Call Me Queen

Call Me Queen
Sahabat


__ADS_3

Chacha sampai di mansion utama memakirkan motornya sembarangan lalu masuk kedalam tanpa memperdulikan pengawalnya yang menatapnya heran bahkan sapaan mereka tak ditanggapi sama sekali.


"Mbak Ida" Chacha sedikit berteriak memanggil kepala pelayan yang ada di mansion itu.


"Ealah Mbak kira siapa ternyata non cantik, tho" ucap Mbak Ida setelah sampai didepan Chacha.


"Buatin Chacha lemon tea ya, sama apa ya cemilannya" ucapnya sambil berpikir.


"Roti bakar atau ..."


"Roti bakar selai strawberry Chacha tunggu di ruang kerja ya" ucapnya memotong ucapan sang kepala pelayan.


Kepala pelayan sendiri hanya menggelengkan kepala melihat tingkah majikannya itu. Tapi meskipun Chacha bisa disebut majikan tapi semua pekerja di mansionnya dianggap sebagai keluarga itu mengapa mereka begitu memanjakan nonanya yang memiliki tingkah absurd.


"Ada lagi non?" tanya Mbak Ida.


"Mulai saat ini Chacha tinggal disini jadi siapin sarapan Chacha ya"


"Siap non cantik" ucap Mbak Ida semangat.


"Yang lain kemana kok sepi?"


"Lagi nonton sinetron non dibelakang" Chacha hanya mengangguk lalu berlalu keruang kerjanya.


"Aiya ngapain sekarang gue disini" gerutunya setelah sampai di ruang kerjanya. Chacha memilih mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya diruangan itu. Lalu mulai menghidupkan laptop didepannya. Mengecek satu per satu email yang dia terima dengan ekspresi berbeda-beda.


Dirinya mengangkat pandangannya ketika Mbak Ida masuk mengantarkan pesanannya tadi.


"Nanti kalau Abang datang langsung suruh masuk kesini ya Mbak"


"Siap non" Chacha hanya mengangguk sedangkan Mbak Ida langsung undur diri.


"Aiya lupa kan. Bisa salah masuk rumah tuh anak-anak besok kalo mau nyamperin gue"


Chacha langsung merogoh ponselnya didalam ranselnya dan mengirim beberapa pesan di grup chatnya tak lupa juga memberikan alamat agar sahabatnya menemuinya di mansionnya bukan di kediaman Effendy lagi.


"Fan gue ngirim sesuatu ke lo tunjukkin itu besok ke penjaga didepan biar kalian bisa masuk" ucapnya setelah panggilannya tersambung dengan Fany.


" .... "


"Gue tunggu besok kalian di rumah pribadi gue" langsung mematikan sambungannya seperti biasa.


Cklek


Chacha menoleh kearah pintu, ternyata abangnya sudah sampai.


"Gimana Bunda, Bang?"


"Ya seperti itu menegangkan. Bunda tau apa yang selama ini Audy lakuin ke kamu"


"Pastilah Bunda itu punya mata-mata buat jagain adek" jawabnya sombong.


"Tau darimana?" cibir Rey.


"Yang disuruh ngawasin adek anak buah sendiri" Chacha langsung tertawa disusul dengan Rey yang juga tertawa.


"Gimana kantor Abang?"

__ADS_1


"Lancar kok dek"


"Jadi kerja sama sama perusahaan adek?"


"Jadi. Minggu depan Abang kirim proposalnya"


"Kasih ke Kak Shaldon aja langsung, Bang"


"Emang gak papa?"


"Kalo Abang ke perusahaan aku sendiri pasti banyak ini itu. Susah buat nemuin Kak Shaldon"


"Oke deh. Btw Shaldon bakal tinggal di apart kamu dek?"


"Iya daripada kosong. Ntar kan kalo nikah ikut Abang"


"Emmm" gumam Rey. "Istirahat gih udah malem" seru Rey lembut.


"Abang nginep sini atau balik?"


"Nginep kali ya besok langsung ngantor, baju abang ada kan?"


"Cek lah di kamarnya sendiri. Bye Abang, good night" Chacha berlalu meninggalkan Rey yang masih duduk diruang kerjanya.


...****************...


Lain halnya dengan kediaman Effendy yang terus menegang karena sang nyonya rumah berubah menjadi dingin seketika.


"Bunda tapi Chacha salah juga. Sudahlah jangan menghakimi Audy terus menerus"


"Iya Nyonya"


"Ambilkan kartu akses kamar Chacha" Si Mbok langsung mengambil kartu akses kamar nona kesayangannya.


"Ini Nya"


"Bunda mau kemana?" tanya Ayah Gun.


"Tidur dikamar Chacha" jawabnya dingin langsung berlalu.


"Ayah, Bunda marah sama aku ya?" lirih Audy setelah Bu Ratu tak terlihat.


"Bunda cuma emosi sesaat tenanglah"


"Pertunangan aku gimana yah?"


"Akan tetap berjalan sebagaimana mestinya" setelah mengatakan itu Ayah Gun langsung beranjak meninggal Audy seorang diri di ruang keluarga.


"Sialan gara-gara anak satu itu rencana gue hampir aja ketahuan" dengus Audy.


...****************...


Tok... tok... tok...


"Non cantik sudah pagi waktunya sarapan" ucap Mbak Ida didepan pintu kamar Chacha.


"Ya Mbak, Chacha udah bangun. Tunggu aja dibawah jangan lupa bangunin Abang" teriaknya dari dalam.

__ADS_1


Setelah dari kamar nonanya kali ini berpindah ke kamar sang tuan muda tapi belum juga mengetuk pintu, pintunya sudah terbuka duluan.


"Eh Mbak Ida kesini mau bangunin Rey ya"


"Iya tuan muda"


"Adek gimana?"


"Minta ditunggu dibawah Tuan" Rey mengangguk langsung mendahului untuk meninggalkan lantai 2.


Pada dasarnya mansion utama Chacha terdiri dari tiga lantai. Lantai atas adalah wilayah pribadinya yang tak terjamah oleh siapapun kecuali dirinya.


"Pagi Abang" sapa gadis mungil setelah sampai di meja makan.


"Pagi cantik"


Mereka memulai sarapan dengan tenang dan hanya berdua. Karena para pelayan dan penjaga juga tengah sarapan bersama di halaman belakang dan di taman depan. Sebenarnya Chacha pernah meminta mereka untuk makan bersama di meja makan namun mereka semua menolak dan memilih tempat sendiri untuk makan bersama.


"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rey sebelum berangkat ke kantornya.


"Masih bingung. Minggu depan juga udah mulai masuk sekolah kan jadi sisanya leyeh-leyeh di rumah dong" jawabnya sambil nyengir kuda.


"Semerdeka kamu aja lah. Abang berangkat dulu ya" ucapnya sambil mengecup kening sang adik.


"Hati-hati" balas Chacha pada abangnya.


Tak selang berapa lama Rey berangkat ke kantornya para perusuh Chacha sudah sampai di mansionnya.


"Gila ini rumah apa istana. Gede banget" seru Kinos saat turun dari mobil Levy.


"Chacha bilang rumah pribadi ini mah mansion" tambah Fany.


"Gila emang tuh anak. Sekaya apa sih dia" gumam Karin.


"Kagak usah mikir kekayaan princess ntar pusing sendiri kalian" balas Levy.


"Ngapain diluar ayo masuk" ucapan Chacha membuat mereka semua sadar kalau mereka masih diluar mansion.


"Lah itu anak ngilang lagi" ujar Putra.


"Dah ayo masuk" seru Nena.


Mereka semua memasuki mansion Chacha dengan perasaan canggung pasalnya mansion Chacha sangat besar dan kelihatan mewah dengan perpaduan warna putih dan gold. Chacha sendiri sudah keluar dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


"Ayo duduk" tegur Chacha yang melihat sahabatnya masih berdiri mematung kecuali Levy yang terlihat santai.


Chacha hanya terkikik geli melihat sahabatnya duduk dengan canggung disofanya. Chacha langsung melemparkan dirinya kepelukan Levy yang belum duduk. Memeluknya dengan erat.


"Ada apa hmm?" tanya Levy lembut sambil mengusap rambut Chacha. Chacha hanya menggeleng dalam pelukan Levy. Levy memperat pelukannya pada Chacha.


"Cha" usapan lembut di punggungnya menyadarkan Chacha bahwa dirinya tak hanya dengan Levy di ruangan itu. Lalu dirinya melepaskan pelukannya dari Levy dan menatap Fany.


"Lo gak papa?"


"Emang gue kenapa?"


"Berita lo udah nyebar di media Cha" lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2