Call Me Queen

Call Me Queen
Koko dan Cici


__ADS_3

Para ketua tim dalam anggota Death Rose kini sudah berkumpul di ruangan meeting yang biasa Chacha gunakan. Anggotanya yang dari luar negeri juga sudah sampai dan mengikuti meeting kali ini. Mereka datang langsung dipimpin oleh sang ayah angkat yang tak lain adalah Bastian.


Bastian memilih ikut dan menemani sang putri dalam perang kali ini, meskipun Chacha sudah melarangnya ikut dalam perang dan menyarankan untuk menemani ketiga buah hatinya saja. Namun, laki-laki seumuran dengan ayahnya itu cukup keras kepala.


"Sudah berkumpul semuanya? " Tanya Chacha saat melihat para anggotanya dalam ruangan itu. Kini dirinya duduk didampingi keempat sahabatnya di kanan dan kirinya.


"Sudah Queen" Jawab mereka kompak.


"Baiklah, kita mulai. Seperti yang saya ucapkan beberapa minggu yang lalu, jika perang yang sebenarnya akan di mulai. Kita akan menghadapi lima kelompok besar yang dulunya menjadi legenda sebagai mafia terbesar di dunia. Jika kalian bertanya bukannya dulunya mereka bertujuh, kenapa hanya berlima? Karena yang dua sudah saya taklukkan"


"Lima tahun saya mempelajari setiap organisasi mereka, saya menyerang dan menghancurkan markas pusat nya. Namun sayang, ternyata pemimpin mereka baru kembali beberapa bulan yang lalu. Jadi yang saya habisi hanya pemimpin sementara saja. Kekuatan mereka tidak main-main, tapi jika boleh membandingkan kalian saya anggap setara dengan mereka"


"Saat perang nanti, jaga diri kalian dan teman kalian. Saling melindungi satu sama lain, jika bisa jangan sampai ada yang terluka nantinya. Jika ada yang gugur dan mereka sudah berkeluarga, saya akan menanggung semua biaya hidupnya"


"Jika kalian ada yang keberatan untuk mengikuti perang ini, silahkan angkat tangan dan berikan saya alasannya"


Hening, tidak ada jawaban ataupun dari mereka yang bergerak.


"Karena kalian diam, saya anggap kalian setuju untuk mengambil bagian dalam pertempuran kali ini. Ini akan menjadi sejarah dalam dunia mafia"


"Kalian siap? "


"Siap Queen" Jawab mereka kompak.


"Tim 1, tim sniper bisa memisahkan diri" Perintah Chacha. Tampak dua orang yang merupakan ketua tim itu berdiri dan siap menerima perintah.


"Kali ini kalian akan dipimpin oleh Nona Chiara, dia yang akan mengatur tempat kalian. Kalian akan dibagi menjadi dua tim, tim A dan tim B. Tim A bertugas mengawasi setiap gerak gerik di dalam ruangan dari jarak jauh. Kalian akan ditempatkan agak dekat dan mengelilingi gedung. Tim B akan mengawasi sekitar, saya yakin mereka juga menggunakan sniper. Tim B pastikan kalian menembak sebelum tertembak. Peredam terbaru akan datang besok, gunakan itu agar senjata yang kalian gunakan menjadi senyap"


"Siap menerima perintah Queen"


"Chiara tidak akan memimpin kalian terus. Jika Chiara sudah tidak lagi berada di tempatnya, keluarkan jiwa pemimpin kalian untuk memimpin bawahan kalian masing-masing, saya berharap banyak pada kalian berdua"


"Siap Queen"


"Sekarang tim 2. Tim racun, mulai besok kalian modifikasi semua peluru yang ada dalam gudang penyimpanan. Isi semuanya dengan racun. Gunakan racun tingkat sedang, usahakan mereka tidak mati. Biarkan saja mereka pingsan, itu untuk para bawahannya. Untuk para petinggi itu akan menjadi urusan saya dan Chiara nantinya. Jika kalian terpaksa melawan petinggi salah satu dari lima kelompok mafia itu, kalian boleh menembak tepat di jantungnya. Maka racun itu akan membunuh "

__ADS_1


"Kalian siap? "


"Siap Queen"


"Tim 3, tim obat. Siapkan seluruh obat yang akan dibutuhkan. Kalian akan di tempatkan di beberapa kamar di hotel itu, pastikan jika perang pecah kalian siap untuk mengobati anggota kita yang terluka"


"Siap Queen"


"Untuk penyerang depan, kalian masih akan dipimpin oleh ketua kalian, Fany dan Zeze. Namun, mereka akan menunggu di dalam gedung, sedangkan kalian akan dipimpin oleh Pandu dan dia akan memberi instruksi selanjutnya. Sebagian dari kalian akan ikut Pandu dan sebagian lagi akan menyamar menjadi pengawal di dalam nanti. Pastikan kalian melihat setiap tamu dengan jeli, tandai orang-orang yang mencurigakan dan beri kode pada setiap anggota yang berjaga di luar"


"Keamanan akan berlapis. Lapis pertama, akan dipimpin langsung oleh Fany dan Zeze, kalian berdua akan memimpin para pasukan kalian yang menyamar di dalam. Lapisan kedua akan dibawa oleh Pandu ketika musuh sudah sepenuhnya masuk ke dalam ruangan. Lapis terakhir seperti biasa adalah kelompok Nena. Apapun yang terjadi kalian tidak boleh masuk ke dalam gedung kecuali kita semua sudah dikalahkan. Kepung gedung itu "


"Tim peledak, akan bergabung dengan kelompok Nena. Ketika mereka semua sudah masuk, kalian langsung pasang semua bom yang sudah saya lain kan mengelilingi gedung. Kirim kan kodenya pada saya"


"Tim pelarian, aktifkan jalan bawah tanah yang saya bangun, gunakan itu untuk membawa keluarga saya dan keluarga kalian yang hadir di sana untuk menjauh dari gedung itu. Pastikan pergerakan kalian tidak diawasi oleh musuh, Chiara akan memberi kode pada pemimpin pelarian untuk menaiki lift khusus nantinya. Di sana sudah saya siapkan mobil dan keperluan lainnya. Kalian akan berkumpul di rumah saya nantinya"


"Tim racun, rendam dua belati kembar saya ke dalam racun yang saya letakkan dalam kotak kaca, jangan lupa peluru saya juga. Pistol terbaru saya yang akan saya gunakan, pastikan kalian memastikannya dulu"


"Baik Queen"


"Jika kami semua bergabung dalam gedung, siapa yang akan menjaga tuan dan nona kecil? " Chacha tersenyum, bawahannya begitu mengkhawatirkan buah hatinya.


"Kalian tenang saja mereka dijaga oleh orang-orang yang tepat. Ada lagi? "


"Apa kita hanya akan menyamar menjadi pengawal saja, Queen? "


"Tidak, ada yang menyamar menjadi pelayan. Kalian akan dipimpin oleh Kak Ardan tentang penyamaran"


"Baik Queen"


"Queen, bagaimana jika mereka berbuat curang? "


"Such as? "


"Menyandera keluarga kita"

__ADS_1


"Kalian tenang saja, identitas kalian aman selama ini. Saya pastikan jika mereka tidak bisa melacak keluarga kalian. Jadi keluarga kalian aman"


"Baik Queen"


Semua anggotanya terdiam heran kalau Chacha menatap mereka satu per satu dengan pandangan menyelidik. Tidak hanya para anggotanya, keempat sahabatnya pun menatapnya heran.


Dorr..


Dengan cepat Chacha melayangkan tembakan pada salah satu anggotanya yang ada di tengah-tengah. Semuanya melotot kaget, mereka shock saat sangat Queen menodongkan pistol ke depan.


"Bereskan mayatnya. Jangan lagi ada yang berkhianat, karena saya bisa melakukan apapun saya mau. Jangan memberontak karena kalian tidak pernah tau jika saya bisa kejam dan tidak memiliki sisi kemanusiaan jika sudah murka" Setelah mengucapkan itu Chacha langsung berlalu keluar dari ruangan yang berubah mencekam.


Sesampainya di luar ruangan, Chacha langsung melangkahkan kakinya ke arah belakang mansion. Tempat tawanan yang biasa Chacha tangkap, selain pemberontak dan pengkhianat, biasanya sel itu diisi oleh orang-orang yang berniat buruk dan ingin mencelakakan anggota keluarganya. Chacha lebih memilih memberikan mereka shock terapi terlebih dahulu sebelum di serahkan pada pihak yang berwajib.


"Dimana dua orang dibawa Chiara? " Tanya Chacha pada anggotanya yang bertugas menjaga sel.


"Di sel nomor 3, Queen" Chacha hanya mengangguk dan melangkahkan kakinya ke arah sel nomor 3.


Chacha tampak menaikkan sebelah alisnya saat melihat dua orang wanita yang meringkuk dihadapannya. Chacha menendang sedikit pintu sel hingga membuat keduanya terkejut. Apalagi saat melihat Chacha yang berdiri dihadapannya membuat mereka semakin ketakutan.


Chacha membuka pintu sel, dan masuk ke dalam. Dia duduk di lantai dan cukup berjarak dengan keduanya. Tatapannya santai melihat keduanya.


"Saya tidak pernah merasa memiliki masalah dengan kalian. Tapi melihat wajah kalian, saya tahu dengan siapa saya berurusan. Lima tahun yang lalu, kita pernah bertemu di Manhattan bukan? Kalian salah satu tangan kanan kelompok lima besar itu, alasan kalian menyerang atas dasar dendam kalian atau perintah? "


"Bicara jangan hanya diam, diam tak akan menyelesaikan masalah. Karena perbuatan bodoh kalian, keluarga kalian di sana menjadi sandera organisasi yang kalian banggakan" Keduanya melotot mendengar perkataan Chacha. Semua perubahan ekspresi itu tak lepas dari pengamatan Chacha.


"Jika kalian masih enggan berbicara kalian hanya bisa menerima kabar buruk, tapi jika kalian ingin berbicara dan mengatakan semuanya. Saya jamin keluarga kalian akan selamat"


"Tapi bagaimana caranya? " Akhirnya salah satunya bersuara meskipun dengan nada bergetar.


"Caranya itu tidak penting, yang penting saya pastikan keluarga kalian selamat. Kalian cukup beri informasi yang kalian ketahui saja"


Tampak keduanya terdiam dan saling pandang. Namun saat keduanya dengan ragu mengangguk. Dengan badan gemetar mereka menceritakan apa saja yang mereka ketahui pada Chacha, tidak ada kebohongan sedikitpun demi keselamatan keluarganya. Kini mereka pasrah jika harus berakhir di tangan pemimpin muda ini, asalkan keluarga mereka selamat. Hingga mereka berteriak kaget saat melihat koko dan cici sudah berada di luar sel mereka.


"Ah, kalian menyusul ku"

__ADS_1


__ADS_2