
Setelah berganti pakaian, mereka kembali berkumpul di ruang tamu apartemen Chacha. Chacha sudah menyingkirkan sofa dan kawan-kawan nya, tertinggal karpet bulu tebal yang menjadi alas sekarang. Dengan beberapa snack dan minuman. Terlihat Chacha rebahan sambil memainkan ponselnya.
"Siapa yang pindahin? " tanya Elang.
"Hantu penghuni apartemen gue"
"Serem amat" seru Nena lalu bergabung dengan Chacha diikuti lainnya.
"Gue lah yang pindahin tadi"
"Lo gila. Luka lo baru dijahit tadi, ya ampun" tanpa sadar Karin berteriak karena khawatir.
"Gak papa kok. Gak sakit juga" jawab Chacha enteng.
"Cek, siapa tau berdarah. Kalo iya kita ganti perban nya" ucap Zeze.
Chacha menyingkap bajunya. Menampakkan lukanya yang tertutup perban. "Gue tau cara memperlakukan luka di tubuh gue. Ini mah gak ada apa-apanya dibanding lima tahun hidup gue"
"Lo bisa cerita kisah lo selama lima tahun? " pinta Zeze.
"Jangan sekarang, karena perjuangan gue belum usai"
"Kita nginep disini beneran gak papa? "
"Gak papa. Itu kamar tamu tempati kalian para cowok, sedangkan sisanya tidur di kamar gue"
"Kamar lo kan privasi, Cha"
"Dan nyatanya kalian udah masuk kamar gue kan"
"Iya sih"
"Disini hanya tempat singgah gue, gak ada yang berharga. Jadi kalian bisa santai"
"Lo kira barang-barang lo gak mahal"
"Bukan gue yang ngatur. Ini kerjaan Bang Rey sama Kak Shaldon"
"Apartemen lo hampir kesebar dikota ini ya, Cha"
"Hmmm. Setidaknya ketika gue keluar dan tiba-tiba butuh istirahat gue langsung punya tempat"
"Hotel banyak, Cha"
"Gue tau, tapi gue butuh privasi. Hotel masih belum tentu bisa jaga privasi gue"
"Bener juga sih"
"Angel kalo ngantuk balik ke kamar duluan" Chacha melirik pada Angel yang memaksa untuk tetap terjaga.
"Gak papa, Kak"
"Udah sana" Angel bergegas menuju kamar Chacha setelah berpamitan pada lainnya.
"Kalian juga istirahat gih"
"Kita disini aja dulu" jawab Fany mewakili ketiganya.
__ADS_1
"Kita istirahat duluan ya, pengen merem sumpah" timpal Kinos. Chacha hanya mengangguk kan kepalanya.
"Ah... Akhirnya" Karin langsung berguling-guling di karpet.
"Kenapa lo, Rin"
"Gila lama banget gue gak rebahan santuy kayak gini"
"Lah terus biasanya cemana? "
"Biasanya ngejar deadline tugas, belum lagi jadwal syuting berasa surga banget rebahan kayak gini"
"Kenapa gak dari tadi coba"
"Malu kampret ada para jantan"
"Dih sok punya malu"
"Ada kok stoknya terbatas" jawaban Karin membuat semuanya tertawa.
Setelahnya mereka terdiam, sibuk dengan ponsel masing-masing. Hanya kadang posisi mereka saja yang berpindah dengan cara berguling. Hanya Chacha yang anteng di tempatnya.
"Cha"
"Hmmm"
"Cha"
"Apa Karin"
"Gue mau tanya, tapi ini bakal ngusik ketenangan lo"
"Yakin? gue gak mau tiba-tiba lo diem gitu, Cha"
"Lo mau nanya apaan" Chacha mengalihkan pandangannya kearah Karin.
"Sebenernya lo sama Levy itu apa sih? " pertanyaan Karin langsung menukik.
"Gue sama dia. Awalnya sepasang kekasih" jawaban Chacha membuat yang lain cengo mendadak.
"Lo gak bohong kan? " Zeze tak percaya.
"Buat apa? "
"Terus kapan kalian jadiannya kita kok gak tau" cecar Nena.
"Pas di mall sebelum dia berangkat"
"What" mereka berseru serempak.
"Kenapa bisa Si Levy tunangan sama makhluk jadi-jadian macam Angel? "
"Mana gue tau, Rin"
"Setelah lo keluar dari mansion waktu itu lo ada hubungin dia lagi? "
"Jangankan Levy, Rin. Abang aja gak gue hubungin. HP gue titipin sama Kak Shaldon. Gue fokus tujuan gue aja"
__ADS_1
"Kok oon sih, Cha"
"Karena gue pikir, gue bakal balik lebih dulu dari Levy. Jadi bisa atasi ini duluan"
"Taunya malah lo ngilang sampek lima tahun"
"Gue juga gak nyangka bisa rumit gini"
"Sekarang mending jujur sama kita, lo gimana sama si Levy? " tanya Nena.
"Jangan tanya gimana gue sama dia, itu gak berubah. Meskipun gue udah denger berita pertunangan dia"
"Maksud lo? "
"Berita pertunangan dia sampai tepat setelah acaranya bubar. Jujur sakit waktu gue denger itu" Chacha berbicara sambil menatap langit-langit.
"Tapi gue bisa apa? Kita bahkan belum bertukar kabar lagi. Awalnya gue heran kenapa Levy langsung memilih bertunangan alih-alih pacaran. Karena gue tau gimana susahnya itu anak buka hatinya. Tapi balik lagi mungkin wanita itu istimewa, sesingkat itu pikiran gue"
"Hingga akhirnya gue balik lagi kesini. Awalnya gue gak siap nemuin kalian, yang pasti di sana ada Levy. Tapi, Elang bilang kalau kalian udah neror dia mau ketemu gue. Siap tak siap gue ketemu bareng kalian, toh lambat laun kita pasti ketemu"
"Tuhan begitu adil dalam memberi rasa sakit. Hari itu dia datang dengan tunangannya bukan? Yang kalian lihat gue biasa aja kan? Nyatanya gue sedang berperang dengan berbagai perasaan dalam diri gue"
"Sakit. Itu pasti. Tapi gue bisa apa. Gue berusaha bersikap normal bukan"
"Hingga hinaan terlontar darinya itu membuat gue syok pada awalnya. Gue gak papa seluruh dunia mencaci gue, ngehina gue dan apapun itu. Tapi, ketika Levy yang mengatakan itu entah kenapa, serasa langsung mengenai jantung bukan hati lagi. Padahal kalian tau gue orangnya cuek"
"Dari itu gue sadar, Levy merasa dikhianati sama gue. Foto-foto yang terus mengalir dari waktu ke waktu membuatnya tak menemukan celah mengungkap kebenarannya. Hingga amarah menguasainya dan memilih percaya rumor itu"
"Fany bahkan juga sulit menembus itu, Cha" sela Zeze.
"Sorry, gue nutup semua akses yang berhubungan dengan gue. Karena gue ingin hidup tenang. Gue pikir bakal hilang berjalannya waktu, eh malah menjadi"
"Terus sekarang lo gimana, gue yakin lo gak baik-baik aja liat Angel sama Levy terus-terusan"
"Kayaknya gue bakal pergi sendiri ke Manhattan deh"
"Loh kenapa, katanya diwakili"
"Gue capek, Ze. Gue capek berpura-pura bahwa gue baik-baik aja, berpura-pura kuat didepan Levy. Gue capek, menjauh mungkin lebih baik" Chacha menitikkan air matanya. Keempatnya langsung beringsut memeluk gadis kesayangannya.
"Gue capek terbelenggu cinta gue sendiri. Gue kayak orang bego tau gak. Gue pernah coba bunuh rasa ini, tapi bukannya berkurang gue malah terjatuh dan terikat lebih dalam" Chacha mulai terisak.
"Gue kira, gue pulang bakal dapat sambutan hangat dari Levy setidaknya sebagai seorang sahabat karena gue tau dia milik orang lain, bukan milik gue lagi"
"Gue paham apa yang lo rasa, Cha. Tapi disini kita juga gak sepenuhnya salah lo" Fany melepas pelukannya.
"Gue yang salah Fany gue. Harusnya gue hubungi dia dulu, harusnya gue gak ngilang, harusnya gue jelasin ke dia. Karena keegoisan gue, karena gue mementingkan ego gue malam itu buat dia salah paham sama gue. Bahkan gue kehilangannya"
"Gue harus apa? Gue capek, capek banget. Gue harus apa Fany? Setidaknya dia tak berkata dengan sinis dan tatapan menghina saat melihat gue. Sakit Fany sakit"
Para sahabatnya hanya bisa menangis melihat sisi rapuh Chacha. Chacha tak pernah menunjukkan sisi ini, mungkin kali ini dia benar-benar tak kuat. Mereka hanya bisa memeluk Chacha, memberi kekuatan pada sahabatnya.
"Lusa gue berangkat ke Manhattan" Chacha disela isakannya berkata.
"Itu terlalu cepat, Cha"
"Biarkan gue menghilang" lirih nya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada yang mendengarkan segalanya dibagian gelap ruangan itu.