
Setelah meledakkan markas milik bawahannya, Chacha langsung berpisah dengan rombongan lainnya.
"Mau apa? "
"Pengen mangga" cengirnya.
"Malam loh ini sayang. Mau beli di supermarket 24 jam? "
"Mau di rumah bunda" mohon Chacha tatapan puppy eyesnya.
"Sekalian nginap di sana ya, jarak dari sini sama rumah bunda cukup jauh. Kalau kita balik lagi kamu bisa capek kelamaan duduk di mobil, itu juga gak baik" Levy mengatakannya dengan lembut.
Chacha tersenyum manis menanggapi perkataan suaminya.
"Makasih papa ganteng"
"Ada maunya baru bilang ganteng"
"Ih gumus banget kalo ngambek" menarik kedua pipi Levy.
"Sakit sayang"
"Hehehe"
"Akhirnya sadar juga kalau suaminya ganteng"
"Tapi tetep aja ganjen, papa suka TP-TP ya dek" Chacha seolah-olah bicara dengan anaknya.
"TP? "
"Tebar pesona"
"Kapan sih, Yang, Mas gak pernah tebar pesona ya"
"Apa namanya kalau bukan tebar pesona kalau pakai sekertaris cewek, mana cantik pula"
Levy mengulum senyumnya. Istrinya dalam mode cemburu. Levy sering geli sendiri jika melihat istrinya yang cemburu tak jelas padanya.
"Kan senyum-senyum sendiri. Pasti lagi mikirin sekertaris nya, ganjen banget sih, Mas" Chacha cemberut mengerucutkan bibirnya.
"Kode minta di cium? "
"Apa sih, aku ngambek ini loh"
"Uhh, istrinya Levy ngambekan sekarang"
"Bodoh amat ya"
__ADS_1
"Dek, bilang mama, papa gak ganjen gitu" Chacha hanya melirik sinis ke arah suaminya. "Besok aku tukar sekertaris deh"
"Alasan"
"Serius sayang"
"Kapan hari juga gitu, tapi gak ganti tuh"
"Bukan gitu, cinta. Cuma kalo besok beneran ganti, kemarin-kemarin belum ganti karena dia yang ngerti proyek yang baru selesai"
Chacha hanya diam tak menanggapi.
"Sayang? "
"Apa sih Mas? " jawabnya ketus. Levy hanya menghela napas pelan.
"Jangan marah dong"
"Gak marah, cuma kesel aja. Pengen mangga" rengek Chacha pada Levy.
"Ini kita udah separuh jalan sayang"
"Berhenti di supermarket 24 jam"
"Gak jadi ke rumah bunda? " Chacha menggeleng pelan.
"Kenapa jadi nangis sih sayang" Levy langsung menarik Chacha ke dalam pelukannya.
"Mau mangga"
"Iya mangga sayang. Beli di supermarket 24 jam aja ya. Besok ke rumah bunda" Chacha hanya mengangguk.
"Ayok jalan"
"Berhenti dulu nangisnya" Chacha mencoba menghentikan tangisnya. "Coba senyum" Chacha tersenyum manis pada suaminya. Levy membalasnya dengan senyum pula.
Levy melepaskan pelukannya dan menjalankan mobilnya kembali. Tak lama mereka sampai di supermarket 24 jam. Levy melirik istrinya yang terlelap di sampingnya. Levy hanya mampu menggelengkan kepalanya. Memutar kembali mobilnya meninggalkan halaman parkir supermarket tersebut. Levy lebih memilih menghubungi anak buahnya untuk membelikan buah mangga untuk istrinya.
Levy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Jadi tak heran jika jalanan cukup sepi, membuat Levy dengan mudah berkendara dengan kecepatan tinggi.
Sekitar tiga puluh menit Levy sampai di halaman kediamannya dengan Chacha. Melirik ke arah rumah di sampingnya, rumah Audy. Lampunya masih menyala, tak biasanya. Levy berniat mengeceknya, namun sebelumnya akan memindahkan istrinya terlebih dahulu.
Levy menggendong Chacha menuju kamar mereka dengan sangat pelan. Takut mengusik tidur nyenyak pandai cantiknya ini. Setelah membaringkan Chacha di kasur, Levy langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh montok istrinya. Seiring bertambahnya usia kehamilan Chacha, membuat tubuhnya kian bertambah montok. Efek kehamilannya.
Setelah dirasa cukup, Levy langsung bergegas turun kembali untuk mengecek keadaan Audy. Setelah menyalakan sensor khusus saat meninggalkan rumahnya barulah Levy melangkah ke rumah Audy dengan langkah pasti.
Setelah sampai di depan rumah Audy Levy dibuat bingung dengan suara perkelahian di dalam. Levy tak langsung masuk namun mengedarkan pandangannya terlebih dahulu, mencari titik sensor yang Chacha tanam. Karena setiap rumah yang Chacha desain memiliki sensor keamanan dan dapat berubah sesuai perintahnya.
__ADS_1
Setelah mengaktifkan sensor tersebut Levy langsung masuk dengan menendang pintu. Tatapan dinginnya langsung menghentikan pertarungan didepannya. Pertarungan tak imbang yang berusaha di menangkan oleh Ardan, bawahan istrinya yang ditugaskan menjaga Audy.
Setelah mengamati situasi rupanya Ardan telah menumbangkan lima orang lainnya, dan kini dirinya dikeroyok oleh lima lainnya lagi. Levy mencari keberadaan Audy, matanya menelisik setiap sudut. Tak menemukan Audy dimanapun.
Levy langsung menyerang kelimanya tanpa jeda. Dalam sekejap mereka tumbang meringis kesakitan. Levy langsung menarik pistolnya yang sejak tadi berada dibalik jaketnya. Meletakkan ujungnya di kepala salah satu musuh yang di depannya.
"Siapa yang memberi perintah pada kalian? " tanya Ardan setelah Levy berhasil melumpuhkan mereka semua.
Mereka masih terdiam enggan memberitahukan.
"Baiklah, jika kalian tak ingin buka suara" dengan langkah perlahan Ardan mendekati salah satu dari mereka. Langsung menarik kaos yang dipakainya hingga sobek, tampak di punggungnya terdapat tatto ular, ciri khas salah satu mafia yang sering mencari masalah dengan Death Rose.
"Kalian mencari kematian kalian sendiri" ucap Ardan pelan, mendekati salah satunya dan
Krak...
Dengan cepat Ardan mematahkan leher musuhnya, membuat yang lain melotot horor dengan kekejaman Ardan.
"Rupanya kalian masih belum sadar juga ya, atau kita buat salam perkenalan lagi pada ketua kalian. Kayaknya satu orang tak cukup" ucap Ardan dengan suara tengilnya. Levy hanya menggelengkan kepalanya memilih beralih duduk di sofa. Ardan memang cocok untuk bagian eksekusi, dia bisa terlihat kejam dan menjengkelkan pada waktu yang sama. Lihatlah, dia masih bisa bersikap menjengkelkan saat wajahnya babak belur, dan beberapa luka sayatan pada tubuhnya.
"Cepat selesaikan" titah Levy yang diangguki Ardan. Ardan tahu jika pria yang memerintahkan dirinya ini adalah suami atasannya.
"Mau bicara atau kalian aku jadikan salam perkenalan untuk ketua kalian? "
"Ja-jangan tu-tuan" jawabnya meringis kesakitan saat Ardan mencekiknya.
"Katakan"
"Lepaskan dulu, dia susah bicara. Kau mencekiknya terlalu keras" Levy hanya menggeleng melihat tingkah Ardan yang layaknya psikopat.
Ardan melepaskan cekikannya dan menghela napas pelan. "Katakan"
"Kami di suruh oleh kekasih ketua kami, nona memberi perintah yang disetujui oleh ketua" jawab salah satunya.
Ardan menaikkan sebelah alisnya, apa Audy bersinggungan dengan istri orang? Tapi itu tak mungkin, bukankah Audy selalu bersamanya sejak kepindahannya ke sini?
"Siapa nama wanita itu? " kini Levy bersuara, karena jika apa yang dipikirkan olehnya benar. Maka Levy tak akan memberi toleransi lagi.
"Kami tidak tahu tuan"
"Kalian pernah bertemu dengannya? "
"Ya, karena saat memberitahu siapa yang harus kita serang dia menemui kita secara langsung"
Levy terdiam, menghela napas panjang lalu mengambil ponselnya. Mencari sesuatu di sana dan menunjukkan pada mereka.
"Iya benar tuan, nona itu yang menyuruh kita"
__ADS_1