Call Me Queen

Call Me Queen
Hotel 2


__ADS_3

"Ayo sapa mama sama papa dulu" ajak Levy pada sahabatnya. Mereka berjalan beriringan menuju orang tua Levy berada.


"Ma, Pa" seru Levy memanggil kedua orang tuanya.


"Eh.. Kakak disini" seru sang mama.


"Kenalin ini sahabat Levy, Ma" mereka memperkenalkan diri satu per satu. Namun, seperti biasa Chacha akan menghilang. Membuat mereka mencarinya.


"Kalian lagi cari apa? " tanya Mama Levy.


"Sahabat kita satu lagi ilang tante" jawab Karin sekenanya.


"Ilang? "


"Mungkin lagi ke toilet, tante. Jangan hiraukan perkataan makhluk hidup yang satu ini tan" delikan sinis Karin layangkan pada Putra.


"Leon mana, Ma? " tanya Levy.


"Tadi sama Angel, Lev"


"Sejak kapan? "


"Emmm kurang lebih tiga puluh menit yang lalu" Levy mengernyitkan dahinya heran. Lalu menelisik sekitarnya. Benar saja dugaannya, Angel sedang tertawa ria bersama lainnya. Tanpa Leon disekitarnya. Muka Levy memerah menahan amarah.


"Kenapa, Lev? " Levy melangkah tanpa menghiraukan sang mama. Melangkahkan kakinya menuju sang tunangan.


"Angel" panggil Levy pada Angel.


"Ya kak" Angel terperanjat kaget melihat tatapan Levy yang penuh amarah.


"Mana Leon? "


"Eh... Leon" Angel gelagapan


"Mana Leon, Angel" Levy meninggikan suaranya. Hingga beberapa tamu menoleh kepadanya.


"Ke toilet, Kak" cicit Angel.


"Dan lo biarin dia sendirian ke toilet"


"Ya masa Angel masuk ke toilet cowok sih, Kak"


"Ya ampun, Angel. Lo bisa bawa Leon ke toilet cewek, dia baru umur dua tahun. Dan lo biarin dia jalan sendiri ke toilet. Otak lo dimana sih" Levy mengerang frustasi. Angel menunduk kala pandangan para tamu beralih kepadanya. Pandangan mencemooh.


"Ada apa, Lev? "


"Leon, Pa"


"Kenapa Leon, Lev. Katakan kalau Leon baik-baik saja"


"Itu, Ma" Levy bingung bagaimana harus menyampaikan pada sang mama.


"Katakan, Lev"


"Leon ke toilet sendiri" Mama Levy terisak dipelukan sang suami. Tamu undangan mulai ramai. Orang suruhan Levy juga belum kembali untuk mencari Leon di kamar mandi.


"Ada apa? " Elang yang baru bergabung heran dengan sahabatnya yang berkumpul, terlebih lagi dengan raut wajah khawatir.


"Leon hilang"


"Leon? "


"Adiknya Levy, Elang"


"Terakhir dia ada dimana? "


"Bareng Angel. Tapi dibiarin ke toilet sendirian"

__ADS_1


"Gila lo, anak kecil lo biarin jalan sendiri ke toilet" Angel hanya menunduk saat Elang dan lainnya menatapnya dengan tatapan menuduh.


"Gimana? " tanya Levy saat orang-orangnya mulai kembali.


"Maaf bos, toilet kosong" jawaban bawahan Levy membuat ke khawatiran membuncah.


"Cari ke setiap sudut. Saya ingin tunggu kabar baiknya"


Pesta bahkan belum di mulai. Tapi keadaan sudah kacau, Angel mulai terisak.


"Tante maafin Angel"


"Kamu gimana bisa, ninggalin Leon ke kamar mandi sendiri"


"Angel pikir gak mungkin Angel masuk ke toilet cowok. jadi Angel nyuruh Leon sendirian"


"Ya ampun Angel, Leon itu masih kecil. Gimana kalau dia masuk kedalam lift dan terjebak" geram Zeze membuat tensi kepanikan bertambah.


Levy mengerang frustasi. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Anak buahnya sedang menyisir hotel ini. Haruskah dia diam.


"Lev" Elang menepuk pundaknya.


"Apa? "


"Ada apa? " Levy hanya menggeleng lemah. Elang mengkode yang lain menggunakan mata. Hingga Karin menjelaskan semuanya.


"Gue baru dari toilet dan gak ada siapapun" ujar Elang sukses membuat Levy terduduk di lantai dan mamanya terisak dipelukan sang papa.


Suasana hening seketika, hanya terdengar isakan dari nyonya Rahardian. Semua undangan sibuk dengan pikiran masing-masing, apa yang bisa mereka lakukan selain menunggu kabar dari anak buah Levy.


"Lev" seruan Fany membuat Levy mendongak.


"Cek CCTV" dua kata membuat Levy langsung bangkit dari duduknya.


Namun, belum sampai Levy melangkahkan kakinya suara tak asing sampai di telinganya. Suara tawa yang begitu familiar.


Semua menoleh pada satu titik. Seorang wanita yang sedang menggendong anak kecil. Lihatlah mereka bahkan tertawa dengan celotehan anak kecil itu.


"Ya Tuhan Leon" Levy langsung menghampiri dan mengambil alih Leon dari gendongan Chacha.


"Eh" Chacha kaget karena Levy tiba-tiba merebut Leon dan semua tamu undangan menatap mereka.


"Ketemu dimana? " tanya Zeze.


"Siapa? "


"Sama ini bocil, lo ketemu dimana, dia hilang ke toilet sendirian" jelas Nena sambil menunjuk Leon yang sudah beralih pada sang mama.


"Nyaris ke jebak di lift. Gue langsung hubungi pihak hotel dulu" penjelasan Chacha membuat yang lain membulatkan mata tak percaya.


"Hei jagoan. Are you okay? " tanya Chacha pada Leon.


Leon hanya mengangguk. "Maaci kakak tantik" katanya dengan nada yang belum lancar.


"Sama-sama. Lain kali jangan jalan sendiri" Chacha mengelus lembut rambut Leon.


"Kamu" Nyonya Rahardian terdiam menatap mata biru milik Chacha.


"Halo Mama"


"Chacha. No, Queen Izhaka"


"Yes i am"


"Mama kangen sayang" Nyonya Rahardian langsung memberikan Leon pada suaminya dan memeluk Chacha.


"Chacha juga kangen mama" membalas pelukan tak kalah erat.

__ADS_1


"Khemm" deheman Tuan Rahardian mengalihkan pandangan Chacha.


"Papa" Chacha langsung merentangkan tangannya untuk memeluknya.


"Gadis nakalnya Papa"


"Udah gak nakal ini loh ya"


"Iya kah? "


"Iya, udah anggun gini masa nakal sih"


"Udah gak suka manjat pohon kan"


"Papa" rengekan Chacha yang seperti ini yang selalu dirindukan Tuan Rahardian.


"Pa, jangan digoda terus putriku ini. Liat wajahnya sudah merah"


Levy yang menatap interaksi kedua orang tuanya dan Chacha membuatnya tersenyum tipis. Bukan tak tau tentang apa yang menimpa Chacha, tapi orang tuanya langsung menepis bahwa Chacha tak mungkin seperti itu. Lalu kenapa dirinya ragu?.


"Acaranya gak mau di mulai? " tanya Chacha.


"Eh ayo"


"Lele mau kakak tantik, Pa" Leon berontak minta diturunkan.


"Kakak tantik, siapa? " Leon menunjuk ke arah Chacha.


"Sini" Chacha merentangkan tangannya untuk menggendong Leon.


"Dia berat lo, Cha" goda Tuan Rahardian pada Leon yang sudah beralih di gendongan Chacha.


"Papa" Leon melotot pada sang papa.


"Gak papa kakak kuat kok gendong, Leon"


"Lius? "


"Ya kakak serius" Chacha memang memahami bahasa anak kecil. Entah dari mana dia bisa mengerti.


"Le nak es kim"


"Es krim? " Leon mengangguk dengan antusias. Chacha membawa Leon berjalan menuju tempat yang dia mau.


"Kakak" cicit Angel.


"Apa? "


"Maafin Angel. Angel janji gak bakal ngulangin lagi"


"Gue gak tau harus ngomong apa"


"Angel minta maaf, Kak" yang lain hanya memutar bola matanya. Basi. Pikir mereka.


"Ini peringatan pertama, jangan teledor kalo bawa Leon. Dia lasak luar biasa" jelas Levy. Angel hanya mengangguk lemah, namun dalam hatinya sumpah serapah sudah ia lontarkan.


"Selesai acara clubbing yok" ajak Levy pada lainnya.


"Boleh"


"Kita ikut ya" mohon Karin


"Inget pekerjaan lo deh Rin"


"Kan malem, Nos. Lagian gak bakal ada yang kenal. Atau nggak ke Club yang biasa kita datengin aja"


"Oke"

__ADS_1


"Angel ikut ya, Kak" Levy hanya mengangguk mengiyakan permintaan Angel.


__ADS_2