Call Me Queen

Call Me Queen
Apa aku bisa makan?


__ADS_3

Chacha mencoba menghubungi suaminya, dia yakin saat ini suaminya sudah sampai. Karena terlalu rindu dan lelah menangis dirinya ketiduran. Melewatkan jam makan siangnya.


Itu sebabnya Chacha menghubungi Levy, setidaknya bisa melakukan Video call meskipun hanya sebentar untuk menemani dirinya makan. Jujur dirinya lapar, namun tak ada sedikitpun makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya ketika suaminya tak ada disampingnya.


Chacha mendesah pelan saat panggilannya tak kunjung dijawab oleh suaminya. Sesibuk itukah sampai mengangkat sebentar saja panggilannya.


Dari pada berpikiran yang tidak-tidak, Chacha lebih memilih menyegarkan dirinya. Meskipun ini masih jam 3 namun Chacha lebih memilih menikmati air hangat.


Belum juga Chacha beranjak dari kasurnya, ponselnya bergetar. Rupanya Levy yang menelfon nya. Dengan wajah sumringah Chacha mengangkatnya.


"Mas"


"Ada apa? Aku sedang sibuk"


"Maaf mengganggu, lanjutkan kerjanya. Semangat papa" Chacha langsung mematikan panggilannya. Tanpa sadar dirinya kembali menangis.


"Sabar ya nak, kuatlah sampai papa kembali" Chacha langsung bergegas ke kamar mandi. Dia tak mau larut dalam kesedihannya karena sikap Levy.


Diujung sana Levy terpaku di tempatnya saat Chacha menyebut dirinya dengan panggilan 'papa'. Dihubungi nya kembali istrinya, namun nihil hingga panggilan ke lima Chacha tetap tak mengangkatnya.


Setelah selesai mandi dan berganti baju, Chacha langsung duduk tanpa melirik sedikitpun ke arah ponselnya. Chacha langsung mengambil laptopnya. Jemari lentiknya menari dengan lincah dan cepat di atas tuts keyboard.


Wajahnya berubah dingin ketika melihat tampilan layarnya. Ada kilatan marah di matanya. Jemarinya bergerak semakin cepat, kegiatan ini sudah biasa Chacha lakukan. Terbiasa bergerak di belakang layar membuatnya tak kesulitan untuk mengetahui apapun yang ditutup rapat oleh lawannya.


Tanpa sadar hari sudah mulai petang, Chacha masih asik dengan laptop di pangkuannya. Tak menghiraukan apapun di sekitarnya, dia masih sibuk menatap layar laptopnya. Hingga ketukan Mbak Ida mengharuskan dirinya menghentikan aktivitasnya.


"Sebentar lagi, Mbak" jawabnya sedikit berteriak ketika Mbak Ida memanggilnya untuk keluar.


Chacha mengakhiri kegiatannya dengan laptop kesayangannya. Laptop spek tinggi yang dia rakit sendiri. Menghela napasnya pelan.


Semoga ini bisa membantu. Batinnya.


Chacha meletakkan kembali laptopnya ke tempat semula. Dirinya bergegas keluar sebelum jiwa emak-emak Mbak Ida keluar. Karena Mbak Ida tak segan mengomel jika dirinya melewatkan jam makannya.


Chacha sampai di meja makan, tampak Mbak Ida sudah menunggu kedatangannya. Chacha dapat melihat semua masakan kesukaannya terhidang di meja makan. Menggiurkan menurutnya. Tapi sejurus kemudian wajahnya berubah sendu.


"Kenapa? " tanya Mbak Ida pelan.


"Apa bisa aku makan, Mbak? "


"Kenapa tidak? "


"Takut seperti tadi"

__ADS_1


"Dicoba aja dulu non, atau non kecil bisa hubungi den Levy" Chacha hanya menggeleng.


"Mas Levy sibuk, Mbak. Kalau aku ganggu yang ada malah nambah lama disana nya" Mbak Ida hanya tersenyum, nona kecilnya merindu. Biasanya dia terlihat cuek dengan sekitarnya, meskipun dalam cueknya dia sangat memperhatikan sekitarnya, terutama keluarganya.


"Aku coba ya, Mbak" Chacha mulai menyuapkan makanan ke mulutnya, mengunyahnya pelan. Matanya terpejam, kali ini harus berhasil. Meskipun tanpa Levy dia harus bisa makan.


Namun sayang, dirinya harus kembali berlari ke arah kamar mandi untuk memuntahkan semuanya. Dia terduduk bersandar ke tembok, matanya terpejam. Mengatur nafasnya yang masih tersengal. Mengelus pelan perutnya.


"Sabar papa pasti pulang nak"


Mbak Ida masuk dengan tatapan iba pada nona kecilnya ini. Seharian tak ada asupan apapun yang masuk ke dalam tubuhnya. Namun wanita cantik ini tetap tersenyum. Mbak Ida tahu, Chacha tak ingin membuatnya khawatir.


"Ayo Mbak bantu" Chacha hanya mengangguk. Mbak Ida memapahnya ke kamar tamu.


"Istirahat disini saja non, Mbak takutnya non gak kuat naik tangga" Chacha hanya mengangguk dengan tersenyum tipis. "Mbak panggilkan non Diva ya, non? "


"Gak usah Mbak, nanti juga aku makan kalau Mas Levy sudah menelfon, tak apa Mbak letak saja makanannya diatas meja makan. Nanti aku akan makan"


"Saya di luar non, kalau butuh apa-apa langsung panggil saja"


Di kota lain Levy terdiam kaget saat melihat salah satu bawahan kepercayaannya bersimpuh di hadapannya. Bahkan dia rela menghampirinya di hotel tempatnya menginap. Bukankah tadi mereka sudah bertemu? Lalu ini apa?


"Pak Levy memanggil saya? " ucap sekertaris Levy dengan nada antusias saat mendengar panggilan dari bosnya.


"Ba-baik pak"


"Kamu boleh keluar" masih dengan tatapan bingung dia keluar, melihat tatapan tajam Levy membuat nyalinya ciut.


"Sekarang katakan ada apa, kenapa kamu sampai berlutut di depan ku? "


"Ma-maafkan saya tuan"


"Maaf untuk apa? "


"Kekacauan perusahaan"


"Jadi kamu penyebabnya? " bawahan Levy mengangguk dalam. Tak butuh banyak kata jika sedang menjelaskan pada Levy, karena dia bisa menangkap apa saja yang lawan bicaranya mainkan.


"Maafkan saya tuan, saya salah. Tolong maafkan saya"


"Sejak kapan? "


"Dua tahun yang lalu, Tuan"

__ADS_1


"Kenapa baru sekarang? "


"Maafkan saya tuan, maafkan saya. Saya terpaksa korupsi besar-besaran karena anak saya sakit dan butuh biaya yang sangat besar"


"Lanjutkan"


"Dia sedang dirawat di luar negeri untuk mengobati penyakitnya, saya mohon tuan maafkan saya. Saya berjanji akan menggantinya secara perlahan tuan. Tapi mohon bujuk istri anda untuk tidak mencabut semua fasilitas anak saya di luar negeri"


"Maksudnya? " Levy benar-benar bingung, kenapa istrinya dibawa-bawa.


"Nyonya muda, sejak tiga hari yang lalu akun saya diretas habis-habisan oleh istri anda. Awalnya saya tidak tahu, namun dia menelfon saya dan memberitahunya. Saya pikir nyonya muda tak akan mencampuri urusan perusahaan anda, saya mengabaikan nya. Nyonya muda kembali menyerang akun saya kemarin sore, itu adalah puncaknya. Hingga akun saya tak bisa dibuka kembali" Levy ingat ketika dia menegur Chacha di mobil saat perjalanan ke rumah opanya. Tapi kenapa Chacha malah menanyakan hubungan Nena dan Putra saat itu.


"Lalu? "


"Saya mohon tuan, bujuk nyonya muda agar tak mencabut fasilitas anak saya. Saya siap dipenjara tuan, saya siap menanggung semuanya. Tapi, tolong jangan sangkut pautkan istri dan anak saya. Mereka hanya tau saya mendapatkan bonus besar untuk biaya perawatan anak saya"


"Kembali lah dulu. Nanti saya hubungi lagi" Levy memijat pelan pelipisnya.


"Tapi tuan? "


"Biarkan saya berpikir"


"Baik tuan, saya permisi"


Levy diam dan merenung, jadi istrinya diam-diam membantunya. Bahkan masalah ini begitu rumit menurutnya. Levy memang mengetahui jika ada korupsi besar-besaran di cabang perusahaan miliknya. Namun dia belum menemukan pelakunya. Sedangkan istrinya sudah bergerak satu langkah di depannya.


Lamunannya tentang istrinya buyar ketika ponselnya berbunyi. Levy mengernyit bingung. Nomor khusus milik keluarga Izhaka menghubunginya ada apa?


"Ya? "


"Den Levy, ini Mbak Ida"


"Ada apa, Mbak? "


"Maaf kalau sebelumnya lancang, bisa tidak jika den Levy menghubungi non kecil. Nona belum makan sejak pagi, apapun yang dimakannya selalu di muntah kan" Levy seakan tersadar jika sejak semalam dia mengabaikan istrinya.


"Bisa berikan ponselnya pada Chacha, Mbak? "


"Eh, non kecil" Mbak Ida berteriak.


"Mbak, Mbak Ida, Mbak"


Levy panik saat Mbak Ida berteriak. Pikiran negatif langsung menghampiri benaknya. Tanpa banyak berpikir lagi Levy langsung meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2