Call Me Queen

Call Me Queen
Ajari Tunangan Lo, Lev


__ADS_3

Pagi ini Chacha sudah rapi dengan pakaian casual nya. Memandang dirinya di cermin sebentar, merasa sudah cukup ia beranjak keluar dari kamarnya. Menuruni tangga dengan santai sambil menyandang tasnya di bahu.


"Pagi" menyapa pelayannya dengan ramah.


"Tumben rapi amat non"


"Mau kuliah Chacha" jawabnya sambil terkekeh. Para pelayannya hanya melongo tak percaya. Mereka tau siapa Chacha.


"Gak percaya ya, kali ini beneran kok mau main maksudnya di kampus" jawab Chacha membuat para pelayannya geleng-geleng kepala. Nona kecilnya ini memang beda dari yang lain. Chacha yang apa adanya seperti ini yang membuat mereka begitu menyayanginya.


Chacha memulai sarapannya dalam diam. Ia makan sendiri di ruangan yang besar ini. Para pelayannya lebih memilih makan di taman belakang. Chacha membuang nafasnya kasar. Lima tahun ia tak merasakan kehangatan sebuah keluarga, ia sedih. Namun apa mau dikata semuanya sudah terjadi. Kehidupan bagai neraka ia jalani. Bertarung antara hidup dan mati hampir setiap hari adalah teman hidupnya. Sekarang dirinya kembali, ingin kehidupan yang normal. Bisakah?


"Chacha berangkat" teriaknya meninggalkan ruang makan. Lalu menuju garasi sambil bersenandung kecil.


"Halo Blacky, lama tak jumpa sayang" Chacha mengelus salah satu mobil sport berwarna hitam yang ia beri nama blacky.


"Hari ini kau bertugas menemaniku" Chacha langsung menaiki mobilnya. Lalu memanaskan mesinnya sebentar dan menjalankan meninggalkan mansion.


Sesampainya di kampus miliknya Chacha sudah mencuri perhatian sejak ia memasuki gerbang. Bisik-bisik para mahasiswa dan mahasiswi menemani langkah Chacha pagi itu. Dengan anggunnya Chacha membuka pintu mobilnya membuat semua yang sengaja melihat menahan napas. Hingga sepatu sneaker berwarna putih disusul dengan celana jeans yang dipadukan dengan kaos yang mencetak jelas lekuk tubuh atasnya.


"Gila cantik banget"


"Anak baru ya? "


"Ya ampun bidadari"


"Horang kaya ini"


"Cantik sih tapi sayang sombong"


"Cantik sombong gak masalah sih"


Bisikan-bisikan itu tak Chacha hiraukan ia terus melangkah tanpa memperdulikan dia yang sedang menjadi pusat perhatian.


"Dimana? " Chacha tampak menelfon seseorang sambil melangkahkan kakinya.


"Gue kesana" putusnya lalu mematikan teleponnya sepihak.


"Gak ada kelas? " tanya Chacha tiba-tiba.


"Kaget tau gak" Nena mendelik sinis alih-alih menjawab pertanyaan Chacha.


Mereka sedang berkumpul di kantin kampus. Entah keberuntungan atau janjian mereka mengambil jurusan yang sama dan dapat ruangan yang sama pula.


"Ada, dua jam lagi" Fany menjawab pertanyaan Chacha.


"Lo jurusan apa? " Kinos bertanya pada Chacha.


"Dimana ada kalian di sana ada gue" jawabnya santai.


"Serius lo? " Chacha hanya mengangguk menatap Putra yang menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Kok bisa? "


"Bisalah, bawahan gue udah ngurus semuanya" jawabnya. Yang lain hanya mengangguk mengiyakan. Mereka seakan melupakan bahwa sahabatnya ini pemilik tempat mereka melanjutkan pendidikannya saat ini.


"Gak yakin" sinis Levy langsung membuat Chacha menoleh.

__ADS_1


"Kenapa? " jawab Chacha dengan tersenyum manis.


"Bisa jadi lo... "


"Gue tau pikiran lo. Terserah lo mau nilai gue gimana" jawabnya santai sambil meletakkan kepalanya di bahu Elang yang kebetulan duduk di sampingnya.


Levy terdiam, hatinya kacau, pikirannya bimbang. Ia kembali untuknya tapi saat kembali dirinya tak ada, bahkan berita tentangnya semakin buruk.


"Lo kenapa sih, Lev? " Kinos heran dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini. Biasanya dia akan memanjakan Chacha, tapi sejak pertemuan mereka kali pertama Levy memandang Chacha dengan tatapan dingin dan berbicara sinis.


"Emang gue kenapa? "


"Lo kenapa sama Chacha. Ada masalah? " Levy hanya mengangkat bahunya acuh.


"Gue rasa gue gak pantes aja temenan sama j*****g"


Chacha memejamkan matanya menahan gejolak dihatinya. Sakit. Ia benci seperti ini. "Harusnya gue gak kembali" lirih nya hanya didengar oleh Elang. Elang terkesiap, Chacha tak siap menghadapi Levy kali ini.


"Cih, lo nuduh Chacha j****g ada bukti? " Elang memnacing debat dengan Levy. Jujur dirinya tak terima Chacha diperlakukan seperti ini. Ia tahu bagaimana gadis ini melewati kehidupan selama lima tahun.


"Beritanya udah kemana-mana kali. Lo aja kudet" Levy membalas Elang dengan sinis.


"Lo kelihatan kayak orang berpendidikan dan cerdas tapi masa gak bisa saring berita dulu kebenarannya"


"Kalo emang gak salah kenapa gak klarifikasi"


Elang hendak menjawab namun ditahan oleh Chacha. Chacha langsung bangkit dari duduknya.


"Lo mau kemana? " Elang menggenggam tangan Chacha yang hendak pergi.


"Kemana aja yang penting gak ngehancurin persahabatan yang kalian bangun dari masa putih abu-abu" jawabnya.


"Duduk" Karin, Nena dan Zeze serempak berbicara saat melihat Chacha tak menghiraukan Fany. Chacha langsung duduk dengan menahan emosinya.


"Sorry" cicit Karin saat melihat Chacha sedang menahan emosinya. Chacha hanya mengangguk lalu kembali pada diamnya.


"Gimana kedepannya? " tanya Elang membuat mereka terfokus pada dua manusia itu.


"Satu langkah lagi mendapatkan lencana terakhir"


"Kalo kita bilang lo gak usah lanjutin, kita hadapi sama-sama. Lo mau berhenti"


"Dari awal gue udah nentuin hidup gue sendiri. Kalian harus aman saling menjaga satu sama lain. Urusan lain biar gue urus"


"Tapi kita gak mau kehilangan lo"


"Kayak tau aja apa tantangan terakhir gue"


"Pertarungan hidup dan mati dengan sepuluh mafia terkuat" ucap Elang menunduk tak ingin Chacha melihat kegundahannya.


"Itu jalan gue. Jika takdir gue kembali gue bakal kembali jika takdir berkata lain gue bisa apa" jelas Chacha dengan santai seakan siap menghadapi apapun yang ada didepannya. Yang lain jangan ditanya menatap dirinya sendu.


"Haruskah? "


"Harus. Selain demi keamanan keluarga besar kita, gue juga harus jemput nenek dengan lencana itu"


"Lo bilang kalo nenek aman kemarin, tapi ini? "

__ADS_1


"Aman, tapi masih ditangan mereka dan dalam pengawasan gue"


"Bulan depan gue ke Manhattan selama seminggu" beritahu Chacha.


"Ada acara apa? " tanya Fany.


"Bahas ini. Sebenernya sih perwakilan aja yang kesana tapi gue gak ada yang mau dikirim jadi kesana sendiri"


"Gue aja, lo nikmati waktu lo sama keluarga disini" putus Fany.


"No. Gue gak mau salah satu dari kalian kemana-mana, temani gue disini aja"


"Terus? "


"Bentar" Chacha membuka ponselnya seperti mengecek sesuatu hingga akhirnya seulas senyum terbit di bibirnya.


"Kenapa? "


"Gak jadi ke Manhattan" jawabnya sambil menaik turunkan alisnya


"Terus"


"Bulan depan abang ke Manhattan jadi sekalian aja" jawabnya sambil terkekeh.


Disisi lain Levy terkesiap dengan penuturan Chacha, dirinya dilanda kebingungan besar saat ini. Dalam diamnya Levy memikirkan banyak hal. Hingga suara manja menyapa indera pendengarnya.


"Kakak" Angel langsung memeluk lengan Levy.


"Kau disini"


"Angel sengaja kesini, kata tante kakak disini"


"Ada apa"


"Temani Angel ke mall, ada tas baru Angel suka. Kakak ada kelas ya? "


"Hmm" jawaban Levy membuat Angel cemberut. Jika yang lain melihatnya pasti akan mengatakan bahwa ekspresi Angel saat ini menggemaskan, beda pula dengan Chacha yang menampilkan senyum tipis sambil geleng-geleng kepala.


"Gue duluan" Chacha bangkit langsung meninggalkan mereka semua. Yang lain masih menatap Chacha sendu.


"Lang, beneran yang lo omongin tadi" Elang hanya mengangguk merespon Fany.


"Gak ada bisa kita lakuin gitu? " Karin menunduk dengan ekspresi sedihnya.


"Entahlah gue juga gak tau. Dia keras kepala, mungkin baginya ini sudah biasa. Bergelut dengan nyawanya yang kapan saja bisa melayang"


"Kenapa kok pada sedih semua? " tanya Angel. "Gara-gara Kak Chacha ya? Tenang disini udah ada Angel jadi kakak semua gak usah sedih" Angel salah paham dengan semuanya.


Fany menaikkan sebelah alisnya. "Maksud lo? "


"Kak Chacha pergi gitu aja tanpa mengatakan alasannya pas Angel datang kan, jadi Angel rasa Kak Chacha gak suka sama Angel. Jadi kakak sekalian gak usah sedih, biar Kak Chacha pergi kalo emang gak bisa nerima Angel sebagai tunangan Kak Levy"


"Enteng banget bacot lo kalo ngomong" Karin menampakkan sifat aslinya, dari yang biasa terkenal anggun kini mulai menampakkan sikap kerasnya lagi.


"Lo gak tau apa-apa mendingan diem"


"Jangan ngomong sembarangan soal Chacha"

__ADS_1


"Gue gak tau apa yang lo pikirin tentang sahabat gue, tapi satu hal yang perlu lo ingat. Jangan sampek gue denger nama baik dia rusak gara-gara lo, gue gak bakalan tinggal diem" kalimat terpanjang Fany dalam kamusnya berbicara. Keempatnya beranjak dari kantin menuju ruangan masing-masing dengan emosi yang siap meledak kapan saja.


"Ajari tunangan lo, Lev" ujar Elang meninggalkan kantin disusul dengan Kinos dan Putra, meninggalkan Levy dan Angel berdua.


__ADS_2