Call Me Queen

Call Me Queen
Tumbang


__ADS_3

"Mbak ida, nona kecil belum bangun? " tanya Ratih pada kepala pelayan.


Pagi ini mereka sudah berjejer rapi di meja makan, semuanya menginap semalam. Jadi tak heran kenapa meja makan saat ini sangat ramai. Disana juga tampak Audy dan Kevin yang duduk berdampingan. Rupanya Kevin memilih mempertahankan pernikahannya yang baru ia mulai itu.


"Belum nyonya"


"Tumben? Ini juga temen kalian kurang satu kan"


"Udah biarin mereka, Ratih. Nanti kalo lapar mereka, mereka akan turun dengan sendirinya"


Mereka melanjutkan sarapan pagi tanpa Chacha dan Levy. Sedangkan di dalam kamar dua insan sedang terbuai dengan alam mimpinya. Tak terusik dengan cahaya matahari yang menyusup melalui celah-celah gorden kamar. Hingga salah satu dari mereka terbangun.


"Engh" Chacha mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


Chacha memiliki kebiasaan ketika bangun tidur, dirinya tak akan langsung bangkit dari kasur, melainkan tetap merebahkan tubuhnya sebentar guna mengumpulkan semua nyawanya. Karena pernah sekali dirinya langsung bangun malah kesialan yang dia dapat. Lutut terbentur lemari di samping kasur dan dahinya malah menabrak pintu saat akan ke kamar mandi. Sejak saat itu dirinya memilih mengumpulkan nyawanya diatas tempat tidur, atau kadang duduk dulu.


Saat hendak bangkit, Chacha merasa beban berat di bagian perutnya. Chacha menoleh ke belakang, ternyata Levy yang memeluknya. Jika sedang bersama mereka memang sering melakukan ini, tidur bersama dan saling memeluk. Namun malam tadi Chacha tak ingat jika suaminya itu tidur disini, dia kira akan tidur dikamar lain mengingat yang mengetahui pernikahan mereka hanya segelintir orang.


Saat Chacha hendak mengangkat tangan Levy dari perutnya, bukannya terlepas malah semakin erat. Chacha menghembuskan nafasnya pelan. Ini kebiasaan buruk Levy jika sudah memeluknya saat tidur. Akan susah dilepaskan.


"Mas" Chacha menepuk pelan lengan Levy, berharap agar si empu bangun.


"Mas" panggil Chacha lagi. Kali ini Levy merespon.


Namun respon bukan seperti yang Chacha harapkan, Levy malah semakin merapatkan tubuhnya pada Chacha. Menenggelamkan wajah di tubuh bagian belakang Chacha.


"Mas, bangun"


"Masih ngantuk, Yang" jawabnya serak, khas orang bangun tidur.


"Ya udah kamu lanjut tidur aja. Aku mau turun"


"Akhir-akhir ini aku gak bisa tidur kalau gak meluk kamu, Yang"


"Alasan aja. Tiap malem juga sleep call kalo kita lagi gak serumah"


"Anggap aja aku lagi isi ulang tenaga aku, Yang"


"Tapi Chacha kebelet pipis, Mas" sontak Levy langsung melepaskan pelukannya, merasa beban di perutnya tak ada Chacha langsung berlari ke arah kamar mandi.


Levy masih asik memejamkan matanya, guling hidupnya tak ada tidurnya kembali tak nyenyak. Tapi tubuhnya seperti enggan untuk bangun. Kepalanya serasa berputar, saat membuka mata pun sama. Jadi dirinya lebih memilih tetap memejamkan matanya.


Lima belas menit kemudian Chacha keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya. Rupanya Chacha sekalian mandi tadi. Melihat jam yang menempel di dinding Chacha hanya menganggukkan kepalanya saja. Mereka melewatkan sarapan pagi kali ini.

__ADS_1


Chacha melirik Levy yang masih asik memejamkan mata. Namun sesekali Levy mengernyitkan dahinya seperti menahan sesuatu, itu tak lepas dari pandangan Chacha.


"Mas, bangun dulu yuk. Sarapan" Chacha dengan lembut menggoyang betis Levy.


"Mas"


"Bentar, Yang. Pusing banget ini, berasa berputar aku" lirih Levy. Dirinya merasa tak punya tenaga saat ini.


Mendengar Levy yang mengeluh pusing, Chacha sontak mendekatinya. Meletakkan punggung tangannya di dahi Levy. Matanya membulat sempurna. Panas sekali.


Tanpa bertanya lagi dirinya langsung keluar. Menuruni tangga dengan tergesa. Berlari kerah tempat penyimpanan alat-alat medisnya di letakkan. Memang alat-alat medis miliknya ada di ruang tamu, bukan dikamar pribadinya.


Tindakan Chacha membuat yang lain bingung, pasalnya mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Jadi semua tindakan Chacha dapat mereka lihat.


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Chacha setengah berlari menaiki tangga dan langsung menuju kamarnya.


"Tuh anak kenapa? " heran Nena.


"Ditunggu juga kita mau pamitan, malah gak noleh sama sekali" timpal Zeze.


"Turun-turun malah buru-buru naik lagi" gerutu Karin.


Memang diantara mereka berempat yang paling sabar menghadapi sikap abnormal Chacha hanya Fany. Dia bahkan tak akan protes dengan apa yang dilakukan Chacha, berbeda dengan tiga sahabat lainnya. Yang akan bertanya ini itu.


"Lo aja deh, kak. Gue gak mau liat sendal terbang" jawab Karin.


"Sendal terbang? " beo Audy.


"Chacha tuh ya kalo lagi tidur gak bisa diganggu, sekalipun urgent jangan dibangunkan biarkan dia bangun dengan sendirinya" jawab Nena.


"Kenapa? "


"Kalo lo maksa lo bakal dilempar sendal sama Chacha, Karin sudah membuktikan" setelah berkata seperti itu Zeze langsung tertawa terbahak-bahak diikuti lainnya.


"Emang Karin pernah diapain? "


"Udah deh kak gak usah kepo" delik Karin. Yang lain hanya cekikikan.


"Ya kan penasaran" Audy menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Di dalam kamar Chacha sibuk memeriksa Levy yang masih setia memejamkan matanya.


"Kamu selama kita gak tinggal serumah, istirahat teratur gak sih, Mas? " Chacha memeriksa keadaan Levy dengan mengomel. Levy hanya bisa tersenyum tipis saat mendengarkan omelan yang dilontarkan Chacha.

__ADS_1


"Ya kan gak ada kamu"


"Apa hubungannya sama aku coba? "


"Kalo gak meluk kamu gak bisa nyenyak, Sayang"


"Itu alasan kamu aja"


"Kan gak percaya. Kamu mah gitu gak percayaan"


"Dih dih ngambek. Jangan kayak anak kecil deh, Mas. Selama aku gak bisa layani kamu, tolong jaga kesehatan. Pola makan sama istirahat yang teratur. Kamu tahu sendiri kita manusia dengan jam kerja super padat"


"Maka dari itu, Yang. Aku butuh istri yang bisa ngatur semuanya, yang bisa layani aku, yang bisa ingetin aku ini itu"


"Aku ngerti, Mas. Gimana mau gitu kamu aja gak ngasih tau mama sama papa kalo kita udah nikah" Chacha mencebik setelah mengatakan Itu.


Mendengar perkataan Chacha, Levy melebarkan senyumnya. Ini selangkah lagi Chacha akan mempublikasikan pernikahannya.


"Kok malah senyum sih. Ngeselin tau nggak"


"Iya iya, Sayang. Nanti aku atur jadwal buat ketemu mama sama papa"


"Jangan bentrok sama jadwal aku loh, Mas"


"Kamu ada jadwal kemana lagi? "


"Katanya mau diajakin refreshing"


"Ini akunya tumbang loh, Sayang. Yakin masih mau ngajak jalan. Aku sih ayo aja"


"Ya nggak sekarang juga, Mas" Levy hanya terkekeh mendengar istrinya yang merajuk.


"Iya iya, Sayang. Nanti aku atur"


"Jangan turun dari tempat tidur dulu, aku mau kebawah buatin kamu bubur"


"Iya sayang iya"


Chacha membereskan alat-alat medisnya yang selesai digunakan. Melirik sebentar kearah suaminya yang masih memejamkan matanya.


"Yang, buburnya pake ayam ya"


"Iya sayang iya, tenang aja aku buatin bubur spesial"

__ADS_1


"Oke"


__ADS_2