
"Udah cantik kok, sayang" Ucap Levy sebelum mengecup pundak istrinya yang telah menghabiskan lima belas menit didepan cermin.
"Emang kalo ngaca urusannya cuma biar cantik apa nggak? Kalo gitu kenapa kamu gak tambah cantik, kan dari tadi ngaca juga ? " Kata Chacha yang malah menyosor pujian Levy dengan sindiran pedas.
"Emang ada masalah apa sih? " Tanya Levy yang baru selesai memasang dasinya di sebelah Chacha.
Pagi itu mereka berbagi cermin untuk bersiap melakukan aktivitasnya masing-masing. Setelah Levy melontarkan pertanyaan tersebut, Chacha pun melirik perlahan. Ia menahan kesal pada Levy yang masih sibuk merapikan diri tanpa merasa berdosa.
"Pake nanya lagi.. " Sindir Chacha kembali. Levy yang menangkap nada sinis Chacha pun akhirnya menengok sambil memasang wajah bingung.
"Kamu kenapa? "
"Ini nih, masalah aku! " Ucap Chacha sambil menunjuk lehernya. Levy melipat bibirnya melihat leher yang kini penuh dengan bekas merah hasil karyanya semalam.
"Hmmmm, sorry? " Ucap Levy yang merasa tidak enak hati. Masalahnya saat ini ia masih tergoda untuk menambah satu bekas lagi di leher Chacha yang belum merah.
"Aku pusing nih, udah aku pakein foundation beberapa lapis masih juga kelihatan jelas gini. Aku malu kalo keluar kayak gini. Bekasnya obvious banget"
"Ya, kan se-obvious cinta aku ke kami, Yang"
"Cinta kamu norak, gitu maksudnya? "
"Ya, norak lah. PDA. Pamer-pamer di leher"
"Loh, PDA gimana? Kita kan nggak bermesraan di tempat umum? "
"Ya, tapi bekas-bekas ini ngasih gambaran ke orang-orang "
"Ah, kamu nih. Baru juga main sekali khayalan nya udah kejauhan. Dasar mesum"
"Siapa yang mesum? "
"Tuh. Gak enak kan, dikatain mesum? "
"Mas, aku males berantem nih. Leherku gimana? "
"... Mau ku tambahin? "
"MAS! "
Chacha berseru sambil menatap marah Levy yang malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi menggemaskan pandai cantiknya itu. Tapi bukan Chacha namanya kalau pasrah diperlakukan seenaknya.
Dengan cepat perempuan itu mengencangkan dasi Levy hingga tawa pria itu berubah menjadi batuk. Chacha buru-buru menuju lemari dan mengambil salah satu scarf nya. Ia lalu melilitkan scarf itu dan berharap kini bekas kemerahan di lehernya dapat ditutupi.
"Yang... Uhuk! Uhuk! " Levy yang masih terbatuk meminta bantuan Chacha untuk mengambilkan air dengan bahasa isyarat seolah Levy meminum dengan sebuah gelas.
"Syukurin" Kata Chacha cemberut, tapi sambil membawakan gelas berisi air minum yang tergeletak di atas meja rias.
"Jahat kamu" Rajuk Levy setelah minum dan berhenti terbatuk.
"Kamu tuh lebih jahat" Balas Chacha yang langsung menuju ke bawah tanpa menunggu Levy.
Dalam hati, Chacha benar-benar tak habis pikir. Di depan orang lain Levy dapat begitu tegas, kaku dan dingin. Tapi kepadanya mengapa pria itu selalu jahil dan tertawa?
Tapi setelah Chacha pikirkan lebih lanjut, ia tidak merasa keberatan dengan itu. Mungkin itu cara Levy untuk memperlihatkan betapa spesialnya Chacha. Selain dengan cara seperti semalam tentunya.
"Yang, jangan bengong dong. Masa turun tangga aja bikin aku ngantri gini, sih? " Tiba-tiba suara Levy sudah terdengar penuh keluh di belakang Chacha.
Chacha menengok pelan ke belakang,memberi tatapan kesalnya pada Levy yang baru saja merusak pemikiran baik tentang suaminya itu. Chacha pun buru-buru turun tangga dengan langkah kaki yang dihentak sementara Levy hanya mengernyit.
Levy hanya dapat menahan bingung nya. Baru main semalam, mungkinkah membuat Chacha langsung PMS?
*
Siang ini semua sahabat Chacha berkumpul di salah satu kafe yang menjadi tongkrongan anak muda. Kegiatan rutin untuk mempererat tali persahabatan mereka. Jam makan siang adalah opsi untuk mereka yang bekerja.
Seperti saat ini, Karin dan Chacha tiba lebih dulu. Bagaimana tidak? Mereka berdua hanya duduk saja semenjak menikah. Mengingat cara Chacha memberi tahu pernikahannya di depan sahabatnya, membuat mereka murka.
"Udah cantik kok, sayang" Ucap Levy sebelum mengecup pundak istrinya yang telah menghabiskan lima belas menit didepan cermin.
"Emang kalo ngaca urusannya cuma biar cantik apa nggak? Kalo gitu kenapa kamu gak tambah cantik, kan dari tadi ngaca juga ? " Kata Chacha yang malah menyosor pujian Levy dengan sindiran pedas.
"Emang ada masalah apa sih? " Tanya Levy yang baru selesai memasang dasinya di sebelah Chacha.
Pagi itu mereka berbagi cermin untuk bersiap melakukan aktivitasnya masing-masing. Setelah Levy melontarkan pertanyaan tersebut, Chacha pun melirik perlahan. Ia menahan kesal pada Levy yang masih sibuk merapikan diri tanpa merasa berdosa.
"Pake nanya lagi.. " Sindir Chacha kembali. Levy yang menangkap nada sinis Chacha pun akhirnya menengok sambil memasang wajah bingung.
"Kamu kenapa? "
"Ini nih, masalah aku! " Ucap Chacha sambil menunjuk lehernya. Levy melipat bibirnya melihat leher yang kini penuh dengan bekas merah hasil karyanya semalam.
"Hmmmm, sorry? " Ucap Levy yang merasa tidak enak hati. Masalahnya saat ini ia masih tergoda untuk menambah satu bekas lagi di leher Chacha yang belum merah.
"Aku pusing nih, udah aku pakein foundation beberapa lapis masih juga kelihatan jelas gini. Aku malu kalo keluar kayak gini. Bekasnya obvious banget"
"Ya, kan se-obvious cinta aku ke kami, Yang"
"Cinta kamu norak, gitu maksudnya? "
"Ya, norak lah. PDA. Pamer-pamer di leher"
"Loh, PDA gimana? Kita kan nggak bermesraan di tempat umum? "
"Ya, tapi bekas-bekas ini ngasih gambaran ke orang-orang "
"Ah, kamu nih. Baru juga main sekali khayalan nya udah kejauhan. Dasar mesum"
"Siapa yang mesum? "
"Tuh. Gak enak kan, dikatain mesum? "
"Mas, aku males berantem nih. Leherku gimana? "
"... Mau ku tambahin? "
"MAS! "
Chacha berseru sambil menatap marah Levy yang malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi menggemaskan pandai cantiknya itu. Tapi bukan Chacha namanya kalau pasrah diperlakukan seenaknya.
Dengan cepat perempuan itu mengencangkan dasi Levy hingga tawa pria itu berubah menjadi batuk. Chacha buru-buru menuju lemari dan mengambil salah satu scarf nya. Ia lalu melilitkan scarf itu dan berharap kini bekas kemerahan di lehernya dapat ditutupi.
"Yang... Uhuk! Uhuk! " Levy yang masih terbatuk meminta bantuan Chacha untuk mengambilkan air dengan bahasa isyarat seolah Levy meminum dengan sebuah gelas.
"Syukurin" Kata Chacha cemberut, tapi sambil membawakan gelas berisi air minum yang tergeletak di atas meja rias.
"Jahat kamu" Rajuk Levy setelah minum dan berhenti terbatuk.
"Kamu tuh lebih jahat" Balas Chacha yang langsung menuju ke bawah tanpa menunggu Levy.
Dalam hati, Chacha benar-benar tak habis pikir. Di depan orang lain Levy dapat begitu tegas, kaku dan dingin. Tapi kepadanya mengapa pria itu selalu jahil dan tertawa?
Tapi setelah Chacha pikirkan lebih lanjut, ia tidak merasa keberatan dengan itu. Mungkin itu cara Levy untuk memperlihatkan betapa spesialnya Chacha. Selain dengan cara seperti semalam tentunya.
__ADS_1
"Yang, jangan bengong dong. Masa turun tangga aja bikin aku ngantri gini, sih? " Tiba-tiba suara Levy sudah terdengar penuh keluh di belakang Chacha.
Chacha menengok pelan ke belakang,memberi tatapan kesalnya pada Levy yang baru saja merusak pemikiran baik tentang suaminya itu. Chacha pun buru-buru turun tangga dengan langkah kaki yang dihentak sementara Levy hanya mengernyit.
Levy hanya dapat menahan bingung nya. Baru main semalam, mungkinkah membuat Chacha langsung PMS?
...****************...
Siang ini semua sahabat Chacha berkumpul di salah satu kafe yang menjadi tongkrongan anak muda. Kegiatan rutin untuk mempererat tali persahabatan mereka. Jam makan siang adalah opsi untuk mereka yang bekerja.
Seperti saat ini, Karin dan Chacha tiba lebih dulu. Bagaimana tidak? Mereka berdua hanya duduk saja semenjak menikah. Mengingat cara Chacha memberi tahu pernikahannya di depan sahabatnya, membuat mereka murka.
Flashback on
Setelah membuat kedua mempelai cengo di atas pelaminan, kini Chacha dan Levy menjalani sidang serigala setelah para tamu undangan kembali ke rumah masing-masing.
Mereka duduk melingkar di taman tempat acara dilangsungkan. Tak ada orang lain selain mereka, karena Chacha meminta privasi saat ini.
"Coba lo ulangi kata-kata lo tadi? " Sinis Karin.
"Kata-kata yang mana? "
"Gak usah pura-pura lupa, yang di atas pelaminan tadi. Coba lo ulangi" Karin melotot ke arah Chacha, yang dipelototi hanya terkekeh pelan.
"Lo kenapa sih, Rin? "
"Sensi amat kayaknya? "
"Ini hari bahagia lo, Rin. Kenapa pake acara emosi segala sih? " Tanya ketiganya bergantian.
"Gue pastikan kalo kalian denger apa yang diucapkan dua anak manusia ini, pasti kesel" Karin masih menahan kekesalannya.
Bahkan perempuan yang sudah resmi menyandang gelar nyonya muda Anderson itu tak henti-hentinya mendengus, membuat yang lain semakin heran. Ditambah Chacha dan Levy yang menahan tawa melihat ekspresi kesal di wajah Karin.
"Kalian kalo bercanda jangan kelewatan lah, ini malam pengantin Elang sama Karin, bisa gawat kalo anak petakilan ini marah" seperti biasa Kinos akan menjadi penengah diantara mereka.
"Tapi sayangnya kita gak bercanda, Nos"
"Tuh kah, apa buktinya coba kalo kalian gak bercanda" Sungut Karin.
"Rin, sabar dulu. Ini sebenernya ada apa sih? "
"Levy udah nikah sama Chacha" Jawab Elang santai. Mereka semua hening.
1... 2... 3...
"WHAT" Mereka berteriak kompak. Chacha dan Levy hanya mampu meringis melihat respon sahabatnya.
"Pernikahan jangan kalian buat mainan" Sentak Fany.
"Tapi gue beneran nikah sama Levy, Fan"
"Gue tau Cha, lo sayang banget, lo cinta banget sama Levy. Tapi gak gini juga. Lo juga Lev, ikatan suci itu jangan dibuat mainan" Ceramah Nena.
Tak banyak bicara Levy langsung menggeser ponselnya ke tengah-tengah. Membuat yang lain bingung.
"Bukti kalo gue emang nikahin Chacha, lo bisa cek ke KUA setempat"
Mereka buru-buru mengambil ponsel Levy dan melihat gambar yang tampil di ponsel tersebut. Benar saja di sana menampilkan gambar buku nikah keduanya. Setelah memulihkan keterkejutan nya, mereka langsung menatap tajam Chacha dan Levy.
"Nikah gak bilang-bilang lo anggep kita ini apaan? " Cerca Zeze.
"Kita ini siapa bagi kalian berdua sih? Bahkan kalian menjalin hubungan sepenting ini kalian tutupi? "
"Atau emang kita ini gak penting di mata kalian berdua? "
Chacha menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Dia sudah menebak sebelumnya, jika sahabatnya akan kecewa karena mereka berdua menutupi hal ini. Namun usapan lembut di tangannya membuat Chacha menoleh. Dirinya melihat Levy tersenyum tipis sembari menggenggam tangannya dibawah meja.
Sungguh Chacha merasa bingung. Menghadapi banyak musuh saja dia tak gentar, tapi menghadapi kilat kecewa di mata sahabatnya, ia kelimpungan sendiri dibuatnya. Padahal ini juga kemauannya untuk merahasiakan pernikahannya.
"Terus apa? Memangnya kenapa harus kalian tutupi hubungan itu? "
"Memang kalian melakukan apa sampai harus menikah tanpa memberi tahu kita? "
"Jangan berpikiran negatif tentang kita" Levy kembali ke mode dinginnya. Membuat yang lain terkejut, pasalnya Levy bisa berlaku hangat jika berkumpul dengan mereka asalkan ada Chacha di dalamnya.
"Kita gak berpikiran negatif, Lev. Tapi kalian yang buat otak kita mikir yang enggak-enggak tentang kalian"
"Coba sekarang ceritakan gimana ceritanya kalian nikah tapi kita gak tau, sedangkan kita selalu bersama? "
Chacha mulai menceritakan awal mulai kejadian dimana dirinya hingga berakhir menikah dengan Levy. Tanpa dilebihkan atau dikurangi.
Melihat ekspresi sahabatnya yang mulai melunak, Chacha bernapas lega.
"Makanya, jangan berduaan di dalam mobil doang"
"Untung gak viral jadi berita mobil goyang"
"Gue tampol lo kalian berempat kalo ikutan dua jantan gak laku ini" Delik Chacha tajam.
"Ya ampun habis nikah makin galak nih bu boss"
"Kenapa kalian gak hubungi kita sih? " Tanya Nena.
"Jangankan hubungi kalian, gue minta hubungi abang aja harus mohon-mohon sama tuh warga kampret. Belum lagi ngadepin siraman rohani abang" Jelas Chacha sambil cemberut.
"Terus setelah itu? "
"Setelah tau siapa gue, mereka malah minta maaf. Salah tangkep apa lah, gila kali mereka. Tapi mau gimana lagi nasi udah jadi bubur kan? "
"Terus kenapa kalian rahasiakan hubungan kalian? "
"Kalo di publikasikan gue bisa dicincang netizen"
"Kok bisa? "
"Bisa lah, gue nikah sama dia dengan status dia tunangan Angel. Mana ada pula tunangannya pas gue nikah" Chacha tertawa mengingat bagaimana dirinya menikah dengan Levy yang berstatus tunangan artis papan atas itu.
"Itu alasan lo bubaran bareng Angel, Lev"
"Salah satunya" Jawabnya singkat.
"Terlepas dari apapun itu, kita sebagai sahabat lo bahagia liat lo bahagia, Cha. Jangan lagi ada air mata gegara jantan satu ini ya, Cha"
"Sialan lo, Lang"
"Selamat buat pernikahan lo dan lo juga Lev. Samawa buat kalian berempat"
"Masih mau di raja hubungan kalian? "
"Masih, sampai gue selesain masalah Audy dulu, gue gak mau keluarga mertua gue kena imbasnya. Soalnya ada Leon yang bisa mereka jadikan bahan untuk menekan kita nantinya"
Sahabatnya hanya mengangguk mendengar penjelasan Chacha.
__ADS_1
"Lev, jagain sepupu gue. Jangan sakiti dia, cukup selama ini dia banyak berkorban demi kita keluarga nya. Gue harap lo selalu buat dia tersenyum, dia cuma boleh mengeluarkan air mata bahagia Lev"
"Lo tenang aja, Lang. Janji yang gue ucap bukan cuma dihadapan penghulu dan lainnya. Tapi janji gue pada sang Pencipta lebih dari sekedar membahagiakan dia. Dia tanggung jawab gue sekarang. Gue harap kalian bisa negur gue kalo gue ada salah kata sama dia, karena bagaimanapun gue juga manusia yang bisa melakukan salah"
"Kita saling mengingatkan saja"
Flashback off
Setelah membuat kedua mempelai cengo di atas pelaminan, kini Chacha dan Levy menjalani sidang serigala setelah para tamu undangan kembali ke rumah masing-masing.
Mereka duduk melingkar di taman tempat acara dilangsungkan. Tak ada orang lain selain mereka, karena Chacha meminta privasi saat ini.
"Coba lo ulangi kata-kata lo tadi? " Sinis Karin.
"Kata-kata yang mana? "
"Gak usah pura-pura lupa, yang di atas pelaminan tadi. Coba lo ulangi" Karin melotot ke arah Chacha, yang dipelototi hanya terkekeh pelan.
"Lo kenapa sih, Rin? "
"Sensi amat kayaknya? "
"Ini hari bahagia lo, Rin. Kenapa pake acara emosi segala sih? " Tanya ketiganya bergantian.
"Gue pastikan kalo kalian denger apa yang diucapkan dua anak manusia ini, pasti kesel" Karin masih menahan kekesalannya.
Bahkan perempuan yang sudah resmi menyandang gelar nyonya muda Anderson itu tak henti-hentinya mendengus, membuat yang lain semakin heran. Ditambah Chacha dan Levy yang menahan tawa melihat ekspresi kesal di wajah Karin.
"Kalian kalo bercanda jangan kelewatan lah, ini malam pengantin Elang sama Karin, bisa gawat kalo anak petakilan ini marah" seperti biasa Kinos akan menjadi penengah diantara mereka.
"Tapi sayangnya kita gak bercanda, Nos"
"Tuh kah, apa buktinya coba kalo kalian gak bercanda" Sungut Karin.
"Rin, sabar dulu. Ini sebenernya ada apa sih? "
"Levy udah nikah sama Chacha" Jawab Elang santai. Mereka semua hening.
1... 2... 3...
"WHAT" Mereka berteriak kompak. Chacha dan Levy hanya mampu meringis melihat respon sahabatnya.
"Pernikahan jangan kalian buat mainan" Sentak Fany.
"Tapi gue beneran nikah sama Levy, Fan"
"Gue tau Cha, lo sayang banget, lo cinta banget sama Levy. Tapi gak gini juga. Lo juga Lev, ikatan suci itu jangan dibuat mainan" Ceramah Nena.
Tak banyak bicara Levy langsung menggeser ponselnya ke tengah-tengah. Membuat yang lain bingung.
"Bukti kalo gue emang nikahin Chacha, lo bisa cek ke KUA setempat"
Mereka buru-buru mengambil ponsel Levy dan melihat gambar yang tampil di ponsel tersebut. Benar saja di sana menampilkan gambar buku nikah keduanya. Setelah memulihkan keterkejutan nya, mereka langsung menatap tajam Chacha dan Levy.
"Nikah gak bilang-bilang lo anggep kita ini apaan? " Cerca Zeze.
"Kita ini siapa bagi kalian berdua sih? Bahkan kalian menjalin hubungan sepenting ini kalian tutupi? "
"Atau emang kita ini gak penting di mata kalian berdua? "
Chacha menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Dia sudah menebak sebelumnya, jika sahabatnya akan kecewa karena mereka berdua menutupi hal ini. Namun usapan lembut di tangannya membuat Chacha menoleh. Dirinya melihat Levy tersenyum tipis sembari menggenggam tangannya dibawah meja.
Sungguh Chacha merasa bingung. Menghadapi banyak musuh saja dia tak gentar, tapi menghadapi kilat kecewa di mata sahabatnya, ia kelimpungan sendiri dibuatnya. Padahal ini juga kemauannya untuk merahasiakan pernikahannya.
"Terus apa? Memangnya kenapa harus kalian tutupi hubungan itu? "
"Memang kalian melakukan apa sampai harus menikah tanpa memberi tahu kita? "
"Jangan berpikiran negatif tentang kita" Levy kembali ke mode dinginnya. Membuat yang lain terkejut, pasalnya Levy bisa berlaku hangat jika berkumpul dengan mereka asalkan ada Chacha di dalamnya.
"Kita gak berpikiran negatif, Lev. Tapi kalian yang buat otak kita mikir yang enggak-enggak tentang kalian"
"Coba sekarang ceritakan gimana ceritanya kalian nikah tapi kita gak tau, sedangkan kita selalu bersama? "
Chacha mulai menceritakan awal mulai kejadian dimana dirinya hingga berakhir menikah dengan Levy. Tanpa dilebihkan atau dikurangi.
Melihat ekspresi sahabatnya yang mulai melunak, Chacha bernapas lega.
"Makanya, jangan berduaan di dalam mobil doang"
"Untung gak viral jadi berita mobil goyang"
"Gue tampol lo kalian berempat kalo ikutan dua jantan gak laku ini" Delik Chacha tajam.
"Ya ampun habis nikah makin galak nih bu boss"
"Kenapa kalian gak hubungi kita sih? " Tanya Nena.
"Jangankan hubungi kalian, gue minta hubungi abang aja harus mohon-mohon sama tuh warga kampret. Belum lagi ngadepin siraman rohani abang" Jelas Chacha sambil cemberut.
"Terus setelah itu? "
"Setelah tau siapa gue, mereka malah minta maaf. Salah tangkep apa lah, gila kali mereka. Tapi mau gimana lagi nasi udah jadi bubur kan? "
"Terus kenapa kalian rahasiakan hubungan kalian? "
"Kalo di publikasikan gue bisa dicincang netizen"
"Kok bisa? "
"Bisa lah, gue nikah sama dia dengan status dia tunangan Angel. Mana ada pula tunangannya pas gue nikah" Chacha tertawa mengingat bagaimana dirinya menikah dengan Levy yang berstatus tunangan artis papan atas itu.
"Itu alasan lo bubaran bareng Angel, Lev"
"Salah satunya" Jawabnya singkat.
"Terlepas dari apapun itu, kita sebagai sahabat lo bahagia liat lo bahagia, Cha. Jangan lagi ada air mata gegara jantan satu ini ya, Cha"
"Sialan lo, Lang"
"Selamat buat pernikahan lo dan lo juga Lev. Samawa buat kalian berempat"
"Masih mau di raja hubungan kalian? "
"Masih, sampai gue selesain masalah Audy dulu, gue gak mau keluarga mertua gue kena imbasnya. Soalnya ada Leon yang bisa mereka jadikan bahan untuk menekan kita nantinya"
Sahabatnya hanya mengangguk mendengar penjelasan Chacha.
"Lev, jagain sepupu gue. Jangan sakiti dia, cukup selama ini dia banyak berkorban demi kita keluarga nya. Gue harap lo selalu buat dia tersenyum, dia cuma boleh mengeluarkan air mata bahagia Lev"
"Lo tenang aja, Lang. Janji yang gue ucap bukan cuma dihadapan penghulu dan lainnya. Tapi janji gue pada sang Pencipta lebih dari sekedar membahagiakan dia. Dia tanggung jawab gue sekarang. Gue harap kalian bisa negur gue kalo gue ada salah kata sama dia, karena bagaimanapun gue juga manusia yang bisa melakukan salah"
"Kita saling mengingatkan saja"
__ADS_1
Flashback off