Call Me Queen

Call Me Queen
Hubungan Terlarang


__ADS_3

Setelah sarapan di rumah Chacha, kali ini mereka sudah sampai di rumah bu kades. Setelah memarkirkan mobil masing-masing mereka langsung turun dan masuk ke dalam rumah bu kades, kecuali Levy dan Pandu. Karena Levy sedang mengantar Pandu menjemput mobilnya semalam.


"Udah sarapan? " tanya bu kades yang mendapati mereka sedang berjalan ke arahnya.


"Udah Umi" jawab Karin dengan sopan.


"Mutia mana Umi? "


"Ada di dalam" Chacha mengangguk, lalu masuk diikuti lainnya.


"Tia, nanti malem kamu tidur di kamar lain dulu bisa? "


"Kenapa, Mbak Chacha? "


"Kamarnya nanti malem mau di dekor sama orang-orang Mbak"


"Gak papa nanti, Tia tidur sama Kak Angel aja" Chacha mengangguk.


Chacha berlalu keluar diikuti Chiara, keempat sahabatnya dan orang-orang dari butiknya. Chacha menuju mobil box yang semalam menjadi incaran. Setelah membukanya Chacha langsung menyuruh mereka menurunkan semua barang yang ada di dalamnya.


"Ya ampun ini gak ada sepatunya ya? " tanya Chacha setelah mengecek satu per satu barang yang ia pesan.


"Bu bos kan gak bilang sepatu" jawab salah satu karyawannya.


"Lah iya lupa, Rin coba tanya ukuran kaki Tia berapa. Kayaknya di rumah ada sepatu aku yang muat di dia" Karin hanya mengangguk dan meninggalkan Chacha.


"Diangkut ke teras dulu yok" mereka mulai mengangkat satu per satu barang yang akan dikenakan oleh Mutia nanti. Bahkan beberapa anak-anak dan ibu-ibu juga berkumpul. Penasaran dengan baju yang Chacha datangkan. Karena berita Mutia sudah menyebar hingga perias yang akan mengubah dirinya menjadi ratu sehari kecelakaan.


"Aksesorisnya mana? "


"Kita bawa siger, Nona. Soalnya ini yang lagi nge-trend sekarang"


"Iya udah gak papa, lagian saya juga gak nyuruh harus pakai adat apa kan. Lebih tepatnya saya lupa" mereka hanya mengangguk, karena Chacha sedang serius mengecek semua keperluannya.


"Gaunnya kalian bawa warna apa saja? "


"Ada maroon, navy, sama baby pink, Nona"


"Oke gak masalah"


"Untuk mahkota yang dipakai, Mbak Jesi bawakan tiga, Nona. Kata Mbak Jesi biasanya Nona hanya butuh satu mahkota"


"Gak papa kita lihat nanti saja"


"Alat make-up saya dibawa? "


"Ini Nona"


"Untuk setelan prianya? "


"Ada di koper yang itu, Nona"


"Baiklah bawa masuk saja. Nanti tanya sama orang didalam dimana kamar Mutia ya. Terserah kalian kapan mau di dekor kamar pengantinnya. Yang penting besok sudah bisa ditempati"

__ADS_1


"Baik Nona" Chacha meninggalkan karyawannya menuju para sahabatnya yang berkumpul.


"Pandu belom balik, Chi? "


"Noh baru sampek" tunjuk Chiara pada mobil yang baru memasuki halaman rumah bu kades.


Mereka berkumpul dan berbaur dengan beberapa warga untuk menyaksikan penyembelihan sapi. Yang mana daging sapi itu yang nantinya akan menjadi hidangan untuk para tamu yang datang. Seekor sapi jantan yang gagah menjadi pilihan bu kades untuk merayakan pernikahan putrinya.


"Cha? "


"Apa? "


"Emang harus motong sapi ya? "


"Kalo gak motong sapi mau dapet lauk dari mana? Disini udah tradisinya kayak gini"


"Beli kan bisa"


"Tamunya banyak ya kali beli, mendingan gini langsung motong"


"Oh ya ngomong-ngomong nih tenda kapan pasangnya kok kita gak ngeh? "


"Eh iya ya" Chacha juga kebingungan dengan pertanyaan sahabatnya, dirinya juga baru sadar jika tenda sudah terpasang dihalaman depan rumah bu kades.


"Yang" Levy berbisik ditelinga Chacha membuatnya berjingkat kaget.


"Kaget tau nggak, apa? "


"Ikut kedalam bentar" Levy langsung menarik tangan Chacha, membuat para sahabatnya heran. Terlebih para warga yang mulai berbisik-bisik membuat Chacha geram sendiri. Angel jangan ditanya, dirinya tertawa puas dalam hatinya.


"Dari mana lo tau mereka baikan"


"Dari cara bicara Levy, dari pandang Levy sama Chacha udah menunjukkan itu semua"


"Gue cuma takut Chacha tambah sakit lagi dengan Levy baikin dia"


"Maksud lo? "


"Lo tau sendiri status Levy sekarang tunangan Angel" keempat sahabat Chacha malah beradu argumen. Andai mereka tau jika keduanya adalah sepasang suami istri. Mungkin mereka dengan senang hati akan menghajar keduanya.


"Apa sih, By? " tanya Chacha setelah Levy membawa ke kamarnya. Tidak lupa menutup pintu juga.


"Gak papa kangen aja, Yang" Levy langsung memeluk Chacha yang berdiri di depannya. Karena posisinya Levy sedang duduk di kasur.


"Kenapa? " Chacha melunak melihat kelakuan suaminya. Mengelus lembut kepalanya.


"Gak papa cuma kangen aja. Mana ada pengantin baru jauh-jauhan kayak kita" Chacha terkekeh mendengar ucapan Levy.


"Sabar ya"


"Ini juga sabar atuh, Yang"


"Lain kali jangan langsung tarik sembarang ya, By"

__ADS_1


"Kenapa? " Levy mendongakkan pandangannya, menatap lurus pada mata biru milik Chacha. Damai. Itu yang Levy rasakan ketika melihat tatapan teduh Chacha.


"Warga banyak ngira aku pelakor nanti"


"Mana ada kamu kan istri aku"


"Yang tau cuma Pandu kan" Levy mengangguk mengiyakan. "Mereka gak tau kalau aku istri kamu, mereka taunya kamu itu tunangan Angel. Jadi jaga nama baik aku ya"


"Mereka ngomongin kamu? " Chacha hanya mengangguk. Entah kenapa dengan Levy Chacha lebih mudah terbuka.


"Siapa yang ngomongin bilang sama aku"


"Gak usah, By. Wajar mereka gitu mereka gak tau. Jangan kebawa emosi"


"Tapi aku gak terima kamu dijelekin, Yang"


"Aku tau lagi pun kejadiannya sebelum kita nikah" Levy menaikkan sebelah alisnya, ada yang janggal disini.


"Ada yang fitnah kamu? "


"Aku gak tau, paling juga netizen yang iri sama aku" Chacha malah menanggapinya dengan candaan. Namun Levy menangkap titik masalahnya disini.


"Pulang dari sini, tinggal di apartemen aku ya" mohon Levy pada Chacha.


"Tapi aku udah agenda mau jalan-jalan loh, By"


"Batalin aja kenapa sih, Yang. Masa iya pengantin baru gak ada waktu berdua"


"Pengantin baru? Kok geli ya By dengernya"


"Ya sayang, tinggal di apartemen aku"


"Iya iya, nanti aku omongin sama yang lain" Levy langsung membenamkan wajahnya diperut Chacha lagi.


"Gak nyangka tau, Yang" Levy kembali berucap setelah mendudukkan Chacha di pangkuannya.


"Gak nyangka kenapa? "


"Kita bisa nikah, walau dengan kejadian yang membuat ku malu sendiri. Tapi dibalik semua itu aku bersyukur, Tuhan langsung memberiku dua kebahagiaan sekaligus"


"Dua? "


"Ya dua. Pertama kamu memaafkan segala kesalahan ku"


"Gak usah dibahas lagi, By"


"Dan yang kedua, kita malah nikah" ucap Levy dengan senyum tampannya.


"Aku yakin ini sudah jalan takdir-Nya, By. Makanya kita bisa bersatu walau jalannya ya... " Chacha menggantungkan kalimat terakhirnya dan tertawa. Tawa Chacha menular pada Levy.


Levy menatap Chacha dalam, perlahan mendekatkan wajahnya, hingga berakhir dalam bibir ranum milik istrinya. Melanjutkan kegiatan pagi tadi. Chacha mulai mengikuti apa yang Levy lakukan, hanya berbekal insting saja. Levy melepaskan pagutannya pada Chacha ketika dirasa pasokan udara dalam dirinya mulai menipis, begitupun dengan Chacha. Nafas mereka terengah-engah namun senyum manis menghiasi keduanya. Levy menyatukan kening mereka, menatap mesra istrinya.


"Bersabarlah tak lama lagi semua akan tau status kita. Aku akan berusaha untuk mengakhiri ini dengan cepat tanpa merugikan siapapun" Chacha hanya mengangguk, dirinya cukup yakin dengan kinerja suaminya.

__ADS_1


"Ayo keluar, terlalu lama menghilang kita bisa viral nantinya" Chacha terkikik mendengar ucapannya sendiri.


"Kita sudah seperti pasangan yang menjalani hubungan terlarang saja" Chacha malah tertawa mendengar penuturan Levy.


__ADS_2