
Prang...
Lampu besar di tengah ballroom hotel jatuh dan pecah berserakan. Para tamu berteriak histeris. Namun dengan sigap anak buah Chacha yang di pimpin oleh para sahabatnya mengarahkan para tamu untuk meninggalkan ruangan dengan jalur khusus. Bahkan Karin dan Nena sudah tidak terlihat di sana. Mereka membawa seluruh anggota keluarga Izhaka dan lainnya melalui jalur khusus. Di sana tertinggal dua lansia pemimpin mafia besar pada masanya. Tuan besar dan Nyonya besar Izhaka, berdiri di ujung sana. Menatap tajam ke arah pintu masuk ballroom hotel.
Chacha masih berdiri di atas podium, mengamati seluruh jalannya evakuasi pada tamu undangan. Tampak Chacha memejamkan matanya dan menggeleng pelan. Anak buahnya semakin cepat menyuruh para tamu untuk meninggalkan ruangan itu.
Brakk...
Benar saja, pintu di dobrak paksa langsung di sapa dengan arahan pistol yang siap mengeluarkan peluru kapan saja. Alih-alih adu otot, tampaknya mereka lebih senang adu tembak.
Chacha diam tak bergeming. Anak buahnya siap menerima perintah. Fany dan Zeze sudah siap dengan pakaian tempurnya berdiri di barisan paling depan. Di belakangnya para anak buahnya siap dengan senjata masing-masing.
Pihak musuh bingung saat lawan di depannya diam layaknya patung. Mereka tidak bergerak, namun matanya menatap tajam. Hingga salah satu pemimpin dari mereka maju dan langsung di sambut oleh Fany. Fany langsung menghajarnya, dia memberi kode bawahannya untuk menyarungkan kembali senjata mereka. Pihak musuh tampaknya cukup fair kali ini. Mereka juga meletakkan kembali senjata mereka dan maju untuk adu otot dan pukulan.
...****************...
Di atas gedung Chiara dan lainnya melihat seluruh gerak gerik musuh. Chacha meminta Chiara untuk memakai pakaian yang hitam. Agar pergerakan mereka tak diketahui musuh, dan tanpa menghidupkan satu alat penerangan apapun. Senjata mereka juga tidak akan tampak ketika terkena cahaya. Chacha begitu pintar membaca situasi.
"Tim A, naikkan kepekaan dan kewaspadaan kalian. Musuh mulai bergerak masuk, pastikan jika mereka masuk secara bergiliran. Infokan langsung pada ku apapun yang terjadi" Perintah Chiara yang diangguki seluruh anggota Tim A.
"Tim B, mulai hilangkan satu per satu sniper mereka. Gunakan peredam terbaru"
Tampak tim B langsung menjalankan tugas. Chiara dapat melihat jika sniper musuh mulai tumbang satu per satu.
"Nona Chiara satu pasukan musuh kembali masuk ke dalam"
"Berarti di luar sisa tiga. Beri kode pada tim bom untuk melakukan tugasnya sekarang"
"Tim A pantau di dalam gedung" Chiara kembali memberi instruksi "
...****************...
Brugh....
"Akh"
Bugh...
__ADS_1
"Akh sialan"
Krak..
"Ini terlalu menyenangkan" Teriak Zeze layaknya orang kesetanan.
Fany dan Zeze tak memberi ampun pada musuhnya. Tidak hanya dijatuhkan dan dibuat babak belur. Beberapa musuh yang berakhir di tangannya juga mengalami patah tulang. Mereka yang tumbang dihadapannya langsung di lempar ke samping.
Krak..
"Akh"
"Menyingkir sana, menghalangi jalanku" Ucap Zeze sambil melemparkan anak buah musuh ke samping.
Chacha masih diam di sana, di atas podium. Dirinya mengawasi jalannya pertempuran di bawahnya. Chacha sengaja tidak bergerak karena para pemimpin di pihak musuh belum masuk ke dalam pertarungan. Chacha pastikan dia akan menyelesaikan ini sendirian. Lima orang lawan satu, mungkin orang lain akan shock mendengarnya. Namun, bagi Chacha yang terbiasa melewati hidup dan mati ini tidak ada apa-apanya. Jangan lupakan pertarungan di Manhattan ketika dirinya merebut lencana untuk perebutan kekuasaan mafia tertinggi. Semua cara adil dalam perang, jika mereka melakukan hal curang. Percayalah Chacha bisa menjadi sangat licik.
"Dua kelompok, mereka menggunakan metode serangan apa sebenarnya. Jika mereka masuk satu per satu, bukankah kekalahan ada ditangan mereka" Gumam Chacha.
"Fany, Zeze mundur. Lainnya maju. Selesaikan dalam 10 menit" Teriak Chacha. Jika seperti apa yang ada dalam benaknya, maka musuh bisa membalik keadaan dengan cepat. Mereka sengaja melemahkan penyerang utama Chacha agar mudah menembus benteng yang Chacha bangun.
Mendengar teriakan sang Queen, mereka langsung menyerang secara bersamaan. Pihak musuh kaget saat melihat banyaknya lawan yang maju. Pasalnya tadi hanya penjaga saja yang masuk dalam pertarungan, sekarang malah pelayan juga ambil bagian. Ini sebenarnya bagaimana?
Netra biru milik Chacha menatap keseluruhan ruangan. Mencari sosok yang begitu penting dalam hidupnya kini. Namun, dirinya juga tidak kunjung menemukan sosok suaminya dibawah sana.
"Gue ke atas dulu. Kalian awasi di sini" Ucap Chacha pada si kembar.
Chacha langsung turun dari podium dan melesat masuk ke dalam lift. Menuju ruangan pribadinya. Guna mengganti bajunya dengan pakaian yang biasa dia gunakan ketika bertamu ke markas musuh.
Ting...
Dengan cepat Chacha melangkahkan kakinya membuka pintu kamarnya. Bahkan dia juga langsung merobek gaun yang melekat di tubuhnya. Menyisakan hotpants dan sport bra saja. Chacha lalu menyambar kaos hitam yang memang sengaja ia siapkan tadi. Memakainya dengan cepat.
Chacha mengambil pistol dan belati yang biasa menjadi teman bertarungnya. Dua buah pistol di pinggang, dan dua pistol lagi di pahanya.
Grep...
"Cinta"
__ADS_1
Levy melingkarkan lengannya dengan erat di perut sang istri. Kepalanya dia tenggelamkan di ceruk leher istrinya. Menghirup dalam aroma tubuh sang istri.
"Dari tadi kemana? "
"Disini. Mas sengaja nungguin kamu"
Chacha tersenyum dan berbalik menghadap ke arah suaminya. Menatap mata tajam itu dengan teduh. Chacha bisa lihat jika mata sang suami berkaca-kaca. Chacha hanya tersenyum kecut. Bertambah satu lagi kegelisahan di hatinya.
"Kenapa, hmm? " Chacha menahan suaranya agar tidak bergetar. Sungguh hatinya sakit saat melihat sang suami mulai meneteskan air matanya. Levy tidak mengatakan apapun, hanya kepalanya yang menggeleng.
"Mas? " Suara Chacha mulai bergetar. Air matanya ikut luruh, hatinya seakan menjerit saat melihat air mata sang suami.
Levy mendekap erat istrinya. Menenggelamkan kepala sang istri di dadanya. Levy mencium lama pucuk kepala istrinya.
"Mas mohon pulanglah dengan selamat, cinta. Mas dan anak-anak akan selalu menunggu"
"Mas pulang ya, jaga si kembar. Masalah ini biar aku yang urus" Pinta Chacha masih dalam dekapan sang suami.
Levy melepaskan pelukannya. Menangkup kedua pipi chubby istrinya, mengangkat wajah Chacha agar bisa melihat wajahnya.
"Istri Mas disini, ngapain Mas pulang. Anak-anak aman, mereka banyak yang jagain"
"Jangan nangis dong, Mas" Chacha mengusap air mata yang mengalir di pipi Levy.
"Kamu jangan nangis juga, istri Mas wanita kuat, dia selalu percaya diri dimana pun dan kapan pun. Tunjukkan kalau kamu yang terbaik, sayang"
"Ingat Mas dan anak-anak selalu menunggu kamu untuk kembali. Aku akan menunggu ini sampai selesai, kita akan kembali bersama" Chacha mengangguk dalam dekapan Levy.
"Kamu diem aja nanti jangan ikut dalam pertempuran, aku yakin mereka ngenalin kamu sebagai pemimpin Blood Rose. Jangan bikin aku cemas ya Mas" Pintar Chacha pada Levy, Levy hanya mengeratkan pelukannya tanpa menjawab Chacha.
Tit.. Tit.. Tit...
Chacha menoleh ke arah monitor yang berbunyi, tampak lautan manusia memenuhi ballroom hotel miliknya itu.
"Mereka sudah berkumpul, aku ke bawah dulu"
Levy melepaskan pelukannya, menatap intens wajah sang istri. Jika ditanya khawatir, Levy pasti sangat khawatir. Dia tidak pernah tau apa hasil dari pertempuran kali ini. Bisa saja istrinya yang akan menjadi korban, Levy sudah menyiapkan mentalnya dengan baik. Menarik kepala sang istri dengan kedua tangannya. Mencium keningnya lama sebelum membiarkan sang ratu hatinya itu menapaki medan perang.
__ADS_1
Maaf cinta, kali ini aku harus ikut bertarung untuk memastikannya kemenangan ada di tangan mu. Batin Levy sambil menatap punggung istrinya yang menjauh ke arah lift.