
Duar...
Emosi dalam tubuh Chacha meledak. Pelukannya pada Audy semakin erat, matanya ia pejamkan dengan erat.
Anggota keluarga Rahardian yang lainnya menatap iba pada Audy yang berada dalam dekapan Chacha.
"Lanjutkan"
"Saya langsung menghajar kelimanya, Queen. Lalu menggiring ke lima lainnya ke lantai bawah. Hingga Tuan Levy datang dan membantu saya"
Chacha menoleh ke arah Levy, tampak Levy mengangguk.
"Setelah kita sampai semalam sayang. Mas dengar suara gaduh dari rumah Kak Audy, jadi berniat ngecek takut kenapa-napa. Ternyata ada kejutan" Chacha mengangguk.
"Setelah semuanya selesai, kita melihat keadaan nona sudah seperti ini, Queen"
"Kau mengantongi informasi? "
"Sudah, Queen. Black Shadow"
"Hubungi Black Rose, aku akan menggunakan mereka"
"Baik, Queen" Ardan langsung mengundurkan diri saat mendapat perintah dari Chacha.
"Tenanglah, aku akan membalas semuanya. Tenanglah Audy, ingat anak mu akan sedih. Bangkitlah, keturunan Effendy tak boleh lemah. Jika kau ingin menjadi kakakku yang sesungguhnya bangkitlah. Bunda kita bukan wanita lemah"
Audy menatap netra biru adiknya itu, adik yang selama ini dirinya sakiti. Kini memberikan semangat dengan senyum manisnya. Audy tak tau saja jika senyum itu yang paling ditakuti oleh para musuhnya.
"Ada yang ingin kamu jelaskan, Tiara? " tanya Levy dingin. Audy tersentak kaget, matanya melotot. Menatap Tiara dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Semuanya terkejut saat Audy bersimpuh didepan Tiara. Tiara memundurkan tubuhnya melihat Audy di depannya. Hanya Chacha yang menatap tenang semua kelakuan Audy, sebentar lagi dia akan tau apa permasalahannya.
"Nona Tiara, aku minta maaf. Aku akan menyerahkan Kevin padamu. Aku janji tak akan meminta sepeser pun dari Kevin, apalagi meminta pertanggungjawaban darinya. Tapi tolong jangan bunuh anakku, tolong aku bukan wanita ja*ang yang bisa digilir 10 orang nona. Aku mohon maafkan aku" Audy duduk bersimpuh sambil menangis di depan Tiara dan Tina. Kebetulan Tiara masih dalam dekapan Tina.
Chacha bangkit dan memukul tengkuk Audy cukup keras. Membuat Audy pingsan di tempat. Semuanya melotot kaget saat melihat kelakuan Chacha.
"Kak Ardan" Chacha berteriak memanggil Ardan yang dia yakini belum meninggalkan rumah ini.
"Siap Queen" tampak Ardan terburu-buru menghampiri Chacha.
"Bawa Audy ke kediaman Effendy. Jangan jelaskan apapun sebelum aku datang, pastikan semuanya berkumpul. Hubungi Bang Nial juga"
"Baik Queen"
Ardan langsung menggendong tubuh Audy yang tergeletak pingsan di lantai.
"Baringkan dia di kamar tamu saja, nak" sela oma saat Ardan hendak melangkahkan kakinya keluar.
"Tidak, bawa dia ke kediaman Effendy. Panggil dokter Nisa untuk memeriksa keadaannya"
"Baik Queen"
Chacha masih menatap kepergian Audy yang dibawa oleh Ardan, hingga keduanya hilang dibalik pintu barulah Chacha kembali duduk di samping suaminya.
"Om Tony"
"Ya? "
__ADS_1
"Kali ini aku tak memberi toleransi lagi, jika sampai psikis kakak ku tak baik. Aku pastikan anakmu akan mengalami nasib yang sama dengannya"
"Apa maksudmu, hah? " teriak Tina.
"Aku bukan wanita baik tante, kau bisa mendengar semuanya yang kakak ku akui di depan mu tadi bukan? "
"Tapi putri ku gadis baik-baik, tak mungkin melakukan hal senista itu"
"Jangan meminta bukti pada ku, bersyukurlah karena aku tak berbuat menghancurkan keluarga mu"
"Cha? " Tony menyela.
"Maaf om, tapi aku tak bisa mentoleransi lagi"
"Tiara" panggil opa kali ini.
Tiara hanya mendongak dengan wajah pucat nya.
"Opa tak menyangka kamu melakukan hal se keji ini. Cinta membutakan hati dan pikiran mu rupanya. Tina ini buah dari didikan mu yang terlalu memanjakan Tiara. Tony kamu sebagai ayah, juga tak bisa tegas pada anak dan istri mu selama ini"
Tiara hanya menunduk takut. Badannya gemetar, siapa yang akan menyangka jika dirinya akan ketahuan. Sakit hati yang dia kira sudah terlampiaskan tenyata berubah menjadi boomerang yang berbalik menyerang dirinya sendiri. Dia sudah berpikir akan tenang di luar negeri, namun siapa sangka jika anak buah sepupunya akan menangkap dirinya. Bahkan membawanya dengan tidak hormat.
"Jangan mentang-mentang kamu keturunan Rahardian kamu bisa menentang orang dibawah mu, Tiara. Bukan itu yang selama ini oma ajarkan. Tina kamu aku ijinkan untuk membiarkan anak mu dirawat oleh ibu mu untuk membentuk dirinya menjadi kepribadian yang lebih baik, bukan sebaliknya" cecar oma.
"Tapi, Ma"
"Pembelaan apalagi sekarang, Tina. Papa selama ini diam meskipun Tony menutupi kelakuan buruk mu dengan mengatasnamakan keluarga Rahardian"
"Keluarga Rahardian aku bangun bukan dengan kesombongan, kalian boleh bersikap sombong dan arogan hanya untuk orang-orang tertentu. Bukan seenak kalian sendiri" sambung opa.
"Cukup Tante, aku tak sepicik dirimu. Aku lahir dari rahim wanita terhormat, aku besar dengan aturan keras dan didikan keras dari kedua kakek ku. Perilaku ku dibangun dengan etika kebangsawanan dari sisi nenek ku. Merendahkan ku sama saja merendahkan bunda ku. Menghina ku sama saja kau merendahkan ajaran kedua sesepuh keluargaku" teriak Chacha.
"Cukup Tina" bentak Tony.
"Kamu keterlaluan Tina" sergah Lena menatap tajam Tina.
"Kenapa kalian menghakimi ku, bisa saja yang aku katakan itu benar"
"Cukup Tante, aku menghormati mu karena kau bagian keluarga suami ku. Kau melewati batas sabar ku. Tiara akui semua kesalahan mu sekarang, atau ku ratakan kekuasaan keluarga Rahardian sekarang" ucap Chacha dengan nada dingin. Emosi mendominasi akal sehatnya sekarang. Bahkan dirinya sekarang sedang berdiri dengan angkuhnya.
Brugh...
Semuanya melotot kaget saat melihat Levy bersimpuh di hadapan istrinya. Bahkan Lena dan Fitri menutup mulutnya agar tak berteriak kaget. Sang opa hanya memalingkan wajahnya. Dia tau siapa cucu menantunya ini. Tak sulit untuk menggulingkan keluarga besarnya dengan kekuasaannya.
"Sayang, Mas meminta maaf atas nama keluarga besar Mas"
Hening. Tak ada satupun yang berniat membuka suara. Chacha masih dengan pendiriannya, amarah masih terpancar jelas di matanya.
"Kau terlalu sombong, keluarga Rahardian bukan keluarga yang mudah kau gulingkan"
"Dan kau terlalu bodoh untuk mengetahui siapa menantu mu ini. Apa matamu buta sampai tak melihat jika mertua mu bahkan diam saat aku akan menggulingkan keluarga besarnya" mata Tina melotot kaget mendengar ucapan pedas dari Chacha yang notabene nya adalah menantu dari keluarga ini.
"Kau... "
"Hentikan Tina" hardik suaminya.
Brugh...
__ADS_1
Kini Tina dibuat melotot saat anaknya, Tiara, juga ikut bersimpuh di hadapan Chacha.
"Kakak sepupu, aku meminta maaf. Sakit hati membutakan mata ku. Sakit hati menutup nurani ku, aku meminta maaf dengan tulus padamu atas semua kelakuan ku, atas semua perbuatan ku yang menyakiti kakak mu. Aku bersedia meminta maaf langsung kepada kakak mu"
"Kau bersungguh-sungguh? "
"Aku bersungguh-sungguh kakak sepupu"
"Kau siap menerima hukuman mu seorang diri? "
"Aku siap, jangan libatkan keluarga besarku dalam masalah ku"
"Baiklah, kau akan berada dalam didikan ku"
"Tapi ku mohon lepaskan keluarga besar ku"
"Dengan mu mengakui kesalahan mu dan siap meminta maaf, itu sudah cukup bagi ku. Dengan kau mengikuti didikan ku sebagai hukuman mu. Itu sudah cukup bagi ku. Om Tony, mulai hari ini putri mu ada dalam genggaman ku. Aku akan mendidiknya dengan caraku, pastikan istrimu tak berulah selama Tiara menjalani hukumannya "
"Om tak akan mengecewakan mu, nak. Dan tolong bimbing Tiara menjadi pribadi yang baik"
"Itu tugas ku"
"Sayang" Chacha langsung bersimpuh memeluk Levy yang masih terduduk di lantai. "Maaf, emosi menguasai ku"
Levy tersenyum tipis.
"Aku mengerti"
Chacha melepaskan pelukannya, lalu berganti duduk bersimpuh dihadapan oma dan opa.
"Opa, maaf cucu menantu mu ini, Chacha tak bisa mengontrol emosi"
Opa dan oma hanya tersenyum.
"Kamu tak salah, nak. Oma bahkan takjub, kamu berani membela keluarga mu dengan cara yang seharusnya. Oma memaklumi emosimu, oma akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi mu" ucap Oma sambil mengelus lembut kepala Chacha yang tertunduk.
"Opa? " Chacha mendongak, tampak senyum opa mengembang di sana.
"Kau pantas menjadi keluarga Raharfian nak, opa bangga padamu"
Chacha hanya tersenyum manis.
"Bangunlah nak" ucap oma. Chacha hanya nyengir kuda.
"Hehehehe"
"Kenapa? "
"Gak bisa bangun oma, kegedean perut"
Semuanya hanya mampu menepuk jidatnya, ketegangan belum pudar sepenuhnya. Celetukan Chacha membuat ulah mengharuskan semuanya menahaaan tawa.
...****************...
Yuhuu, Aku kasih double up cintaaa. Jangan lupa like, comen dan vote ya.
Happy Reading All❤
__ADS_1