
Disaat semuanya pada sibuk dengan bayi-bayi menggemaskan di dalam box sana. Berbeda dengan Chiara yang kini duduk berhadapan dengan dua orang wanita yang mengenakan pakaian suster.
Wajah dingin serta angkuhnya dia pasang sekarang. Bahkan jarinya tampak mengetuk-ngetuk di meja. Chiara sedang menunggu file yang dikirim oleh Chila. Tanpa perintah, sebagai ketua tim elit Chiara bisa bergerak tanpa perintah ketika sang pemimpin dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dengan bantuan Chila, salah satu tangan kanan termuda milik Chacha yang memiliki otak di atas rata-rata itu, banyak kasus dan batu sandungan yang mereka hadapi dengan mudah.
"Kalian kenapa pucat sekali? " Tanya Chiara dengan nada dinginnya saat melihat dua orang dihadapannya pucat pasi.
"Jika kalian berpikir sudah menyabotase rekaman CCTV, kalian salah cari lawan"
"Queen bukan orang yang mudah kalian senggol dengan mudah"
"Ah, ingin rasanya mencekik kalian saat ini juga" Dua orang dihadapan Chiara kini meneguk ludahnya kasar.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian? " Kini suara Chiara berubah menjadi begitu menyeramkan.
Hening. Dua orang itu tetap memilih bungkam.
"Haish" Chiara terkekeh pelan membuat keduanya bingung sekaligus merinding. Percaya atau tidak, Chiara menjelma menjadi sosok iblis sekarang.
"Baiklah-baiklah rupanya kalian tetap memilih bungkam. Kalian ingin aku kirim ke rumah sakit melalui Black Rose atau ku kirim sampai gerbang pintu neraka melalui Death Rose? " Keduanya melotot kaget mendengar ucapan Chiara.
Lagi-lagi Chiara tergelak melihat ekspresi ketakutan di wajah keduanya.
"Keras kepala sekali kalian ini, ya. Aku bukan tipikal orang yang bersabar seperti ini sebenarnya, biasanya aku di bagian eksekusi. Dasar Caesar sialan"
'Aku mendengarnya Chia' jawab Caesar diujung sana, karena saat ini mereka terhubung menggunakan earpiece yang terpasang ditelinga masing-masing. Bahkan Chila yang mendengar umpatan Chiara hanya bisa tersenyum jahil. Chila tahu, Chiara bukan orang yang sabar ketika berhadapan dengan orang yang menyakiti Chacha. Itu kenapa dia lebih memilih menjahili Chiara sebelum akhirnya kedua orang itu berakhir diujung senjatanya.
"Baiklah karena kalian masih bungkam kalian akan aku alihkan dulu ke... " Chiara tampak berpikir sejenak. "Ke Death Rose aja ya, lumayan kan tidur deket peliharaan Queen" Chiara terkekeh lagi. Jika Chacha melihat tingkah konyol Chiara kali ini pasti akan langsung memukul kepalanya, tapi bagi musuh, tingkah konyol Chiara begitu menakutkan. Dia seakan bermain-main dengan nyawa seseorang.
"Jack" Teriak Chiara. Hingga tak lama kemudian pria blasteran yang tampannya satu tingkat dibawah Levy itu masuk.
"Ya nona" Jawab Jack sopan, dia masih tak lupa bagaimana sikap kejam Chiara yang tersembunyi apik dibalik wajah cantiknya itu.
__ADS_1
"Ah kau tampan sekali, tapi sayang pak bos dan Caesar masih diatas mu" Ucap nyeleneh Chiara, membuat Jack bingung sendiri.
'Aku mengakui ku tampan, cantik' Caesar kembali bersuara.
"Diam kau, untung aku puji" Chiara mendelik sinis, entahlah ketika bersama Caesar dirinya selalu saja tidak pernah akur. Namun, mereka bisa menjadi pasangan yang sangat berbahaya jika terjun berdua ke medan perang.
"Jack, bawa dua orang manusia ini ke markas Death Rose. Letakkan mereka di samping kamar kesayangan Queen. Pastikan mereka tetap dalam keadaan waras sampai Queen sendiri yang datang untuk menginterogasinya"
"Baik nona"
"Pastikan dua tikus ini tidak lari. Karena kucing kesayangan Queen paling suka dengan tikus" Setelah selesai mengatakan itu Chiara langsung bangkit dan pergi meninggalkan ruangan yang sejak tadi menjadi tempat interogasi sementara.
...****************...
Di ruangan Chacha keadaan menjadi sedikit gaduh saat bayi-bayi itu menggeliat karena ulah para nenek kece di sana. Karena gemas Bu Ratu dan Lena bahkan tak henti-hentinya mencubit pelan pipi ketiga cucunya. Bahkan Karin sampai tertawa terbahak-bahak saat melihat bayi cantik Chacha mengerucutkan bibirnya.
Levy sendiri tak memusingkan apa yang sedang terjadi, dia yakin jika bayinya akan baik-baik saja. Sekarang yang menjadi fokusnya adalah ibu dari anak-anaknya. Hingga akhirnya Levy melihat mata Chacha sedikit bergerak. Namun tak lama kemudian netra biru itu terbuka perlahan.
"Mas" Suara serak Chacha langsung mencari Levy untuk pertama kalinya.
Levy mengambilkan air beserta sedotannya, karena kondisi Chacha masih tak memungkinkan untuk duduk. Setelah selesai dengan keinginan istrinya kini Levy menatap Chacha dengan tatapan yang sulit diartikan. Chacha menampilkan senyum manisnya diwajah yang masih pucat itu.
"Kenapa bandel banget sih, Mas bilang tunggu di lobby itu duduk bukan keluyuran malah sampek lift" Levy memulai ceramahnya. Jika yang lain akan penuh haru mendapati kesadaran sang istri. Berbeda dengan Levy yang lebih memilih mengutarakan kekesalannya.
Chacha hanya tersenyum manis mendengar ocehan suaminya. Dia juga sadar betul bagaimana paniknya Levy saat di ruang operasi. Sekuat apapun Levy mencoba tenang, namun di mata sang istri dia tak bisa menyembunyikan apapun.
"Mas hampir jantungan sayang. Kamu itu, kenapa gak diem aja gitu nurut. Haish, percuma ngomel ujung-ujungnya kamu marah"
"Maaf ya cinta" Akhirnya Chacha bersuara.
Levy menangkup kedua pipi Chacha dengan tangan besarnya. Menjepit kedua pipi chubby hingga kedua bibir Chacha hingga mengerucut.
__ADS_1
"Lain kali Mas iket aja kamu biar gak macem-macem ya" Karena gemas Levy mengecup berkali-kali bibir Chacha. Bahkan mereka berdua melupakan keberadaan semua orang karena asiknya. Tanpa mereka sadari jika saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian.
Cup.. Cup... Cup..
"Gemes banget Mas deh. Kedepannya harus nurut gak ada bantah-bantahan" Levy menekan lama bibir Chacha dengan bibirnya. Lainnya hanya melongo melihat tingkah Levy.
"Ya ampun, Pa. Anak mu bucin banget kayaknya" Ujar Lena pada suaminya.
"Baguslah Ma. Jadi kita gak perlu khawatir kalau Levy macem-macem sama anak perempuan kita" Jawab Lenardi.
Bu Ratu dan Ayah Gun terenyuh melihat bagaimana mertua anaknya begitu menyayangi putrinya. Bahkan menganggap anaknya seperti anak perempuannya sendiri.
"Ceilah, pak bos mah sering gak tau tempat kalo mau bermesraan" Celetuk Zeze.
"Untung gue udah married, jadi aman" Sombong Karin.
"Rin pernah nyangka gak sih bakal iparan sama Chacha? " Tanya Fany.
"Nggak lah, mana tau gue kalo pak suami yang sikapnya sebelas dua belas sama pak bos ini naksir gue yang, ehem. Kagak bisa diam" Karin tertawa sendiri mendengar akhir kalimatnya.
"Beneran tapi loh ini ya. Kita gak nyangka beneran kalau jodoh kita malah teman sepermainan kita sendiri" Ujar Nena.
"Jadi kita gak usah penjajakan lagi, udah tau mah. Hapal luar dalem" Celetuk Zeze.
"Luar dalem luar dalem. Belum sah, belum tahu sama yang dalem" Kinos menyentil sedikit dahi Zeze.
"Sakit ish" Pekik Zeze.
Pekikan Zeze membuat Chacha dan Levy tersadar deri kegiatan mereka yang cukup intim. Levy segera menjauhkan wajahnya, sedangkan Chacha membuang muka. Terlihat jika muka mereka berdua memerah.
Keadaan sedikit hening. Dimana hanya Chacha dan Levy yang terdiam. Sedangkan yang lainnya malah cekikikan tak jelas karena ulah keduanya.
__ADS_1
"Makanya kalau mau uwu-uwuan tau tempat dong" Goda Audy.
Belum juga Chacha sempat membalas perkataan Audy, tangisan kencang dari salah satu bayinya membuat dirinya sontak menoleh ke arah box bayi.