
"Kenapa kalian masih memperlakukan ku dengan baik? " Tanya Riko setelah tidak kuasa menahan rasa penasaran nya.
"Kami hanya menjalankan perintah, Queen" Jawab anak buah Chacha dengan wajah datar.
Riko kembali terdiam, pikirannya kembali pada kejadian tadi. Dia masih ingat dengan betul jika Chacha tidak memberikan perintah apapun. Namun, Riko menyadari ketika Chacha berkedip pelan diakhir tayangan.
"Urus Tuan ini, Queen akan ke sini nanti" Ucap salah satu anak buah Chacha saat mereka tiba di ruang perawatan.
Riko langsung diambil oleh orang-orang berpakaian perawat di sana. Dengan cekatan mereka melakukan operasi kecil pada lengan Riko yang terkena tembakan. Jika bertanya siapa dalang dibalik terlukanya Riko, itu adalah Chiara. Chiara bisa saja langsung membunuh nya, namun Chiara juga melihat kode-kode yang Chacha berikan dibalik pohon.
Chacha dan tim elit selalu memakai kode-kode tertentu saat menjalankan tugasnya. Tak heran jika tanpa suara pun mereka mampu membuat strategi hanya dengan tatapan mata. Seakan tatapan mereka mampu berbicara satu sama lain.
Di sisi lain Karin dan lainnya juga dibawa ke ruang perawatan. Mereka langsung mendapatkan tindakan atas luka yang mereka terima.
"Chiara jemput yang lainnya" Perintah Caesar pada Chiara.
Tanpa menjawab Chiara langsung meninggalkan ruangan besar itu. Tuan Ibra menatap bangga pada sahabat cucunya itu, mereka rela menggadaikan keselamatan mereka demi sang cucu.
"Caesar" Caesar langsung menoleh pada seseorang yang memanggilnya.
Tampak Caesar langsung merentangkan tangannya, seakan siap menerima pelukan.
Grepp...
"Bagaimana kabar mu? " Tanya Caesar.
"Aku baik, bagaimana dengan mu, Charles? " Tanya Caesar balik.
"Selama ada Queen, maka aku akan selalu baik-baik saja"
__ADS_1
Caesar dan Charles adalah kakak adik yang terpisah. Charles terpaksa dipisahkan dengan sang kakak karena keselamatannya dulu. Charles berbeda dengan sang kakak yang tangguh sejak kecil. Charles memiliki tubuh lemah, dia akan kelelahan jika berolahraga berlebihan. Itu kenapa dirinya lebih memilih menjadi seorang dokter. Dia juga pernah berkata alasannya menjadi dokter agar bisa mengobati sang kakak ketika dia terluka. Namun, jangan ditanya seperti apa Charles sekarang. Berkat kesabaran dan Chacha sebagai support syatemnya, Charles kini bukan lagi Charles yang dulu.
"Bagaimana keadaan King dan Levy? " Tanya Caesar setelah melerai pelukan mereka.
"Levy kemungkinan akan koma, kita baru saja selesai melakukan operasi lagi pada tubuhnya. Luka yang diterimanya kini cukup parah. Aku juga mendapati luka yang kemungkinan disebabkan oleh benda tumpul di bagian belakang kepalanya" Jelas Caesar.
Semua orang yang mendengar penjelasan Caesar langsung lemas seketika. Cobaan apalagi yang menimpa Chacha kali ini. Belum juga tubuhnya pulih, kini sang suami kembali terbaring dan kemungkinan koma. Para sahabat Chacha hanya bisa menghirup nafas dingin mendengar kabar itu.
"Ada apa? " Tanya Chacha tiba-tiba, entah dari mana dia muncul. Yang pasti dia sudah berada diambang pintu dengan tubuh bersender pada pintu.
"Bagaimana keadaan kalian? " Tanya Chacha saat melihat para sahabatnya sedang melakukan perawatan.
Pandu dengan sigap langsung memapah Chacha untuk duduk di sofa. Charles langsung menghampiri dan mengecek keadaan Chacha. Yang lain hanya melihat apa yang dilakukan Charles pada Chacha.
"Hanya beberapa luka kecil" Jawab Fany menatap Chacha yang mulai memejamkan matanya.
"Charles bagaimana keadaan mereka? " Tanya Chacha. Charles tahu jika kata mereka merujuk pada King dan Levy.
"Lalu suami ku? " Tanya Chacha masih memejamkan matanya. Tangan Charles terhenti dan menatap Chacha dengan sendu. "Kau diam? Ada apa? Terjadi sesuatu yang buruk? " Chacha bertanya seakan dirinya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada suaminya. Dia begitu tenang saat melontarkan setiap pertanyaan pada Charles.
"Hanya kemungkinan dia koma"
"Berikan laporan medisnya padaku, lakukan perawatan sebagaimana mestinya" Ucap Chacha dengan tenang. "Aku ganti baju dulu" Chacha langsung bangkit dan berlalu begitu saja.
Yang lain hanya menatap Chacha dengan pandangan sendu. Mental. Chacha benar dihajar habis-habisan kali ini. Sebisa mungkin mereka akan bergantian untuk berada di sisi Chacha selama 24 jam. Karena jika dibiarkan Chacha akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Levy.
Setelah kepergian Chacha, para orang tua dan balita masuk ke ruangan itu. Tampak Karin yang dipeluk erat oleh sang suami, tak lupa pula dirinya memeluk erat sang putra yang tampak tenang dalam dekapannya.
"Bisa jelaskan bagaimana kalian bisa lolos dari anak buah Riko, padahal Mama melihat mereka menyisir seluruh ruangan? "
__ADS_1
"Chacha bangun sekitar 15 menit setelah Levy keluar dari kamar. Chacha membuka pintu dan meminta kita untuk masuk ke ruang bawah tanah melalui jalan rahasia. Kami semua masuk tanpa terkecuali, maaf jika kami tidak membantu kalian di luar" Jawab Ratih dengan kepala tertunduk.
Sebagai keturunan Izhaka, Ratih merasa malu karena tidak melakukan apapun. Dia merasa tidak pantas menyandang gelar Izhaka dibelakang namanya.
"Tidak perlu merasa bersalah. Kalian tidak muncul sudah membuat kita merasa lega, itu sudah mengurangi beban kita saat pertempuran tadi" Jawab Tuan Ibra.
"Lalu bagaimana dengan Paman Riko, Pa? " Tanya Ratu dengan nada khawatir.
"Nanti Papa urus, sekarang dia dalam pengawasan anak buah Chacha" Jelasnya.
"Si kembar masih tidur? " Tanya Chacha setelah selesai mengganti bajunya.
"Tadi sempat bangun, Non. Tapi setelah kita beri susu, mereka kembali tidur" Jelas salah satu pengasuh si kembar.
Chacha menatap buah hatinya yang terlelap dalam gendongan para pengasuhnya dalam diam. Menatap dalam ketiga buah cintanya degan Levy itu. Chacha memejamkan matanya sebentar lalu menghembuskan napasnya pelan.
"Tidurkan mereka di kasur, Charles ikut aku" Chacha kembali meninggalkan ruangan itu tanpa menyapa siapapun lagi. Pikirannya masih tertuju pada sang suami saat ini.
Setelah kepergian Chacha yang diikuti Charles. Nena langsung menjelaskan apa yang terjadi pada Levy. Lena tampak shock mendengar kondisi putranya. Fany langsung menenangkan ibu mertua Chacha itu, sebisa mungkin mereka memberi penjelasan agar tidak ada yang menyalahkan Chacha dalam hal ini.
"Kami tidak menyalahkan Chacha dalam hal ini. Justru Chacha lah yang harus kita perhatikan betul, mental dia harus benar-benar kita perhatikan. Ini pasti berat untuk dia" Jawab Lenardi seakan mengerti apa yang ditakutkan oleh para sahabat menantunya itu.
"Kalian tenang saja, tante tidak akan menyalahkan menantu cantik tante itu. Dia segalanya, justru tante khawatir padanya. Dia belum sehat betul, bahkan baru bangun dari tidur panjangnya. Sekarang malah harus mendapatkan kabar buruk dari suaminya, belum lagi dia harus merawat si kembar" Lena tidak melanjutkan ucapannya, tangisnya sudah pecah mengingat keadaan menantunya itu.
Sedangkan Bu Ratu dan lainnya benar-benar kaget mendengar penjelasan Nena. Mereka serempak menoleh dan menatap iba pada si kembar yang sedang terlelap.
"Bunda akan pindah ke rumah Chacha untuk sementara waktu, setidaknya sampai Levy bangun nantinya" Ucap Bu Ratu memecah keheningan.
"Mama juga akan tinggal dengan menantu kita, Pa. Tak apa kan? " Ijin Lena pada suaminya dengan tatapan memohon. Selain ingin membantu merawat si kembar, Lena juga bisa memantau perkembangan sang anak nantinya bukan.
__ADS_1
"Papa dukung apapun itu asalkan demi kebaikan anak kita" Jawab Lenardi dengan wajah seriusnya.