
Setelah makan siang lesehan di ruang tamu, kini mereka berpindah duduk di teras depan. Duduk sambil bercakap-cakap ringan adalah yang paling tepat menemani saat ini.
"Kalian kapan balik? " tanya Bu Kades tiba-tiba.
"Levy lusa balik, Mi" jawab Levy diangguki Kinos dan lainnya.
"Mbak Chacha kapan balik? " tanya Mutia, sang pengantin baru.
"Gak tau, lagi males nyetir soalnya" Chacha malah merebahkan badannya dilantai berbantalkan paha Levy.
"Apa gunanya gue ikut, Queen. Kalo lo males biar gue yang nyetir" bantah Chiara.
"Ya lo jadi bodyguard gue lah" jawab Chacha sambil terkekeh.
"Kak Chacha, Kak Levy itu tunangan gue" teriak Angel tertahan.
"Gue tau, pinjem pahanya bentar doang juga. Jangan pelit"
"Tapi, sikap Kak Chacha bisa buat orang salah paham"
"Gue gak peduli. Levy aja gak keberatan, ya kan? " tanya Chacha menatap Levy dari bawah, Levy hanya mengangguk menanggapi Chacha.
"Gak usah diperpanjang" ucap Levy membuat Angel yang sudah siap adu mulut dengan Chacha menjadi bungkam seketika. Namun, aura kemarahan terpancar jelas di wajahnya.
"Nih, ini dari kami berdua" Fany dan Zeze menyerahkan sebuah amplop pada Mutia.
"Ini apa, Kak? " tanya Mutia dengan heran.
"Kado pernikahan dari kami, maaf kalo gak seberapa. Jujur kita baru kali ini dateng ke acara nikahan, biasanya juga diwakilkan" jawab Zeze.
"Itu mah kalian aja yang males" timpal Karin.
"Sewot banget nih anak"
"Gak usah sibukin si Karin, dia lagi kumat paling. Ini dari kakak diterima ya" giliran Nena yang menyodorkan amplop kali ini.
"Ini dari aku" Karin mengeluarkan kotak terbungkus kado dari dalam tas yang sejak tadi bersamanya.
"Kakak sebenarnya gak usah repot-repot kasih Tia, ginian. Ada kalian di acara nikahan Mutia aja udah seneng"
"Gak papa ambil aja, kata mama aku rejeki gak boleh ditolak, pamali" timpal Putra dengan cengiran khasnya.
"Dari kita-kita udah dititipin ke Levy ya" Kinos mewakili lainnya.
"Udah dikasih kok, Mas" Kinos hanya mengangguk mendengar pernyataan Mutia.
Giliran Angel kini yang memberi kado pernikahan pada Mutia. Dirinya yakin kado miliknya berbeda dengan lainnya, atau mungkin paling berkesan. Itu pikirnya.
"Ini dari kakak ipar" Angel sengaja menekan kata 'kakak ipar' dengan niat menyindir Chacha. Chacha yang terpejam dipangkuan Levy hanya mengerutkan keningnya. Namun dalam hati dia sedang tertawa mengejek kebodohan Angel.
"Wow tiket honeymoon" pekik Mutia girang.
"Kemana? " tanya Karin.
"Bali, Kak" Karin hanya tersenyum mengejek pada Angel.
Angel yang melihat Mutia begitu bahagia merasa di atas angin.
"Sekarang giliran Kak Chacha yang belum kasih Mutia kado pernikahan, atau malah gak punya kado" sindir Angel.
__ADS_1
"Tia gak berharap dapet kado dari Mbak Chacha sih, kalo gak ada Mbak Chacha acaranya juga gak bakalan jalan kan. Jadi Tia cuma bisa bilang makasih buat Mbak Chacha"
"Gak usah dibahas, itu belum sebanding dengan apa yang kalian lakukan kalo Chacha balik ke sini. Kalian mau direpotin sama Chacha, Chacha cuma bantu dikit doang"
"Dikit opone tho, Nduk. Atau Umi bayar sewa bajunya ya" tawar Bu Kades.
"Gak usah, Umi. Chacha ikhlas bantu, lagian Tia sama Teo udah kayak adik Chacha sendiri"
"Tapi, Umi tahu itu baju gak murah"
"Gak usah bahas baju lagi, Mi. Bajunya juga udah dalam perjalanan pulang, entar bersin kalo diomongin"
"Asal jeplak aja kalo ngomong" Levy tanpa perasaan menarik pipi Chacha.
"Sakit ih. Aku aduin nih"
"Aduin siapa? "
"Maunya ke siapa? Kakek? Abang? Atau ke siapa? "
"Jadi Kak Chacha gak niat kasih kado ke Mutia" Angel langsung menghentikan Levy dan Chacha yang asik berdua.
"Niat dong, jadi Tia mau apa. Karena udah nikah jadi usahakan minta yang bisa dipakai berdua"
"Minta mobil aja, Tia. Kan belum punya mobil kamunya" hasut Angel.
"Alhamdulillah saya ada satu, Kak" kali ini bukan Mutia yang menjawab tapi suaminya.
"Hasil dibelikan orang tua juga, kan. Jadi kasih itu sama orang tua kamu lagi" mereka makin aneh dengan sikap Angel ini.
"Kak Angel salah, mobil suami aku hasil kerja kerasnya sendiri, beli pakai tabungannya sendiri, ayah sama ibu mertuaku bahkan gak tahu menahu kalau suami aku berniat memiliki mobil" bela Mutia berapi-api.
"Mbak Chacha tanya sekali lagi, kalian berdua mau apa? "
"Kita belum butuh apa-apa, Mbak"
"Tia, kamu mau tinggal sama abah sama umi? "
"Ya untuk sementara gitu dulu, Mbak. Tapi insyaallah saya akan cari kontrakan atau paling tidak bisa cicil rumah, Mbak" suami Mutia menjelaskan pada Chacha.
"Kamu kerja atau gimana? "
"Saya PNS, Mbak"
"Ah, Mbak kira kerja kantoran, rencana sih tak tarik ke cabang perusahaan Mbak. Tapi kayaknya kalian berdua susah buat ninggalin kampung halaman"
"Itu Mbak Chacha tau"
"Mbak Chacha ada rumah di RT sebelah kalian bisa tempati, surat-suratnya nanti menyusul"
"Maksudnya Mbak Chacha? "
"Mbak kasih rumah itu buat kalian, anggap aja kado pernikahan kalian dari Mbak"
"Tapi, Mbak. Rumah itu apa gak sayang kalo dikasih ke kita, bukannya nolak atau gimana tapi itu rumah gede banget" Mutia tau rumah Chacha di RT sebelah lebih besar dari rumah yang disini. Rumah berlantai dua itu adalah rumah terbesar di desa ini.
"Gak papa, Mbak udah ada rumah kakek disini kan. Lokasinya juga strategis. Jadi kalo suami kamu kerja kamu bosan di rumah, kamu bisa buka toko buat ngisi waktu luang kamu"
"Tapi, Cha... "
__ADS_1
"Gak ada tapi dan lainnya ya, Chacha tak mau ada penolakan. Surat-suratnya nanti akan ada yang urus, Tia tinggal tanda tangan saja ya" beritahu Chacha, Mutia hanya dapat mengangguk saja.
Angel yang mengetahui Chacha memberikan sebuah rumah sebagai kado pernikahan Mutia, diam-diam dirinya menahan emosinya. Niat hati ingin pamer karena memberikan tiket bulan madu ke Bali pada pengantin baru ini, malah kalah dengan Chacha.
"Selesai liburan di Bali, langsung ke Paris sanggup? " tiba-tiba Levy bersuara.
"Maksud Mas Levy? "
"Mas kasih tiket bulan madu ke Paris"
"Bisa diganti lain waktu gak, Mas? " tawar Mutia.
"Kenapa? "
Plak...
"Suaminya PNS gak bisa pergi seenaknya, harus ngajukan cuti dulu kalau mau bepergian jauh. Dikira Paris deket" bukannya mendapat jawaban dari Mutia, Levy malah mendapat geplakan dari Chacha.
"Lupa lupa" Levy menjawab sambil menarik-narik pipi Chacha.
"Sakit ih"
"Dikit doang"
"Dikit apaan merah itu, Lev" Elang yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia kini mulai angkat bicara.
"Eh, maaf ya" Levy yang tersadar langsung melihat ke arah pipi Chacha. Benar saja pipi istrinya itu sudah memerah karena ulahnya.
"Maaf ya" Levy meminta maaf sambil mengelus pelan pipi Chacha.
"Udah gak papa" jawab Chacha meraih tangan Levy. "Kalo nanti mau ke Paris hubungi Mbak dulu. Nanti gak usah nginep di hotel, langsung ke villa Mbak di sana" lanjutnya.
"Mbak Chacha punya villa di Paris? " tanya Mutia antusias.
"Ada satu"
"Sombongnya keluar" goda Elang.
"Emang ada, Elang. Bukan niat hati sombong"
"Iya iya. Itu masih milik keluarga bukan? " tanya Elang memastikan.
"Pribadi weh"
"Gue kira punya keluarga"
Mereka terus melanjutkan obrolan-obrolan ringan mereka. Tanpa mereka sadari dua insan sedang mengarungi alam mimpi dengan damainya.
...****************...
Author comeback sayang.
Jangan lupa like, coment and vote sayang sayangku.
Jangan jadi ghost readers yaw.
Sebenarnya author nak up 2 chapter, tapi nulis satu ini aja udah berasa muter-muter jadi satu dulu ya. Kalau author sudah membaik nanti double up lagi kok.
See next Chapter all❤
__ADS_1