Call Me Queen

Call Me Queen
Sampai Nanti


__ADS_3

Brughh..


"Kalian gak papa? " tanya Bu Ratu pada ketiga cucunya saat mobil yang mereka tumpangi seperti sengaja ditabrak dari belakang.


"Kami gak papa, Oma" Jawab Akmal mewakili kedua adiknya.


Akmal kini tengah mendekap si montok yang tampak shock karena benturan barusan. Sedangkan Athaya mencoba mengintip apa yang tengah terjadi. Namun pandangannya seketika gelap, seketika Athaya sadar jika tangan Akmal menghalangi pandangannya.


"Abang" sungutnya kesal.


"Duduk dan jadilah anak baik" perintah Akmal tegas.


Meskipun masih bocah, namun ketegasan Akmal dalam memimpin kedua adiknya patut diacungi jempol. Nalurinya sebagai kakak tertua menuntun untuk menentukan sikap yang harus dirinya ambil. Apalagi memiliki dua saudara kembar yang memiliki sikap bertolak belakang, membuat Akmal harus ekstra dalam memperhatikan kedua saudara kembarnya itu.


"Kalian tetap di dalam mobil, Opa mau cek keadaan di luar dulu" ketiga anak kembar itu hanya mengangguk. Sedangkan Bu Ratu sudah meraba dashboard mobil dengan perlahan.


Ini bukan suatu kebetulan bukan? Entah firasat ku saja atau bagaimana. Tapi kejadian ini memang direncanakan. Tampaknya si kembar akan menjadi sasaran kali ini. Batin Bu Ratu mulai membaca keadaan.


"Kids, kalian bisa pindah duduk dibawah dan menunduk. Jangan tampakkan tubuh kalian sebelum Oma atau Opa masuk ke dalam mobil. Kalian mengerti? " perintah Bu Ratu kali ini.


"Baik Oma" Lagi-lagi Akmal menurut dengan cepat.


Setelah memastikan Bu Ratu keluar dari mobil, Akmal langsung memencet tombol kecil di jam tangan yang dirinya kenakan. Jam tangan yang di desain khusus oleh sang papa dan diberikan pelacak oleh sang mama. Tindakan Akmal barusan bisa membuat sang mama berang diujung sana.


...***************...


"Mas Levy lama amat sih" Gerutu Chacha saat tak mendapati Levy kembali dengan salad di tangannya. Bahkan suaminya itu masih tak menampakkan barang hidungnya hingga saat ini.


Chacha kembali ke wajah datarnya dengan mata memandang sahabatnya yang asik bercanda tawa. Hingga notifikasi khusus dari ponselnya cukup membuat tubuhnya menegang.


Dengan cepat Chacha menyambar ponselnya. Chacha melotot kaget saat melihat tampilan ponselnya menampilkan maps dengan titik merah berkedip cepat.


"Chiara ikut gue" tanpa basa-basi Chacha langsung berjalan meninggalkan ruangan megah itu, meninggalkan seribu tanda tanya di benak yang lain. Namun, bagi Chiara masih tetap mengikutinya karena dia tidak mungkin bertanya saat melihat raut tegang Chacha.


Chiara langsung duduk di kursi kemudi. Membiarkan Chacha duduk tenang disampingnya. Chacha belum memberikan alasan dia terburu-buru bahkan sampai lupa mengabari suaminya. Tapi Chiara tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk menegur atasannya ini.


"Kembar dalam bahaya, lajukan mobil ini dengan kecepatan tertinggi Chiara" Chacha langsung memberitahu lokasi keberadaan si kembar.


Chiara menegang ditempatnya. Namun sedetik kemudian melajukan mobil Chacha dengan kecepatan diatas rata-rata. Tatapan matanya tajam, tapi tidak ada yang tahu jika sumpah serapah sudah dia lontarkan dalam benaknya. Siapa yang berani menganggu 3 iblis kecil kesayangannya itu, tidak tahukah mereka jika pelindung si kembar adalah jelmaan iblis berkedok malaikat?


Chacha langsung menghubungi anak buahnya yang dekat dengan lokasi untuk memantau pergerakan. Mereka tidak boleh bergerak selama musuh tidak menyentuh si kembar. Chacha memang memberitahu bahwa si kembar harus dilindungi oleh anggotanya, tapi si kembar belum mengetahui jika kedua orang tuanya adalah monster dunia bawah.


Sedangkan di ballroom hotel yang Chacha tinggalkan, Levy juga bergerak dengan tergesa keluar dari dapur. Bahkan dirinya berlari dengan pandangan fokus pada ponselnya. Langsung menyambar kunci yang tertinggal di meja yang tadi dirinya duduki bersama sang istri.


"Mana istri gue? " tanya Levy cepat.


"Keluar sama Chiara, buru-buru juga tadi. Ada apa sih? " Jawab Karin sekaligus bertanya.


Levy tak menghiraukan pertanyaan Karin dan langsung melesat keluar. Amarahnya benar-benar mendidih saat ini. Belum lagi mengingat keadaan istrinya yang jauh dari kata baik, wajah pucat Chacha adalah bukti bahwa hot mama yang satu itu tidak dalam kondisi fit.


"Harusnya kamu tunggu aku, sayang. Bukan malah gini, kalau kamu kenapa-napa gimana" gumam Levy sambil mempercepat larinya menuju mobilnya.


Levy langsung menjalankan mobilnya sama dengan Chiara tadi. Untung saja jalanan sudah mulai lengang memudahkan Levy untuk mengemudi dengan kecepatan gila.


"Mereka berdua kenapa sih? " tanya Karin heran saat melihat kedua sahabatnya itu terburu-buru keluar dari hotel ini.


"Lo tanya ke siapa, Rin? " tanya Nena.


"Siapa aja yang denger suara gue" ketus Karin.


Brakk...


"Kaget Fan, lo mah kebiasaan. Apa-apa tuh pake aba-aba dulu, lo punya niat bikin gue bertamu sama malaikat ya" pekik Zeze mengomeli kembarannya itu.


"Cek HP kalian semua, gue duluan" Fany juga langsung pergi bersama dengan Pandu.

__ADS_1


Sedangkan yang lain sudah menggerutu sebal, namun saat melihat layar ponsel masing-masing. Mereka langsung terdiam dan berlari keluar menyusul Fany. Jika dulu mereka bertaruh untuk melindungi Chacha, kini mereka bertaruh hidupnya untuk nyawa si kembar. Bukan karena apa, tapi mereka sadar jika kemampuan mereka masih jauh dibawah Chiara dan lainnya. Mungkin mereka bisa dibilang pemimpin terbaik di kelompok mereka. Namun dibandingkan dengan tim elit, mereka tidak sebanding.


...****************...


Di tempat si kembar, Ayah Gun dan Bu Ratu saling memandang dengan pandangan penuh tanya. Mereka berdua bingung pasalnya masalah seluruh keluarganya sudah usai. Tapi kenapa mereka di kepung?


"Ayah gak lagi bersinggungan dengan lawan bisnis Ayah kan? " tanya Bu Ratu pelan.


"Nggak ada kok, Bun. Kan perusahaan Effendy sekarang dipegang Nial, Ayah cuma mantau doang ke kantor" jawab Ayah Gun tak kalah pelan.


"Sudahlah, pikirkan itu nanti. Sekarang kita hadapi mereka dulu, si kembar aman di mobil" Ayah Gun hanya mengangguk.


Bu Ratu menegakkan punggungnya. Serasa dejavu ke masa gadisnya dulu. Biasanya dia akan melawan musuh keluarga bersama si bungsu Rania, meskipun dibekali dengan ilmu beladiri sejak dini oleng sang papa. Namun Bu Ratu tetap menjadi gadis yang anggun dan kalem sejak dulu. Berbeda dengan adik yang memiliki sisi liar tersendiri dalam tubuhnya, dia akan tertawa lepas setelah membuat para musuh tumbang karena ulahnya. Tak ayal juga kadang Bu Ratu hanya menjadi penonton atas permintaan gila sang adik.


Bu Ratu dengan santai merakit pistol di tangannya. Sedangkan Ayah Gun sudah mulai menyerang musuh. Karena musuh kali ini langsung menyerang tanpa basa-basi membuat Bu Ratu menghela napas pelan. Bu Ratu melirik sekilas pada mobil yang ditumpanginya tadi, sebelum akhirnya maju menolong sang suami.


...****************...


Sedangkan Chacha meminta Chiara untuk berhenti pada Chiara. Chacha ingin menyergap musuh dari belakang setelah melihat kedua orang tuanya bertarung didepan sana. Apalagi Chacha melihat anak buahnya siap siaga dalam kegelapan.


"Kau tuli, aku bilang berhenti ya berhenti, Chia" Bentak Chacha pada Chiara. Namun bukannya takut Chiara malah terlihat panik.


"Mobil mu di sabotase, Queen. Remnya blong" Chiara berteriak tanpa sadar, dirinya panik karena jarak semakin dekat.


Chacha tertegun sejenak mendengar teriakan Chiara. Bukan karena ini pertama kalinya, namun perkataan Chiara yang membuatnya tertegun.


"Kau bisa melompat turun, aku akan menabrakkan mobil mu ke pohon itu, Queen" jelas Chiara akan rencananya. Chiara sudah tak memikirkan nyawanya sendiri. Yang ada dalam pikirannya hanyalah Chacha harus selamat.


Chacha menarik nafas panjang dan menekan tombol perintah di ponselnya.


"Lompatlah sebentar lagi, Queen" ucap Chiara.


Chacha memandang sekitar, bukan karena jalan yang tidak mulus. Tapi ada badan mobil yang tak Chiara lihat. Jika dirinya melompat bisa dipastikan akan langsung membentur badan mobil tersebut, bisa dibayangkan akan seperti apa dirinya nanti.


"Sekarang Queen"


*Brakk...


Ckiiitttt*....


Dibelakang mobil yang dikemudikan Chiara, Levy menginjak rem dalam. Levy berhasil menyusul mobil sang istri, namun siapa sangka jika mobil tersebut melakukan aksi bunuh diri. Levy melotot sempurna dan langsung keluar dari mobilnya. Berlari dengan perasaan takut ke arah sang istri. Mengelilingi mobil yang menumbangkan pohon besar itu.


Levy terhenyak saat melihat Chiara duduk di kursi kemudi dengan kepala penuh darah. Melihat ke samping membuat nafas Levy terhenti. Istrinya menatap dirinya dengan sayu, jangan lupakan senyum lemahnya sebelum akhirnya mata indah itu tertutup.


Dengan jantung terpompa hebat Levy menghampiri Chacha dengan memutari mobil tersebut. Membuka pintu itu dengan sekali sentak, padahal pintu tersebut bisa dipastikan macet karena benturan tak sengaja tadi. Setelah terbuka Levy langsung memeriksa tubuh Chacha, tak ada luka serius yang dialami sang istri. Namun matanya tak sengaja melirik ke arah kaki, Levy melotot melihat darah yang mengalir di kedua kaki Levy. Tubuhnya tiba-tiba lemas, dirinya takut jika selama ini dugaannya benar tentang keadaan istrinya.


Levy segera mengangkat tubuh Chacha dan memindahkannya ke dalam mobilnya. Saat itu bertepatan dengan para sahabatnya yang datang dengan tergesa juga.


"Rin, bawa Chacha ke rumah sakit segera. Tolong kawal juga" perintah Levy membuat sahabatnya itu shock. Namun juga menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Sar, Chiara belum gue evakuasi. Tolong bawa dia ke rumah sakit juga" Caesar langsung berlari ke mobil Chacha yang udah ringsek itu.


"Pan, Lang tolong bantu Ayah sama Bunda. Gue cek anak-anak di mobil" Levy berusaha menetralkan emosinya saat ini. Meyakinkan dirinya jika sang istri akan baik-baik saja. Saat ini nyawa si kembar juga dalam bahaya.


Levy berlari menuju mobil mertuanya, sesekali matanya melirik ke arah Pandu dan Elang yang mulai bergabung dengan anak buah Chacha.


"Kids" Levy mengetuk kaca mobil.


"Papa" teriak ketiganya dari dalam mobil.


Dengan segera Levy membuka pintu mobil bagian belakang. Tampak si bungsu meringkuk dalam dekapan si sulung Sedangkan kedua jagoannya tetap dengan ketenangannya.


"Come" Levy merentangkan tangannya. Akmal menyerahkan Aleta pada sang papa, karena dirinya tahu jika sang adik sedang ketakutan. Levy mendekap erat putri kecilnya itu.


Akmal menoleh ke arah Athaya, melihat adik kembarnya baik-baik saja Akmal langsung turun disusul oleh Athaya setelahnya.

__ADS_1


Dor..


Levy menembakkan peluru pistolnya ke langit malam. Dengan Aleta dalam gendongannya, ditambah dua pangeran kecil di kanan dan kirinya membuat pemandangan tampak keren bagi yang melihat. Namun, bagi musuh itu cukup mengerikan. Bagaimana tidak, jika dua iblis kecil di samping kanan dan kiri Levy itu memancarkan aura permusuhan dibalik tatapan datarnya itu. Belum lagi aura Levy yang begitu gelap.


Perkelahian di depannya berhenti karena tembakan yang Levy lepaskan. Dengan sigap anak buah Chacha meringkus sisa pembuat onar yang masih berdiri tegak.


"Pandu urus mereka di markas Death Rose. Antarkan saja pada Charles, dia pasti senang dapat bahan eksperimen baru" Levy berkata dengan dingin sebelum meninggalkan tempat itu, diikuti kedua bocah tampan dibelakangnya.


Sedangkan Elang langsung membawa Ayah Gun dan Bu Ratu untuk menyusul Levy. Elang kali ini memaklumi tindakan Levy yang bahkan tak mengingat mertuanya, Elang tau pasti Levy akan menyusul Chacha yang entah bagaimana kabarnya sekarang.


Ditempat lain Karin sudah sampai di rumah sakit milik Izhaka. Setelah meminta anak buahnya untuk mengosongkan jalanan agar dirinya segera sampai membawa Chacha yang masih memejamkan matanya itu.


Para dokter sudah menunggu kedatangan Karin karena sudah dikabari sebelumnya. Tak lama setelah Karin tiba, Caesar juga tiba dengan Chiara yang berlumuran darah.


Mereka berdua langsung dibawa ke UGD namun tempat yang terpisah. Karena Chacha langsung dibawa ke ruangan khusus miliknya. Para dokter berlarian saat tubuh keduanya memasuki ruang pemeriksaan masing-masing.


Kejadiannya begitu cepat hingga mereka tak bisa memprediksi jika bahaya mendekat. Karin terduduk di depan UGD dimana Chiara sedang di tangani. Fany dan Zeze juga duduk di samping Karin dengan pandangan kosong. Nena sendiri bertugas menghubungi anggota keluarga keduanya, karena Nena mampu mengendalikan dirinya saat ini.


"Titip Chiara" ucap Caesar lalu melangkahkan kakinya meninggalkan UGD tersebut. Karin yang enggan bersuara hanya mengangguk pelan.


...****************...


Pagi harinya seluruh anggota keluarga besar Chacha maupun Levy berkumpul di ruang rawat pribadi milik princess Izhaka itu. Mereka menatap iba pada Levy yang masih setia menatap istrinya itu. 3 jam sudah berlalu sejak Chacha dipindahkan ke ruangan itu, Levy masih setia di tempat duduknya tanpa berpindah sedikitpun.


Apalagi saat mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Chacha. Jika mengingat itu air mata Levy turun tanpa diperintah. Levy menangis dalam diam. Lena yang melihat itu hanya bisa menghela napas berkali-kali. Lena bangkit dan mengelus pundak putra sulungnya itu.


"Mama yakin kamu kuat, jagoan Mama anak yang kuat. Bangkit nak, kamu kepala keluarga sekarang. Kalau kamu gak bisa kendaliin diri kamu, gimana cara kamu kasih kabar ini sama istri kamu? " Levy kembali menangis, namun kali ini langsung memeluk sang mama yang setia mengelus pelan rambutnya.


"Ini sudah takdirnya Levy, kamu gak bisa melawannya" Lena menahan tangisnya melihat rapuhnya sang anak.


"Harusnya Levy bawa Chacha ke rumah sakit saat dia mulai gak enak badan, Ma. Bukan nurut sama Chacha" isak Levy dalam dekapan Lena.


"Kalau Levy gak kelamaan di dapur buat ambil salad, Chacha gak mungkin keguguran kan, Ma. Ini salah Levy" Lena semakin erat mendekap Levy yang mulai menyalahkan dirinya sendiri.


"Kenapa selalu istri Levy yang dalam bahaya, Ma. Kenapa bukan Levy? "


"Kenapa selalu istri Levy, Ma. Kenapa? "


"Levy bukan kepala keluarga yang baik, buktinya istri Levy selalu dalam bahaya. Anak-anak Levy juga kan, Ma. Apa Levy pembawa sial buat kehidupan Chacha ya, Ma? "


"Enggak nak jangan bilang gitu" luruh sudah air mata Lena kali ini.


"Iya kan, Ma. Dulu bahkan sebelum menikah Chacha harus sakit hati karena Levy tinggal tunangan. Terus setelah nikah masalah terus berdatangan, bahkan istri Levy harus berulang kali terbaring di ranjang pesakitan kan, Ma. Terus kalau bukan Levy yang bawa sial apa, Ma? " semua orang menatap Levy dengan iba.


Sosok yang terlihat begitu dingin dan kuat ini memiliki beban berat di pundaknya. Belum lagi jika memikirkan kemampuan istrinya yang multitalenta, Levy merasa jika dirinya sering tak dibutuhkan karena Chacha mampu segalanya. Namun itu dipatahkan oleh Chacha sendiri, mengatakan jika dirinya sangat dibutuhkan oleh Chacha.


Cukup lama Levy menangis dalam dekapan sang mama. Hingga elusan lembut di bahunya membuat dirinya mengangkat pandangannya. Ketika menoleh pandangannya bertubrukan langsung dengan netra biru yang menatapnya teduh.


"Cinta" Levy langsung berganti memeluk Chacha erat dari samping.


"Jangan mengucapkan maaf untuk kali ini, Mas. Aku bersyukur memiliki kamu disisiku. Jangan pernah merasa rendah ketika berdiri di samping ku, karena pilihan ku tak pernah salah. Kamu adalah lelaki tepat yang berdiri di samping ku"


"Tapi sayang... "


"Ssstt, ini takdirnya. Mungkin Tuhan lebih sayang dia yang belum sempat kita ketahui untuk menjadi bagian dari keluarga kita. Doakan saja bayi kita bahagia disana"


"Kamu tahu? " Chacha mengangguk.


"Harusnya ini menjadi kejutan setelah kita pulang dari acara itu, tapi tampaknya dia masih asik bermain di atas sana" Chacha berusaha tegar dengan apa yang menimpa dirinya. Melihat sisi rapuh sang suami tak mungkin untuk Chacha menangis sekarang.


"Harusnya Mas lebih peka"


"Jangan menyalahkan diri sendiri Mas. Harusnya aku menunggu kamu, bukan pergi seenaknya"


"Mas ngerti kekhawatiran kamu" Levy bangkit dan mengecup kening Chacha lama.

__ADS_1


"I love you, my sweet husband" Chacha berucap dengan suara lirih.


"I love you more, baby. Teruslah seperti ini cinta sampai nanti"


__ADS_2