Call Me Queen

Call Me Queen
Basket


__ADS_3

"Loh..." Chacha menoleh ke belakang. Matanya membulat sempurna. Pemuda tampan berdarah campuran kini duduk disampingnya dengan senyum manisnya.


"Baby..." sapanya lembut.


Mata Chacha berkaca-kaca, dia langsung memeluk pemuda itu tak peduli ia menjadi tontonan karena ia sedang di pinggir lapangan basket. Sedangkan pemuda itu hanya terkekeh melihat ulah Chacha.


"I miss you, Babe,"


"I miss you too, Babe" jawab Chacha. "Kamu kapan sampai?" tanyanya.


"Last night" jawabnya singkat.


"Kenapa gak ngabari aku kalau kamu akan ke Indonesia?" ucapnya cemberut.


"Surprise sayang, kalau aku kasih tau namanya bukan kejutan" ucap pemuda itu.


"Kevin!" seruan seorang pemuda mengalihkan perhatian dua anak manusia tersebut.


"Levy?" ucap Kevin berdiri, lalu membolak balik badan Levy, "beneran Levy?" ucapnya tak percaya.


"I am Levy. By the way, apa yang lo lakuin disini, gak mungkin lo pindah sekolah kan?" tanya Levy.


"Ya enggak lah Lev, tahun ini gue kuliah. Sengaja kuliah disini gue" ucap Kevin tersenyum. Levy menaikkan sebelah alisnya.


"Kasian My love kalau harus LDR terus" jawabnya.


"My love? " tanya Levy. Kevin mengangguk seraya merangkul pundak Chacha sambil tersenyum. Levy terdiam layaknya patung. Matanya bertabrakan dengan mata Chacha. Pandangan Levy sulit diartikan. Tak lama. Levy mampu mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula. Tenang.


"Serius?" Kevin hanya mengangguk menjawab pertanyaan Levy.


"Babe, kenalin ini sahabat-sahabat aku, ini Zefana, Zefany, Karin, Nena, dan ini Mira" ucap Chacha.


Mereka berjabat tangan satu per satu hingga ketika berjabat tangan dengan Fany kevin terdiam. "She is my twin" ucap Zeze seakan tahu bahwa diamnya Kevin karena bingung.

__ADS_1


Keberadaan Kevin langsung membuat gempar se isi sekolah. Pasalnya baru pertama kali bule nyasar di lapangan basket. Apalagi ketika dia sejajar dengan Levy membuat siapapun yang melihat berteriak tertahan.


"Queen, ayo" ajak Levy pada Chacha sebagai kode untuk segera ke tengah lapangan.


"Queen?" tanya Kevin pada Chacha yang hendak pergi.


"Nanti aku jelaskan" ucap Chacha langsung berlari ke tengah lapangan.


"Wohoho, serius ini Lev, kita selapangan" ucap Putra pada Levy. Levy mengangkat alisnya tanda setuju.


"Kagak usah kusut gitu, gue jamin kita menang, Lev" tepukan di pundak Levy membuatnya menoleh.


"Nggak yakin gue, Queen" ucap Levy malas.


"Lo nggak percaya sama kemampuan lo sendiri? Ini bukan Levy yang gue kenal. Terserah lo, gue yang pegang kendali kali ini" ucap Chacha kesal.


"Ayo Fan" ajak Chacha.


Pertandingan dimulai Chacha dengan kesal mendrible bola ke area musuh. Namun, bukannya di lempar ke ring musuh, ia berbalik dan melempar bola ke kepala Levy yang berdiri layaknya patung.


"Queen!" teriak Levy yang langsung diangguki oleh Chacha. Levy maju merebut bola dari tim musuh. Setelah berhasil ia terus mendrible, dan langsung melempar bola ke ring musuh dari tengah lapangan. Penonton bersorak heboh mana kala bola masuk dengan cantiknya.


Chacha, Levy, dan Fany mendominasi permainan kali ini. Tak heran jika para siswa yang menonton membludak. Bagaimana tidak selain penasaran dengan hasil pertandingan, mereka juga penasaran dengan pemuda bule di antara para penonton tersebut.


Sama halnya dengan yang lain, Chiara juga turut hadir karena penasaran dengan beritanya adanya bule di sekolah mereka. Namun, ia dibuat heran, mengapa pria bule itu ada diantara para sahabat Chacha? Apa mereka mengenalnya? Chiara terpesona dengan wajah tampan pria bule tersebut.


Di tengah lapangan pertandingan terus berlanjut, bahkan yang awalnya mendukung tim Putra kini beralih mendukung tim Levy. Putra kaget dengan kepiawaian Chacha dan Fany dalam permainan basket kali ini. Mereka berdua tampil penuh percaya diri. Tanpa canggung sedikit pun, mengingat hanya mereka berdua perempuan di tengah lapangan kali ini.


Tak hanya Putra dan timnya yang dibuat kaget, Kevin selaku kekasih Chacha juga dibuat terkejut dengan kelincahan Chacha bermain basket. Pasalnya saat Chacha tinggal di luar negeri, dia sama sekali tak tertarik pada olahraga. Setahu Kevin, kekasihnya itu hanya suka balapan dan duduk di depan komputer berjam-jam lamanya.


Putra dan lainnya mulai kewalahan mengahadapi permainan Chacha. Skor yang tadinya tertinggal kini jauh meninggalkan. Para suporter tim inti sekolah itu harus gigit jari, saat kemenangan mampu direbut tim lawan dan menghadiahkan kekalahan di babak awal ini. Jika awalnya tim Levy yang menjadi lelucon karena memaksa melawan tim inti, kini berbalik karena tim inti sekolah mampu dikalahkan dibabak penyisihan.


"Sorry, Put, gue gak sengaja menang" ucap Chacha menjabat tangan Putra saat pertandingan usai.

__ADS_1


"Gue paham gue paham, nama lo aja Queen, jadi lo ratunya kita anak buah" jawab Putra sambil tertawa.


"Congrats bro," tambah Kinos yang bertos dengan Levy.


"Ini baru babak awal, masih lumayan lah jalan kita untuk ngerebut posisi juara" ucap Levy.


"Tapi lo udah kalahin tim kita Lev, jadi bisa dipastikan jalan lo bakalan mulus kedepannya" ujar Elang.


"Sok tahu lo semua" tambah Fany.


"Tapi gila sih, gue gak percaya lo berdua hebat banget tadi mainnya" ucap Putra.


"Biasa aja, kita hanya mengikuti insting aja ya kan, Cha" ucap Fany yang diangguki Chacha


Chacha tak terlalu fokus pada pembicaraan mereka di tengah lapangan usai pertandingan tersebut. Matanya sibuk memperhatikan sang kekasih yang mulai dikerubungi para wanita. Membuatnya menyunggingkan senyum kecil di wajahnya.


Namun, alisnya terangkat, heran. Mengapa kerumunan itu membuat jarak dengan Kevin secara tiba-tiba? Ada apa? Tak selang berapa lama, Chiara muncul dengan gaya sok cantiknya, entah hanya ingin berkenalan atau apa, namun Chacha merasakan ada sesuatu dibalik itu. Tapi, ia enggan menanggapi.


Chacha mengalihkan pandangannya saat Zeze menyodorkan tas kepada dirinya. Chacha langsung membuka tas tersebut, mengambil earphone dan memakainya. Chacha terlihat menghubungi seseorang lewat ponselnya. "Kirim semua laporannya tanpa terkecuali" hanya itu saja dan langsung diputus secara sepihak.


Chacha berdiri meninggalkan teman dan sahabatnya yang masih asik bercanda menuju ke arah Kevin.


"Babe," ucapnya setelah sampai di samping Kevin yang masih asik berbincang dengan Chiara.


Panggilan Chacha membuat Chiara mematung ia tak percaya kalau pemuda di depannya ini kekasih rivalnya.


"Langsung pulang atau kemana dulu?" tanya Kevin merangkul pundak Chacha.


"Go home" jawabnya singkat. Dia malas berdebat dengan Chiara jika ia terus berada di sana.


"Okay, let's go" jawabnya. "See you next time" ucapnya pada Chiara yang mampu membuat Chiara tersipu.


"Gue harus dapetin dia apa pun caranya" ucap Chiara.

__ADS_1


Sesampainya di parkiran Chacha langsung masuk ke mobil dan mengabari sahabatnya bahwa ia pulang terlebih dahulu.


__ADS_2