
Levy masih setia menunggu Chacha sambil mondar-mandir dengan memijit pelan pelipisnya. Dirinya masih berpikir, apakah ini kode yang diberikan istrinya bahwa dia siap? Atau hanya ingin mengusilinya saja?
Tapi Chacha termasuk orang yang blak-blakan, dia akan mengatakan apapun itu. Namun, hal ini membuat Levy bingung. Ditambah lagi seluruh isi tas belanjaan Chacha berisi lingerie. Levy semakin pusing dibuatnya.
Di dalam kamar mandi setelah selesai mengomel dan mengumpati Karin, Chacha malah terdiam bodoh.
"Hatchi... "
Chacha bersin untuk kesekian kalinya karena kedinginan. Melirik sekitarnya tak ada apapun yang bisa dijadikan penutup tubuhnya untuk keluar dengan keadaan aman dari kamar mandi ini.
Chacha masih menimbang lingerie yang ada di tangannya saat ini. Jika tak memakai ini sama saja tubuhnya akan polos tanpa sehelai benang pun, masa iya dirinya harus semalam di kamar mandi. Jika dipakai dan keluar maka dirinya harus siap diterkam macan yang sedang kelaparan di luar sana.
Chacha bimbang dengan pilihannya, namun tak ada pilihan lain. Chacha tak mendengar suara Levy di luar. Berarti Levy sedang keluar kamar, itu pikirnya.
"Pakai ini dulu, setelah itu langsung masuk walk in closet dan ganti baju" ekspektasi yang diusung Chacha saat ini dalam benaknya.
Chacha memakai lingerie itu dengan berat hati. Setelah lingerie tersebut menempel ditubuhnya, Chacha merasa takjub dengan nyamannya pakaian tipis itu.
Meskipun Chacha akui, ini sangat pendek dari seleranya. Tapi menurutnya tak apa, karena tak digunakan di tempat umum. Di bagian dada yang dipenuhi brokat, membuat kesan menggoda.
"Wah kece juga ya... " Chacha berputar di depan cermin yang memang terpasang di dalam kamar mandi.
"Gila, Karin buat gue kayak wanita gak bener malam ini" Chacha terkekeh sendiri.
__ADS_1
Dirinya teringat saat harus keluar sebelum Levy kembali dan memergokinya menggunakan pakaian itu, Bila-bila malam ini akan menjadi malam pertamanya. No, dirinya belum siap.
Tepat saat membalikkan badan setelah menutup pintu, Chacha dihadapkan dengan Levy yang sedang memunggunginya. Chacha kira Levy sedang tidak ada di kamar, makanya dengan beraninya dia keluar dari kamar mandi. Saat hendak masuk lagi ke dalam kamar mandi, dirinya sudah telat karena Levy sudah berbalik dan memanggil namanya.
"Cha... "
"Mas... " cicitnya takut.
Chacha melihat ke wajah Levy, ekspresi wajah Levy pun berubah. Dia tidak seperti Levy yang biasanya. Tatapan matanya bukan tatapan hangat yang biasa dia dapatkan. Saat ini Chacha seperti melihat tatapan pria nakal yang ingin memakan wanita di depannya.
Jantung Chacha berdegup kencang melihat tatapan Levy. Namun dia berusaha untuk tenang. Sedangkan pikirannya masih bergulat untuk sebuah keputusan yang akan dia ambil. Akhirnya Chacha membulatkan tekadnya untuk menyerahkan dirinya seutuhnya pada suaminya.
Chacha tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya, dan mengalungkan nya di leher Levy. Karena perbedaan tinggi yang cukup jauh diantaranya membuat Levy harus menunduk. Tinggi Chacha hanya sebatas bahu Levy, makanya dia sering disebut mungil oleh Levy.
Levy yang sudah kehilangan kendali dirinya langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Chacha.
Levy men*umbu Chacha dengan sangat agresif, dia melu*at habis bibir Chacha. Cum*uan agresifnya berpindah dari bibir menuju pipi, pindah ke leher dan tulang selangka.
Chacha yang merasa sangat geli tanpa sadar mengeluarkan suara yang menurutnya aneh. Namun, tentu saja itu tak ia hiraukan lebih lanjut. Karena dirinya masih sibuk dengan permainan Levy pada tubuhnya.
Levy berhenti men**mbu tulang selangka Chacha dan berbisik,"i am sorry love, i can't" ucap Levy ditengah akal sadarnya yang semakin menipis karena dikuasai oleh hawa na*sunya.
Chacha yang sudah terlena hanya bisa mengangguk dan berkata, "do it love" ucapnya dengan suara serak dan suara pun berubah. Penuh ga*rah. Persetan dengan rasa sakit, pikirnya. Kali ini tubuhnya menginginkan lebih.
__ADS_1
Mendengar itu Levy tersenyum dan melanjutkan cum*uannya. Levy menc**bu setiap jengkal kulit putih istrinya dan meninggalkan banyak tanda cinta di sana. Bahkan pakaian tipis yang dikenakan Chacha sudah tak menempel lagi ditubuhnya, entah bagaimana cara Levy menghilangkannya.
Melihat Chacha yang mulai kehilangan kendali atas dirinya, Levy dengan segera menggendong tubuh mungil nan ramping istrinya itu menuju ranjang. Meletakkan dengan hati-hati, ibarat Chacha adalah guci yang sangat mahal. Levy langsung membuka seluruh pakaiannya dan menindih tubuh istrinya, tak lupa dia menarik selimut hingga hanya menyembul kan kepala mereka saja yang terlihat.
Alih-alih berlaku pasrah Chacha malah menggoda Levy. "I love you, baby" ucapnya sambil mengedipkan mata genitnya. Membuat Levy semakin bersemangat, karena Chacha sudah memberi kode jika mereka akan melakukan hingga tahap akhir. Levy mulai men**mbnya dengan sangat agresif.
Chacha yang merasa tersengat aliran listrik kekuatan besar, hanya bisa pasrah dan menikmati itu semua. Suara Chacha bahkan sudah berubah. Suara penuh ga*rah dan ambigu menghiasi udara kamar mereka. Penyatuan cinta yang sempurna terjadi malam ini. Dimana malam ini Chacha melayani Levy dengan memberikan hak Levy atas dirinya. Dan malam ini pula Levy memberikan nafkah batin pada istrinya untuk pertama kalinya.
Saat Levy akan melakukan penyatuan yang merupakan puncak dari kegiatan mereka dia berbisik ditelinga Chacha. "Ini mungkin akan sakit sayang, jika kau tak tahan katakanlah. Aku akan berhenti saat itu juga" ucap Levy sambil mengelus pipi Chacha.
Chacha yang sudah terbakar api ga*rah hanya mampu membalasnya dengan senyuman dan mengangguk sebagai jawaban.
Melihat hal itu, Levy tersenyum puas dan dia pun melanjutkannya. Saat Levy berhasil menjebol segelnya, air mata Chacha tanpa sadar menetea. Bahkan Chacha sampai menggigit bibir bawahnya agar tak berteriak.
"Sayang" Levy diam tak bergerak saat berhasil membuka segel Chacha. Dia mencium kedua mata Chacha yang masih terpejam dengan buliran air mata yang menetes. Levy merasa iba pada Chacha.
"Sayang" panggilnya lagi saat Chacha tak kunjung membuka matanya.
Namun, Levy malah terkejut saat Chacha menarik kepalanya dan menciumnya dengan intens, Levy yang tersadar hanya bisa tersenyum tipis. Saat merasa Chacha mulai terbiasa dengan penyatuan mereka, barulah Levy bergerak perlahan.
Penyatuan cinta mereka akhirnya sampai di tahap akhir. Di dalam kamar itu terdengar suara penuh ga*rah dan des*han yang kuat. Sepasang kekasih menyatukan dirinya atas nama cinta.
Setelah mencapai puncak secara bersamaan, Levy masih mengatur nafasnya di atas tubuhnya istrinya. Menatap Chacha yang menghirup oksigen dengan rakus, karena sempat beberapa kali tercuri karena ciuman panasnya.
__ADS_1
Levy menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh istrinya, memeluk erat Chacha yang di sampingnya. Mengecup keningnya dan pucuk kepalanya secara bergantian.
Chacha hanya bisa tersenyum menikmati perlakuan Levy, karena dirinya tahu ini belum berakhir. Chacha merasakan jika api dalam tubuh Levy belum sepenuhnya padam. Stamina Levy memang bukan kaleng-kaleng.