
Tiga hari berlalu sejak kejadian di gym. Berita tentang Chacha pun semakin menjadi-jadi. Komentar buruk lebih mendominasi karena statement yang Angel keluarkan. Bukannya klarifikasi Angel malah memperburuk keadaan.
Brak...
"Lo kenapa sih, Rin. Kaget tau nggak" Pekik Nena saat Karin membuka pintu kamar rawat Chacha dengan kasar.
"Kesel gue"
"Kesel sih kesel, nggak dobrak pintu juga kali. Noh liat, anak lo aja sampek kaget. Heran, anak ini gak ada berubah padahal udah ada buntutnya" Omel Zeze yang juga terkejut saat Karin mendobrak pintu.
Karin menatap Geffie yang berada di gendongan Elang. Karin memasang senyum manisnya dan mengecup pelan pipi sang anak. Saking kesalnya, Karin lupa jika saat ini dirinya sedang bersama dengan Geffie.
Setelah Karin dan Elang duduk dengan tenang, barulah para sahabatnya memulai interogasi pada ibu satu anak ini.
"Lo kenapa? "
"Kesel gue"
"Tau gue kalau lo kesel, alasannya? "
"Noh mak lampir lagi main drama di luar sana. Kalian gak buka internet berjamaah apa gimana sih, masa gak tahu berita terupdate"
"Sejak kapan kita suka gosip?
" Iya juga sih"
"Terus? "
"Si Angel lagi main drama noh diluaran sana. Lo tau, mau masuk kesini aja, gue harus pake pengawalan tau nggak. Gila ini rumah sakit di kepung wartawan" Jelas Karin dengan menggebu-gebu.
"Gak heran lagi gue. Selagi ada kesempatan kenapa nggak, kalau kata tuh mak lampir" Tambah Zeze.
"Chacha udah tau nggak sih? "
"Kagak usah pusing, korbannya aja lagi tidur noh" Fany menunjuk dengan dagunya.
Karin melihat ke arah ranjang. Tampak dua sejoli itu tidur dengan saling berpelukan. Lebih tepatnya Levy yang memeluk Chacha dari belakang. Keduanya tampak lelap dalam mimpi masing-masing, bahkan dobrakan keras yang Karin timbulkan tadi tidak mengusik keduanya sama sekali.
"Tumben jam segini masih pada molor itu anak dua? " Tanya Karin.
"Levy semalem sempat sakit gitu kepalanya, begadang semua kita. Gak tau jam berapa kita tidur. Ini juga bangun gara-gara lo dobrak pintu" Jawab Zeze.
Tampak Zeze kembali meletakkan kepalanya di paha sang tunangan yang sedang terlelap dengan posisi duduk. Begitupun dengan Nena yang juga bersandar pada bahu Putra. Fany sendiri sudah melesat ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka.
"Lah tidur lagi" Ucap Fany sekembalinya dari kamar mandi.
__ADS_1
"Pandu semalem nginep sini juga kan, Fan? " Tanya Elang. Fany hanya mengangguk.
"Gak tau kemana, mungkin keluar bentar. Tadi subuh ada kok pas gue bangun"
"Terus keadaan Levy gimana? "
"Kata Charles itu reaksi biasa yang Levy rasakan. Obat yang dia minum juga bisa ngurangin rasa sakit yang harusnya Levy rasakan, cuma keadaan tubuh dia aja yang kurang fit sampai bisa pingsan pas ingatannya balik" Jelas Fany panjang lebar.
Karin dan Elang hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Fany. Semalam dirinya dan Elang memang tak menginap di rumah sakit, mengingat saat ini keduanya sudah memiliki bayi yang harus mereka urus.
"Loh mereka belum bangun? " Tanya Pandu tiba-tiba.
"Bersuara kek Pan kalau masuk. Kaget gue" Semprot Karin, Pandu hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Bangunkan mereka, ini sarapannya. Punya kamu yang di plastik satunya. Aku balik dulu, ada meeting pagi ini" Pandu mengecup pelan kening tunangannya itu.
"Gue balik ya, nanti kesini lagi. Klien gue kebetulan ada disin" Pamit Pandu sebelum pergi dari ruangan Chacha.
Fany langsung saja membangunkan yang lain untuk sarapan. Setelah selesai sarapan mereka bergantian mandi, karena mereka sengaja membawa pakaian ganti.
"Ay, kamu sama Geffie disini atau mau pulang. Udah siang, aku mau ke kantor" Ucap Elang.
"Mami disini aja ya, nanti minta jemput supir pulangnya" Elang hanya mengangguk dan menyerahkan Geffie yang sejak tadi berada dalam pangkuannya.
"Papi berangkat ya, gue ke kantor kalau anak itu nanya" Ucap Elang sebelum pergi.
"Gue langsung meeting sama klien nanti jam makan siang, di restoran deket sini" Jelas Kinos.
"Lo Put? "
"Ini mau berangkat, lo gak liat gue udah rapi? " Tanya Putra tanpa menatap lawan bicaranya.
"Gue juga kagak ngeliat oncom" Karena kebetulan Karin juga sedang menunduk menatap anaknya, jadi tidak melihat Putra yang sudah rapi.
Akhirnya Putra dan Kinos meninggalkan ruangan itu. Ruangan menjadi hening, awalnya celotehan Geffie cukup memenuhi ruangan. Namun, setelah bayi bulat tersebut tertidur suasana kembali menjadi hening.
"Fan, lo mantau saham perusahaan Chacha nggak? " Tanya Kari,n kini dirinya kembali dalam mode seriusnya.
"Gak semudah itu mantau saham perusahaan Chacha. Kita harus ada akses khusus" Jawab Fany santai.
"Kenapa lo tiba-tiba nanya saham perusahaan, Rin? "
"Lo lupa kalau Angel berulah. Gue takutnya imbas ke perusahaan Chacha. Lo tau sendiri Chacha udah menampakkan dirinya sebagai pemilik beberapa perusahaan sekaligus"
"Chila sempet info tadi, ada penurunan di saham Izhaka dan Effendy. Tapi sejauh ini mereka masih tenang tampan pergerakan sih" Jelas Fany lagi.
__ADS_1
"QI gak goyang? " Tanya Zeze.
"Sekalipun mereka ngejelekin Chacha gak bakalan bisa goyangin saham QI. Lo gak tau kalau QI di bangun oleh monster bisnis. Siapa yang mau goyangin QI kalau kenyatannya perusahaan itu didongkrak langsung oleh mafia seluruh dunia. Gue rasa banyak pebisnis yang masih cari aman daripada berurusan sama Chacha deh"
"Masalahnya, sebelum Chacha turun tangan, bawahannya udah serem banget. Kak Shaldon kalau lagi tugas gak ada otak, gila sadis bener. Gue pernah lihat sendiri gimana Kak Shaldon nendang langsung karyawan korup di perusahaan Chacha"
"Lama ya gak ketemu Kak Shaldon"
"Gimana mau ketemu, Kak Shaldon asik keliling dunia ngurusi perusahaan Chacha"
"Tapi dibanding kita yang punya usaha sendiri masih kalah tajir sama Kak Shaldon tau nggak"
"Jadi asisten sekaligus sekertaris pribadi Chacha itu gak mudah. Lo harus siap dalam keadaan apapun. Apalagi bosnya modelan Chacha yang gak mau ke perusahaan. Jadi gak heran kalau gaji Kak Shaldon itu gede"
"Pantesan ya Chacha royal banget sama Kak Shaldon"
"Gak heran, kalau Kak Shaldon ada niat buat berkhianat sama Chacha, bisa jadi Chacha langsung jatuh miskin. Tapi, gue tahu Kak Shaldon se sayang itu sama Chacha, jadi jangankan berkhianat lihat Chacha jatuh aja dia paniknya minta ampun"
"Chacha selalu jadi bayi kecil jika di tangan para bawahannya"
"Dia mah badan atlit muka bebelac"
Mereka terus berbincang tanpa sadar jika Levy sudah bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar mandi. Levy hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat wanitanya itu malah menjadikan istrinya topik pembicaraan.
Daripada menyapa para wanita yang asik bergosip itu, Levy lebih memilih membangunkan sang istri.
"Sayang" Levy menepuk pelan pipi Chacha.
"Bangun yuk" Chacha tampak menggeliat kecil.
"Cinta" Levy mengecup pelan pipi istrinya yang sedikit tirus itu. Jujur Levy kaget saat melihat Chacha kehilangan berat badannya. Levy lebih menyukai istrinya yang sedikit berisi. Chacha lebih terlihat seksi dengan tubuh sedikit berisi.
"Ngantuk, Mas" Chacha bergumam.
"Makan dulu, sayang. Habis itu tidur lagi"
"Ngantuk beneran, Mas" Chacha malah merengek membuat Levy tersenyum. Sungguh dia merindukan tingkah Chacha yang seperti ini.
"Mas udah pesenin makanan loh, cinta. Masa gak dimakan, ini juga udah siang. Kita melewatkan sarapan" Levy masih membujuk dengan lembut.
Akhirnya Chacha membuka sedikit matanya. Menatao Levy yang tersenyum lembut ke arahnya.
Cup
Chacha masih setengah sadar saat Levy mengecup bibirnya singkat. Bahkan matanya masih setengah terpejam. Levy yang melihat respon istrinya malah terkekeh pelan, Levy bahkan terus mengecup pelan bibir itu berkali-kali.
__ADS_1
"Mas" Peringatan Chacha agar Levy menghentikan kelakuannya. Levy hanya tertawa melihat Chacha yang mengerutkan alisnya.
Tawa Levy menyadarkan para sahabatnya yang asik berbincang. Bahkan kini mereka menjadi penonton setia melihat adegan romantis yang tersaji secara live di depan mata mereka.