
Chacha terbangun sangat pagi kali ini. Jam 4 subuh dirinya sudah terbangun, padahal baru tidur dini hari. Karena merasa haus dirinya akhirnya turun dari ranjang untuk mengambil air ke dapur. Namun belum juga melangkah, Chacha tersadar. Jika tak mendapati suaminya di kamarnya, menoleh ke samping, tempat suaminya berbaring. Kosong.
"Kemana subuh-subuh begini, gak biasanya" monolognya.
Chacha turun dari ranjangnya, melupakan hausnya dan mencari Levy. Mulai dari kamar mandi, walk in closet dan balkon kamarnya. Semuanya kosong. Chacha mencoba mencari ke ruang kerjanya, namun belum juga sampai dirinya menangkap sosok Levy yang sedang menutup pintu. Tampaknya suaminya itu dari luar.
Setelah menutup dan menguncinya Levy langsung berbalik, kaget saat melihat istrinya di anak tangga terakhir sedang menatapnya dengan mata berkedip bingung.
"Kok bangun sayang? " Levy menghampiri Chacha dan mengecup keningnya sekilas.
"Mas dari mana? "
"Nanti Mas cerita, ini kamu mau kemana? "
"Minum"
"Tunggu di sofa, Mas ambilin dulu di dapur. Mas lupa taruh air di kamar" Levy menuntun Chacha untuk duduk di sofa, lalu menuju ke dapur untuk mengambilkan istrinya segelas air putih.
"Ini sayang" Levy langsung menghempaskan tubuhnya di samping istrinya saat Chacha selesai meminum air yang diambilkannya.
"Kamu dari mana? " Levy meletakkan kepalanya dipangkuan Chacha, Chacha langsung mengelus lembut kepala suaminya. Kegiatan yang paling Levy sukai.
"Besok kita ke rumah utama lagi" alih-alih menjawab Levy malah memberitahu akan ke rumah utama.
"Ada acara atau apa di rumah utama? "
"Besok kamu akan tahu sendiri" Levy enggan memberitahu apa yang sedang terjadi beberapa jam yang lalu di kediaman kakak iparnya. Dirinya takut Chacha murka jika tau Audy mengurung diri di kamar karena ketakutan. Bahkan dirinya dan Ardan harus mendobrak pintu kamar Audy agar dapat melihat kondisi ibu hamil yang satu itu.
Benar saja, saat pintu berhasil dibuka, Audy tampak meringkuk ketakutan di sudut ruangan. Air matanya yang terus menetes dengan mata yang tertutup rapat membuat Levy menggeram kesal. Levy hanya membayangkan bagaimana jika itu istrinya.
Untung saja Ardan mampu menenangkan Audy, jika tidak terpaksa Levy harus membangunkan Chacha untuk menenangkan Audy. Dan yang pasti Levy harus siap menenangkan amarah Chacha yang akan meluap tanpa bisa di jeda.
Tak ada seorang pun yang tak marah ketika orang terdekatnya diusik. Kecuali, mereka yang tak memiliki belas kasihan dan nurani.
"Apa nih rahasia-rahasiaan? "
__ADS_1
"Besok ya sayang, Mas mau tidur dulu sebentar aja. Jam 6 bangunkan, kita ke rumah utama jam 7 atau jam 8. Kepala Mas pusing" Chacha hanya mengangguk, akhir-akhir ini suaminya jarang tidur karena dirinya sering ngidam tengah malam buta.
"Tidur di kamar aja. Aku lihat bahan di kulkas, pengen masak"
"Yakin bisa masak? " karena terakhir kali Chacha masak, dirinya dibuat mual dengan bau masakan yang tercium. Alhasil mereka setiap pagi akan sarapan dengan roti, atau terkadang Bu Ratu atau Mama Lena yang akan menginap untuk memasak di sana. Dua wanita cantik itu begitu antusias mengikuti ngidam anak dan menantunya, mengingat ini cucu pertama mereka.
"Kan coba Mas. Aku pengen masakin kamu" lirih nya.
Levy tersenyum manis melihat istrinya.
"Iya Mas ngerti, Hati-hati ya masaknya. Gak usah dipaksa kalau gak kuat ya" Levy mengecup bibir istrinya sekilas, dan bangkit dari posisinya. "Mas ke atas dulu, gak kuat ini"
Chacha mengangguk antusias saat suaminya memberi ijin untuk memasak. Setelah melihat Levy menaiki tangga Chacha langsung bergegas menuju dapur.
Melangkah perlahan ke arah dapur. Terdiam sebentar, tak terjadi apa-apa. Berarti dirinya aman untuk memasak, dirinya tak merasa mual.
"Anak-anak mama pintar ya, sekarang kita masak. Kasian papa lama gak makan masakan mama" monolog Chacha berbicara pada perut buncit nya.
Memang beberapa hari terakhir Chacha tak bisa memasuki dapur karena akan langsung mual saat mencium aroma dapur. Hingga dirinya merasa kasihan saat Bu Ratu berkunjung Levy meminta dimasakkan makanan yang biasa Chacha buatkan.
Chacha mulai berkutat dengan bumbu-bumbu dapur yang ada. Melihat semua stok makanan yang ada di kulkas. Chacha memutuskan untuk membuat sup ayam dan ayam goreng saja. Dirinya masih tak bisa memasak yang aneh-aneh, takut berhenti ditengah jalan.
Jam sudah menunjukkan pukul 6, Chacha sudah selesai dengan urusan dapur dan menata di meja makan. Kini dirinya bergegas menaiki tangga untuk membangunkan suaminya. Sesampainya di kamar Chacha hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Levy yang tertidur dengan kaki menggantung. Terlihat jika suaminya sangat lelah.
"Mas"
"Hmm" Levy langsung berdeham saat Chacha mengguncang tubuhnya sedikit. Reflek yang sangat baik bukan? Biasa efek dibangunkan mendadak ketika bumil ngidam tengah malam.
"Mas"
"Iya sayang, sebentar" jawabnya dengan suara khas bangun tidur.
"Mandi habis itu kita sarapan"
Levy membuka matanya, mengerjap pelan, menyesuaikan cahaya yang ada. Mendapati istrinya yang sedang memungut jaket yang ia lemparkan semalam. Levy bangkit dan memeluk istrinya dari belakang. Mengelus perut istrinya.
__ADS_1
"Ayo mandi, sayang. Habis itu kita sarapan, aku mandi di kamar tamu aja"
"Seneng banget dipanggil sayang gini" Levy menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Chacha.
"Mas, ih. Ayok mandi" rengeknya.
"Mandi bareng yuk" Levy masih enggan mengangkat kepalanya. Mengendus bau tubuh Chacha saat selesai berkutat di dapur adalah kesukaan Levy selama Chacha hamil.
"Geli ih"
"Ya sayang? "
"Gak ada ya, yang biasanya mandi paling lama 30 menit bisa sampai 1 jam. Sudah sana mandi"
"Ya udah gak usah mandi, gini aja" Levy semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
"Mas" Chacha merengek untuk dilepaskan. Karena Chacha tau akan kejadian selanjutnya jika dirinya tak segera melepaskan diri dari suaminya itu. Mereka akan berakhir di atas ranjang, bergelut menuju surga dunia di pagi hari. Berakhir dengan dirinya yang kelelahan.
"Main bentar yuk sayang" Levy masih gencar menggoda istrinya, bahkan saat ini dirinya sudah membalik tubuh Chacha dan ******* bibirnya.
Chacha yang gelagapan menerima serangan mendadak suaminya itu, akhirnya bisa mengimbangi permainannya. Namun, otaknya seakan tersadar jika harus menghentikan ini sebelum terlambat. Chacha melepas pagutan mereka.
"Kami lapar papa" bisiknya ditelinga Levy, membuat Levy mematung sebentar lalu tersenyum.
Berhasil. Levy menghentikan aksi gilanya menggoda bumil sexy yang satu ini.
"Anak-anak papa lapar? Tunggu papa sebentar, papa akan mandi dengan kilat" Levy menyamakan wajahnya dengan perut Chacha, lalu mengecup perut buncit istrinya itu.
"Biar Mas yang mandi di kamar tamu, kamu mandi disini saja" Chacha mengangguk.
"Aku siapkan bajunya ya"
"Siapkan disini saja, Yang. Mas ganti baju disini"
"Baiklah"
__ADS_1
Levy langsung keluar dengan berlari saat berhasil mencuri satu ciuman dari istrinya. Chacha hanya menggeleng melihat ulah usil suaminya itu.
"Untung sayang"