
Hari ini mansion Izhaka dihias begitu meriah. Karena hari ini adalah hari bahagia untuk Audy, dimana dirinya akan melangsungkan pernikahannya dengan calon suaminya setelah melewati sebuah pertunangan sejak lima tahun yang lalu.
Dirinya memaksa ingin mengadakan resepsi di mansion Izhaka, bukan apa-apa dirinya hanya ingin menunjukkan pada teman sosialitanya bahwa dirinya berasal dari keluarga konglomerat.
Chacha tak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya kali ini. Demi reputasi dirinya bahkan tak segan mengeluarkan banyak uang untuk acaranya kali ini. Mungkin memang bisa dimaklumi, namun Audy termasuk pemborosan. Dirinya melewati budget yang disediakan oleh Ayah Gun. Chacha hanya bisa tertawa miris saat melihat tagihannya kemarin. Melihat wajah pucat sang ayah saat melihat bill tagihan tentang semua persiapan pernikahan Audy. Melihat ayahnya yang diam saja, akhirnya Chacha melunasi tagihan itu. Yang lain hanya melongo melihat kelakuan Chacha.
"Cha, lo yakin gak bakalan bongkar kebusukan kakak lo sekarang? " pertanyaan kesekian kalinya yang ditanyakan oleh para sahabatnya. Mereka juga diundang dan saat ini sedang berkumpul di kamar Chacha.
"Yakin lah, damagenya kurang kalo gue bongkar sekarang"
"Lo betah banget ya jadi bahan gosip orang"
"Itung-itung ngurangin dosa gue"
"Gue rasa otak lo geser deh, Cha"
"Sialan kalian"
Pagi ini akan dilangsungkan akad nikah di mansion ini juga. Chacha dan para sahabatnya malah asik rebahan di kasur tanpa berniat bergerak untuk menghadiri proses ijab kabul sang kakak.
Cklek...
"Loh kalian belum bersiap? " pintu terbuka menampilkan Ratih yang berkacak pinggang melihat kelakuan para gadis ini.
"Males, Mi. Kita gak bakalan hadir, hadir nanti malam aja pas resepsi ya" jawab Chacha masih dalam posisi rebahannya.
"Karin, ayo bersiap. Kalo kamu gak dampingi Elang, mami gak jamin kalau dia gak lirik cewek lain, pasti banyak yang akan menggoda dia" setelah mengatakan itu Ratih langsung keluar dan menutup pintu.
Karin yang mendengar perkataan ibu mertuanya itu langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi. Tak lama setelahnya dirinya bersiap semaksimal mungkin.
Ya, setelah kedatangan Chacha dan situasi mulai tenang. Elang memberanikan diri untuk melamar Karin, setelah berdiskusi dengan seluruh keluarga besarnya Elang memantapkan hatinya untuk menikahi Karin. Namun, Karin lebih memilih bertunangan terlebih dahulu, karena menurutnya persiapan pernikahan itu tak sebentar. Dirinya ingin terjun langsung menangani keseluruhan untuk acara pernikahannya nanti. Karena dirinya berniat hanya menikah sekali seumur hidup.
"Gue keluar dulu" pamit Karin pada keempat sahabatnya yang masih anteng di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Gih buruan keluar, jaman sekarang pelakor gak peduli single apa kagak pasti diembat, gak peduli sepi atau ramai kalo udah jadi target mah harus dapet" ucap Nena.
"Gak yakin tuh pelakor berani macem-macem sama nih anak petakilan kalau tau gimana dia" timpal Zeze.
"Yang ada malah peluru bertamu di jantungnya" tambah Nena. Mereka kompak tertawa.
Drrt... Drrt... Drrt...
"Ya, Mas? "
" ... "
"Lagi mager ini loh yang mau keluar"
" ... "
"Ya udah, jangan genit-genit"
" ... "
Panggilan Chacha pada Levy sekarang berubah. Dari yang awalnya memanggil baby kini berubah menjadi Mas. Itu berawal saat sang kakak menceritakan pernikahannya pada kedua neneknya. Alhasil, mau tidak mau dirinya harus membawa Levy kedepan kedua Nyonya besar saat itu. Mereka berkata biarkan yang lain tak tau status hubungan dirinya dan Levy, asal keduanya tahu. Agar mereka juga tak salah paham pada Chacha.
Chacha memang masih merahasiakan pernikahannya dengan Levy. Karena Angel masih enggan mengabarkan bahwa dirinya telah batal bertunangan dengan Levy. Angel merasa tak terima karena Levy tiba-tiba memutuskan pertunangannya begitu saja. Jadi dirinya menganggap bahwa dia masih tunangan Levy.
"Siapa tuh, mesra amat" selidik Fany.
"Emmm, gak mau di kenalin ke kita? " tambah Zeze.
"Gue rasa ada yang harus lo jelasin ke kita"
"Belum saatnya kalian tahu" jawabnya santai.
"Gitu aja terus, sampek lebaran monyet juga gak bakal lo kasih tau" Nena jadi kesal sendiri.
__ADS_1
"Gak asik mainnya rahasia-rahasiaan"
"Bukan gitu, gue gak mau ada masalah sebelum Karin dan Elang itu nikah. Setelah itu gue janji bakal kasih tau apa yang kalian ingin ketahui tepat dimalam Karin melepas label gadis dalam dirinya"
"Lo janji? "
"Kapan gue pernah ingkar"
"Oke"
Sedangkan diluar kamar, tepatnya diruang tengah mansion Izhaka. Acara sedang dimulai. Kevin duduk di depan Ayah Gun, di sampingnya Audy duduk dengan sedikit menunduk, menyembunyikan rona bahagia di wajahnya, karena ini bukan saatnya yang tepat menunjukkan wajah bahagianya, calon suaminya sedang dilanda kegugupan karena sebentar lagi ijab kabul akan di mulai.
"Saudara Kevin Pandey. Saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan putri pertamaku, yang bernama Audy Salsabila Effendy binti Gunawan Effendy, dengan mas kawin uang seratus juta rupiah dan satu unit rumah mewah dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Audy Salsabila Effendy binti Gunawan Effendy dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"Bagaimana para saksi? "
"Sah"
"Sah"
Kevin mengucapkan ijab kabul dengan sekali tarikan napas. Audy bahkan tak lagi menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.
Setelah menandatangani surat nikah, keduanya diminta berfoto untuk kenang-kenangan. Audy yang tampil anggun pada ijab kabul hari ini berhasil mencuri perhatian para tamu. Kebaya yang dibandrol dengan harga nyaris menyentuh angka seratus juta itu menjadi topik hangat saat ini.
Mendengar banyak yang menyanjung nya Audy makin mendongakkan kepala, dirinya merasa berada diatas angin saat ini. Dialah bintangnya saat ini. Semua fokus tertuju padanya. Ini yang dirinya inginkan selama ini.
Saat dirinya menyapa para tamu semuanya memuji dirinya. Audy merasa sangat puas saat ini. Benar-benar seluruh fokus terarah padanya. Hingga saat semua mulai menjilat Audy karena kemewahan dan status Audy, fokus mereka teralihkan pada seseorang yang menuruni tangga dengan santainya.
"Bapak tunggu diluar aja, di rumah saya lagi ada acara, takutnya bapak gak dibolehin masuk. Ini saya otw kesana ya"
Gadis yang hanya memakai celana jeans yang dipadukan dengan kaos longgar itu menuruni tangga sambil menelfon. Kehadirannya mencuri perhatian sebagian tamu yang datang. Selain paras ayunya yang tanpa polesan make-up, sikap santainya yang alami menunjukkan kualitas dirinya. Bahkan dirinya tanpa memperhatikan kanan kiri langsung berlalu begitu saja, seakan acara meriah yang sedang berlangsung itu tak mencuri sedikit perhatiannya. Bahkan beberapa tamu masih ada yang membicarakannya dengan berbagai argumen di kepala mereka. Sedangkan orang yang dibicarakan sudah tak terlihat lagi, karena telah menghilang dibalik pintu tadi.
__ADS_1
Audy hanya bisa mendengus kesal saat melihat siapa yang mencuri perhatian para tamu padanya.