
"No. Jangan bilang Queen telat lompat gak gak ini gak mungkin" teriak Chiara frustasi saat netranya tak menangkap siluet Chacha yang melompat. Meskipun dia melompat dan berguling diaspal tapi matanya masih awas menatap mobil yang Chacha kendarai.
Yang lain hanya mematung melihat kejadian yang ada didepan matanya. Chiara, mobil yang menabrak pembatas jalan lalu terjun ke sungai dan meledak. Hingga mereka disadarkan oleh teriakan Chiara.
"Queen" Chiara kembali berteriak sambil berlari, tak peduli dengan badannya yang lecet sana sini akibat bersentuhan dengan aspal.
Mereka langsung menyusul Chiara yang sudah berlari mendekati jembatan.
"Chi jelasin ke gue ini ada apa sebenernya? " tanya Fany setelah sampai ditepi jembatan. Mereka berusaha setenang mungkin. Chiara masih menangis.
Levy membeku ditempatnya. Dia tau dengan jelas kejadiannya, karena kejadian itu tepat saat giliran Levy menyetir. Bagaimana dia mencoba mengejar mobil yang dikendarai Chacha, hingga Chiara yang melompat dari mobil dan berguling di jalanan. Dirinya memang mengerem mendadak, namun matanya tetap awas melihat mobil yang Chacha kendarai hingga menabrak pembatas jalan dan akhirnya meledak dibawah sana.
"Chiara" bentakan Fany menarik akal sehat Chiara.
"Ya" Chiara yang kaget langsung menghapus air matanya.
"Jelasin apa yang terjadi, Chiara? " tanya Elang dengan nada dingin.
Chiara mulai menjelaskan semua kejadiannya dengan detail. Dimana dia yang mengecek seluruh sisi mobil hingga menemukan bom yang terpasang tanpa mereka sadari. Dan, rencana Chacha yang tak masuk di akal, namun mau tidak mau dirinya harus tetap mengikuti ucapannya.
"Oh God" Elang memijit pelipisnya.
"Mobilnya hancur" ucap Zeze yang mulai terisak, begitu juga dengan lainnya.
"Rencana awalnya Chacha bakal lompat setelah mobil menabrak pembatas jalan kan? " Chiara hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kinos.
"Jika Chacha benar-benar melompat harusnya dia ada disini sekarang" yang lain mengangguk.
"Artinya Chacha tak keluar dari mobil itu"
"Bisa jadi iya bisa juga nggak"
"Kenapa lo berargumen begitu? "
"Soalnya tadi setelah Chiara keluar dari mobil, gue sempet liat pintu kemudi juga terbuka sebelum Levy mengerem mendadak"
"Ya harusnya Chacha bisa keluar, waktunya cukup untuk melompat"
"Atau mungkin? "
"Apa Fan? Jangan buat kita takut"
"Seat beltnya macet"
"Berarti Chacha kejebak di dalam mobil dong"
__ADS_1
"Nggak itu hanya argumen kalian kan. Gak mungkin" Karin mulai histeris.
"Tapi hanya itu kemungkinan yang ada"
"Katakan kalo itu bohong" Karin semakin histeris kala para sahabatnya mulai menganalisis kejadian. Mereka mulai menyusun rencana untuk turun mengecek keadaan.
"Kita bisa turun untuk cek, bener Chacha kejebak di mobil itu atau nggak? "
"Itu cukup dalam kita butuh tali yang panjang"
"Atau hubungi petugas saja? "
"Itu akan memakan waktu, kita harus bertindak. Jika memang Chacha terjebak siapa tau kita masih bisa menolongnya"
"Ya lo bener, sekarang kita cari tali atau apa saja yang bisa kita pakai buat turun ke bawah"
Mereka sibuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk turun kebawah. Guna mengecek keadaan Chacha. Mereka masih tetap mempertahankan ketenangannya meskipun hati mereka bergejolak akan sesuatu yang buruk. Pikiran-pikiran negatif mulai menghantui pikiran mereka.
"Katakan kalau Chacha selamat" Karin masih berteriak histeris. Tanpa babibu Elang langsung mendekap Karin. Memeluk erat gadis yang terus berontak dalam pelukannya. Hingga beberapa saat Karin mulai tenang saat Elang membisikkan kalimat-kalimat penenang di telinganya.
Karin memang petakilan dan seenaknya sendiri. Terkadang dirinya juga seakan tak peduli dengan para sahabatnya. Namun, jauh dari itu semua dalam hatinya dia sangat peduli, bahkan terkadang Karin sering diam-diam mengamati situasi agar tak terjadi sesuatu pada para sahabatnya. Itu juga salah satu alasan kenapa dirinya berlatih keras menjadi sniper saat memilih bergabung dengan Death Rose.
"Dapat? " Tanya Fany pada laki-laki yang sedang mencari tambang atau semacamnya.
"Di mobil ada tapi kurang panjang"
"Gimana kalo salah satu dari kita lompat kebawah untuk memastikan"
"Ide konyol dari mana itu"
"Bukan nyelametin malah nambah korban yang ada"
"Terus gimana? "
Levy benar-benar membeku kali ini. Entah apa yang ia rasakan kali ini. Cuma satu yang ia tahu, sakit lebih mendominasi saat ini. Saat ini dirinya benar-benar ingin menangis namun ditahan sekuat tenaga. Pikirannya kalut memikirkan kemungkinan terburuknya.
"Kita hanya bisa nunggu petugas sampai"
"Sudah ada yang telfon? "
"Gue udah hubungi, mereka kemungkinan akan tiba tiga puluh menit lagi"
"What? Gak kurang lama? "
"Kita dipertengahan. Jarak dari sini masih jauh untuk menemui rumah warga di depan sana dan kebelakang juga jauh"
__ADS_1
"Pantesan jalanan mulai tadi sepi"
"Kalian bisa terusin perjalanan, biar gue yang disini" ucap Chiara lemah.
"Gak ada yang terus sebelum kita dapat hasil" titah Levy mutlak tak ingin dibantah. Membuat yang lain melongo tak percaya. Levy yang biasanya selalu sinis pada Chacha, menghina Chacha, bahkan seakan gak peduli. Kini mulai memperhatikan lagi. Mereka dapat menangkap gurat khawatir dalam wajah Levy.
"Kak, Angel panas nih. Lanjutin aja ya, Angel juga capek" rengek Angel pada Levy. Sejak tadi sumpah serapah sudah ia lontarkan dalam hati.
"Lo bisa lanjut kok, Lev"
"Iya Lev. Lanjut aja, gue hubungi anak buah gue buat anter mobil ntar" Levy hanya menggeleng menanggapi suruhan sahabatnya.
"Jangan manja, Angel" Angel hanya mendelik mendengar ucapan Chiara.
"Kita gak bakalan apes kalo lo gak ikut"
"Maksud lo? "
"Lo emang dari dulu pembawa sial, tau gak"
"Jaga batasan lo, Angel"
"Apa? Emang bener kan lo sengaja nganterin gue buat lo bisa ikut"
"Hah? "
"Iya biar lo bisa deketin tunangan gue, iya kan? Gue tau gimana sikap lo sama Kak Levy selama kalian sekolah dulu. Lo emang kecentilan, genit, ganjen. Apa sih bisa lo Chiara, gak bisa apa lo jadi orang berguna sedikit saja" yang lain menatap tak percaya pada Angel. Angel yang mereka kenal selama ini sosok yang baik dan lembut kenapa berkata sekasar ini.
"Sekarang Kak Levy tunangan gue, bukan lagi deket sama temen murahan lo itu. Jadi jangan harap lo bisa goda tunangan gue"
Plak...
Plak...
Plak...
Plak...
Plak...
Empat kali tamparan Angel dapatkan dari sahabat Chacha dan ditambah satu lagi dari Chiara membuat Angel linglung seketika. Keempat nya menatap Angel nyalang. Tapi tindakan Chiara membuat mereka menghentikan langkah untuk membalas Angel.
"Jaga batasan lo selagi gue bisa nahan emosi gue. Jangan bacotan lo selagi gue berbaik hati mengalah sama lo. Jaga kelakuan lo selagi gue bisa memaklumi"
Plak...
__ADS_1
"Queen bukan wanita murahan" Chiara menarik rambut Angel membuatnya meringis menahan sakit. "Sekali lagi gue denger lo ngejelekin Queen dengan mulut sampah lo, gue pastiin saat itu juga hari terakhir lo ngeliat dunia ini" ancaman Chiara membuat nyali Angel menciut seketika.
Angel hanya bisa diam menahan amarahnya. Pipinya sakit akibat bekas tamparan yang ia terima. Dia melihat kearah Levy berharap mendapat pembelaan. Namun, apa yang dilihat membuatnya kecewa. Levy memalingkan wajahnya dan bersikap seperti tak terjadi apa-apa.