
Jam setengah empat mereka sudah berkumpul di mansion Levy, tak hanya teman-teman Levy yang dari LA, di sana juga ada para sahabat Chacha, anggota FF lengkap.
"Jarang nih kita kumpul kayak gini" Cerocos Karin.
"Kalo bukan Queen mau balapan kita juga gak bakal ninggalin pekerjaan" Desah Kinos.
"Jadi lo terpaksa kesini, Nos? " Tanya Levy dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Bukan gitu lah, Lev. Gue ada tender baru, papa nyerahin semuanya ke gue" Jawab Kinos.
"Sorry, gue gak tau kalo lo lagi sibuk. Tapi lo boleh balik" Ucap Levy.
"Udah sampek sini juga, ngapain balik" Ucap Kimos dengan cengirannya.
"Kalo lo masih mau disini ngapain ngomong kayak tadi. Untung Queen belom dateng"
Teman-teman Levy takjub melihat kedekatan Levy dengan para sahabatnya. Setelah berkenalan dengan para sahabat Levy, mereka merasa insecure sendiri. Bagaimana tidak diantara mereka hanya Kinos dan Putra yang meneruskan usaha orang tuanya, selebihnya mereka memimpin perusahaan mereka sendiri. Sedangkan mereka yang merasa sukses di negaranya tak lebih hanya seperti semut jika dibandingkan dengan sahabat Levy.
Pukul empat tepat, mobil sport keluaran terbaru berhenti didepan mereka. Alexsa dan teman-temannya takjub melihat mobil itu, sedangkan para sahabat Chacha sudah tersenyum sumringah. Menunggu sang pemilik mobil keluar.
"Chacha, kita kangen" Mereka berempat berteriak lalu berlari dan memeluk Chacha yang baru turun dari mobil. Chacha nyaris terjungkal karena ulah para sahabatnya ini.
"Bisa kalian normal dikit gak sih? Kalo gue jatuh gimana? Lo mau dimutilasi pawang gue? "
"Ngeri lu ah"
Chacha menggiring sahabatnya ke tempat dimana mereka menunggu tadi. Setelah berbasa-basi Chacha langsung mengatakan tujuannya.
"Nanti kita balapan pakai mobil itu. Rin gue pinjem mobil lo, biar dipake Alexsa. Jika nanti ada kerusakan tinggal total"
"Beres"
"Lo keberatan atau kita akan ganti mobil? " Tanya Chacha saat melihat wajah tak percaya Alexsa, bahkan teman-temannya juga.
"Ah tidak. Apa tak apa aku mengendarai mobil milik teman mu? " Tanya Alexsa.
"Kau takut merusaknya tanpa sengaja? " Alexsa mengangguk. Bagaimanapun setiap balapan tak semuanya mulus. Pasti ada akibatnya.
"Jika bisa kau hancurkan saja mobilku, aku tak akan marah. Nanti aku akan minta mobil baru saja pada dia" Gurau Karin sambil menunjuk Chacha dengan dagunya.
"Sure, kalau kau bisa hancurkan sekalian mobil itu. Dan untuk mu nona Karin, maaf tak ada mobil baru, calon suamimu cukup mengerikan jika aku membiarkan mu mengikuti hobby ku" Canda Chacha.
Karin langsung menoleh ke arah Elang yang masih diam dalam ketenangannya. Menatap Karin dengan tatapan bertanya. Namun Karin malah melengos.
__ADS_1
"Oke, sekarang kita berangkat. Kalian bisa mengikuti mobil ku" Instruksi Chacha.
Levy langsung mengambil alih kunci yang ada ditangan istrinya itu. Kini dirinya yang akan menyetir. Levy masih bertahan dalam diamnya sejak ajakan tadi. Bahkan dirinya hanya sedikit bicara pada Chacha. Levy memilih diam, agar emosinya tak melukai siapapun. Ingin sekali dia menenangkan diri, namun apa daya ia harus mendampingi istrinya untuk saat ini.
"Mas? " Panggil Chacha dengan lembut.
Sungguh Levy meleleh dibuatnya. Ya ampun bagaimana dirinya bisa marah pada istrinya ini. Jika untuk memanggil dirinya saja dia selembut ini. Namun Levy ingin Chacha menyadari kesalahannya.
"Maaf aku langsung mengambil keputusan tanpa berdiskusi dulu dengan mu. Tapi sungguh aku marah ketika menurutku teman-teman mu itu meremehkan pernikahan kita"
"Meskipun belum dipublikasikan, tapi tak seharusnya mereka bersikap seperti itu. Mereka menganggap seakan aku itu tak pantas bersanding denganmu" Jelas Chacha sambil meremas kedua tangannya.
Emosi Chacha sebenarnya sejak tadi sudah sampai di ubun-ubun. Namun, ia tahan agar tak ada yang mengetahui. Namun, siapa sangka saat dirinya berjuang menahan amarnya, suaminya justru mendiamkannya.
Levy melirik Chacha sekilas. Tampaknya Chacha sedang menunduk dan meremas kedua tangannya. Levy tahu sebentar lagi istrinya ini akan menangis. Karena dirinya juga tahu, hanya di depan dirinya Chacha menjadi diri sendiri tanpa memakai topeng bahwa dia kuat dan tegar.
"Maafin Mas ya, Sayang" Ucap Levy lembut seraya mengelus kepala Chacha.
Benar saja Chacha langsung memeluk dirinya, tangisnya pecah. Levy hanya tersenyum tipis.
"Jangan mendiamkan aku, Mas" Isaknya.
"Maaf, Mas memilih diam karena Mas juga emosi dengan sikap mereka, sayang"
Levy terpaksa menyetir menggunakan satu tangannya. Karena tangan lainnya sedang sibuk merengkuh tubuh istrinya.
"Beristirahat lah di sana" Tunjuk Chacha pada rumah minimalis.
"Rumah siapa? "
"Punya gue, lo lupa apa gimana sih, Na? "
"Bukan lupa, Cha. Tapi kayaknya gak gitu deh"
"Gue ubah. Butuh suasana baru. Istirahat lah, nanti kita akan balapan jam sepuluh malam"
Mereka langsung menuju rumah yang tak jauh dari tempat mereka saat ini. Sedangkan Chacha sendiri menunggu orang-orangnya yang mengurus tempat ini.
"Queen? "
"Kakak kebiasaan, coba kalo dateng itu jangan bikin orang kaget" Omel Chacha. Sedangkan orang yang baru datang hanya bisa terkekeh geli.
"Kenapa tiba-tiba ingin memakai sirkuit ini? "
__ADS_1
"Biasa, dapet tantangan. Tapi minta di sirkuit"
"Apa taruhannya? "
"Pernikahan Aku"
"Serius? "
"Emm, makanya Aku minta kakak buka jalur maut"
"Kamu yakin? "
"Nanti aku tes duluan, jika ada kendala. Kita pakai rute kedua. Katanya dia ratunya balapan di LA. Itu bener, Mas? " Tanya Chacha pada Levy yang sejak tadi hanya menyimak.
"Ya bisa dibilang begitu, dia mampu unggul di atas para lawannya yang notabene nya laki-laki"
"Oh"
"Jam berapa kamu mau mulai? "
"Jam sepuluh, ini tak akan lama. Aku hanya akan meminta tiga putaran saja"
"Terserah dirimu saja. Kakak siapkan lainnya dulu. Kau butuh helikopter untuk memantau? "
"Boleh, biarkan Karin yang bertugas di atas nanti"
"Baiklah"
"Mas, aku udah pesen makan. Kalian makan malam duluan, sebentar lagi aku nyusul"
"Bareng aja"
"Kamu duluan, suruh mereka makan. Aku ke ruang kontrol sebentar. Nanti pasti kesana aku mau ganti baju" Levy hanya mengangguk dan melangkah meninggalkan Chacha.
Chacha melangkah kan kakinya gedung tersekat dari tempatnya berdiri. Disana adalah ruang kontrol untuk sirkuit ini. Chacha mulai memerintahkan untuk menghidupkan seluruh lampu disepanjang jalan. Lalu Chacha menerbangkan drone untuk memantau keseluruhan.
"Total ada 29 belokan dengan 1 belokan jalur maut" Ucap anak buahnya yang bertugas menjaga ruang kontrol.
"Buka jalur maut hanya untuk malam ini. Buka juga jalur kedua"
"Sebenarnya kamu ini akan pakai jalur yang mana? "
"Lihat kesiapan lawan lah. Bukan aku yang nantangin, jadi aku ikut aja Kak"
__ADS_1
"Ya sudah, kakak siapkan semuanya dulu. Sana makan malam dulu, makanan sudah datang"
"Oke, aku kembali dulu"