Call Me Queen

Call Me Queen
Tanda Aneh


__ADS_3

Dalam dekapan Levy, Chacha terus menahan isakan tangisnya.


"Maaf untuk ultah kali ini aku gak bisa nemenin kamu lagi" Chacha makin memperat pelukannya.


"Tapi aku janji ultah berikutnya akan jadi spesial buat kamu" Chacha hanya mengangguk menanggapi setiap perkataan Levy.


"Emang lo gak bisa nunggu sampai dia ultah kah Lev?" tanya Elang.


Levy hanya menggeleng pelan sambil menghembuskan napas. Dirinya tetep merengkuh Chacha dalam pelukannya tubuh gadis itu masih bergetar tanda bahwa dia masih berusaha menahan tangisnya.


Sedangkan yang lain hanya mengangguk. Mengahargai pendapat dan keinginan Levy.


"Gue harap kalian jagain dia"


"Tanpa lo minta Lev kita-kita pasti jagain tuh anak" jawab Nena sekenanya.


Levy hanya mengangguk merespon ucapan Nena.


"Chacha bukan anak kecil yang harus dijagain" Chacha beringsut dari pelukan Levy dengan muka cemberut.


Levy hanya tersenyum sambil merapikan rambut Chacha yang sedikit berantakan.


"Belanja yok. Stres gue lama-lama" keluh Chacha.


Mereka semua hanya melongo dengan keluhan Chacha kecuali Levy yang terkekeh melihat ulah gadisnya itu.


Setelah makan mereka langsung berjalan-jalan mencari sesuatu yang mungkin menarik dimata mereka untuk di beli.


Hingga Chacha merasa bosan karena tak mendapatkan satu pun barang yang menurutnya ingin dia beli.


Levy yang sejak tadi fokus memilih hoodie terkejut melihat Chacha mencepol rambutnya asal. Bukan karena dirinya tak terlalu menyukai Chacha ketika mengikat rambutnya akan tetapi dirinya dibuat heran dengan tanda yang biasanya tak ada di lehernya.

__ADS_1


"Sweety" panggilnya lembut.


Chacha berlari kecil menuju Levy dan langsung memeluknya erat. Levy hanya tersenyum sambil membuka cepolan rambut Chacha hingga terurai kembali.


"Kenapa?" Chacha menjauhkan tubuhnya menatap Levy dengan polos.


"Sejak kapan?"


"Apanya?"


"Dileher kamu?"


"Emang ada apaan?"


"Kok balik nanya sih sweety"


"Emang gak tau Lele" jawab Chacha sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tatto atau apa?" tanya Levy dengan nada datar.


Chacha mulai menangkap perbedaan pada suara Levy.


"Tanda ini" Chacha menyentuh bagian tanda itu dilehernya bagian belakangnya.


Chacha menatap Levy yang berkacak pinggang sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Bertambah satu, tahun kemarin hanya satu kenapa sekarang nyaris dua?" tanyanya entah pada siapa.


"Maksud kamu?"


"Tepat ulang tahun ke 17 tanda ini muncul tapi aku diemin aja mungkin sama dengan tanda mahkota yang dibahu aku, muncul ketika aku berumur 5 tahun tapi kenapa sekarang nambah" Chacha mulai menunjukkan raut khawatir diwajahnya.

__ADS_1


"Aku gak jadi berangkat ke LA kita cari jawabannya bareng-bareng ya" Chacha menggeleng menanggapi ucapan Levy.


"Berangkatlah Le. Masalah tanda ini aku yakin kakek pasti tau jawabannya. Jika nanti buntu tentang masalah ini aku janji bakal nungguin kamu buat cari darimana asalnya tanda ini"


"Tapi..." Chacha menggeleng tanda tak ingin dibantah.


"Rambut kamu juga udah balik ke warna sebelumnya semua?" Chacha mengangguk sambil cemberut.


"Kenapa?"


"Rambuy coklat dari sononya ntar kesekolah dikira diwarna lagi"


"Jelasin ke kepsek sama guru BK biar gak jadi masalah ya" saran Levy.


Chacha menolak dengan gelengan kepala membuat Levy menaikkan sebelah alisnya.


"Pakai rambut palsu aja bentar lagi juga lulus"


"Terserah kamu aja"


"Woi malah ngobrol disini nih anak dua" teriakan Kinos membuat kaget keduanya.


"Dapet sesuatu gak Cha?" tanya Karin, Chacha hanya menggeleng dengan polosnya.


"Kita dapet dua sampai tiga pasang baju loh Cha. Kita bayar masing-masing aja ya lagian lo juga gak dapet kan masak iya bayarin kita punya" jelas Zeze.


Chacha hanya diam mengeluarkan kartunya dari dalam tasnya lalu memeberikan kepada Fany.


"Dah sono bayar" usir Chacha pada sahabatnya membuat mereka mendelik berjamaah pada Chacha.


"Yuk" ajak Levy setelah kepergian para penganggu tadi.

__ADS_1


"Kemana?" Levy hanya menarik tangan Chacha untuk mengikutinya.


__ADS_2