
"Sayang" Panggil Levy saat keluar dari kamar mandi.
"Bajunya aku letak di sofa, Mas. Lagi enak ini rebahannya" Jawab Chacha tanpa menoleh ke arah suaminya. Sejak bertambahnya usia kandungan, Chacha semakin susah mendapatkan posisi tidur yang nyaman. Apalagi jika tengah malam Levy harus lembur, Chacha seakan kehilangan tempat ternyamannya saat tidur.
Tanpa bertanya lagi Levy langsung mengambil baju yang sudah disediakan oleh sang istri. Levy mengganti bajunya di tempat. Bahkan Chacha tampak tak terganggu saat suaminya mengganti baju.
"Handuknya jangan ditinggal gitu aja. Taruh dulu di keranjang kotor" Ucap Chacha saat melihat suaminya melangkah ke depan cermin yang ada di kamarnya.
Levy hanya mengangguk patuh dengan ucapan istrinya. Kebiasaan dirinya semenjak tinggal satu atap dengan sang istri. Dia jadi pria yang berantakan. Padahal Levy dulunya termasuk dalam golongan pria yang rapi.
Tok... Tok... Tok
Saat mendengar ketukan pintu di kamarnya, Levy menoleh ke arah istrinya yang masih enggan bergerak. Levy urung masuk ke kamar mandi dan berjalan menuju pintu, karena pintu masih terus diketuk sejak tadi.
Cklek...
Saat pintu terbuka tampak Lena sedang berdiri di sana sambil menggendong Leon.
"Ayo turun makan siang dulu, mana istri kamu? " Tanya Lena.
"Bentar lagi, Ma. Biarin Chacha istirahat sebentar ya"
"Chacha tidur? "
"Nggak, cuma rebahan doang. Soalnya dia sekarang udah susah cari posisi tidur yang nyaman, Ma"
"Wajarlah, kehamilannya semakin besar. Selain susah buat jalan nanti juga susah buat tidur"
"Iya, Ma. Leon sini sama Abang aja, kamu tuh jangan sering minta gendong mama. Kamu berat" Levy mengambil alih Leon dalam gendongan Lena.
"Ya sudah, Mama ke bawah dulu, Mama tunggu Lev" Lena langsung berlaku begitu saja.
Levy juga langsung membalik badannya membawa Leon dalam gendongannya.
"Kakak tantik" Panggil Leon saat melihat Chacha yang berbaring santai di atas ranjang.
"Cantik, Leon" Sela Levy.
"Hai tampan, come here" Chacha menepuk ranjang sebelahnya. Levy mendekati ranjang dan menurunkan Leon di samping sang istri.
"Gak boleh gerak-gerak terlalu keras ya, dik. Kasian adik bayinya, om tampan kan anak baik" Leon mengangguk patuh, seakan mengerti ucapan sang kakak.
__ADS_1
Levy langsung bangkit menuju kamar mandi, menyelesaikan pekerjaannya yang belum usai.
"Sayang, turun yuk makan siang" Ajak Levy diambang pintu kamar mandi.
Chacha mengangguk dan mencoba bangun dari posisinya. Melihat istrinya yang susah bangun, Levy dengan sigap membantu sang istri. Setelahnya Levy langsung menggendong Leon dengan tangan menggandeng Chacha. Leon akan menjadi bocah penurut jika sedang bersama Levy. Jarangnya mereka berdua berinteraksi membentuk rasa sungkan tersendiri diantara keduanya. Bahkan Leon lebih dekat dengan Chacha yang notabene nya hanyalah kakak iparnya.
"Eh, kalian. Ayo duduk, Mama panggil Papa dulu" Ucap Lena saat melihat kedatangan anak dan menantunya di meja makan.
Chacha sudah jarang membantu menyiapkan makanan ketika berkunjung ke rumah mertuanya sejak kehamilannya. Pasalnya sang oma kece itu mendadak menjadi protektif pada sang menantu. Chacha dilarang ini dan itu. Padahal Lena juga sesama wanita, bahkan memiliki dua anak. Mungkin rasa bahagianya yang terlalu berlebihan akan memiliki 3 cucu kembar membuatnya protektif pada Chacha.
"Mas habis ini langsung ke rumah sakit ya" Pinta Chacha pada Levy. Karena sejak Bu Ratu sadar, Chacha belum menjenguknya lagi.
"Iya sayang, kan memang tujuan kita awalnya ke sana. Tapi kita malah mampir dulu ke sini"
"Ya nggak papa juga"
"Bunda kamu sudah sadar, nak? " Tanya Lenardi yang berjalan mendekati meja makan bersama Lena.
"Kata Kak Shiro sudah, Pa. Chacha belum ke sana lagi, Abang juga belum kasih kabar"
"Mungkin lupa cinta" Ucap Levy menenangkan.
"Ya sudah ayo makan dulu, itu Mama buatkan salad buat kamu. Kata Levy kamu seneng banget makan salad buah"
"Tadi yang mau ke sini juga makan salad buah? " Chacha mengangguk saja membuat mertuanya melongo.
"Mama gak usah heran, dia sehari bisa habis lima kotak salad buah" Jawab Levy sambil terkekeh, sedang tersangka utamanya hanya nyengir kuda.
Lena dan Lenardi hanya mampu menggelengkan kepala melihat perubahan menantunya saat hamil itu. Chacha memang foodies namun tak ada yang tahu. Meskipun dia disibukkan dengan setiap masalah yang dihadapinya, dia tak pernah melupakan yang namanya makanan atau cemilan di sampingnya.
Mereka baru menghabiskan separuh makanan yang ada di piring masing-masing harus terhenti saat ponsel Levy berdering nyaring. Levy melirik sekilas ke arah ponselnya yang ada di dekatnya. Saat melihat siapa yang memanggil Levy langsung sigap mengangkatnya.
"Ya Bang? "
"Ke rumah sakit sekarang, Audy akan melahirkan" Levy sempat terdiam sesaat mencerna semua ucapan kakak iparnya itu.
"Oke, aku dan Chacha akan segera tiba" Levy mematikan sambungan teleponnya.
"Bang Nial, Mas? " Tanya Chacha santai saat Levy meletakkan kembali ponselnya.
"Sudah makannya cinta? "
__ADS_1
"Kenapa? "
"Kita harus ke rumah sakit sekarang"
"Kenapa? Apa kondisi bunda memburuk, bukannya bunda sudah membaik? " Tanya Chacha langsung panik.
"Hei hei, tenang dulu" Levy langsung bangkit dan memeluk istrinya. "Bunda gak papa, Abang menelfon karena Audy akan melahirkan" Chacha memejamkan matanya, rasa lega merayap di hatinya.
"Ayo ke rumah sakit, kita harus ada di samping Audy" Chacha dengan semangat langsung bangkit.
"Habiskan dulu makanannya, nak. Habis itu langsung berangkat. Nanti Mama dan Papa akan menyusul, kabari jika ada sesuatu Lev" Perintah Lena, sang ratu di kediaman itu.
Dengan patuh Chacha menyelesaikan makan siangnya, begitu juga dengan Levy.
...****************...
"Mas? " Kini keduanya sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit. Levy mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, karena King sudah memberi kabar jika Audy sudah melahirkan dengan cara normal.
"Hmm" Levy hanya menjawab ala kadarnya, dirinya fokus pada jalanan yang lagi macet.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padaku? " Tanya Chacha tiba-tiba.
Levy langsung mengerem mendadak, menoleh ke arah istrinya. Chacha dapat menangkap pandangan tajam penuh tanya di sana.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu? " Tanya Levy setelah sadar dari keterkejutannya.
"Aku hanya bertanya Mas, bagaimana jika terjadi sesuatu padaku? "
"Selama kamu diam dengan tenang dan tak beranjak dari sisiku, aku pastikan semuanya aman, sayang. Jangan membuat aku khawatir, cinta. Apapun akan aku lakukan demi kamu dan calon anak-anak kita. Tak akan terjadi apapun dengan ku jika kau terus disisi ku, aku tameng mu cinta" Levy berucap dengan pandangan lurus ke depan, sebelah tangannya memegang setir, satunya lagi memegang tangan Chacha.
Tuhan, perasaan apa ini. Kenapa aku gelisah, jika memang kau menakdirkan sesuatu yang buruk padaku. Satu pintaku, bahagiakan dia dengan cara-Mu. Kuatkan hatinya untuk menerima segalanya. Jika boleh memilih, aku rela menukar seluruh hidupku demi kebahagiaan nya. Batin Chacha sambil memandangi suaminya yang serius menatap ke arah depan.
"Aku tau itu, kamu suami dan Papa terbaik" Chacha membalas ucapan Levy dengan senyum mengembang.
"Jangan berbicara seperti itu lagi, cinta. Kamu tau, kamu dunia ku, kamu nyawaku, kamu jantungku, kamu cahaya hidupku. Kamu yang paling tahu bagaimana sepak terjang ku selama ini, aku harap kamu terus baik-baik saja untuk mendampingi melihat dunia ini lebih lama. Merawat anak-anak kita nanti, dan menua bersama ku, cinta"
"Mas.. "
"Jangan mengatakan hal-hal yang membuatku takut, sayang. Jika boleh memilih siapa yang lebih dulu mati. Aku rela mati terlebih dahulu, tapi sebelum mati aku harus memastikan jika kau akan bahagia setelah kematian ku"
"Tidak-tidak, kamu tak boleh meninggalkan aku" Air mata Chacha lolos begitu saja.
__ADS_1
"Cinta" Levy menoleh dan menghapus air mata istrinya, kebetulan sekali didepan sedang lampu merah. "Percayalah pada takdir, jika kita akan selalu bersama. Kita pernah terpisah berulang kali, namun takdir selalu mempertemukan kita dan menyatukan kita kembali. Aku mohon, kuatlah untuk selalu di sampingku, bertahanlah untuk selalu berdiri tegak di sampingku. Kamu kekuatan ku, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku. Aku tak bisa tanpa mu, ingat sayang. Sebentar lagi kita akan memiliki anak, ingatlah ada buah hati kita yang akan menjadi tali erat hubungan kita"
Levy mengecup setiap inci wajah istrinya itu. Sungguh Levy masih kepikiran dengan ucapan Chacha, selama ini firasat seorang Chacha tak pernah meleset. Levy hanya bisa menenangkan. Dia hanya mengantisipasi kejadian buruk akan terjadi. Tapi, dia tak pernah tahu, tangan takdir akan berjalan seperti apa.