Call Me Queen

Call Me Queen
Kau Yakin?


__ADS_3

Chacha langsung menyambar hoodie yang disodorkan oleh anak buah Charles. Setelah memakainya dirinya langsung mencuci tangannya dan masuk ke ruang operasi untuk membantu Charles yang sedang melakukan tindakan pada Levy.


"Mendapat kesusahan? "


"Total tiga peluru yang bersarang di tubuh suami mu, Queen. Satu di pinggang, satu hampir menerobos jantungnya, satu lagi tepat di samping peluru satunya" Jawab Charles dengan santainya.


Charles adalah dokter ahli bedah terbaik yang dimiliki Chacha. Berkat tangan Charles pula lah banyak anak buahnya yang tertolong. Charles yang banyak dicari oleh rumah sakit ternama hingga beberapa negara karena keahliannya itu, dengan apiknya bersembunyi dibalik kekuasaan Chacha. Trauma yang mendalam membuat dirinya memilih bersembunyi daripada harus menampakkan diri pada dunia luar.


Namun, kemampuannya memang tidak diragukan. Meskipun dirinya jarang atau bisa dibilang tidak pernah keluar, namun, Chacha mengirimkan guru privat untuk Charles mengembangkan bakatnya dalam dunia kedokteran. Bahkan Chacha langsung meminta anak buahnya yang menjadi kelinci percobaan Charles.


Charles adalah partnernya jika Chacha melakukan operasi besar untuk anggota tim nya. Bahkan Shiro saja tidak tahu jika Charles ada bersama sang Queen. Hanya segelintir orang yang mengetahui keberadaan Charles yang sesungguhnya. Namun, dalam sekali melihat bisa menebak bahwa Charles adalah dokter hebat. Karena fotonya yang terpampang dimana-mana sebagai dokter muda dan hebat sudah tidak diragukan lagi.


"Aku akan ambil alih operasi ini"


"Kau yakin? " Tanya Charles tak yakin, karena kebanyakan para dokter tidak akan sanggup jika harus melakukan operasi pada anggota keluarganya.


"Dia suami ku, apa yang harus aku takutkan? " Jawab Chacha dengan enteng.


Inilah Chacha, dia bahkan mampu memimpin operasi untuk suaminya sendiri. Bahkan Charles sempat mematung sebentar setelah menukar posisi dengan Chacha. Melihat Chacha yang begitu santai melakukan setiap tindakan membuat Charles yakin jika Chacha memiliki tingkat keprofesionalan yang begitu tinggi.


Dengan begitu teliti dan hati-hati Chacha dengan perlahan mengangkat dua peluru yang hampir menyapa jantung suaminya itu. Semua yang terlibat dalam operasi pengangkatan peluru itu fokus mendengarkan apa saja perintah Chacha, menuruti segala yang diperintahkan oleh sang ratu.


"Simpan peluru itu di tempat khusus, aku akan identifikasi pelurunya takut ada racun di dalamnya" Perintah Chacha tanpa menolehkan kepalanya.


Bawahannya hanya mengangguk dan memindahkan tiga peluru yang sebelumnya bersarang dalam tubuh Levy itu ke tempat khusus. Setiap peluru musuh yang bertamu pada tubuh anggota Death Rose. Tidak ada maksud lain selain mengidentifikasi setiap peluru itu. Chacha bisa menemukan musuhnya hanya berbekal peluru yang menyapa setiap anggota tubuh anak buahnya.


"Charles, aku butuh dua kantong darah dengan golongan darah suamiku. Kau bisa memintanya pada keluarga nya" Perintah Chacha. Charles mengangguk dan meminta anak buahnya untuk keluar dan melakukan perintah yang Chacha suruh.


Setelah memberi instruksi pada anak buahnya, barulah Charles menghadap lagi ke arah Chacha. Charles mengernyitkan dahinya saat melihat Chacha tampak pucat. Apa dirinya sebenarnya tertekan saat melakukan sendiri operasi pengangkatan peluru ini?


"Queen, are you okay? " Tanya Charles khawatir, karena dia cukup tahu kebiasaan Chacha. Dia akan mengutamakan orang lain sebelum dirinya sendiri.


"I am okay, ada apa? "


"Kau tampak sedikit pucat" Jelas Charles.

__ADS_1


"Pastikan detak jantungnya normal, aku akan mulai menutup lukanya" Alih-alih menjawab Charles, Chacha langsung memberikan perintahnya lagi.


Mereka kembali fokus pada apa yang Chacha lakukan. Dengan cekatan jemari ramping itu bergerak lincah menutup luka yang Levy terima untuk menyelamatkan istrinya itu.


...****************...


Chiara dan Pandu langsung membawa Bastian ke ruang tindakan. Karena mereka berdua yakin jika anak buah Chacha yang memilih menyembunyikan dirinya dan memfokuskan untuk penelitian akan selalu stay di tempat.


"Tolong urus ayah angkat Queen dengan baik. Kami berdua akan menunggu di luar" Ucap Pandu setelah membaringkan Bastian di atas ranjang pesakitan.


Tampak anak buah Chacha langsung bergerak dengan cepat untuk memeriksa tubuh Bastian. Mereka tampak muda, namun dibawah didikan Charles secara langsung, didukung oleh peralatan canggih yang Chacha sediakan membuat mereka mampu bersaing dengan mahasiswa kedokteran yang menghabiskan banyak uang itu.


Chiara dan Pandu lebih memilih duduk di sofa yang ada di depan ruangan itu. Ruangan yang cukup luas dengan beberapa pintu yang memiliki fungsinya masing-masing. Chiara dan Pandu serempak menoleh saat melihat pintu yang bertuliskan 'private room' itu terbuka.


"Ada apa? " Tanya Pandu saat melihat anak buah Charles keluar dari sana.


"Queen meminta dua kantong darah dengan golongan darah milik suaminya" Jelasnya.


"Siapkan tempat untuk donor darahnya, saya akan menjemput keluarganya"


"Chiara, hubungi rumah sakit milik Queen untuk menanyakan ada stok darah dengan golongan Levy atau tidak. Hanya jaga-jaga takutnya keluarganya tidak bisa melakukan donor darah" Chiara hanya mengangguk dan mematuhi perintah saudara kembarnya itu.


Pandu langsung melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu. Dia berlari agar segera sampai di tempat tujuannya. Karena jarak antara gedung yang dirinya tinggalkan dengan rumah megah Chacha sedikit jauh meskipun masih dalam satu pekarangan.


Setelah sampai Pandu hanya menaikkan sebelah alisnya saat melihat mayat bergelimpangan yang dijejer layaknya jembatan, bahkan darahnya mengalir memenuhi area luar. Namun, Pandu mengabaikan itu dan memilih mencari keberadaan keluarga Levy.


Pandu masuk ke kediaman besar milik Chacha, dia mendapati semua orang sedang terduduk di lantai dengan ekspresi yang berbeda-beda. Sedangkan para sahabat Chacha duduk dengan tatapan kosongnya, bahkan mereka masih mengenakan pakaian yang penuh dengan darah.


"Keluarga dari Levy" Ucap Pandu layaknya seorang suster.


"Bagaimana keadaan Levy, Pandu? " Tanya Nena yang langsung sadar saat mendengar suara Pandu.


"Gue juga gak tahu, tapi yang pasti Levy membutuhkan dua kantong darah. Chacha meminta dua kantong darah untuk Levy" Jelas Pandu.


"Maksudnya? "

__ADS_1


"Chacha melakukan operasi pengangkatan peluru itu sendiri"


Mereka menutup mulut mereka tidak percaya jika Chacha akan sanggup melakukan itu pada suaminya. Bukankah Chacha sempat menangis sebelum tubuh Levy benar-benar tumbang di halaman rumahnya tadi.


"Dimana anakku, darah kita sama" Ucap Lenardi.


"Mari Om, ikuti saya" Ucap Pandu dengan sopan. "Kalian bisa bersihkan diri kalian terlebih dahulu" Ucap Pandu sebelum meninggalkan ruang tamu bersama Lenardi.


"Apa kita tidak bisa ke sana? " Tanya Bu Ratu.


"Nanti pasti ada yang akan menjemput kita, sebaiknya kita membersihkan diri dulu" Jawab Karin pada lainnya.


"Rin penawar racunnya sudah lo kasih? " Tanya Fany, pasalnya Elang terkena racun pelumpuh membuat dirinya benar-benar tidak bisa melawan saat musuh berada tepat di depan matanya.


"Sudah, dia sedang istirahat untuk memulihkan tenaganya"


Si kembar, Karin dan Nena mulai melangkahkan kakinya ke ruangan yang biasa mereka gunakan jika bertandang ke rumah mewah ini. Namun, langkah mereka terhenti saat mendengar teriakan di belakang mereka.


"Rey" Teriak Bu Ratu saat melihat Reyhan terpejam dengan di papah oleh saudara sepupunya yang tidak lain adalah King.


"Rey kenapa, Nial? " Tanya Ratih khawatir.


"Terkena tembakan, pelurunya sudah berhasil Nial keluarkan. Tapi dia tetap kehilangan banyak darah, bahkan sekarang kesadarannya juga menurun" Jelas Nial.


"Lalu dimana kakek dan nenek mu, Nial? " Tanya Bu Ratu, karena dirinya mengetahui kedua orang tuanya memilih menyaksikan cucu perempuannya mengalahkan musuhnya.


"Sebentar lagi akan tiba, Nial akan bawa Rey ke ruang tindakan terlebih dahulu. Tolong bantu" Pinta King.


Ayah Gun langsung maju untuk mengangkat tubuh Reyhan dan membawanya bersama King. Secara otomatis semuanya mengikuti, bahkan para sahabat Chacha tidak jadi mengganti pakaiannya gara-gara melihat kondisi Rey.


Rey terkena tembakan saat menggantikan posisi Pandu dan lainnya saat menghadang musuh. King yang bertugas di ketinggian langsung menggila saat melihat Rey terkena tembakan. Bahkan dirinya langsung mengeluarkan keahliannya ketika bermain dengan senjata runduk itu.


...****************...


Maafkan author yang kagak up ya, kesehatan author menurun, ditambah bocil juga ikutan sakit jadi riweh. Ini author paksa buat nulis karena kepikiran sama kalian😅

__ADS_1


__ADS_2