
"Berani menyentuh gadis ku? " Levy menaikkan sebelah alisnya dengan menekan ujung pistol di kening salah satu musuh Chacha malam ini.
Levy mengernyit heran saat melihat mobil Chacha terparkir sembarangan di pinggir jalan. Karena khawatir Levy langsung turun dan mengecek ke dalam mobil, namun nihil, mobil dalam keadaan kosong. Pikiran buruk langsung menghantam otaknya. Kepalanya menggeleng pelan untuk menenangkan batinnya. Hingga suara tawa beberapa orang menyapa telinganya. Levy segera menghampiri asal suara tersebut guna bertanya atau apalah mengenai mobil Chacha yang terparkir disisi jalan. Namun, saat melihat apa yang terjadi. Darahnya langsung mendidih, namun ia tahan segala emosi untuk memahami situasinya dulu. Seraya mendengarkan apa yang mereka ucapkan Levy mulai bergerak perlahan.
Hatinya sakit melihat Chacha dalam keadaan terpejam dengan baju robek sana sini. Ia pastikan baju yang Chacha pakai dirobek secara paksa. Hingga menampilkan **********, sialnya lagi gadis itu tengah tak sadarkan diri. Apa yang mereka lakukan. Karena Levy yakin Chacha akan menang melawan mereka tanpa bantuan siapapun, kecuali mereka berbuat curang.
Levy melirik sekilas, tampak seorang pemuda sedang memohon untuk tak menyentuh Chacha, dalam hati Levy bertanya apa hubungan pemuda itu dengan Chacha. Levy tak ambil pusing itu urusan belakang yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Chacha.
Saat salah satu dari mereka mengeluarkan pistol dan mengarahkan pada kepala Pandu, secepat itu pula Levy merebut dan membalik keadaan. Mereka tak menyadari karena Levy bergerak di tempat gelap untuk mendekati mereka. Dan langsung bergerak cepat membuat mereka kaget dengan keberadaannya.
"Berani menyentuh gadisku? " Levy menaikkan sebelah alisnya dengan menekan ujung pistol di kening salah satu musuh Chacha malam ini.
"Si... Siapa kau? " tanya orang itu dengan gugup saat membayangkan peluru bisa menembus kepalanya kapan saja.
"Kau tak perlu tau siapa aku, satu hal harus kau tau, aku tak suka orang lain menyentuh gadisku" setelah mengatakan itu Levy langsung menyerang dengan membabi buta. Bahkan tak membiarkan mereka melawan sedikitpun. Mereka benar-benar kewalahan menghadapi Levy dan memilih menyerah.
"Ampun Tuan"
"Katakan, ini inisiatif kalian sendiri atau suruhan"
"Kami di suruh, Tuan"
"Kami tidak tau, Tuan. Kami hanya menjalankan perintah dari ketua"
"Siapa ketua kalian? " mereka saling melirik satu sama lain. Mereka hanya tak menyangka bahwa Levy dapat mengintimidasi mereka melebihi ketua mereka.
"Baiklah jika kalian tak ingin bicara tak apa, sampaikan salam ku padanya. Temui aku di markas Blood Rose minggu depan" mereka menelan salivanya kasar. Apa hubungan pemuda didepannya ini dengan salah satu kelompok mafia yang ditakuti itu.
"Tapi, Tuan? " Levy tak mendengarkan mereka dan lebih memilih menghampiri Chacha yang tergeletak begitu saja di jalanan.
"Sweety" Levy menepuk pipi Chacha pelan, hingga beberapa kali namun Chacha tetap tak merespon.
Levy langsung mengangkat tubuh Chacha kedalam gendongannya dan membawanya ke dalam mobil yang terparkir cukup jauh. Namun, matanya juga tak sengaja melirik Pandu yang tergeletak dengan badan babak belur dan darah yang mengalir di pelipisnya. Levy meletakkan Chacha terlebih dahulu di dalam mobil yang Chacha kendarai. Lalu kembali lagi membopong tubuh Pandu masuk kedalam mobil yang dirinya kendarai tadi. Karena mobil tersebut lebih besar. Setelah dirasa Pandu nyaman, Levy kali ini dibuat bingung. Bagaimana caranya dia membawa dua mobil sekaligus? Ingin menelfon sahabatnya dan sialnya ponselnya kehabisan daya. Sial sekali dirinya kali ini. Menunggu hanya itu yang ada dalam pikiran Levy. Menunggu bantuan dari sahabatnya atau menunggu Chacha sadar.
Levy kembali mengecek keadaan Chacha yang ia letakkan dalam posisi terduduk. Levy meneliti setiap inci wajah cantik yang terpejam itu.
"Kamu selalu berhasil membuatku khawatir tanpa sebab, Queen"
"Maaf, maaf sekali lagi maaf. Aku melukai hatimu. Aku menghancurkan mu. Tanpa bertanya apa yang terjadi. Tanpa berusaha lebih keras untuk mencari apa yang terjadi. Tanpa berusaha mengerti jalan pikiran mu. Bahkan tanpa memperdulikan perasaanmu aku terus menghinamu dengan kata-kata ku" Levy meletakkan kepalanya dalam pangkuan Chacha. Bahkan kali ini dirinya menitikkan air mata. Chacha tak akan melihat sisi ini karena sedang pingsan itu pikir Levy.
"Aku dihantui rasa bersalah setiap kali melangkah. Aku mengambil keputusan untuk bertunangan dengan Angel bukan karena amarah saja. Tapi karena Angel pernah menyelamatkan Leon saat dia hampir tertabrak. Membuat dirinya dekat dengan keluarga ku, hingga mama menyuruhku bertunangan dengannya. Aku mengiyakan meskipun seperti ada yang melarang keras aku tak melakukan itu. Aku sadar aku menyakitimu"
"Hingga mama bertanya apa aku sudah menemukan dirimu, aku hanya menggeleng. Mama sekali lagi menancapkan keyakinannya padamu bahwa kamu tak bersalah. Membuat aku semakin kacau. Hingga kau kembali membuat diriku bingung harus bersikap seperti apa"
"Maaf jika aku melukaimu, sayang. Maaf, emosi membuatku melukaimu begitu dalam. aku terima jika kau membenciku."
"Maafkan aku. Bahkan kau rela menjadi tameng saat kita dicegat begal. Kenapa kau lakukan, itu membuatku frustasi saat kau mengatakan kau sengaja menghalau peluru itu. Tapi kau tenang saja, orang itu sudah ku urus. Jangan bahayakan lagi hidupmu untuk menolongku, Queen. Biarkan aku yang berkorban kali ini"
"Terimakasih masih menetapkan rasa yang sama padaku. Terimakasih tetap tak berubah meskipun aku menyakitimu. Berikan aku kesempatan untuk menebus semua salahku, apapun yang kamu mau aku ikuti, sekalipun meminta nyawaku. Maaf sayang maaf"
Levy berbicara panjang lebar dengan air mata yang membasahi paha Chacha yang terbalut jeans itu. Mencurahkan segala yang menjadi beban pikirannya saat ini. Menunjukkan sisi rapuh yang bahkan kedua orang tuanya tak ketahui. Bagaimana hancurnya dirinya saat berita Chacha memupuskan impiannya untuk melamar gadisnya. Levy yang terus terisak hingga tak sadar sepasang mata menatapnya teduh dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Tangannya terulur untuk mengelus kepala yang ada di pangkuannya itu. Levy terbelalak kaget saat merasakan elusan lembut di kepalanya. Ia dengan cepat mengangkat kepalanya dan kaget saat melihat gadisnya tersenyum lembut.
__ADS_1
"Terimakasih, tetap bertahan dengan rasa yang sama meskipun harus terbalut rasa sakit" ucap Chacha lembut dengan menyentuh pipi Levy.
"Terimakasih telah berusaha menemukan kebenaran tentang diriku. Terima kasih telah berusaha untuk selalu menjadi pelindung ku. Aku tau meskipun kamu tampak membenci, namun kau juga memerintahkan anak buahmu untuk menjagaku. Terimakasih" Chacha tersenyum cantik membuat Levy menatapnya dengan sendu.
"Jangan bersedih, aku tau semua yang terjadi. Terpaksa bertunangan dan rentetan kejadian lainnya, aku tau. Aku tak pernah salah paham padamu, itu alasan kenapa aku harus kembali dan mengambil milikku. Terimakasih karena menjaga rasa ini. Dan maaf aku memberimu luka" Perlahan Levy menerbitkan senyumnya. Ia tak menyangka Chacha akan bersikap terbuka pada dirinya. Bahkan dirinya tak menyalahkan tindakannya.
"Mau memulai kembali denganku? " pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Levy. Sedetik berikutnya Levy menyesal, Chacha tak akan mau, karena dirinya berpikir gadisnya ini terlalu sakit hati. Chacha mengangguk membuat Levy mematung seketika. Mengerjap beberapa kali memastikan dirinya tak salah melihat. Hingga Cha terkekeh dan masuk kedalam pelukannya.
"Terimakasih karena tak menunjukkan keromantisan didepanku"
"Aku masih sayang nyawaku" Chacha tergelak mendengar jawaban Levy.
"Terimakasih telah memberiku kesempatan" Chacha hanya mengangguk semakin menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Levy.
"Aku merindukanmu" ucapan Chacha membuat Levy makin memperat pelukannya.
"Sesak Levy" kesal Chacha karena Levy memeluk nya terlalu erat.
"Aku juga merindukanmu, sayang" Chacha langsung merona saat Levy mengucapkan kata sayang didepan wajahnya.
"Oh astaga, bajuku kenapa? " Chacha kaget melihat bajunya yang robek sana sini.
"Itu... " belum Levy menjelaskan kaca disampingnya diketuk dan beberapa orang mencoba melihatnya kedalam. Oh sial mereka seperti pasangan yang sedang digrebek saja.
Levy bingung harus bagaimana. Dia menurunkan sedikit kaca mobilnya. Berharap bapak-bapak tak melihat tubuh Chacha yang sedang tak karuan didalam.
"Ada apa, Pak? "
"Maaf Pak... "
"Wah kalian sedang berbuat mesum ya" teriak salah satu dari mereka karena berhasil melihat Chacha dengan pakaian amburadul.
"Kami bisa jelaskan, bapak-bapak sekalian"
"Jelaskan apa? Sudah jelas pakaian gadis itu robek sana sini dan lihat celana gadis itu juga basah" Levy menoleh seketika, ya ampun itu air matanya. Dirinya merutuki kebodohannya kali ini.
"Tunjukkan tanda pengenal kalian"
"Ketinggalan dirumah, Pak. Jika bapak mengizinkan saya akan mengambil nya terlebih dahulu"
"Ah itu alasan saja. mereka pasti mau kabur setelah melakukan hal tak senonoh" Chacha hanya bisa diam karena tak memungkin dirinya muncul dengan keadaan seperti sekarang. Dimana dirinya bisa dikatakan half naked. Padahal mulutnya sudah gatal ingin menimpali bapak-bapak yang satu itu.
"Tidak pak, saya bisa jamin... "
"Ah sudah nikahkan saja pak, bawa ke rumah pak ustad" Levy berdecak kesal saat perkataannya terpotong.
Mereka membuka paksa pintu mobil yang Chacha dan Levy tempati saat ini. Levy yang menyadari itu segera bersuara.
"Kita bisa turun sendiri" ucap Levy dengan kesal. Lalu dirinya membuka kaos yang dikenakan dan memberikannya pada Chacha. Setelahnya dirinya turun.
Saat turun pun dirinya langsung dibekuk layaknya tersangka. Rasanya benar-benar ingin menghajar orang-orang ini. Tapi tak mungkin, orang tua angkatnya bisa malu. Mereka dibawa menuju rumah yang cukup besar tak jauh dari mobil mereka terparkir. Para warga tadi menjelaskan duduk perkaranya pada sang tuan rumah, Levy dan Chacha mulai menyanggah namun itu tak membuahkan hasil. Mereka berdua hanya mengumpat dalam hati karena para sahabatnya tak menyusul.
__ADS_1
"Siapa yang akan menjadi wali kamu, nak? " tanya pria yang sejak tadi meraka panggil ustad. Chacha masih diam enggan menjawab karena kesal. Hingga akhirnya karena desakan dirinya menelfon sang kakak kandung. Dengan perdebatan panjang nan alot, akhirnya Danial Effendy atau lebih tepatnya King Danial Effendy itu menikahkan adiknya melalui panggilan video. Mereka menikah secara agama.
Bahkan Chacha tak henti-hentinya menggerutu karena kesal. Mereka berdua bahkan tak diberi celah untuk membela diri. Terus menerus ditekan. Bukan tak ingin menikah namun caranya bukan seperti ini. Oh ya Tuhan, Chacha ingin sekali meratakan desa ini.
"Pandu dimana? " Chacha langsung bertanya pada Levy setelah mereka keluar dari rumah tersebut dengan status baru yang mereka sandang.
"Pandu siapa? Berani banget depan suami nanyain pria lain"
"Ck, mendalami peran banget. Setelah ini kamu boleh kok ceraikan aku, kasihan Angel, dia tunangan kamu. Jadi apa dia kalo tau ditinggal nikah"
"Gak ada sopan-sopannya sama suami ini anak ya. Sampai kapanpun aku gak bakal ceraikan kamu, paham. Besok aku suruh asisten ku daftarkan pernikahan kita"
"Angel gimana. Jangan seenaknya sendiri, Lev"
"Sopan bisa gak sih" Levy mulai kesal dengan kekeraskepalaan istrinya. Ya istri, beberapa menit yang lalu dirinya sudah mengubah status Chacha menjadi miliknya seutuhnya.
"Gak usah pikirin Angel"
"Gak bisa gitu dong"
"Aku yang pikirin gimana caranya lepasin Angel dan umumin pernikahan kita, istriku"
"Kok geli ya" Chacha terkikik sendiri. "Jadi kita backstreet dulu ya. Sampai semuanya selesai" Chacha memandang Levy penuh harap. Levy hanya mengangguk mengiyakan. Tanpa sadar Chacha mencium pipi Levy.
"Nakal ya" Levy hendak menggelitik Chacha saat suara menginterupsi keduanya.
"Backstreet apaan nih? "
"Lo udah sadar? " tanya Levy, Pandu hanya mengangguk.
"Dia siapa? "
Chacha mengehela napas sebentar dan menjelaskan siapa Pandu pada Levy dan siapa Levy pada Pandu. Chacha juga menjelaskan apa yang sedang terjadi hingga pernikahannya yang dadakan. Pandu awalnya protes namun Chacha menjelaskan situasi yang ia hadapi tadi membuat Pandu manggut-manggut memahami Chacha.
"Gue harap lo bisa jaga permata kita" ucap Pandu seraya menepuk pundak Levy.
"Gue harap juga begitu"
Tiba-tiba beberapa lampu menyorot ke arah mereka. Mereka tau siapa datang dan hanya berdecak kesal. Namun semua kekesalannya hilang saat melihat raut khawatir mereka. Bahkan Karin saja sudah kacau, Chacha yakini Karin pasti menangis dalam perjalanan.
"Maaf Queen kita telat menyusul" ucap Chiara menundukkan kepalanya.
"Kalian jelaskan nanti, sekarang kita kembali, Pandu harus diobati" Chiara menoleh ke arah Pandu dan kaget saat melihat pemuda itu babak belur tak karuan.
...****************...
Yang sering minta double up. kali ini aku gabung ya. Nanti kalo nyawa buatan nulis balik lagi, janji up lagi deh😁
See you guys
jangan lupa like, comen and vote
__ADS_1