Call Me Queen

Call Me Queen
Minta Makan


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Audy, Nial? "


"Lumayan tenang, Kek. Dia tak lagi histeris ketika melihat seseorang di depannya"


"Bukankah tadi dia dari kediaman Rahardian? " King mengangguk menjawab pertanyaan dari sang nenek. "Tapi kenapa dia tak mengamuk di sana? "


"Menurut Ardan, Audy menekan rasa takutnya demi kandungannya. Dia benar-benar ingin terlepas dari semua masalahnya, dia pikir dengan meminta maaf pada Tiara semuanya akan baik-baik saja. Namun siapa sangka jika dia sudah tak kuat dengan tekanan batinnya. Berakhir dengan ambruknya pertahanan tubuhnya"


"Apa dia sudah mulai bercerita? "


"Tidak Bunda, tapi Ardan masih berusaha mengajaknya bicara"


"Bunda masih tak menyangka jika keluarga Pandey tega melakukan ini"


"Begitulah sikap manusia, Ratu. Bisa berubah kapan saja"


"Iya, Pa. Papa betul. Buktinya pria di sampingku ini, bukankah dulu dia sangat memanjakan Audy hingga melupakanmu putri bungsunya, bahkan seakan-akan membedakannya. Tapi setelah tahu kelakuan Audy dia malah seakan tak mengakui jika Audy anaknya. Padahal Audy hadir karena dirinya sendiri" sindiran pedas Bu Ratu langsung melayang menyapa indera pendengaran Ayah Gun.


Bukan apa-apa, sejak kejadian dimana Chacha mengacau dengan meruntuhkan seluruh kesombongan Audy. Sikap suaminya berubah pada Audy. Dari yang biasanya hangat dan memanjakan, kini berubah menjadi tatapan datar dan dingin. Bahkan seolah tak peduli. Berulang kali Bu Ratu mencoba berbicara tentang Audy, namun tak ada respon ataupun tanggapan yang berarti. Padahal dulunya Ayah Gun paling semangat saat membahas tentang Audy.


"Dimana princess ku? "


"Di kamarnya"


"Baiklah aku akan ke kamar juga. Bunda tolong bangunkan jika makan malam tiba"


"Istirahat lah nak"


"Tunggu, Nial"


"Ya, Kek? "


"Dimana Reyhan, bukankah seharusnya dia ada disini? "


"Ah, anak itu sedang melebarkan sayap bisnis ke negara tetangga, Kek"


"Wah hebat"


"Dia pekerja keras, Nek. Jadi tak heran jika bisa secepat ini melebarkan sayap bisnisnya"


"Kau juga tak kalah hebat, Nial"


"Siapa yang tak akan hebat jika dibawah asuhan kakek"


"Hahahaha"


King langsung berjalan meninggalkan anggota keluarganya yang lain menuju kamarnya.


"Gun? "


"Iya, Pa? "


"Ada apa sebenarnya? "


"Maksud Papa? "


"Kenapa sikap kamu berubah dengan Audy? Bagaimanapun dia putri mu. Jika bukan karena kebodohan dan na*su mu dia tak akan ada. Kami saja bisa menerima dia sebagai salah satu keturunan Effendy meskipun tak sah"


"Apa kau tak melihat bagaimana Chacha memperjuangkan hak Audy di perusahaan. Dia seharusnya tak memiliki hak di perusahaan, namun karena menganggap Audy sebagai kakaknya dan keturunan mu, dia memperjuangkan dan beradu argumen dengan sengit di perusahaan. Apa kau tau dia memberikan sahamnya pada Audy"


Ayah Gun melotot tak percaya. Dirinya tak tahu menahu tentang ini. Karena perusahaan pusat sudah dibawah kendali putranya. Meskipun sekarang masih dibawah pengawasan Chacha, karena King masih memegang kendali perusahaan Izhaka.


Sejak kejadian putrinya membongkar hubungan gelapnya dulu, Ayah Gun langsung dicabut kepemimpinan nya dari perusahaan pusat, dan diberi kepercayaan perusahaan cabang yang ada di kota itu juga.


"Jangan jadikan sikap mu sebagai penebusan dosa mu pada istri mu, Gun. Dengan mengacuhkan Audy kamu juga menyakiti hati Ratu. Bagaimanapun Ratu yang merawatnya sejak bayi. Bukankah Chacha sudah memberitahu alasan dibalik sikap Audy selama ini. Mama rasa kamu terlalu bodoh, Gun. Bagaimana bisa putri mu menjadi anak genius, sedangkan ayahnya bodoh seperti dirimu"

__ADS_1


"Jangan bersikap kekanakan, Gun. Audy juga butuh sosok ayah sebagai topangan hidupnya. Bukankah seharusnya kamu yang jadi tameng saat putri mu di sakiti. Dia membutuhkan kamu untuk pegangan dan bersandar, Gun"


Ayah Gun hanya bisa menunduk saat kedua orang tuanya berbicara panjang lebar. Tak ada niat untuknya menyela, dia tak marah pada Audy, hanya kecewa saja. Kenapa Audy tak memberitahu akan hal sepenting itu. Kenapa dirinya malah mengorbankan jiwa dan raganya untuk melindungi lainnya. Bukankah harusnya dia yang mendapat perlindungan?


Hingga usapan lembut di tangannya menyadarkan dirinya dari lamunan tentang putri sulungnya. Tampak istrinya tersenyum lembut dengan tatapan teduhnya.


"Hampiri anak mu, Mas. Dia butuh support dari mu"


"Tapi, Bun? "


"Bunda yakin, Ayah tak akan pilih kasih dalam hal kasih sayang lagi kali ini" ucap Bu Ratu lembut dihiasi dengan senyum manisnya.


"Ayah hanya... " Ayah Gun gak meneruskan karena terpotong oleh istrinya.


"Bunda tak akan marah jika ayah menyayangi Audy sebagai seorang anak. Bunda marah jika ayah masih mengingat Audy sebagai ibu kandungnya"


Karena bagaimanapun wajah Audy sedikit banyak mirip dengan ibu kandungnya, dan Bu Ratu baru menyadari hal ini. Dia sudah menebak siapa wanita yang menjadi selingkuhan sang suami dulu. Tapi, dia menutup rapat mulutnya agar tak memberitahu singa betina yang sedang tertidur itu. Karena sekali dirinya berucap, maka bungsunya tak akan tinggal diam untuk mengambil tindakan.


Setelah memantapkan hatinya, Ayah Gun bangkit dari duduknya. Menuju kamar Audy diikuti oleh Bu Ratu di belakangnya.


Tampak di dalam kamar Audy duduk dengan tatapan kosong nya. Ardan dengan lembut menepuk bahu Audy dengan kata-kata lembut yang terus ia bisikkan di telinga Audy.


Bu Ratu yang melihat suaminya terhenti diam menatap ke arah dalam kamar. Tampak di sana, Bu Ratu melihat ketulusan Ardan dalam merawat salah satu putrinya. Bu Ratu seperti melihat ada kisah lama yang belum usai diantara mereka saat tatapan Ardan memancarkan setitik cinta untuk Audy.


"Masuklah" Bu Ratu mengelus pelan punggung suaminya.


Ayah Gun menoleh sebentar menatap istrinya yang mengangguk mantap.


Perlahan Ayah Gun masuk ke dalam kamar putrinya. Hatinya teriris saat melihat Audy layaknya mayat hidup. Wajahnya pucat dengan mata sayu. Tatapan matanya kosong, bahkan kehadirannya saja tak ia gubris.


"Audy" panggil Ayah Gun, namun Audy tak merespon apapun. Dia tetap diam dengan tatapan lurus ke depan.


"Eh, Tuan"


"Boleh aku duduk di sana? "


Ayah Gun langsung mendekap tubuh rapuh Audy ke dalam pelukannya. Bisikan kata maaf ia ucapkan pada putrinya. Namun, Audy masih tak merespon apapun, dia hanya diam dengan tatapan kosong nya.


Lima belas menit berlalu Audy masih asik dengan kesendirian dan pikirannya. Tak merespon adanya Ayah Gun yang setia mendekapnya erat. Hingga akhirnya Bu Ratu turun tangan. Naik ke sebelah sisi ranjang satunya. Mengelus pelan kepala Audy, dengan senyum teduhnya ia menarik wajah Audy untuk menghadap wajahnya. Terbukti, Audy merespon.


Bu Ratu hampir menangis saat melihat tatapan hancur dan putus asa Audy. Namun dirinya tahan, karena Audy juga butuh ditenangkan. Disinilah perannya sebagai ibu dimainkan.


Bu Ratu menarik Audy ke dalam pelukannya, dibenamkan wajah Audy dalam dekapan hangat seorang ibu. Di belainya lembut rambut panjang Audy dengan sejuta kasih sayangnya. Sesekali Bu Ratu mengecup ringan kening Audy.


Tak lama setelahnya badan Audy tampak bergetar, Audy menangis. Bu Ratu tersenyum lembut masih mendekap Audy, ini lebih baik daripada Audy terus menerus diam. Itu pikirnya.


"Bukankah anak Bunda ini, wanita yang kuat? "


"Bertahun-tahun berjuang seorang diri menekan derita batinnya seorang diri demi melindungi bunda? "


"Itu bukan suatu hal yang mudah, nak. Bukankah ini tidak ada apa-apa nya dengan perjuangan mu dalam melindungi Ayah dan Bunda? "


"Bangkitlah nak. Biarkan dunia membenci dan mencaci mu. Kamu cukup bersembunyi dibalik punggung Bunda, biarkan Bunda yang menjadi tameng mu kali ini"


"Lawan rasa takut mu, nak. Anak Bunda anak pemberani. Bukankah kamu selalu bilang jika adik mu wanita kuat, dia tak akan kuat jika tak memiliki keluarga yang kuat. Dan kamu salah satunya"


"Audy, kita tak pernah bisa menyalahkan takdir akan apa yang terjadi pada kita. Kita hanya perlu ikhlas menjalaninya. Percayalah nak, dibalik ini semua ada bahagia yang sedang menunggu mu"


Bu Ratu mengelus pelan perut buncit Audy.


"Ingat sayang. Disini ada kehidupan lain yang dipercayakan padamu. Bangkitlah demi anak mu nak, dia akan bersedih jika ibunya bersedih. Anak Bunda ini cantik, kehilangan Kevin bukan masalah buat kamu. Biar Bunda carikan pria yang lebih baik dari Kevin, yang sekali cetak langsung tiga seperti Levy kalau perlu"


"Bunda" lirih Audy kali ini.


"Hahahahahaha, bunda bercanda nak"

__ADS_1


Audy melonggarkan pelukannya, tampak dia menarik senyum diwajahnya. Ayah Gun dan Ardan menghela napas panjang. Perasaan lega langsung menyergap batinnya.


"Apa nih kumpul-kumpul disini? " entah darimana datangnya, tiba-tiba saja Chacha sudah berada di ambang pintu kamar Audy.


"Kamu sejak kapan di sana, nak? "


"Sejak kapan ya? Lupa Bunda" Chacha hanya nyengir menjawab pertanyaan Bunda nya yang menggelengkan kepalanya pelan.


"Terus kamu ngapain di situ? "


"Mau minta makan lah, masa anaknya pulang gak di sediakan makan lapar ini" jawab Chacha dengan bibir mengerucut sebal.


"Bunda masak dulu, bunda terlalu kaget sampai lupa kita belum makan siang? "


"Kak Ardan sudah makan? " Chacha melihat Ardan yang menggeleng pelan.


"Saya akan keluar mencari makan, Queen" ucapnya pelan saat melihat Chacha melotot ke arahnya.


Bagaimana bisa makan, jika Audy terus menempel padaku, Queen. Batinnya berteriak.


"Ngapain keluar, sudah tunggu sebentar bunda masak dulu. Audy bersihkan tubuh kamu dulu ya" Audy hanya mengangguk saat Bu Ratu turun dari ranjang dan meninggalkan kamarnya.


"Tadi pagi dia makan gak, Kak? "


"Tidak, Queen. Bahkan dia belum mandi dari tadi pagi"


"Jorok Audy" teriak Chacha membuat yang lain kaget. "Mandi sana, jadi bumil kok jorok banget sih"


"Lemes Cha"


"Ck, Kak Ardan tolong angkat dia nanti ya, aku siapkan air hangat dia dulu. Ayah daripada nganggur di situ mending ambil Chacha buah deh"


Bagai mendapat angin segar, senyum Ayah Gun mengembang. Meskipun dengan ketus, namun bungsunya sudah mau berbicara padanya.


"Mau buah apa, nak? Apa triple twins yang menginginkan? " Chacha mengangguk mantap.


"Mau mangga yang dibelakang rumah boleh? " tatapannya langsung dia ubah menjadi puppy eyes saat menatap Ayah Gun. Bukan apa-apa dirinya menatap seperti itu. Karena mangga di belakang rumahnya sangat asam, berbeda dengan yang di samping kiri rumahnya.


"Tapi jangan banyak-banyak. Suami mu bisa mengomel, belum lagi abang mu ada disini"


"Oke, Chacha rasa tiga tak masalah"


"No, itu terlalu banyak nak"


"Baiklah, dua saja"


"Satu ya"


"Dua atau aku adukan kakek"


"Iya iya ayah ambilkan" Ayah Gun berlalu dari kamar Audy guna memenuhi ngidam putri bungsunya itu.


"Aku siapkan airnya dulu" Chacha berlalu ke kamar mandi Audy untuk menyiapkan air mandi.


Di dalam kamar tampak Audy menatao Ardan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ardan hanya tersenyum menatap Audy, wanita yang pernah menguasai hatinya ini.


"Makasih, Kak? "


"Berhenti mengatakan makasih dan maaf, Audy. Kita sudah membahas ini sebelumnya"


"Tapi, aku... "


"Tolong jangan menangis, kita bahas setelah kamu lebih baik. Aku bisa dihajar Queen jika dia melihat kamu menangis lagi"


Tampak Audy tersenyum saat melihat tatapan memohon Ardan.

__ADS_1


"Senyum gitu kan cantik"


Blush...


__ADS_2