Call Me Queen

Call Me Queen
Hamil?


__ADS_3

"Kenapa pada tegang gini sih? " tanya Levy yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.


"Kaget ya ampun. Anak gue sawan gue tampol lo Lev"


"Belom jadi bayi cebong lu, Karin. Pake acara sawan segala"


"Nih orang makin lama mulutnya makin beracun deh. Enak aja ngatain calon baby gue cebong" sinis Karin.


"Udah deh, kalian ini tiap ketemu ada aja yang didebatkan"


“Udah selesai belum, Sayang? "


"Udah kok, Mas. Ayo ke rumah Bunda, Audy juga lagi di sana" Chacha bersiap meninggalkan mereka. "Inget Fany, jalani dulu. Gue usut sampai tuntas masalah ini. Bukan gue gak dukung lo sama Pandu, gue cuma heran kenapa lo tiba-tiba dijodohkan. Gue tau karakter orang tua lo kayak apa" tambahnya.


"Kenapa sih ini? " tanya Levy bingung.


"Nanti aku cerita di mobil, Mas. Gue balik duluan, jangan galau-galau lagi. Lo juga Ze, jangan mudah menyerah sama keadaan. Lo harus bisa jadi penguat Fany. Lo bumil, jangan makan sembarangan. Jangan lupa cek kondisi kandungan lo, telfon kakak ipar lo, dia dokter kandungan. Nena semangat LDR nya ya"


Mereka mengangguk mendapat wejangan dari Chacha.


"Mereka kenapa sih, Yang? " tanya Levy tak sabar sambil melajukan mobilnya keluar dari parkir restoran.


Chacha menceritakan semua duduk permasalahan yang menimpa si kembar, bagaimana putus asa nya seorang Fany karena merasa tak diperjuangkan oleh Pandu. Rasa bersalah Zeze karena takut melangkahi Fany, dan berujung membuat Fany tertekan.


"Ini bukan gaya Fany banget loh, Yang"


"Kayak aku harus turun tangan langsung deh, Mas. Aku main selesaikan satu per satu dulu. Dimulai dari masalah Pandu, habis itu baru mau aku usut tuntas masalah ancaman yang Audy alami" raut wajah Levy berubah.


"Aku gak sendiri, Sayang. Ada Chiara yang bakal dampingi aku kali ini. Udah ih jangan cemburu gitu"


"Suami mana yang gak cemburu sih, Yang. Lihat istrinya bantu pria lain"


"Aku ngerti, Mas. Tapi ini masalah balas budi dan janji, kamu tau kan kalau istrimu pantang untuk mengingkari janjinya? " Levy menghela napas berat.


"Empat hari lagi ulang tahun perusahaan loh, Yang. Kamu ikut hadir kan? "


"Tentu dong. Ini kan ulang tahun perusahaan suami aku, harus dikawal nih pak suami, bisa-bisa banyak buaya betina mendekati" Levy tertawa mendengar penuturan istrinya itu.


"Ada-ada aja kamu ini"


"Kan bener. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Levy Rahardian sih? "


"Kamu doang kayaknya yang gak bucin sama aku, Yang"


"Jangan menuntut aku untuk bucin, Mas. Kamu kelimpungan sendiri nantinya"


Levy hanya tertawa ringan, ini yang disukainya jika bersama Chacha. Ada saja bahasan yang akan membuat dirinya tertawa. Chacha selalu pandai menyenangkan dirinya.


"Kita sampai" seru Levy saat sampai di halaman rumah keluarga Effendy.


"Chacha" teriak Audy dari dalam rumah sedikit berlari karena melihatnya.


"Ya ampun, lo bisa gak sih hati-hati. Untung ada mobil dibelakang gue, kalo nggak bisa terjengkang masal kita ini" gerutu Chacha karena hampir terjengkang saat Audy memeluknya tanpa aba-aba.


"Namanya juga kangen" Audy mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Kagak usah kayak anak kecil, lo udah tua kagak cocok. Bunda ada? "


"Ada, lagi di ruang tamu sama Ayah"


"Abang? "


"Masih di kantor"


"Yuk masuk. Lo udah ijin suami lo ada disini? "


"Tadi gue dianter kok kesininya" Chacha hanya mengangguk menanggapi Audy. Sedangkan Levy mengekor dibelakang keduanya.


"Ayah Bunda" sapa Chacha.


"Ah, anak bontot Bunda, Bunda kangen loh, nak"


"Chacha juga"


"Duduk Lev, jangan kayak patung gitu" tegur Ayah Gun, Chacha menepuk keningnya. Dirinya melupakan suaminya sejak tadi.


"Ya udah kalian disini dulu, Bunda mau masak buat makan malam"


"Bunda, sini dulu aja ada yang mau Levy sampaikan" pinta Levy.


"Kenapa, mau lamar anak bunda? Udah deal aja deh" mereka tergelak mendengar penuturan Bu Ratu.


"Bukan itu Bunda"


"Terus apa? Jangan macam-macam sama anak Bunda Levy"


"Sudah-sudah, malah bercanda. Muka kamu kenapa serius sekali Levy, apa yang mau kamu sampaikan sama kami? " tanya Ayah Gun sambil menengahi.


"Maaf sebelumnya untuk Ayah dan Bunda karena kami memberitahukan hal sepenting ini sekarang. Bukan maksud kami tak ingin memberitahu dengan cepat. Masalah demi masalah yang hadir membuat kita mengesampingkan masalah ini sebentar" Levy bangkit dan duduk bersimpuh di hadapan kedua orang tua Chacha, diikuti dengan Chacha yang juga bersimpuh disampingnya.


"Ayah Bunda, Chacha minta restu dari Ayah sama Bunda untuk mengarungi bahtera rumah tangga Chacha. Do'akan rumah tangga kami selalu bahagia dan diberi keberkahan. Doakan rumah tangga Chacha langgeng sampai maut memisahkan"


"Ayah, maafkan Levy karena menikahi anak Ayah tanpa meminta izin terlebih dahulu. Maaf Levy telah lancang menikahi anak perempuan kalian tanpa pemberitahuan dan meminta restu terlebih dahulu. Kami terdesak keadaan"


Ayah Gun dan Bu Ratu mematung tak percaya mendengar penuturan Chacha dan Levy. Apa katanya? Mereka menikah? Bercanda macam apa ini?


"Kalau bercanda jangan kelewatan, nak"


"Kita gak bercanda Ayah. Chacha beneran sudah menikah dengan Mas Levy"


"Siapa yang menikahkan kamu, Ayah wali sah dari kamu, nak"


"Abang, Yah"


"Danial? " Chacha mengangguk.


"Jadi abang kalian tau, kalau kamu sudah menikah? " Chacha mengangguk lagi.


Ayah Gun dan Bu Ratu menarik napas dalam. Perasaannya campur aduk, ada rasa bahagia di sudut hati tertentu, marah, kecewa, dan jengkel pada anaknya ini.


"Maafin kita Ayah Bunda"

__ADS_1


Grep...


Ayah Gun memeluk Levy dan Bu Ratu menarik Chacha kedalam pelukannya.


"Bunda gak marah sayang. Cuma lebih ke kecewa aja, kami orang tuamu, nak. Tak seharusnya masalah sepenting ini kamu sembunyikan dari kita. Kapan kamu menikah dengannya? "


"Sebelum Chacha berangkat ke Manhattan"


Bu Ratu mengangguk, sebelum mereka bersatu seperti saat ini. Saat dimana mereka masih bersama ego masing-masing.


"Lev, pesan Ayah tolong bahagiakan anak Ayah, sayang dia sepenuh hati kamu. Jangan lukai fisik dan hatinya, nak. Berikan kasih sayang yang tak pernah kami berikan kepadanya. Limpahi dia dengan cintamu, Lev. Karena Ayah tau kamu begitu mendambanya"


"Tanpa Ayah meminta itu akan Levy lakukan Ayah, karena bagaimanapun suka dukanya dia adalah tanggungjawab Levy saat ini. Doakan selalu kami bahagia Ayah Bunda"


"Dalam setiap doa Bunda selalu minta kebahagiaan untuk kalian anak-anak, Bunda"


Audy hanya tersenyum saat melihat keharmonisan keluarganya itu. Meskipun sudah mengetahui jika Bu Ratu bukan ibu kandungnya, entah mengapa naluri nya seakan menolak untuk menerima kehadiran sosok baru sebagai ibu di hatinya. Audy hanya tersenyum miris melihat sikap Ayah Gun yang berubah saat tahu dirinya dipermalukan oleh Audy, Ayah Gun berubah menjadi dingin pada Audy.


"Kemari Audy" panggil Bu Ratu. Audy hanya menggeleng. "Kemarilah, kamu tetap anak Bunda meskipun tak terlahir dari rahim Bunda" Audy menitikkan air matanya.


"Kagak usah cengeng, lo makin jelek kali nangis"


"Sopan dikit kenapa sih, aku kakaknya loh"


"Bodoh amat"


"Sayang? "


"Hehehe, iya iya, Mas. Kakakku yang cengeng maapkeun adik mu ini yang telah kurang ajar padamu ya" ucapnya sambil memasang wajah menyebalkan. "Awas aja gak jawab iya"


"Mana ada orang minta maaf pake ngancem segala, ya ampun"


"Bodoh ah. Bunda pengen sop iga" rengeknya pada Bu Ratu.


"Ya udah Bunda buatkan, kebetulan bahannya ada. Kamu kenapa sih, hamil kah anak Bunda ini? "


"Iya, kamu makin berisi deh, Cha"


"Nggak ya, Chacha baru datang bulan seminggu yang lalu kok"


"Ya sudahlah, Bunda buatkan"


"Chacha bantuin. Mamas ku mau dibuatkan apa? "


"Gila adek gue alat banget, bucin lo? "


"Kagak manasin lo doang kan jomblo, gak ada pasangan, wlee"


"Ish, kakak ipar kamu tuh kerja"


"Iyain biar cepet. Di buatkan apa sayang? "


"Lemon tea aja deh, sayang"


"Kalau mau bersih-bersih dikamar aku. Di mobil ada bawa baju ganti kan? " Levy mengangguk. Karena jika dirinya lupa membawa baju cadangan di mobil, istrinya akan mengomel. Entah Levy pun tak tahu sejak kapan istrinya ini pandai mengomel seperti mamanya.

__ADS_1


__ADS_2