Call Me Queen

Call Me Queen
Apanya yang tiga?


__ADS_3

"Sayang nanti jadi kan? " tanya Levy di sela makannya.


"Jadi kok, semalem Diva ngabarin"


"Mau aku jemput disini atau dimana? "


"Di sini aja deh, aku males keluar"


"Ya udah, Mas jemput jam sembilan ya" Chacha hanya mengangguk.


"Besok ke rumah Bunda, ya. Atau ke mansion Izhaka aja"


"Ke mansion Izhaka besok, lusa ke rumah Bunda, mau? " tawar Levy.


Chacha mengangguk dengan antusias.


"Nanti malam ke rumah mama. Leon kangen kamu"


"Boleh, aku juga udah kangen sama balita tampan itu"


"Jadi mas gak tampan nih? "


"Tampan lah, kan suami aku"


"Ya udah, Mas berangkat sekarang" Levy bangkit dari duduknya dan mencium kening istrinya.


Chacha berjalan mengantarkan Levy ke depan pintu rumah mereka, setelah mencium tangan suaminya dan memastikan mobil suaminya tak terlihat lagi. Barulah Chacha kembali ke dalam rumah.


Chacha masuk ke ruang kerja miliknya, menyalakan laptop dan mulai berselancar dengan kegiatannya sesekali mengecek ponselnya.


"Bagaimana? "


" ... "


"Jadi, dia sekarang sering masuk di star club? "


" ... "


"Bilang pada yang lain disana, awasi dia dari jarak aman"


" ... "


"Jangan lupa keamanan untuk targetnya di tingkatkan, lindungi keluarga saya dengan baik"


" ... "


"Untuk lokasi tepatnya, langsung kirim ke Cila. Biar dia membuat rencana secara rinci"


" ... "


"Baiklah, kembali bertugas"


"Bersabarlah, sedikit lagi masalah keluarga mu selesai, Cha" gumam Chacha.


"Gue pastikan lo akan menyesal pernah ganggu hubungan orang tua gue sampai bertahun-tahun"


"Karena lo bermain begitu cantik, maka akan kita adu kecantikan siapa disini yang akan menang. Gue atau lo bi*ch"


Chacha melirik ke arah jam yang tertempel di dinding, lalu menghembuskan napas pelan.

__ADS_1


"Anak mama kita mandi oke, sudah hampir jak setengah sembilan. Bisa ngamuk pak suami kalau tau belum mandi" Chacha cekikikan sendiri mengingat saat dirinya sudah membuat janji dengan Levy tapi saat dijemput malah belum mandi.


Saat Chacha melewati ruang tengah dirinya melihat televisi yang lupa dia matikan saat menonton subuh tadi. Namun saat hendak mematikannya dirinya malah tertarik pada berita artis yang sedang panas saat ini. Disana tampak wajah cantik yang sedang menjawab beberapa pertanyaan wartawan dengan ramah. Chacha hanya tersenyum smirk saat wanita itu dengan bangganya mengatakan calon nyonya Rahardian.


Siapa lagi jika bukan Angel, berita tentang dirinya yang menemani Levy dalam acara ulang tahun perusahaan itu masih hangat sampai sekarang. Bahkan digadang-gadang mereka akan menuju pelaminan tak lama lagi. Karena Levy terciduk sedang berbicara dengan WO terkenal beberapa hari yang lalu. Membuat Angel semakin di atas angin dan semangat jika dirinya akan dinikahi oleh Levy. Dirinya berpikir Levy akan membuat kejutan untuknya.


Chacha hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepercayaan diri Angel di layar televisi.


"Lo yang berniat menghancurkan Chiara dan mami. Maka terimalah rasa terimakasih dari gue nanti, Narendra"


Karena balas budinya saat di tolong dulu, membuat Chacha lebih dekat dengan ibu kandung Chiara itu. Chacha pernah menolongnya sekali saat dirinya dikejar-kejar orang, persis seperti Chiara. Namun, ibu kandung Chiara hanya meminta diantar ke apartemennya. Dari perkenalan singkat itu mereka tak berkomunikasi lagi, hingga mereka dipertemukan saat Chacha sedang menjalankan misinya dalam organisasi, dirinya terluka dan ditolong oleh ibu kandung Chiara. Lagi-lagi hanya sebatas perkenalan singkat. Puncaknya, mereka dipertemukan kembali saat Chiara meminta tolong padanya, dan mereka bertemu. Chacha menolongnya kembali, kali ini langsung memastikan keamanannya. Bahkan Chacha juga menjodohkannya dengan salah satu rekam bisnisnya yang memang sudah jatuh cinta sejak dirinya berada di tempat yang tak seharusnya. Mereka belum menikah karena Narendra belum menceraikannya.


Chacha mematikan siaran televisi itu dan langsung menuju kamarnya, guna membersihkan diri dan bersiap-siap. Setengah jam cukup untuk seorang Chacha bersiap. Karena dirinya dari dulu memang jarang memoleskan make-up pada wajahnya.


Setelah merasa cukup untuk acara mandinya, Chacha segera keluar dari kamar mandi. Betapa kaget dirinya saat melihat suaminya malah duduk di ranjangnya.


"Loh, kok udah disini? " Chacha melirik ke arah jam dinding, masih kurang lima belas menit menuju untuk menuju jam sembilan.


"Kan cuma tandatangan berkas sayang. Jadi setelah selesai Mas langsung pulang"


"Ya udah aku ganti baju dulu, ya? "


"Satu ronde cukup kayaknya, Yang? " goda Levy menaik turunkan alisnya sambil mendekat ke arah Chacha yang hanya terbalut handuk mandi.


"Eh, eh aku wes mandi loh, Mas"


"Gak papa nanti Mas bantu mandi lagi kalo males" Levy langsung memeluk istrinya.


"Gak ada ya, nanti telat ketemu Diva. Kita udah buat janji, gak baik kalo telat. Bisa ngomel dia nanti"


Levy seakan tersadar dari pikirannya, lalu melepaskan pelukannya dan berjongkok. Menyamakan wajahnya dengan perut Chacha.


"Aku ganti baju dulu ya? " Levy hanya mengangguk membiarkan istrinya menuju walk in closet.


Setelah selesai ganti baju Chacha langsung duduk di depan meja riasnya. Dengan sigap Levy mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut basah istrinya. Chacha hanya tersenyum melihat Levy yang mengeringkan rambutnya. Setelah selesai semuanya mereka langsung keluar dan berangkat ke rumah sakit.


Mereka sampai di rumah sakit langsung menuju ruangan Diva. Ternyata disana sudah ada bumil petakilan yang sedang melakukan USG juga, ditemani oleh sang suami yang sudah meminta ijin sebelumnya pada dirinya.


Chacha masuk tanpa mengetuk pintu, karena itu sudah salah satu kebiasaan dirinya saat berkunjung ke ruangan Diva.


"Lah, gue kira lo masih jam makan siang kesininya" ucap Chacha langsung pada Elang.


"Maunya gitu, tapi nanti ada rapat bareng klien sebelum makan siang, jadi sekalian makan siang"


"Bumil ikut rapat nanti? "


"Nggak, gue langsung ke DD entertainment ada urusan disana" jawab Karin.


"Lo masih aktif jadi model? "


"Selama hamil nggak. Cuma katanya ada yang mau dibahas, biasa rapat bulanan" Chacha mengangguk mendengar penjelasan Karin.


"Ya udah awas lo kerja selama hamil, gue pecat lo dari DD entertainment" ancam Chacha


"Dih dih, kayak punya lo aja"


"Eh" Chacha nyaris saja keceplosan.


DD Entertainment memang miliknya, lebih tepatnya usaha milik dirinya dan sang kakak. DD sendiri adalah singkatan dari Danial Danisha entertainment. Danial yang lebih akrab disapa King itu memilih bisnis ini untuk dikembangkannya sendiri nanti, setelah kepemimpinan Izhaka resmi di berikan pada pewaris aslinya.

__ADS_1


"Jangan lupa vitaminnya minum, Rin" ucap Diva pada Karin.


"Iya kakak ipar"


"Udah kan? " tanya Elang. Karin hanya mengangguk. "Aku antar kamu ke DD entertainment dulu, habis itu aku langsung pergi rapat ya" Karin hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang suami.


"Gue duluan ya" Karin berpamitan pada Chacha.


"Tiati ya" Karin hanya mengangguk dan meninggalkan ruangan itu bersama Elang.


"Yuk bumil yang suka buat janji dadakan" ucap Diva.


"Kan gue pemilik rumah sakit, sekali-kali lah gue nikmatin fasilitas gue tanpa ngantri"


"Biasanya juga lu gak ngantri, kampret"


"Ya kan gue punya dokter pribadi, nah sekarang gue belum punya dokter kandungan pribadi jadi ya gini"


"Emang gila lu ya. Ya udah ayo baring"


Chacha naik ke atas bangsal untuk melakukan USG. Dibantu dengan suster yang ada untuk menaikkan sedikit bajunya dan mengoles gel diatasnya. Diva mulai melakukan tugasnya.


"Kapan terakhir lo menstruasi? " tanya Diva sambil memeriksa kondisi Chacha.


"Lupa, Dip"


"Biasanya juga lo catat dulu"


"Lupa liat maksud gue, biasalah sibuk gue"


"Lo punya turunan kembar gak sih? "


"Nggak tuh"


"Kalo lo, Lev? " tanya Diva pada Levy.


"Gak ada, dari pihak papa juga nggak deh kayaknya" jawab Levy.


Raut wajah Diva tampak serius menatap layar yang menampilkan pergerakan dalam rahim Chacha.


"Kenapa sih, Dip? " tanya Chacha penasaran.


Diva belum menjawab, namun dirinya tersenyum lebar pada Chacha.


"Ini lihat, dua titik ini ada calon anak kalian"


"Maksudnya dua titik? "


"Otak jenius lo tinggal dimana sih, Cha. Kok mendadak gini oonnya"


"Maksud lo gue hamil anak kembar? " tanya Chacha dengan suara bergetar, bahkan Levy sudah meremas tangannya cukup erat.


Diva masih fokus pada layar monitor.


"Wait, bukan dua tapi tiga"


"Apanya yang tiga Diva? " desak Levy.


"Wah selamat sayangku, calon bayi kalian kembar tiga" Diva langsung memekik kaget.

__ADS_1


Chacha dan Levy masih mematung karena kaget.


__ADS_2