"Ya abis nyebelin"


"Sudah-sudah. Daripada ngomel mulu, mending pijitin Mas deh, Yang. Pegal semua kayaknya, mana kepala sakit lagi"


Chacha langsung menatap wajah suaminya. Lelah, itu yang tercetak jelas di wajah Levy.


"Ya udah, ayo tengkurep biar aku pijitin. Kamu itu kebiasaan kalau capek itu istirahat jangan diforsir. Ingat Mas, ada anak istrimu yang butuh kamu juga, bukan cuma kertas sama laptop kamu"


Levy diam tak menjawab, dia memilih menuruti apa kata sang ratu saja.


"Buka bajunya, aku ambil minyak zaitun dulu. Sekarang istirahat aja habis aku pijit. Mumpung si kembar lagi gak di rumah"


"Kamu juga istirahat loh, cinta. Mas gak mau kamu sakit lagi kayak waktu itu"


"Aku mah istirahat cukup, Mas. Kamu itu yang sering bangun kalau aku sudah tidur. Bukannya ngeloni istrinya malah apel sama laptop" Gerutu Chacha.


Memang ketika tengah malah Levy sering terbangun dan melanjutkan pekerjaannya. Membuat Chacha seringkali kesal karena suaminya tak memikirkan kesehatannya.


"Iya cinta, nggak lagi kok. Udah dong jangan ditekuk gitu mukanya. Sini rebahan aja, gak usah pijit Mas" Levy berbalik menjadi telentang.


"Ish, udah ayo tengkurep lagi" Chacha berusaha membalik tubuh Levy lagi. "Janji gak begadang lagi loh, Mas"

__ADS_1


"Iya sayang"


Chacha tak menambahkan obrolan lagi. Dirinya hanya fokus memberikan pijatan relaksasi agar suaminya merasa rileks. Terlihat sekali jika otot-otot sang suami tampak menegang.


"Mas? " Panggil Chacha saat melihat nafas teratur suaminya.


"Hmm" Entahlah Levy menjawab sadar atau tidak ini.


Chacha memilih melanjutkan memijat nya. Hingga selesai dirinya tak mendapati Levy bergerak sedikitpun. Chacha yakin jika sang suami kini tengah tertidur pulas.


"Gue di tinggal tidur mau ngapain ini? " Gumam Chacha. "Mana anak-anak lagi gak di rumah lagi"


Chacha turun dari ranjangnya dan berjalan mengambil laptopnya. Mungkin ada sesuatu yang bisa dia kerjakan daripada dia hanya berdiam diri. Itu bukan gayanya sama sekali.


Chacha kembali ke kamarnya dengan membawa laptop di tangannya. Dia langsung mendudukkan dirinya di sofa dan mulai menghidupkan laptopnya.


Setelah hidup, dirinya langsung membuka email. Ternyata ada kiriman terbaru dari Chila tentang siapa saja yang mendukung kelompok lima besar yang berdiri sejak jaman neneknya itu.


Chacha cukup geram saat tahu beberapa anak buahnya membelot dan ingin memberontak. Apa dia selama ini cukup baik pada mereka? Atau mereka yang tidak tahu bagaimana kejamnya sang pemimpin?


Dengan cepat Chacha mengirimkan nama-nama kelompok mafia yang berada dibawah pimpinannya pada anggota Death Rose yang terpilih. Dengan berbekal kata 'bertamulah pada mereka', anggotanya sudah mengerti jika itu adalah perintah.


Chacha mencoba menghubungi salah satu anak buahnya yang tinggal di mansion yang dijadikan markas Death Rose olehnya.


"Queen"


"Ya? Bagaimana keadaan di sana? "


"Aman Queen. Hanya saja, dua orang tawanan itu terus saja berteriak sejak dibawa kemari atas perintah nona Chiara"


"Tawanan? " Chacha menaikkan sebelah alisnya.


"Dua orang yang mencelakai anda hingga melahirkan tuan dan nona kecil sebelum waktunya"

__ADS_1


"Astaga lupa" Chacha menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana dirinya bisa lupa jika Chiara berhasil menangkap pelaku kecelakaan dirinya saat di rumah sakit saat itu. "Mereka berdua ada di mana? "


"Nona Chiara meminta kami menempatkan mereka di samping cici dan koko, Queen"


"Alamak, pindahkan mereka ke sel biasa saja. Tapi kenapa berteriak, cici dan koko kan anak baik"


"Perintah diterima Queen".


" Pastikan mereka baik-baik saja ketika saya ke sana. Mungkin dalam waktu dekat"


"Baik Queen"


Chacha langsung memutuskan panggilannya. Kini dirinya beralih melihat seluruh sistem yang diterapkan diam-diam pada seluruh kelompok yang ada dalam naungannya. Bahkan tidak ada yang mengetahui ini sebelumnya. Chacha begitu fokus meneliti semuanya. Dia memastikan untuk tidak ada pengkhianat ataupun semacamnya. Dia malas bermain kali ini, jika sebelumnya Chacha akan terlihat bersemangat jika sedang menghadapi para pemberontak. Maka kali ini dia lebih memilih menyiapkan tenaganya untuk perang yang ada di depan matanya.


Chacha sengaja memancing perang ini sebenarnya. Dengan alasan dia tidak ingin jika anak-anak nya kelak juga ikut merasakan keresahan ini. Cukup dirinya yang bertahun-tahun sakit kepala karena memikirkan dendam para sesepuh nya.


"Ya Chila? " Chacha menjawab panggilan Chila dengan cepat.


"Informasi terbaru tentang wanita itu sudah Chila kirim"


"Baik, ada lagi? "


"Kak, Chila benar-benar gak bisa nembus pertahanan suami wanita itu. Karena datanya begitu dilindungi"


"Tak usah pikirkan, itu akan menjadi urusanku. Sekarang fokus untuk bersiap mengambil alih semua CCTV di QI Hotel. Pantau dari sekarang, jika ada yang mencurigakan langsung kabari"


"Siap Kak"


Setelah panggilan terputus, kini Chacha memfokuskan pikirannya untuk melacak data yang Chila kirimkan. Data yang dikunci oleh pemimpin Blood Rose yang tak lain adalah suaminya. Chacha menarik garis besar disini, jika wanita itu menikah lagi dan datanya dikunci oleh Levy. Berarti wanita itu menikah dengan salah satu keluarga Rahardian. Namun, sebagai simpanan atau istri sah, ini yang sedang Chacha selidiki.


Chacha masih terus menggerakkan jemari lentiknya dengan lincah. Matanya begitu fokus menatap layar laptop yang sedang menyala. Tak butuh waktu yang lama agar Chacha bisa menyusup masuk pada pertahanan yang dibuat sang suami. Karena Queen Hacker atau seringnya dia disebut dengan sebutan ibu dari para hacker bukan bualan semata. Chacha mampu menembus semuanya dengan cepat. Bahkan pernah ketika anggota FBI menyinggung nya, dengan cepat Chacha mengacaukan sistem yang FBI buat. Hingga dengan wajah menyebalkannya Chacha enggan memulihkan data yang sudah dia kacaukan. Baru ketika orang yang menyinggung nya meminta maaf, Chacha hanya memulihkan data itu dengan menekan beberapa tombol saja.


Jemarinya berhenti bergerak ketika mendapat apa yang dia inginkan. Chacha menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun, Chacha masih menelusuri lagi hingga ke akar-akarnya. Dia masuk ke keluarga Rahardian murni karena ingin membalaskan dendamnya pada sang ayah atau ada maksud lain.

__ADS_1


"Oh ****, wanita ini benar-benar licik. Kau terlalu serakah nyonya, nafsu makanmu terlalu besar, dan kau salah besar menghadapi iblis seperti ku"


__ADS_2