Call Me Queen

Call Me Queen
Aku Lelah


__ADS_3

Levy langsung masuk ke dalam mobil yang ada di depan lobby hotel. Disusul Pandu dan Shiro dibelakangnya. Levy duduk dibelakang dengan tetap memangku Chacha, sedangkan Pandu duduk dibelakang kemudi dengan Shiro di sampingnya.


Entah mobil siapa yang mereka bawa, karena kebetulan kunci mobilnya ketinggalan jadi mempermudah mereka untuk segera melesat ke rumah sakit.


Sejak masuk ke dalam mobil, Levy tak henti-hentinya berbicara pada Chacha. Sesekali mengecup kening istrinya yang terpejam. Pandu dan Shiro hanya bisa diam, mereka enggan berbicara.


Melihat bagaimana khawatirnya Levy melihat Chacha yang pingsan, meskipun mereka juga tau bagaimana keterlaluan nya Levy ketika cemburu.


"Sayang, bangun dong. Kenapa gak bilang kalo sakit sih? " suara Levy begitu lirih ditelinga Chacha. Namun dua orang yang memiliki pendengaran tajam di depan sana masih mampu mendengarnya.


"Maaf, Yang. Aku gak maksud diamkan kamu, aku cuma takut kamu sakit liat aku emosi" setetes air mata berhasil keluar dari netra Levy.


"Maaf, Yang. Tadi aku gak sadar kalau Angel terus nempel sama aku, pikiran aku ada di kamu"


"Maaf aku juga cuekin kamu tadi, maaf Yang maaf"


"Bangun ya sayang"


Pandu dan Shiro terenyuh melihat sosok rapuh Levy. Levy yang biasanya dingin dan cuek kini menangis sambil memeluk istrinya. Levy yang terkenal sadis dalam dunia bisnis mau dalam dunia mafia ini, kini menjadi sosok yang lemah di hadapan istrinya.


"Kita sampai, Lev" ucap Pandu karena sadar jika Levy tak menyadari bahwa mereka sudah sampai di rumah sakit milik keluarga Izhaka.


Levy langsung turun menggendong Chacha setelah pintu dibuka oleh Pandu. Shiro langsung mengarahkan Levy menuju ruangan pribadi milik Chacha. Membiarkan Levy terus menggendongnya, karena Shiro yakin Levy tak akan melepaskan Chacha.


Sesampainya di ruangan pribadi bertuliskan 'Princess Izhaka' Shiro menyuruh Levy dan Pandu menunggu diluar. Dirinya akan mulai memeriksa Chacha. Awalnya Levy enggan, namun langsung ditarik oleh Pandu.


Sesampainya di luar hanya hening. Keduanya tak ada yang berbicara. Levy sibuk dengan pikirannya, sedangkan Pandu sibuk dengan ponselnya. Karena Fany sejak tadi menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Chacha dan memutuskan untuk menyusulnya.


Hingga beberapa suster masuk ke dalam ruangan itu, Levy hanya menatap nanar ruangan istrinya. Tak lama Levy melihat dokter yang dikenal sebagai sahabat sekaligus ipar istrinya. Diva, istri Erland. Kakaknya Elang.


Di dalam ruangan, Chacha sudah tersadar dari pingsannya. Bukannya ditanya tentang keadaannya, dirinya langsung mendapat tatapan galak dari Diva. Tapi setelahnya Diva tersenyum manis padanya, membuat Chacha menaikkan sebelah alisnya.


"Selamat" ucap Diva


"Selama apa? "


"Lo hamil"


Chacha mematung mendengar ucapan Diva, tak ada ekspresi di wajahnya membuat Diva dan Shiro mengernyit bingung.


"Cha? "


"Gue hamil? " Diva hanya mengangguk mendengar pertanyaan Chacha.


"Empat minggu"


Air matanya lolos begitu saja. Perasaan haru menyapa hatinya, Chacha tak menyangka jika akan mendapat kepercayaan secepat ini.


"Lo hamil, usia kehamilan lo masuk empat minggu. Dengan bodohnya lo malah stres, untung aja gak kenapa-napa sama ponakan gue" Diva galak mode on.


Chacha masih diam karena Diva tiba-tiba mengomel.


"Gue udah resep kan vitamin buat lo, jangan lupa minum susu ibu hamil juga biar makin kuat janin lo. Lo harus bedrest total selama satu bulan. Karena gue tahu lo gak bisa diem, jadi disini aja tiga hari. Setelah itu dilarang bekerja terlalu berat, jaga pola makan lo. Kurangi pikiran yang buat lo stres dulu. Terus... "


"Div? " panggil Chacha memotong ucapan Diva.


"Apa"


"Lo gak lupa kan kalo gue juga dokter? "


Diva menepuk keningnya sendiri. Bagaimana dirinya bisa lupa jika pasien cantik di hadapannya ini juga seorang dokter. Tanpa harus dinasehati dirinya juga sudah mengetahui banyak hal.


Shiro hanya bisa menahan tawanya melihat muka Diva yang memerah malu.


Di luar ruangan, Fany dan lainnya tampak sudah berkumpul. Mereka masih menunggu diluar karena takut mengganggu pemeriksaan Chacha. Tanpa mereka ketahui jika pasien dan dokter di dalam sedang asik bercerita.


Namun tak lama setelahnya pintu ruangan Chacha terbuka. Menampakkan Diva dan Shiro. Diva dengan tatapan tajamnya langsung mengarah ke arah Levy, Shiro dengan tatapan datanya. Padahal di dalam tadi mereka masih asik saling melempar candaan.


"Div, istri gue kenapa? " tanya Levy saat melihat Diva keluar.

__ADS_1


"Gak papa. Ini normal terjadi pada ibu hamil. Kurangi aktivitas lo, perhatikan dia di kehamilan mudanya. Kontrol makan dan istirahatnya, usahakan jangan buat dia berpikiran berat. Tekanan darahnya rendah, dia harus dirawat. Tapi gue gak bilang, gue cuma saranin dia buat bedrest disini selama tiga hari. Sambil evaluasi keadaan dia kedepannya. Jika membaik maka boleh pulang dengan syarat jangan melakukan pekerjaan berat, jika Chacha masih bandel dengan pikirannya yang buat stres, gue jamin kalian bakal kehilangan calon bayi kalian. Lo jangan egois mentingin ego lo sendiri " setelah mengucapkan kalimat dengan rumus volume balok alias panjang kali lebar kali tinggi, Diva pergi begitu saja diikuti Shiro dibelakangnya.


Levy mematung di tempat mendengar penjelasan Diva. Apa katanya tadi, istrinya hamil? Chacha hamil? Perasaan bersalah langsung menyeruak di hatinya. Bahkan dirinya mengabaikan istrinya yang terlihat pucat beberapa hari ini hanya karena kecemburuan yang tak mendasar.


Setelah tersadar Levy langsung membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam. Mendapati Chacha sedang menoleh ke arah pintu.


"Sayang? " Levy dengan tatapan bersalahnya.


"Aku lelah, biarkan aku istirahat" Chacha langsung berbalik memunggungi Levy.


Hati Levy seakan dicubit melihat Chacha yang berusaha menghindarinya. Para sahabatnya hanya menatap Levy dengan datar, namun dalam hati mereka bersorak melihat wajah melas Levy.


Elang menarik Levy yang mematung di samping tempat tidur Chacha. Menariknya untuk duduk di sofa. Levy tau dirinya akan diinterogasi oleh sahabatnya sebelum kedua orang tua dan mertuanya.


"Lo ada masalah sama Queen?" Pandu langsung to the point.


Levy hanya menatap datar Pandu. Lalu menggeleng.


"Jangan bohong, Lev. Chacha gak biasanya banyak diam kecuali ada masalah sama lo" cecar Karin.


"Apa karena Chacha lambat dateng ke acara tadi? " Levy mengangguk sekenanya dengan pertanyaan Elang.


"Makanya punya otak pinter tuh dipake buat mikir, bukan jadi pajangan doang"


"Maksud lo? " tanya Levy pada Zeze yang secara tak langsung mengatai dirinya bodoh.


"Tau ah gue kesel sama lo" Levy hanya mengangguk saja. Menurutnya itu tak penting.


"Kenapa tadi lo gak lepasin si Angel? " tanya Fany.


"Gue gak sadar kalo dia tetep nempel sama gue"


"Bisa bilang gak sadar, padahal hampir dua jam dia nempel sama lo" ucap Karin sinis.


"Gue emang gak sadar Karin. Gue terlalu kecewa dan emosi"


Belum juga Fany menjawab, pintu dibuka secara paksa dari luar. Menampilkan sosok Chiara yang ngos-ngosan.


"Gimana keadaan Queen? "


"Lagi istirahat, sini" jawab Pandu.


Chiara langsung mengarahkan langkahnya ke arah Pandu. Begitu sampai Pandu langsung memeluknya erat. Chiara memahami nya, Pandu selalu khawatir saat Chiara bertugas di atas gedung. Setelah kembali dirinya akan selalu di peluk oleh saudara kembarnya ini.


"Mana yang luka, tadi lo cerita sama gue katanya ada yang luka? " cecar Pandu. Fany hanya menatapnya dengan tatapan biasa, wajar saja menurutnya. Karena dirinya juga begitu terhadap Zeze, saudara kembarnya.


Fany menunjukkan bahunya yang sudah terbalut perban. Karena memang tadi setelah pengejaran selesai dan Leon berhasil diselamatkan, Chiara langsung menelfon Shiro untuk mengobatinya.


"Kok bisa dapat luka? Lo kan di atas gedung? "


"Ya bisa lah, ternyata mereka juga pakai sniper buat ngawasi dari atas. Gue baku tembak lah sama tuh sniper, awalnya gak mau nembak, tapi dia malah nyerempet Queen"


"Maksudnya? "


"Dia udah di periksa belum sih? "


"Udah kok"


"Kok gak tau kalau ada luka tembak? Atau mungkin cuma ke gores doang kali ya"


"Tuh sniper cemana? " tanya Karin penasaran.


"Gak tau, gue tembak dia asal. Harusnya sih sekarat di atas gedung" begitulah Chiara berbicara sadis dengan ekspresi santai dan wajah lucunya.


"Ini maksudnya apa sih?" tanya Levy bingung.


"Otak jenius nya lagi kabur kali" celetuk Nena.


"Chacha yang nyelametin Leon, inget dia nyelametin Leon" Pandu menekan setiap katanya. "Itu alasannya kenapa dia telat masuk ballroom tadi"

__ADS_1


Mata Levy membulat, jadi istrinya telat karena menyelamatkan sang adik. Ya Tuhan, betapa bersalahnya dia pada istri cantiknya itu.


"Pantes aja tadi dia ganti baju"


"Maksudnya? "


"Awalnya itu Chacha pakai gaun warna baby blue, tiba-tiba ganti warna hitam, kan aneh"


"Khas sekali" gumam Chiara dan Pandu berbarengan.


"Sekarang balik lagi ke lo, Lev. Lo emosi kenapa? "


"Cemburu" celetuk Chiara. Levy menatap Chiara dengan tatapan datar.


"Gue tau lo cemburu, itu alasan Chacha kenapa dia forsir tenaga dan pikirannya biar masalah kita cepet kelar dan tinggal eksekusi, karena kecemburuan suaminya ini tak wajar. Dia bahkan buru-buru pulang karena takut Levy balik dia gak ada di rumah" jelas Chiara menambah beban kesalahan Levy.


"Lo gak usah cemburu sama gue, Lev. Queen itu sama kayak Chiara, dia sama-sama adik gue gak lebih. Kalo gue perhatian ke dia lo gak usah parno, semua bawahan dia memperlakukan dia secara istimewa. Tenang aja gue gak bakal rebut dia dari lo, Fany aja udah cukup kok. Bisa mati berdiri gue kalau bareng sama Chacha"


Chiara tertawa ngakak mendengar ocehan Pandu, membuat yang lainnya menatap tak percaya.


"Kok bisa? " tanya Fany penasaran.


"Bisa lah. Kamu gak tau aja gimana dia kalau di medan perang, gimana dia kalau lagi bersikap kayak kulkas dua pintu. Jangan dibayangkan, kalian akan ngeri sendiri. Pesan buat lo, Lev. Cemburu boleh, tapi dalam tahap wajar aja. Jangan mendiamkannya, karena cuma sama lo dia jadi dirinya sendiri. Gue lihat banyak perubahan yang dia alami setelah nikah sama lo. Dia jadi pribadi yang lebih hangat"


"Urus berita lo sama Angel, sebelum gue yang turun tangan" ucap Chiara dengan nada sinis.


"Kalo lo memang mau ngurusin gue terimakasih" jawab Levy santai membuat Chiara melotot tak percaya. Lainnya hanya tertawa melihat ekspresi kesal yang Chiara tampakkan.


"Lo mah sialan"


"Lo yang nawarin bukan? "


"Terus gimana ini kedepannya? "


"Gue bakal buat resepsi, tapi nunggu deal tanggal dulu. Semuanya udah siap kok. Cuma ya tinggal nunggu Chacha aja kapan siapnya"


"Kesannya tuh kalian ogah-ogahan banget tau nggak buat ngadain resepsi"


"Menurut kita itu gak penting, tapi mau gimana lagi. Terpaksa gue harus mempercepat resepsi gue bareng Chacha, tapi setelah dia benar-benar pulih. Gue gak mau anak gue sama istri gue kenapa-napa"


"Wah ini calon hot daddy yang sesungguhnya" seloroh Kinos.


"Lah lo kira Elang jadi-jadian? " delik Karin sinis.


"Lah iya gue lupa kalo si Karin hamil" jawab Kinos dengan cengiran khasnya.


"Lo emang sialan" sinis Karin.


"Gue balik duluan ya, mau ke markas" Chiara langsung berdiri, mengecup pipi Pandu sekilas lalu keluar. Pandu hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Anak itu, kapan dewasanya sih. Giliran bareng Queen aja langsung dewasa, giliran sama gue jadi anak kecil lagi. Batin Pandu bermonolog.


Fany hanya terkikik geli melihat ekspresi pasrah Pandu. Dirinya tak menyangka jika Chiara begitu manja pada Pandu. Fany berharap dia juga bisa dekat dengan kembaran prianya itu.


"Ay, pengen rujak" bumil manja mode on.


Elang yang sejak tadi diam dan fokus pada ponselnya langsung berhenti.


"Ayo" Elang langsung berdiri mengulurkan tangannya pada Karin.


"Mau cari dimana tengah malem begini, Lang? " tanya Putra.


"Minta buatin di rumah, gue udah stok mangga di rumah biar dia gak perlu susah cari rujak"


"Wah papa siaga ini"


"Udah yuk pulang, Ay. Baby kangen ditengokin papanya" ceplos Karin.


"Bumil mesum" sorak semuanya kecuali Levy.

__ADS_1


__ADS_2