
Kediaman utama keluarga Rahardian seketika ramai saat seluruh anggota keluarga berkumpul. Mereka masih asik membicarakan mengapa sang kepala keluarga utama itu menyuruhnya berkumpul.
Tak ada yang bisa menebak alasan dibalik berkumpulnya keluarga besar itu, karena sang tuan rumah juga belum keluar dari kamarnya.
"Kak Lena? " panggil adik iparnya.
"Ya? "
"Tau nggak kenapa kita disuruh kumpul sama papa? "
"Nggak tau juga, dek. Kakak aja rencana mau ke luar kota, tapi tiba-tiba papa mertua minta kita kumpul"
"Kenapa ya Kak. Perasaan aku kok gak enak"
"Sama sih, dek. Kita doakan semoga gak terjadi apa-apa deh"
"Iya, Kak"
"Anak kamu mana? "
"Main sama papinya, Kak. Aku kan sampe duluan. Oh, iya si gembul mana? "
"Leon? " Fitri mengangguk. "Kakak tidurkan di kamar tamu, ketiduran pas di jalan"
"Ini tinggal si bungsu ya yang belum datang"
"Iya, Kak. Aku denger Tiara lanjut S2 disini? " Lena hanya mengangguk. "Jujur aku kurang suka dengan sikap Tiara, Kak? " Lena mengernyit bingung.
"Kenapa? "
"Aku pernah ada pagelaran fashion di kota nenek dia. Siapa yang akan menyangka kalau Tiara yang kita kenal low profil ketika berkumpul di sini sikapnya jauh berbeda dengan di sana"
"Maksud kamu? "
"Tiara di sana arogan banget, Kak. Aku gak nyangka"
"Dia gak ngeliat kamu? "
"Aku agak jauh dari dia, mungkin dia gak ngeliat aku"
"Mungkin kamu salah orang"
"Semoga saja ya, Kak" Lena hanya mengangguk, dia masih berusaha untuk berpikiran baik tentang salah satu ponakannya itu. Meskipun Lena tau instingnya tak bisa dibohongi ketika ada rasa tak suka pada ponakannya itu. Tapi sebisa mungkin dia pendam sendiri.
*
"Sudah, Yang? "
"Sudah kok, Mas"
"Ya sudah yuk berangkat"
Levy menuntun istrinya keluar dari kamar mereka.
"Beli buah tangan apa enaknya buat kakek? "
"Kita kesana mau ngurusin masalah Tiara, sayang"
"Ya kan sekalian jengukin kakek. Kamu mah gitu"
"Iya iya, maunya beli apa ayo, kita mampir dulu"
__ADS_1
"Kakek sukanya apa? "
"Brownis kukus"
"Mampir ke toko kue aku sebentar" Levy hanya mengangguk menuruti perintah pandai cantiknya yang satu ini.
Chacha tampak asik bermain dengan ponselnya, sedangkan Levy masih fokus mengemudi sesekali melirik istrinya yang masih bermain ponsel, mengabaikan dirinya.
"Asik bener sih"
"Bentar, Mas" Levy hanya mengangguk malas. Levy tak suka jika saat bersamanya Chacha malah asik dengan pekerjaannya.
Chacha masih terus menatap fokus pada ponselnya, entah apa yang dilakukannya. Levy sendiri kadang tak mengerti, sebanyak apa perusahaan istrinya sampai dia harus sibuk setiap saat.
"Mas? "
"Hmmm" Chacha belum menyadari bahwa muka Levy sudah berubah menjadi dingin.
"Putra ada masalah kah? "
"Kenapa nanyain Putra? " setelah sejak tadi diabaikan, sekalinya bertanya malah menanyakan laki-laki lain.
"Nanya doang masa gak boleh"
"Mikir"
"Aku cuma nanya, Putra ada masalah? Siapa tau cerita sama kamu atau apalah. Anak-anak di grup rame, Nena mau tunangan tapi bukan sama Putra" Levy hanya diam tak menjawab.
"Kamu marah sama aku? "
"Pikir aja sendiri" Levy membalasnya dengan ketus.
"Mas, ngertiin dong. Bersatunya kita juga karena sahabat kita yang selalu memberi ruang. Sekarang mereka ada masalah harusnya juga kita bantu"
"Terus kapan kamu mau perhatiin aku? Selama ini kamu selalu sibuk sama kerjaan kamu sama sahabat-sahabat kamu? Aku juga mau diperhatiin, Yang. Aku capek pulang kerja kamu kadang masih asik sama ponsel kamu" Levy tak sadar meninggikan suaranya sedikit.
Chacha tersentak kaget. Menunduk mengatur emosinya.
"Bukannya ini baru pertama kalinya aku kerja dihadapan kamu, selama ini aku juga full perhatiin kamu kalau di rumah. Aku cuma nanya soal Putra aja, Mas. Kalau kamu gak tau ya cukup bilang gak tau aja" Chacha berusaha melembutkan suaranya.
Levy hanya diam tanpa menjawab. Levy memarkirkan mobilnya di depan toko kue milik Chacha. Tanpa mengucapkan satu kata pun Chacha langsung turun. Meredakan emosinya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam toko kuenya.
"Mbak"
"Eh ada bu bos cantik nan seksi" goda salah satu pegawai tokonya.
"Ngejek nih ceritanya ngeliat aku udah melar"
"Nggak loh ya"
"Ada brownis kukus varian apa aja? "
"Sisa coklat, keju sama pandan"
"Bungkus semua, mau aku bawa ke rumah kakek. Biasanya laku berapa box dalam sehari? "
"Siap, ditunggu sebentar ya. Kalau sehari biasanya bisa sampai lima ratus box kalau weekend. Kita kan juga jual di taman tempat CFD"
"Besok free tiga ratus box, aku transfer besok uangnya"
"Wih, dalam rangka apa nih"
__ADS_1
"Aku hamil, Mbak" beberapa pegawainya terkejut namun selanjutnya bersorak senang dan memberikan selamat pada Chacha. Bahkan ada yang memberikan wejangan.
"Ini pesanannya"
"Makasih, aku pergi dulu"
"Hati-hati, jaga calon ponakan kami bu bos" kompak para pegawainya, Chacha hanya membalasnya dengan senyuman.
Setelah sampai di tempat Levy memarkirkan mobilnya, Chacha melihat Levy yang sedang bersandar ke badan mobilnya. Melihat dirinya keluar sambil menenteng beberapa kantung plastik, Levy langsung menghampirinya dan mengambil alih. Chacha hanya diam enggan berbicara saat melihat raut dingin wajah suaminya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Levy langsung menjalankan mobilnya menuju kediaman utama keluarga besarnya. Keadaan didalam mobil masih hening, karena tak satupun diantara mereka berdua yang mau memulai pembicaraan. Chacha bahkan menguap beberapa kali karena tak ada topik yang dibahas selama perjalanan. Levy sesekali melirik ke arah istrinya.
Hingga akhirnya mereka sampai di kediaman utama. Kediaman itu sudah ramai, terbukti dengan banyaknya mobil yang terparkir di sana. Levy menoleh ke arah Chacha mendapati Chacha yang sedang tertidur pulas. Levy hanya menghela napas pelan. Turun dari mobil dan berjalan memutar untuk menggendong istrinya.
"Lev, kau apakan cucu menantuku? " tanya oma saat melihat Levy memasuki ruangan tanpa suara.
"Levy, Chacha kenapa? " tanya Lena khawatir.
"Gak papa kok oma, mama, Chacha hanya tertidur. Levy rebahkan dulu di kamar tamu"
"Langsung ke kamar kamu saja, jangan di kamar tamu" Levy hanya mengangguk dan terpaksa menggendong Chacha ke lantai dua.
Setelah merebahkan Chacha di kamarnya Levy langsung keluar. Melewati semua anggota keluarganya yang tengah berkumpul menuju ke arah dapur.
"Bi, di mobil saya ada brownis kukus. Ambil dan hidangkan, pisahkan jika ada kesukaan opa"
"Baik Tuan Muda"
Levy kembali memutar tubuhnya menuju ruang tengah, tempat keluarga nya berkumpul. Levy datang bertepatan dengan Tiara yang juga memasuki ruangan itu.
"Apa pantas kamu menggandeng suami orang untuk menemui keluarga besar kamu, Tiara" ucap Levy dingin membuat semua orang menoleh ke arah Tiara.
Tiara membeku di tempat saat melihat tatapan tajam Levy padanya.
"Duduk dulu, Lev. Tiara kamu juga duduk" perintah oma.
Levy memilih duduk di single bed yang kebetulan kosong. Sedangkan Tiara duduk di sofa panjang samping orang tuanya.
"Sekarang kamu jelaskan kenapa kamu meminta opa untuk menghubungi semuanya agar berkumpul" pinta oma pada Levy. Semuanya terkejut mendengar penuturan oma.
"Lev, ada masalah apa kamu sampai menyuruh kita berkumpul? " tanya Frans. Levy masih setia menatap Tiara tajam. Tiara sendiri menunduk takut.
"Tante Tina? "
"Ya, Lev? "
"Kalian kenal dengan laki-laki yang digandeng anak kalian ini? " Tiara melepaskan tangannya dari lengan kekar pria yang dia bawa.
"Kenal, Kevin namanya. Anak Tuan Pandey, dia akan melangsungkan pertunangannya dengan Tiara, om sekalian mau memberitahu hal ini kepada kalian"
Yang lainnya langsung tersenyum kecut. Tak kenalkah bungsu Rahardian ini dengan Kevin Pandey.
"Siapa dia? "
"Pengusaha muda kan? Om tau, kamu tak usah begitu. Om tau bisnis kamu sedang ada masalah, tapi tak seharusnya kamu malah mempersulit mereka berdua" ucap Tony pada Levy. Levy hanya mengernyitkan alisnya.
"Dia tak bisa dibandingkan dengan ku. Tau kah om siapa dia? "
"Calon menantuku" jawab Tony lantang.
"Dan dia adalah kakak ipar ku"
__ADS_1